Episode 2 - Tetangga yang Tidak Diundang

Nadira masih berdiri mematung di depan rumah kontrakannya.

Di hadapannya, Arga menggaruk tengkuk sambil tersenyum canggung, seolah semesta baru saja melontarkan lelucon yang bahkan ia sendiri tidak minta.

"Jangan lihat aku kayak gitu," katanya pelan. "Aku juga baru tahu."

Nadira mengembuskan napas panjang.

"Semoga cuma kebetulan."

"Ya memang kebetulan."

"Kebetulan yang buruk."

Arga terkekeh.

"Oke, itu aku setuju."

Tanpa menunggu jawaban, Nadira mengangkat kardusnya dan berjalan masuk. Ia bahkan sengaja menutup pagar sedikit lebih keras dari biasanya.

**Brak!**

Arga hanya menggeleng sambil tersenyum kecil.

"Galaknya konsisten."

---

Rumah kontrakan itu masih dipenuhi kardus.

Ruang tamunya hanya berisi sofa kecil dan meja lipat. Beberapa pigura masih bersandar di dinding karena belum sempat dipasang.

Nadira meletakkan kardus terakhir di dapur.

Belum lima menit ia menarik napas lega...

**Ting tong.**

Bel rumah berbunyi.

"Aduh..."

Ia melirik jam.

Hampir pukul tujuh malam.

Siapa pula?

Begitu pintu dibuka, ia langsung menyesal.

Arga berdiri di depan pagar sambil membawa sebuah kotak makan.

"Apa lagi?"

"Bukan apa-apa."

"Lalu?"

"Aku mau minta maaf yang benar."

Nadira mengangkat sebelah alis.

"Ini?"

"Mama masak kebanyakan."

"Kebetulan sekali."

"Beneran."

"Terlalu kebetulan."

Arga menghela napas.

"Oke, jujur."

Nadira menyilangkan tangan.

"Aku memang sengaja minta Mama nambah masak."

"Kenapa?"

"Karena aku merasa bersalah."

Hening.

Nadira memperhatikan wajah pria itu beberapa saat.

Tidak ada senyum jahil.

Tidak ada nada bercanda.

Tatapannya justru terlihat tulus.

Namun...

"Terima kasih."

Arga tersenyum.

"...tapi tidak usah."

Senyumnya langsung memudar.

"Nggak diterima?"

"Aku nggak biasa menerima makanan dari orang asing."

"Padahal kita tetangga."

"Justru itu."

"Logikanya di mana?"

"Di kepalaku."

Arga terkekeh pelan.

"Oke. Susah juga ya."

Nadira hendak menutup pintu ketika suara seorang perempuan memanggil dari luar.

"Arga!"

Seorang wanita paruh baya keluar dari rumah sebelah sambil membawa celemek.

Wajahnya ramah.

"Oh... kamu tetangga baru?"

Nadira langsung memasang senyum sopan.

"Iya, Tante."

"Astaga, dari kemarin Tante mau mampir, tapi belum sempat."

Perempuan itu mendekat.

"Nama kamu siapa?"

"Nadira."

"Bagus sekali namanya."

Beliau melirik Arga.

"Kamu apain tetangga sampai mukanya jutek begitu?"

Arga langsung mengangkat kedua tangan.

"Demi apa pun, Ma, aku udah minta maaf."

"Minta maaf kenapa?"

"Sedikit insiden."

Nadira spontan menyahut.

"Kopi."

"Oh..."

Mama Arga langsung memukul pelan lengan anaknya.

"Kamu numpahin kopi lagi?"

"Lagi?"

"Iya."

Beliau menatap Nadira sambil tersenyum pasrah.

"Dia memang ceroboh dari kecil."

Arga mendesah.

"Ma..."

"Dulu waktu SD saja dia pernah—"

"Ma, jangan."

"—numpahin kuah bakso ke kepala gurunya."

Nadira refleks menoleh.

"...Serius?"

Mama Arga mengangguk mantap.

"Serius."

Arga menutup wajahnya dengan telapak tangan.

"Itu kecelakaan."

"Yang kayak gitu kok bisa sering?"

Tanpa sadar, sudut bibir Nadira sedikit terangkat.

Hanya sedikit.

Namun cukup membuat Arga membelalak.

"Loh."

"Apa?"

"Kamu bisa senyum juga."

Senyum itu langsung hilang.

"Nggak jadi."

Mama Arga tertawa kecil melihat tingkah mereka.

---

Keesokan paginya...

Nadira keluar rumah lebih awal.

Hari ini ia tidak mau mengambil risiko bertemu Arga.

Ia membuka pagar perlahan.

Sepi.

Bagus.

Motor dinyalakan.

Baru saja hendak berangkat...

"Selamat pagi."

Suara itu muncul dari belakang.

Nadira memejamkan mata.

Perlahan ia menoleh.

Arga sedang menyiram tanaman di halaman rumah sambil mengenakan kaus hitam dan celana training.

"Kamu sengaja nungguin?"

"Nggak."

"Lalu?"

"Aku tiap pagi memang nyiram bunga."

"Bunganya banyak?"

"Enggak."

"Lalu kenapa lama?"

Arga tersenyum.

"Soalnya tadi aku lihat kamu ngintip dari balik gorden."

Pipi Nadira memanas.

"Aku nggak ngintip."

"Oke."

"Aku cuma memastikan jalan kosong."

"Oke."

"Jangan senyum begitu."

"Aku senyum bagaimana?"

"Menyebalkan."

Arga tertawa.

Suara tawanya ringan, tidak dibuat-buat.

Anehnya, tawa itu tidak terdengar mengganggu.

Justru... cukup hangat.

Nadira buru-buru mengenakan helm.

"Permisi."

"Semangat kerja."

Ia melajukan motor tanpa menjawab.

Di kaca spion, Arga masih berdiri sambil melambaikan tangan.

"Cerewet."

Gumam itu keluar begitu saja.

Namun entah kenapa, sepanjang perjalanan menuju kantor, sudut bibir Nadira beberapa kali nyaris terangkat mengingat ekspresi Arga saat dimarahi ibunya semalam.

Ia segera menggeleng.

"Jangan aneh-aneh, Nadira."

Pria itu tetap menyebalkan.

Tetap ceroboh.

Dan tetap menjadi alasan presentasi pentingnya berantakan.

Tidak ada alasan untuk memikirkan hal lain.

Setidaknya... itu yang berusaha ia yakini.

---

Sesampainya di kantor, Nadira baru duduk beberapa menit ketika Pak Dimas keluar dari ruangannya.

"Nadira."

"Iya, Pak?"

"Mulai minggu depan ada proyek baru."

"Baik, Pak."

"Kliennya besar."

Nadira mengangguk.

"Saya ingin kamu menjadi project leader."

Matanya berbinar.

"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak."

"Tapi ada satu hal."

Perasaan Nadira tiba-tiba tidak enak.

"Karena proyeknya lintas divisi, kamu akan didampingi satu orang dari tim strategi."

"Siapa, Pak?"

Pak Dimas membuka map di tangannya.

"Dia baru dipindahkan ke divisi kita."

Jantung Nadira berdetak sedikit lebih cepat.

"Namanya..."

Tok.

Tok.

Tok.

Seseorang mengetuk pintu ruangan.

"Permisi."

Suara yang sangat dikenalnya.

Pak Dimas tersenyum.

"Nah, kebetulan dia sudah datang."

Nadira menoleh perlahan.

Dan benar saja.

Arga berdiri di ambang pintu dengan senyum yang sama seperti kemarin.

"Selamat pagi."

Tatapan mereka bertemu.

Arga tampak sama terkejutnya.

"...Serius?"

Pak Dimas mengernyit.

"Kalian sudah saling kenal?"

Nadira menarik napas panjang.

"Oh, sangat kenal."

Arga menelan ludah.

"Kayaknya... proyek ini bakal panjang."

**Bersambung...**

Episodes
1 Episode 1 - Pria Paling Menyebalkan di Hari Senin
2 Episode 2 - Tetangga yang Tidak Diundang
3 Episode 3 - Partner ? Mimpi Buruk Lebih Tepat
4 Episode 4 - Batas yang Mulai Kabur
5 Episode 5 - Orang Pertama yang Datang
6 Episode 6 - Bukan Kebetulan Lagi
7 Episode 7 - Mantan yang Datang Tanpa Undangan
8 Episode 8 - Cemburu yang Tak Punya Nama
9 Episode 9 - Kalimat yang Salah Waktu
10 Episode 10 - Salah Kirim atau Salah Mengaku?
11 Episode 11 - Panggilan yang Mengusik
12 Episode 12 - Tatapan yang Berbeda
13 Episode 13 - Satu Payung, Dua Perasaan
14 Episode 14 - Masa Lalu yang harus selesai
15 Episode 15 - Satu Langkah Lebih Dekat
16 Episode 16 - Makan Siang yang berubah jadi ajang menjodohkan
17 Episode 17 - Ulang Tahun yang Penuh Kejutan
18 Episode 18 - Pria yang Datang Membawa Masa Depan
19 Episode 19 - Ketika Seseorang Mulai Berjuang
20 Episode 20 - Aku Tidak Akan Mundur
21 Episode 21 - Bunga Tanpa Nama
22 Episode 22 - Jawaban yang Mulai Terlihat
23 Episode 23 - Perjalanan yang Mengubah Segalanya
24 Episode 24 - Cottage Sebelah, Perasaan yang Tak Lagi Sama
25 Episode 25 - Dibalik Hujan, Ada Jawaban
26 Episode 26 - Aku Memilih Menunggu
27 Episode 27 - Jawaban Itu Semakin Dekat
28 Episode 28 - Lamaran yang Datang Terlalu Cepat
29 Episode 29 - Syarat dari Seorang Ayah
30 Episode 30 - Surat yang Mengubah Segalanya
31 Episode 31 - Pilihan yang Tidak Terduga
32 Episode 32 - Masa Lalu yang Belum Selesai
33 Episode 33 - Luka yang Belum Sembuh
34 Episode 34 - Alasan yang Tak Pernah Terucap
35 Episode 35 - Orang yang Tak Diundang
36 Episode 36 - Surat Terakhir dari Ayah
37 Episode 37 - Musuh atau Korban?
38 Episode 38 - Pengkhianat di Dalam Tim
39 Episode 39 - Kepercayaan yang Diuji
40 Episode 40 - Semangkuk Bakso di Tengah Lembur
41 Episode 41 - Benih Kecurigaan
42 Episode 42 - Fitnah yang Disiapkan
43 Episode 43 - Memilih untuk Percaya
44 Episode 44 - Kesempatan Kedua
45 Episode 45 - Saseorang yang Ingin Melindungi
46 Episode 46 - Aku Tidak Akan Pergi
47 Episode 47 - Pria yang Datang Tanpa Diundang
48 Episode 48 - Rahasia yang Tak Pernah Diceritakan
49 Episode 49 - Tempat yang Tak Pernah Terlupakan
50 Episode 50 - Rumah adalah tempat hati pulang
51 Episode 51 - Cemburu itu Capek, Tapi Susah Berenti
52 Episode 52 - Mantan yang Datang Membawa Kekacauan
53 Episode 53 - Jodoh Memang Bikin Emosi
54 Episode 54 - Jangan Pegang Tangannya
55 Episode 55 - Salah paham yang bikin Emosi
56 Episode 56 - Jangan Pergi Dulu
57 Episode 57 - Kalau kamu pergi, aku akan merindukanmu
58 Episode 58 - Aku Bilang Jangan Pergi, bukan Jangan pulang
59 Siapa Ayah kandung ku?
60 Kalau kamu bohong, aku akan pergi
61 Jangan Pergi, Dir
62 Kebenaran yang Harus Disembunyikan
63 Kalau Harus Memilih, Aku Pilih Kamu
64 Ibu Menyimpan Rahasia Besar
65 Aku akan menemukan ayah
66 Dimas Bukan Orang yang Kita Kira
67 Jangan Percaya Siapa pun
68 Ayah yang selama ini kucari
69 Ternyata ibu adalah orang keempat
70 Siapa sebenarnya ibuku
71 Tempat semua kebohonhan dimulai
72 Tangan yang menarikku
73 Pewaris sudah datang
74 Saudari yang tak pernah kuketahui
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Episode 1 - Pria Paling Menyebalkan di Hari Senin
2
Episode 2 - Tetangga yang Tidak Diundang
3
Episode 3 - Partner ? Mimpi Buruk Lebih Tepat
4
Episode 4 - Batas yang Mulai Kabur
5
Episode 5 - Orang Pertama yang Datang
6
Episode 6 - Bukan Kebetulan Lagi
7
Episode 7 - Mantan yang Datang Tanpa Undangan
8
Episode 8 - Cemburu yang Tak Punya Nama
9
Episode 9 - Kalimat yang Salah Waktu
10
Episode 10 - Salah Kirim atau Salah Mengaku?
11
Episode 11 - Panggilan yang Mengusik
12
Episode 12 - Tatapan yang Berbeda
13
Episode 13 - Satu Payung, Dua Perasaan
14
Episode 14 - Masa Lalu yang harus selesai
15
Episode 15 - Satu Langkah Lebih Dekat
16
Episode 16 - Makan Siang yang berubah jadi ajang menjodohkan
17
Episode 17 - Ulang Tahun yang Penuh Kejutan
18
Episode 18 - Pria yang Datang Membawa Masa Depan
19
Episode 19 - Ketika Seseorang Mulai Berjuang
20
Episode 20 - Aku Tidak Akan Mundur
21
Episode 21 - Bunga Tanpa Nama
22
Episode 22 - Jawaban yang Mulai Terlihat
23
Episode 23 - Perjalanan yang Mengubah Segalanya
24
Episode 24 - Cottage Sebelah, Perasaan yang Tak Lagi Sama
25
Episode 25 - Dibalik Hujan, Ada Jawaban
26
Episode 26 - Aku Memilih Menunggu
27
Episode 27 - Jawaban Itu Semakin Dekat
28
Episode 28 - Lamaran yang Datang Terlalu Cepat
29
Episode 29 - Syarat dari Seorang Ayah
30
Episode 30 - Surat yang Mengubah Segalanya
31
Episode 31 - Pilihan yang Tidak Terduga
32
Episode 32 - Masa Lalu yang Belum Selesai
33
Episode 33 - Luka yang Belum Sembuh
34
Episode 34 - Alasan yang Tak Pernah Terucap
35
Episode 35 - Orang yang Tak Diundang
36
Episode 36 - Surat Terakhir dari Ayah
37
Episode 37 - Musuh atau Korban?
38
Episode 38 - Pengkhianat di Dalam Tim
39
Episode 39 - Kepercayaan yang Diuji
40
Episode 40 - Semangkuk Bakso di Tengah Lembur
41
Episode 41 - Benih Kecurigaan
42
Episode 42 - Fitnah yang Disiapkan
43
Episode 43 - Memilih untuk Percaya
44
Episode 44 - Kesempatan Kedua
45
Episode 45 - Saseorang yang Ingin Melindungi
46
Episode 46 - Aku Tidak Akan Pergi
47
Episode 47 - Pria yang Datang Tanpa Diundang
48
Episode 48 - Rahasia yang Tak Pernah Diceritakan
49
Episode 49 - Tempat yang Tak Pernah Terlupakan
50
Episode 50 - Rumah adalah tempat hati pulang
51
Episode 51 - Cemburu itu Capek, Tapi Susah Berenti
52
Episode 52 - Mantan yang Datang Membawa Kekacauan
53
Episode 53 - Jodoh Memang Bikin Emosi
54
Episode 54 - Jangan Pegang Tangannya
55
Episode 55 - Salah paham yang bikin Emosi
56
Episode 56 - Jangan Pergi Dulu
57
Episode 57 - Kalau kamu pergi, aku akan merindukanmu
58
Episode 58 - Aku Bilang Jangan Pergi, bukan Jangan pulang
59
Siapa Ayah kandung ku?
60
Kalau kamu bohong, aku akan pergi
61
Jangan Pergi, Dir
62
Kebenaran yang Harus Disembunyikan
63
Kalau Harus Memilih, Aku Pilih Kamu
64
Ibu Menyimpan Rahasia Besar
65
Aku akan menemukan ayah
66
Dimas Bukan Orang yang Kita Kira
67
Jangan Percaya Siapa pun
68
Ayah yang selama ini kucari
69
Ternyata ibu adalah orang keempat
70
Siapa sebenarnya ibuku
71
Tempat semua kebohonhan dimulai
72
Tangan yang menarikku
73
Pewaris sudah datang
74
Saudari yang tak pernah kuketahui

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!