Episode 5 - Orang Pertama yang Datang

Suara mesin mobil terdengar samar di pelataran rumah sakit.

Nadira menutup pintu mobil dengan tergesa. Langkahnya cepat menyusuri lorong Instalasi Gawat Darurat. Tas kerjanya masih menggantung di bahu, bahkan name tag kantor belum sempat dilepas.

Di ujung lorong, ia melihat ibunya duduk di bangku panjang sambil menggenggam tas kecil.

"Ma..."

Ibunya langsung berdiri.

"Nadira."

Tanpa banyak bicara, Nadira memeluk wanita itu.

"Gimana keadaan Papa?"

"Alhamdulillah sudah lebih baik. Tadi di kantor Papa tiba-tiba pusing, terus sempat pingsan."

"Dokter bilang apa?"

"Tekanan darahnya tinggi sekali. Harus dirawat dulu."

Nadira mengembuskan napas lega meski dadanya masih sesak.

"Syukurlah..."

Air matanya nyaris jatuh, tetapi ia tahan.

Ia tidak ingin ibunya ikut semakin panik.

---

Beberapa menit kemudian, dokter keluar dari ruang pemeriksaan.

"Keluarga Pak Hendra?"

"Saya, Dok."

Dokter tersenyum tipis.

"Kondisinya sudah stabil. Tidak ada serangan jantung ataupun stroke. Tapi beliau kelelahan dan tekanan darahnya sangat tinggi."

"Berbahaya, Dok?"

"Kalau dibiarkan, bisa berbahaya."

Nadira mengangguk pelan.

Ia tahu persis penyebabnya.

Ayahnya selalu memaksakan diri bekerja.

Kalau diminta istirahat, jawabannya selalu sama.

*"Nanti saja."*

---

Setelah diizinkan masuk, Nadira melihat ayahnya berbaring dengan infus di tangan.

"Hai."

Suara ayahnya masih terdengar pelan, tetapi tetap berusaha tersenyum.

"Nak, kok mukanya kusut begitu?"

Nadira langsung mencubit pelan lengan ayahnya.

"Papa masih sempat bercanda?"

"Kalau Papa serius terus nanti kamu tambah takut."

"Malah bikin kesel."

"Berarti Papa berhasil."

Nadira menggeleng sambil tertawa kecil.

Rasa kesalnya perlahan berubah menjadi lega.

"Papa bikin Nadira panik."

"Iya, maaf."

"Besok-besok kalau capek bilang."

"Iya."

"Kalau pusing?"

"Iya."

"Kalau kerja kebanyakan?"

Ayahnya melirik istrinya.

"Mama kamu yang nyuruh."

"Malah nyalahin Mama."

Suasana kamar yang tadi tegang perlahan mencair.

---

Di luar kamar, Nadira membeli dua botol air mineral dari mesin penjual otomatis.

Saat kembali ke lorong, langkahnya berhenti.

Seseorang sedang berdiri di dekat ruang perawat.

Kemeja putihnya kini sedikit kusut.

Lengan bajunya masih tergulung.

Arga.

"Ngapain kamu di sini?"

Arga memasukkan ponselnya ke saku.

"Tadi kamu pergi buru-buru."

Nadira masih menatapnya bingung.

"Aku khawatir."

"Hah?"

"Aku tanya Pak Dimas alamat rumah sakitnya."

Nadira benar-benar tidak menyangka.

"Kamu... ke sini?"

"Iya."

"Hanya buat memastikan?"

Arga mengangguk.

"Om gimana?"

"Sudah stabil."

"Syukurlah."

Hening beberapa detik.

Nadira memperhatikan wajah Arga.

Ada lelah di sana.

Seolah ia langsung berangkat dari kantor tanpa sempat pulang.

"Kamu sudah makan?"

Arga menggeleng.

"Belum."

"Nggak usah bohong."

"Bener."

"Kok bisa?"

"Tadi buru-buru."

Nadira menghela napas.

"Ya sudah."

Ia menyerahkan satu botol air mineral.

"Ini."

Arga menerimanya sambil tersenyum.

"Terima kasih."

"Itu cuma air."

"Yang penting dikasih sama orang."

Nadira spontan memutar bola mata.

"Kamu memang nggak bisa serius terus ya?"

"Bisa."

Senyum Arga perlahan menghilang.

"Aku cuma nggak mau kamu tambah kepikiran."

Kalimat itu membuat Nadira terdiam.

Ia baru sadar.

Sejak datang ke rumah sakit, belum ada seorang pun dari kantor yang menghubunginya selain pesan singkat dari Pak Dimas.

Tetapi Arga...

Datang langsung.

---

Malam mulai larut.

Mama Nadira meminta putrinya pulang lebih dulu untuk beristirahat.

"Besok gantian sama Mama."

"Nggak apa-apa, Ma."

"Kamu juga kerja."

Nadira akhirnya mengangguk.

Saat keluar dari rumah sakit, hujan rintik-rintik kembali turun.

"Aku antar."

Suara Arga terdengar dari belakang.

"Nggak usah."

"Motor kamu masih di kantor."

Nadira baru ingat.

Benar.

Tadi ia datang bersama Arga tanpa sempat berpikir panjang.

Ia menatap pria itu beberapa saat.

"Lain kali jangan langsung ambil keputusan sendiri."

"Maksudnya?"

"Ngantar aku."

Arga mengangguk pelan.

"Maaf."

"Tapi..."

Nadira berhenti sejenak.

"...terima kasih."

Arga tersenyum.

"Kalimat itu akhirnya keluar juga."

"Jangan besar kepala."

"Nggak."

Mereka berjalan berdampingan menuju parkiran.

Untuk pertama kalinya, tidak ada adu mulut.

Tidak ada sindiran.

Hanya langkah kaki yang terdengar bergantian di antara rintik hujan.

---

Di dalam mobil, jalanan malam terlihat lengang.

Radio memutar lagu lawas dengan volume kecil.

Nadira memandang keluar jendela.

"Ayahmu dulu seperti apa?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Arga tidak langsung menjawab.

"Beliau orang yang paling cerewet di rumah."

"Cerewet?"

"Iya."

"Kalau aku pulang malam, dimarahin."

"Kalau lupa makan, dimarahin."

"Kalau motor kotor, dimarahin."

Arga tersenyum kecil.

"Dulu aku sering kesal."

"Lalu?"

"Setelah beliau nggak ada..."

Ia menarik napas pelan.

"...baru sadar, ternyata dimarahin itu juga bentuk sayang."

Mobil kembali hening.

Nadira menunduk.

Ia membayangkan ayahnya yang beberapa jam lalu terbaring di ranjang rumah sakit.

Tanpa sadar, matanya kembali berkaca-kaca.

Arga tidak mengatakan apa pun.

Ia hanya mengecilkan volume radio dan membiarkan keheningan menemani perjalanan.

Kadang, kehadiran seseorang jauh lebih berarti daripada banyaknya kata-kata.

Saat mobil berhenti di depan rumah Nadira, gadis itu belum langsung turun.

"Arga."

"Hm?"

"Terima kasih... sudah datang ke rumah sakit."

Arga tersenyum hangat.

"Kita kan partner."

Nadira menggeleng pelan.

"Kurasa... sekarang bukan cuma karena itu."

Tatapan mereka bertemu sesaat.

Tak ada yang melanjutkan kalimat tersebut.

Namun untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, tembok di hati Nadira mulai runtuh sedikit demi sedikit.

Dan tanpa mereka sadari, hubungan yang awalnya dipenuhi rasa kesal mulai berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.

**Bersambung ke Episode 6...**

Episodes
1 Episode 1 - Pria Paling Menyebalkan di Hari Senin
2 Episode 2 - Tetangga yang Tidak Diundang
3 Episode 3 - Partner ? Mimpi Buruk Lebih Tepat
4 Episode 4 - Batas yang Mulai Kabur
5 Episode 5 - Orang Pertama yang Datang
6 Episode 6 - Bukan Kebetulan Lagi
7 Episode 7 - Mantan yang Datang Tanpa Undangan
8 Episode 8 - Cemburu yang Tak Punya Nama
9 Episode 9 - Kalimat yang Salah Waktu
10 Episode 10 - Salah Kirim atau Salah Mengaku?
11 Episode 11 - Panggilan yang Mengusik
12 Episode 12 - Tatapan yang Berbeda
13 Episode 13 - Satu Payung, Dua Perasaan
14 Episode 14 - Masa Lalu yang harus selesai
15 Episode 15 - Satu Langkah Lebih Dekat
16 Episode 16 - Makan Siang yang berubah jadi ajang menjodohkan
17 Episode 17 - Ulang Tahun yang Penuh Kejutan
18 Episode 18 - Pria yang Datang Membawa Masa Depan
19 Episode 19 - Ketika Seseorang Mulai Berjuang
20 Episode 20 - Aku Tidak Akan Mundur
21 Episode 21 - Bunga Tanpa Nama
22 Episode 22 - Jawaban yang Mulai Terlihat
23 Episode 23 - Perjalanan yang Mengubah Segalanya
24 Episode 24 - Cottage Sebelah, Perasaan yang Tak Lagi Sama
25 Episode 25 - Dibalik Hujan, Ada Jawaban
26 Episode 26 - Aku Memilih Menunggu
27 Episode 27 - Jawaban Itu Semakin Dekat
28 Episode 28 - Lamaran yang Datang Terlalu Cepat
29 Episode 29 - Syarat dari Seorang Ayah
30 Episode 30 - Surat yang Mengubah Segalanya
31 Episode 31 - Pilihan yang Tidak Terduga
32 Episode 32 - Masa Lalu yang Belum Selesai
33 Episode 33 - Luka yang Belum Sembuh
34 Episode 34 - Alasan yang Tak Pernah Terucap
35 Episode 35 - Orang yang Tak Diundang
36 Episode 36 - Surat Terakhir dari Ayah
37 Episode 37 - Musuh atau Korban?
38 Episode 38 - Pengkhianat di Dalam Tim
39 Episode 39 - Kepercayaan yang Diuji
40 Episode 40 - Semangkuk Bakso di Tengah Lembur
41 Episode 41 - Benih Kecurigaan
42 Episode 42 - Fitnah yang Disiapkan
43 Episode 43 - Memilih untuk Percaya
44 Episode 44 - Kesempatan Kedua
45 Episode 45 - Saseorang yang Ingin Melindungi
46 Episode 46 - Aku Tidak Akan Pergi
47 Episode 47 - Pria yang Datang Tanpa Diundang
48 Episode 48 - Rahasia yang Tak Pernah Diceritakan
49 Episode 49 - Tempat yang Tak Pernah Terlupakan
50 Episode 50 - Rumah adalah tempat hati pulang
51 Episode 51 - Cemburu itu Capek, Tapi Susah Berenti
52 Episode 52 - Mantan yang Datang Membawa Kekacauan
53 Episode 53 - Jodoh Memang Bikin Emosi
54 Episode 54 - Jangan Pegang Tangannya
55 Episode 55 - Salah paham yang bikin Emosi
56 Episode 56 - Jangan Pergi Dulu
57 Episode 57 - Kalau kamu pergi, aku akan merindukanmu
58 Episode 58 - Aku Bilang Jangan Pergi, bukan Jangan pulang
59 Siapa Ayah kandung ku?
60 Kalau kamu bohong, aku akan pergi
61 Jangan Pergi, Dir
62 Kebenaran yang Harus Disembunyikan
63 Kalau Harus Memilih, Aku Pilih Kamu
64 Ibu Menyimpan Rahasia Besar
65 Aku akan menemukan ayah
66 Dimas Bukan Orang yang Kita Kira
67 Jangan Percaya Siapa pun
68 Ayah yang selama ini kucari
69 Ternyata ibu adalah orang keempat
70 Siapa sebenarnya ibuku
71 Tempat semua kebohonhan dimulai
72 Tangan yang menarikku
73 Pewaris sudah datang
74 Saudari yang tak pernah kuketahui
Episodes

Updated 74 Episodes

1
Episode 1 - Pria Paling Menyebalkan di Hari Senin
2
Episode 2 - Tetangga yang Tidak Diundang
3
Episode 3 - Partner ? Mimpi Buruk Lebih Tepat
4
Episode 4 - Batas yang Mulai Kabur
5
Episode 5 - Orang Pertama yang Datang
6
Episode 6 - Bukan Kebetulan Lagi
7
Episode 7 - Mantan yang Datang Tanpa Undangan
8
Episode 8 - Cemburu yang Tak Punya Nama
9
Episode 9 - Kalimat yang Salah Waktu
10
Episode 10 - Salah Kirim atau Salah Mengaku?
11
Episode 11 - Panggilan yang Mengusik
12
Episode 12 - Tatapan yang Berbeda
13
Episode 13 - Satu Payung, Dua Perasaan
14
Episode 14 - Masa Lalu yang harus selesai
15
Episode 15 - Satu Langkah Lebih Dekat
16
Episode 16 - Makan Siang yang berubah jadi ajang menjodohkan
17
Episode 17 - Ulang Tahun yang Penuh Kejutan
18
Episode 18 - Pria yang Datang Membawa Masa Depan
19
Episode 19 - Ketika Seseorang Mulai Berjuang
20
Episode 20 - Aku Tidak Akan Mundur
21
Episode 21 - Bunga Tanpa Nama
22
Episode 22 - Jawaban yang Mulai Terlihat
23
Episode 23 - Perjalanan yang Mengubah Segalanya
24
Episode 24 - Cottage Sebelah, Perasaan yang Tak Lagi Sama
25
Episode 25 - Dibalik Hujan, Ada Jawaban
26
Episode 26 - Aku Memilih Menunggu
27
Episode 27 - Jawaban Itu Semakin Dekat
28
Episode 28 - Lamaran yang Datang Terlalu Cepat
29
Episode 29 - Syarat dari Seorang Ayah
30
Episode 30 - Surat yang Mengubah Segalanya
31
Episode 31 - Pilihan yang Tidak Terduga
32
Episode 32 - Masa Lalu yang Belum Selesai
33
Episode 33 - Luka yang Belum Sembuh
34
Episode 34 - Alasan yang Tak Pernah Terucap
35
Episode 35 - Orang yang Tak Diundang
36
Episode 36 - Surat Terakhir dari Ayah
37
Episode 37 - Musuh atau Korban?
38
Episode 38 - Pengkhianat di Dalam Tim
39
Episode 39 - Kepercayaan yang Diuji
40
Episode 40 - Semangkuk Bakso di Tengah Lembur
41
Episode 41 - Benih Kecurigaan
42
Episode 42 - Fitnah yang Disiapkan
43
Episode 43 - Memilih untuk Percaya
44
Episode 44 - Kesempatan Kedua
45
Episode 45 - Saseorang yang Ingin Melindungi
46
Episode 46 - Aku Tidak Akan Pergi
47
Episode 47 - Pria yang Datang Tanpa Diundang
48
Episode 48 - Rahasia yang Tak Pernah Diceritakan
49
Episode 49 - Tempat yang Tak Pernah Terlupakan
50
Episode 50 - Rumah adalah tempat hati pulang
51
Episode 51 - Cemburu itu Capek, Tapi Susah Berenti
52
Episode 52 - Mantan yang Datang Membawa Kekacauan
53
Episode 53 - Jodoh Memang Bikin Emosi
54
Episode 54 - Jangan Pegang Tangannya
55
Episode 55 - Salah paham yang bikin Emosi
56
Episode 56 - Jangan Pergi Dulu
57
Episode 57 - Kalau kamu pergi, aku akan merindukanmu
58
Episode 58 - Aku Bilang Jangan Pergi, bukan Jangan pulang
59
Siapa Ayah kandung ku?
60
Kalau kamu bohong, aku akan pergi
61
Jangan Pergi, Dir
62
Kebenaran yang Harus Disembunyikan
63
Kalau Harus Memilih, Aku Pilih Kamu
64
Ibu Menyimpan Rahasia Besar
65
Aku akan menemukan ayah
66
Dimas Bukan Orang yang Kita Kira
67
Jangan Percaya Siapa pun
68
Ayah yang selama ini kucari
69
Ternyata ibu adalah orang keempat
70
Siapa sebenarnya ibuku
71
Tempat semua kebohonhan dimulai
72
Tangan yang menarikku
73
Pewaris sudah datang
74
Saudari yang tak pernah kuketahui

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!