Episode 4 - Batas yang Mulai Kabur

Pukul delapan lewat lima menit.

Ruang rapat lantai tujuh masih dipenuhi suara keyboard dan obrolan kecil sebelum rapat dimulai.

Nadira memilih duduk di ujung meja. Laptopnya sudah terbuka, catatan tersusun rapi, dan secangkir teh hangat mengepul di sampingnya.

Ia sengaja datang lebih awal.

Satu alasan.

Supaya tidak perlu mengobrol dengan Arga.

Namun harapannya pupus ketika kursi di sebelahnya bergeser.

"Kursi lain penuh?"

Suara itu terdengar santai.

Nadira bahkan tidak perlu menoleh.

"Masih banyak."

"Iya."

"Terus?"

"Aku lebih enak duduk di sini."

Nadira akhirnya memalingkan wajah.

"Kenapa?"

"Kalau duduk jauh, nanti kamu ngomongnya makin dingin."

"Aku memang dingin."

"Nggak juga."

"Kamu baru kenal aku."

Arga tersenyum tipis.

"Makanya pengin kenal."

Nadira terdiam sesaat.

Untung sebelum ia sempat membalas, Pak Dimas masuk bersama beberapa anggota tim lain.

"Selamat pagi semuanya."

Rapat dimulai.

---

"Klien kita adalah perusahaan properti terbesar di Jakarta Selatan."

Pak Dimas membagikan beberapa dokumen.

"Deadline presentasi final tiga minggu."

Beberapa orang langsung menghela napas.

"Tiga minggu?"

"Singkat banget."

Pak Dimas mengangguk.

"Itu sebabnya saya memasangkan Nadira dan Arga."

Nadira spontan melirik.

Arga hanya mengangkat bahu seolah berkata, *aku juga tidak minta*.

"Pembagian tugas sederhana."

Pak Dimas menunjuk slide.

"Nadira fokus pada kebutuhan klien, timeline, dan koordinasi."

"Arga."

"Iya, Pak."

"Kamu buat konsep strategi kreatif."

"Siap."

"Kalian harus sering diskusi."

Kalimat terakhir itu sukses membuat Nadira menutup matanya beberapa detik.

---

Selesai rapat.

Semua kembali ke meja masing-masing.

Baru beberapa menit bekerja, Arga muncul sambil membawa dua gelas kopi.

"Aku beli kopi."

"Aku nggak minum."

"Bukan kopi."

Nadira melirik.

"Ternyata teh."

"Aku masih ingat kamu trauma kopi."

Nadira tidak langsung mengambilnya.

Arga meletakkan gelas itu di meja.

"Kalau nggak diminum juga nggak apa-apa."

Lalu ia pergi begitu saja.

Nadira menatap gelas itu cukup lama.

Tidak ada catatan.

Tidak ada candaan.

Hanya segelas teh hangat.

Rina, rekan satu divisi, menghampiri mejanya.

"Itu dari siapa?"

"Arga."

"Wih."

"Bukan begitu."

"Dia perhatian ya."

Nadira cepat menggeleng.

"Dia cuma merasa bersalah."

"Kalau cuma merasa bersalah seminggu juga selesai."

Nadira tidak menjawab.

Perkataannya memang masuk akal.

Arga sudah beberapa kali meminta maaf.

Sudah beberapa kali mencoba memperbaiki keadaan.

Namun dirinya sendiri masih memilih memasang tembok.

---

Menjelang siang.

Arga datang membawa laptop.

"Boleh diskusi?"

Nadira menunjuk kursi di depannya.

"Lima belas menit."

"Baik, Bu."

"Jangan panggil Bu."

"Siap, Bos."

"Sama saja."

"Oke, Nadira."

Ia akhirnya mengangguk.

"Nah, begitu."

Arga membuka beberapa desain.

"Aku punya tiga konsep."

Tidak seperti yang dibayangkan Nadira.

Presentasi Arga sangat rapi.

Semua idenya masuk akal.

Bahkan beberapa poin yang ia pikirkan ternyata sudah dipertimbangkan lebih dulu oleh Arga.

Tanpa sadar Nadira mulai serius memperhatikan.

"Kalau target pasarnya keluarga muda..."

"Nah, itu."

Arga mengangguk.

"Aku juga kepikiran begitu."

Mereka mulai saling memberi masukan.

Lima belas menit berubah menjadi hampir satu jam.

Sampai akhirnya...

"Kalian cocok juga ternyata."

Suara Rina membuat keduanya sama-sama menoleh.

"Cocok apanya?"

Rina tertawa.

"Kalau lagi bahas kerja, kalian lupa dunia."

Nadira buru-buru menutup laptop.

"Bukan begitu."

"Iya deh."

Rina pergi sambil terkekeh.

Arga justru ikut tertawa.

"Orang kantor cepat banget bikin kesimpulan."

"Kamu malah ketawa."

"Lucu."

"Buatku nggak."

---

Sepulang kantor.

Langit mendung.

Baru beberapa menit Nadira mengendarai motornya, hujan turun begitu deras.

Ia menepi di sebuah minimarket.

Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh.

"Kayaknya lama nih."

Nadira menghela napas.

Ia lupa membawa jas hujan.

"Untung ketemu."

Suara yang sangat dikenalnya kembali terdengar.

Nadira menoleh.

Arga berdiri di sampingnya sambil membawa payung hitam.

"Kamu ngikutin aku?"

"Enggak."

"Aku juga berhenti karena hujan."

Nadira mengangguk pelan.

Masuk akal.

Mereka memang pulang lewat jalan yang sama.

Arga membeli dua gelas cokelat hangat dari minimarket.

Satu disodorkan padanya.

"Nih."

"Aku bayar."

"Nggak usah."

"Aku nggak enak."

"Aku lebih nggak enak kalau kamu kehujanan gara-gara nolak terus."

Nadira akhirnya menerima gelas itu.

"Terima kasih."

Arga tersenyum.

Itu pertama kalinya sejak mereka bertemu, Nadira mengucapkan terima kasih tanpa nada kesal.

Hening menyelimuti mereka.

Hanya suara hujan yang memukul atap seng minimarket.

Beberapa anak kecil berlarian sambil tertawa menerobos genangan air.

Arga memperhatikan mereka.

"Waktu kecil aku juga begitu."

"Nggak heran."

"Hah?"

"Suka bikin masalah."

Arga tertawa lepas.

"Berarti kamu mulai hafal sifatku."

"Aku cuma menyimpulkan."

"Tapi benar."

Ia mengangguk kecil.

"Aku memang sering ceroboh."

Nada suaranya kali ini berbeda.

Lebih pelan.

"Ayahku dulu sering marah karena itu."

Nadira menoleh.

Arga tidak lagi tersenyum.

"Tapi setelah beliau meninggal..."

Ia berhenti sejenak.

"Nggak ada lagi yang marahin."

Kalimat itu sederhana.

Namun entah kenapa membuat dada Nadira sedikit sesak.

Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain Arga.

Di balik semua candaan dan senyumnya, ternyata ada ruang kosong yang masih belum benar-benar sembuh.

Hujan mulai mereda.

Arga berdiri lebih dulu.

"Yuk."

Nadira ikut berdiri.

Mereka berjalan menuju parkiran.

Saat membuka payung, Arga memiringkannya ke arah Nadira agar gadis itu tidak terkena sisa tetesan hujan.

Sedangkan bahunya sendiri perlahan basah.

Nadira menyadarinya.

"Kamu kehujanan."

"Nggak apa."

"Payungnya kurang tengah."

"Aku sengaja."

"Kenapa?"

"Soalnya kalau kamu sakit..."

Arga tersenyum kecil.

"...partner kerjaku jadi libur."

Nadira memutar bola mata.

"Hampir saja aku percaya."

"Iya, sedikit lagi."

Tanpa sadar, Nadira tertawa pelan.

Sangat pelan.

Namun suara tawa itu cukup membuat Arga berhenti melangkah beberapa detik.

"Kenapa?"

"Nggak apa."

Arga menggeleng sambil tersenyum.

"Cuma baru sadar."

"Sadar apa?"

"Ternyata ketawa kamu bagus juga."

Seketika wajah Nadira memerah.

"Jangan mulai aneh-aneh."

Ia langsung mengenakan helm dan menyalakan motor.

Arga hanya tersenyum melihatnya pergi.

Sementara Nadira, sepanjang perjalanan pulang, terus mengingat satu hal.

Ia memang masih menganggap Arga menyebalkan.

Tetapi hari ini...

Untuk pertama kalinya, pria itu tidak lagi terasa seperti orang asing.

Dan tanpa ia sadari, tembok yang sejak awal ia bangun mulai retak sedikit demi sedikit.

**Bersambung ke Episode 5...**

Episodes
1 Episode 1 - Pria Paling Menyebalkan di Hari Senin
2 Episode 2 - Tetangga yang Tidak Diundang
3 Episode 3 - Partner ? Mimpi Buruk Lebih Tepat
4 Episode 4 - Batas yang Mulai Kabur
5 Episode 5 - Orang Pertama yang Datang
6 Episode 6 - Bukan Kebetulan Lagi
7 Episode 7 - Mantan yang Datang Tanpa Undangan
8 Episode 8 - Cemburu yang Tak Punya Nama
9 Episode 9 - Kalimat yang Salah Waktu
10 Episode 10 - Salah Kirim atau Salah Mengaku?
11 Episode 11 - Panggilan yang Mengusik
12 Episode 12 - Tatapan yang Berbeda
13 Episode 13 - Satu Payung, Dua Perasaan
14 Episode 14 - Masa Lalu yang harus selesai
15 Episode 15 - Satu Langkah Lebih Dekat
16 Episode 16 - Makan Siang yang berubah jadi ajang menjodohkan
17 Episode 17 - Ulang Tahun yang Penuh Kejutan
18 Episode 18 - Pria yang Datang Membawa Masa Depan
19 Episode 19 - Ketika Seseorang Mulai Berjuang
20 Episode 20 - Aku Tidak Akan Mundur
21 Episode 21 - Bunga Tanpa Nama
22 Episode 22 - Jawaban yang Mulai Terlihat
23 Episode 23 - Perjalanan yang Mengubah Segalanya
24 Episode 24 - Cottage Sebelah, Perasaan yang Tak Lagi Sama
25 Episode 25 - Dibalik Hujan, Ada Jawaban
26 Episode 26 - Aku Memilih Menunggu
27 Episode 27 - Jawaban Itu Semakin Dekat
28 Episode 28 - Lamaran yang Datang Terlalu Cepat
29 Episode 29 - Syarat dari Seorang Ayah
30 Episode 30 - Surat yang Mengubah Segalanya
31 Episode 31 - Pilihan yang Tidak Terduga
32 Episode 32 - Masa Lalu yang Belum Selesai
33 Episode 33 - Luka yang Belum Sembuh
34 Episode 34 - Alasan yang Tak Pernah Terucap
35 Episode 35 - Orang yang Tak Diundang
36 Episode 36 - Surat Terakhir dari Ayah
37 Episode 37 - Musuh atau Korban?
38 Episode 38 - Pengkhianat di Dalam Tim
39 Episode 39 - Kepercayaan yang Diuji
40 Episode 40 - Semangkuk Bakso di Tengah Lembur
41 Episode 41 - Benih Kecurigaan
42 Episode 42 - Fitnah yang Disiapkan
43 Episode 43 - Memilih untuk Percaya
44 Episode 44 - Kesempatan Kedua
45 Episode 45 - Saseorang yang Ingin Melindungi
46 Episode 46 - Aku Tidak Akan Pergi
47 Episode 47 - Pria yang Datang Tanpa Diundang
48 Episode 48 - Rahasia yang Tak Pernah Diceritakan
49 Episode 49 - Tempat yang Tak Pernah Terlupakan
50 Episode 50 - Rumah adalah tempat hati pulang
51 Episode 51 - Cemburu itu Capek, Tapi Susah Berenti
52 Episode 52 - Mantan yang Datang Membawa Kekacauan
53 Episode 53 - Jodoh Memang Bikin Emosi
54 Episode 54 - Jangan Pegang Tangannya
55 Episode 55 - Salah paham yang bikin Emosi
56 Episode 56 - Jangan Pergi Dulu
57 Episode 57 - Kalau kamu pergi, aku akan merindukanmu
58 Episode 58 - Aku Bilang Jangan Pergi, bukan Jangan pulang
59 Siapa Ayah kandung ku?
60 Kalau kamu bohong, aku akan pergi
61 Jangan Pergi, Dir
62 Kebenaran yang Harus Disembunyikan
63 Kalau Harus Memilih, Aku Pilih Kamu
64 Ibu Menyimpan Rahasia Besar
65 Aku akan menemukan ayah
66 Dimas Bukan Orang yang Kita Kira
67 Jangan Percaya Siapa pun
68 Ayah yang selama ini kucari
69 Ternyata ibu adalah orang keempat
70 Siapa sebenarnya ibuku
71 Tempat semua kebohonhan dimulai
72 Tangan yang menarikku
73 Pewaris sudah datang
74 Saudari yang tak pernah kuketahui
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Episode 1 - Pria Paling Menyebalkan di Hari Senin
2
Episode 2 - Tetangga yang Tidak Diundang
3
Episode 3 - Partner ? Mimpi Buruk Lebih Tepat
4
Episode 4 - Batas yang Mulai Kabur
5
Episode 5 - Orang Pertama yang Datang
6
Episode 6 - Bukan Kebetulan Lagi
7
Episode 7 - Mantan yang Datang Tanpa Undangan
8
Episode 8 - Cemburu yang Tak Punya Nama
9
Episode 9 - Kalimat yang Salah Waktu
10
Episode 10 - Salah Kirim atau Salah Mengaku?
11
Episode 11 - Panggilan yang Mengusik
12
Episode 12 - Tatapan yang Berbeda
13
Episode 13 - Satu Payung, Dua Perasaan
14
Episode 14 - Masa Lalu yang harus selesai
15
Episode 15 - Satu Langkah Lebih Dekat
16
Episode 16 - Makan Siang yang berubah jadi ajang menjodohkan
17
Episode 17 - Ulang Tahun yang Penuh Kejutan
18
Episode 18 - Pria yang Datang Membawa Masa Depan
19
Episode 19 - Ketika Seseorang Mulai Berjuang
20
Episode 20 - Aku Tidak Akan Mundur
21
Episode 21 - Bunga Tanpa Nama
22
Episode 22 - Jawaban yang Mulai Terlihat
23
Episode 23 - Perjalanan yang Mengubah Segalanya
24
Episode 24 - Cottage Sebelah, Perasaan yang Tak Lagi Sama
25
Episode 25 - Dibalik Hujan, Ada Jawaban
26
Episode 26 - Aku Memilih Menunggu
27
Episode 27 - Jawaban Itu Semakin Dekat
28
Episode 28 - Lamaran yang Datang Terlalu Cepat
29
Episode 29 - Syarat dari Seorang Ayah
30
Episode 30 - Surat yang Mengubah Segalanya
31
Episode 31 - Pilihan yang Tidak Terduga
32
Episode 32 - Masa Lalu yang Belum Selesai
33
Episode 33 - Luka yang Belum Sembuh
34
Episode 34 - Alasan yang Tak Pernah Terucap
35
Episode 35 - Orang yang Tak Diundang
36
Episode 36 - Surat Terakhir dari Ayah
37
Episode 37 - Musuh atau Korban?
38
Episode 38 - Pengkhianat di Dalam Tim
39
Episode 39 - Kepercayaan yang Diuji
40
Episode 40 - Semangkuk Bakso di Tengah Lembur
41
Episode 41 - Benih Kecurigaan
42
Episode 42 - Fitnah yang Disiapkan
43
Episode 43 - Memilih untuk Percaya
44
Episode 44 - Kesempatan Kedua
45
Episode 45 - Saseorang yang Ingin Melindungi
46
Episode 46 - Aku Tidak Akan Pergi
47
Episode 47 - Pria yang Datang Tanpa Diundang
48
Episode 48 - Rahasia yang Tak Pernah Diceritakan
49
Episode 49 - Tempat yang Tak Pernah Terlupakan
50
Episode 50 - Rumah adalah tempat hati pulang
51
Episode 51 - Cemburu itu Capek, Tapi Susah Berenti
52
Episode 52 - Mantan yang Datang Membawa Kekacauan
53
Episode 53 - Jodoh Memang Bikin Emosi
54
Episode 54 - Jangan Pegang Tangannya
55
Episode 55 - Salah paham yang bikin Emosi
56
Episode 56 - Jangan Pergi Dulu
57
Episode 57 - Kalau kamu pergi, aku akan merindukanmu
58
Episode 58 - Aku Bilang Jangan Pergi, bukan Jangan pulang
59
Siapa Ayah kandung ku?
60
Kalau kamu bohong, aku akan pergi
61
Jangan Pergi, Dir
62
Kebenaran yang Harus Disembunyikan
63
Kalau Harus Memilih, Aku Pilih Kamu
64
Ibu Menyimpan Rahasia Besar
65
Aku akan menemukan ayah
66
Dimas Bukan Orang yang Kita Kira
67
Jangan Percaya Siapa pun
68
Ayah yang selama ini kucari
69
Ternyata ibu adalah orang keempat
70
Siapa sebenarnya ibuku
71
Tempat semua kebohonhan dimulai
72
Tangan yang menarikku
73
Pewaris sudah datang
74
Saudari yang tak pernah kuketahui

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!