Manajemen Krisis Bulu

Kinanti Amalia menatap nanar ke arah meja marmer di hadapannya. Di sana, seekor kucing oranye gembul sedang duduk dengan tegak, mengibaskan ujung ekornya yang tebal dengan ritme yang sangat tidak sabar.

"Bapak... benar-benar Pak Arkan?" Kinanti bertanya untuk yang kesepuluh kalinya dalam lima menit terakhir. Suaranya terdengar seperti orang yang baru saja kehilangan separuh kewarasannya.

Kucing itu mendengus—sebuah suara bersin kecil yang terdengar sangat meremehkan. Ia melangkah maju, melompati tumpukan kertas laporan yang tadi sempat dicakarnya, lalu berhenti tepat di depan papan ketik laptop Kinanti yang masih menyala. Dengan gerakan kaki depan yang lambat namun penuh penekanan, si kucing menekan satu tombol berulang kali menggunakan cakarnya.

JJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJJ

"Oke, oke! Stop, Pak! Laptop saya bisa eror!" Kinanti panik, buru-buru menarik laptopnya menjauh.

Si kucing mendongak, menatap Kinanti dengan mata hijau zamrudnya yang tajam. Ia kemudian melirik ke bawah meja, ke arah setelan jas seharga puluhan juta rupiah yang kini tergeletak mengenaskan seperti kulit ular yang habis berganti rupa. Kucing itu mengeong sekali, nada suaranya berat dan menuntut, lalu ia menoleh ke arah pintu keluar ruangan.

Kinanti, yang sudah bekerja sebagai sekretaris Arkan selama dua tahun, secara ajaib bisa menerjemahkan gestur itu. ‘Bawa saya keluar dari sini sekarang, dan jangan sampai ada yang tahu.’

"Tapi Pak, bagaimana caranya?" Kinanti berbisik histeris, meskipun tahu koridor luar sudah sepi. "Kalau saya menggendong Bapak keluar lewat lobi, satpam bawah akan mengira saya mencuri kucing liar! Lagipula, mobil Bapak bagaimana? Supir Bapak, Pak Bambang, pasti bingung menunggu di basement!"

Mendengar nama Pak Bambang, si kucing oranye tampak berpikir. Ia berjalan memutar di atas meja, lalu melompat turun ke atas kursi kerja marmernya. Dari kursi, ia melompat ke lantai, mendarat dengan mulus tanpa suara. Dengan langkah anggun yang sangat kontras dengan tubuh gembulnya, ia mendekati tumpukan bajunya, mengais-ngais celana kainnya dengan cakar, sampai sebuah benda persegi panjang hitam kecil bergemerincing keluar dari saku.

Itu ponsel Arkan.

Kucing itu menatap Kinanti, lalu menatap ponselnya, kemudian menatap Kinanti lagi.

"Bapak mau saya mengetik pesan untuk Pak Bambang?" tanya Kinanti ragu.

Si kucing mengeong pendek. Ya, bodoh, kira-kira begitu bunyinya.

Kinanti berlutut di karpet, mengambil ponsel mahal tersebut, dan menggunakan sidik jari Arkan (yang untungnya bisa dibuka dengan cara menempelkan jempol kiri Arkan dari balik lengan kemeja yang tergeletak) untuk membuka kuncinya.

"Saya ketik apa, Pak?"

Kucing itu melompat ke lutut Kinanti, membuat gadis itu hampir terjungkal karena berat tubuh si kucing yang ternyata cukup berbobot. Dengan cakar depannya, si kucing menunjuk-nunjuk layar ponsel. Proses ini memakan waktu tiga menit yang sangat membuat frustrasi, karena cakar kucing sering kali menekan tiga huruf sekaligus. Namun, berkat kemampuan intuisi sekretaris tingkat dewa yang dimiliki Kinanti, pesan itu akhirnya berhasil dirangkai:

“Bambang, saya ada urusan mendesak dan keluar lewat pintu belakang dengan Kinanti. Kamu pulang saja. Mobil biarkan di basement.”

"Sudah saya kirim, Pak," kata Kinanti setelah menekan tombol send.

Si kucing mendengur puas, lalu segera melompat turun dari pangkuan Kinanti, seolah-olah menyadari bahwa bermanja-manja di pangkuan sekretarisnya adalah hal yang menurunkan harga dirinya sebagai CEO.

Krisis pertama selesai. Sekarang masuk ke krisis kedua yang jauh lebih besar: Bagaimana membawa seekor kucing seberat hampir enam kilogram keluar dari gedung Mahardika Tower tanpa mengundang kecurigaan?

Kinanti memutar otaknya. Ia melirik tas kerjanya—sebuah tote bag bahan kanvas berukuran besar yang biasa ia gunakan untuk membawa dokumen dan laptop cadangan. Ia mengosongkan isi tasnya ke atas meja kerja, menyisakan ruang kosong yang cukup luas.

"Pak... maaf sebelumnya. Tapi tidak ada pilihan lain," kata Kinanti, menunjukkan tas kanvas tersebut kepada Arkan. "Bapak harus masuk ke dalam sini."

Mata hijau Arkan langsung melebar. Ia mundur tiga langkah, telinganya mendatar ke belakang—tanda penolakan mutlak. Seekor Arkananta Mahardika, lulusan Harvard, CEO dengan aset miliaran, disuruh masuk ke dalam tas kanvas belanjaan? Yang benar saja!

"Pak, tolong kerja samanya," bujuk Kinanti, menyatukan kedua tangannya di depan dada seperti sedang berdoa. "Hujan di luar masih deras. Kalau ada orang keuangan atau kebersihan yang melihat Bapak jalan kaki di koridor, besok pagi saham perusahaan kita bisa anjlok karena rumor Bapak berubah jadi hewan!"

Ancaman "saham anjlok" tampaknya bekerja pada otak korporat Arkan. Kucing itu mendengus gusar, menatap tas kanvas itu dengan pandangan jijik, lalu dengan sangat terpaksa melangkah mendekat. Ia memasukkan kepalanya terlebih dahulu, diikuti tubuh gembulnya, lalu menggulung dirinya di dasar tas.

Kinanti menarik napas lega. Ia mengangkat tas tersebut dengan hati-hati. Gila, berat banget! Ini bos atau karung beras? keluh Kinanti dalam hati, sambil berusaha menjaga wajahnya tetap lempeng saat berjalan keluar ruangan.

Sebelum keluar, Kinanti tidak lupa mematikan lampu ruangan, mengunci pintu, dan membawa serta ponsel Arkan serta dompetnya.

Perjalanan melewati lobi lantai satu adalah ujian mental terbesar dalam hidup Kinanti. Pak tedi, satpam yang bertugas di meja depan, menyapanya dengan ramah. "Lembur lagi, Mbak Kinanti? Pak Arkan masih di atas?"

"Eh, iya Pak Tedi. Pak Arkan sudah pulang duluan lewat lift khusus tadi," jawab Kinanti, tersenyum kaku sekaku manekin toko baju.

Tepat saat itu, tas kanvas di bahu Kinanti bergerak-gerak hebat. Rupanya Arkan di dalam sana merasa tidak nyaman karena posisi menggendong Kinanti yang agak terguncang.

"Meong!" sebuah suara tertahan terdengar dari dalam tas.

Pak Tedi menghentikan gerakan pulpennya, menoleh ke arah tas Kinanti. "Lho, Mbak? Suara kucing ya?"

Keringat dingin langsung bercucuran di tengkuk Kinanti. "Ah! Itu... itu suara ringtone ponsel baru saya, Pak! Lucu ya? Hehe. Kalau begitu saya duluan ya Pak, mari!"

Tanpa menunggu jawaban Pak Tedi, Kinanti langsung setengah berlari menuju pintu keluar, menerobos tirai hujan malam Jakarta, dan langsung melambaikan tangan dengan panik untuk menghentikan taksi yang lewat.

Tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di apartemen Kinanti. Sebuah unit studio kecil di pinggiran Jakarta yang sewanya pas-pasan dengan gaji sekretaris (sebelum dipotong pajaknya yang mencekik).

Kinanti menutup pintu apartemennya rapat-rapat, menguncinya dengan tiga slot pengaman, lalu meletakkan tas kanvasnya di atas lantai dengan napas terengah-engah. Bahu kanannya rasanya mau copot.

Begitu tas diletakkan, wujud oranye gembul itu langsung melompat keluar dengan gusar. Arkan segera menjauh dari Kinanti, berdiri di tengah ruangan, dan mulai menjilati bulu-bulunya yang sedikit lembap karena cipratan air hujan di luar tadi. Ekspresi wajahnya tampak sangat tersinggung.

"Selamat datang di istana saya yang sempit, Pak CEO," kata Kinanti sarkas, menjatuhkan dirinya ke atas sofa lipatnya yang murah. "Maaf tidak ada karpet Persia atau kopi Arabika. Yang ada cuma tikar plastik dan kopi saset."

Kucing itu berhenti menjilati bulunya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan berukuran 4x4 meter tersebut. Matanya menatap TV tabung kecil, tumpukan baju yang belum disetrika di pojok ruangan, dan rak dapur mini yang penuh dengan mi instan. Tatapan kucing itu seolah mengatakan: ‘Tempat apa ini? Mengapa ada manusia yang bisa hidup di kandang merpati seperti ini?’

Namun, sebelum Arkan sempat melayangkan protes lewat cakaran, sebuah suara bising terdengar dari dalam perut gembulnya.

Kriuuuk...

Suara perut keroncongan yang sangat keras memecah keheningan apartemen.

Kinanti menahan tawa, menutup mulutnya dengan tangan. "Wah, tampaknya Yang Mulia CEO lapar ya? Tapi masalahnya Pak... di sini tidak ada makanan steak wagyu atau salmon premium. Yang ada cuma..." Kinanti berjalan ke dapur, membuka lemari, dan mendesah. "...cuma mi instan goreng."

Mendengar kata mi instan, kucing oranye itu langsung memalingkan wajahnya dengan angkuh. Ia melompat ke atas kasur busa Kinanti yang terletak di lantai, menggulung dirinya di atas bantal, dan memejamkan mata, mengabaikan eksistensi sekretarisnya.

Kinanti hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. "Terserah Bapak saja lah. Kita lihat seberapa lama jiwa aristokrat Bapak bisa bertahan menghadapi kelaparan."

Gadis itu kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tidak menyadari bahwa di atas kasur, sepasang mata hijau zamrud sedang menatap lurus ke arah jendela yang masih basah oleh hujan, merenungi nasibnya yang kini sepenuhnya berada di tangan sekretaris yang selama ini selalu ia omeli habis-habisan.

Terpopuler

Comments

Ana Dww

Ana Dww

Wait, 6 Kilogram?

2026-07-09

1

lihat semua
Episodes
1 Ras Terkuat Di Lantai 32
2 Manajemen Krisis Bulu
3 Diet Kelas Pekerja
4 Sandiwara Hari Sabtu
5 Konspirasi Diatas Meja Makan
6 Canggung Pasca Transformasi
7 Rapat Hari Senin Yang Berdarah
8 Aturan Baru Di Kantor Baru
9 Kunjungan Ke Kediaman Eyang Widya
10 uji Coba Pendekatan Baru
11 Diplomasi Teh Hijau
12 Rahasia Kitab Kuno Mahardika
13 Badai Dipinggir Jalan Tol
14 Transformasi Di Rest Area
15 Rapat Umum Pemegang Saham Dan Ancaman Baru
16 Rencana Balasan Sang Sekertaris
17 Makan Malam Tanpa Prediksi Cuaca
18 Surat Kaleng Dari Masa Lalu
19 Jebakan Di Dermaga Sunda Kelapa
20 Sumpah Yang Terjaga
21 Langkah Skakmat Sang CEO
22 Penyusup Digital Di Menteng
23 Ramuan Bagi Sang Penjaga
24 Jejak Digital Sang Pemburu
25 Penggerebekan Di Cikarang
26 Pengkhianatan Di Balik Meja Hijau
27 Umpan Untuk Sang Pengkhianat
28 Menuju Sarang Selo Atmojo
29 Perjamuan Malam Di Lereng Merbabu
30 Malam Terakhir Digital
31 Protokol Baru Di Mahardika Tower
32 Faksi Kedua Terbangun
33 Gerbang Menuju Ouroboros
34 Menara Yang Berputar
35 Labirin Jangka Perunggu
36 Pertempuran di Keystone Zenit
37 Kembali Ke Lantai 32
38 Fraksi Ketiga Di Balik Tabir
39 Audit Takdir Dimulai
40 Proyeksi Sumpah 1845
41 Liburan Tak Berjadwal Dan Terapi Jeruk
42 Kabut Pagi Dan Rahasia Kabir
43 Naskah Yang Terkubur
44 Pertempuran Aliansi Strategis
45 Sidang Akhir Diatas Awan
46 Kembali Ke Jakarta Dengan Oleh - Oleh Tak Diundang
47 Misteri Lembaran Hilang
48 Jaringan Pasar Gelap Spiritual
49 Menyusup Ke Pelelangan Kabir
50 Penawaran Berdarah
51 Jejak Di Pelabuhan Lama
52 Badai Di Sunda Kelapa
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Ras Terkuat Di Lantai 32
2
Manajemen Krisis Bulu
3
Diet Kelas Pekerja
4
Sandiwara Hari Sabtu
5
Konspirasi Diatas Meja Makan
6
Canggung Pasca Transformasi
7
Rapat Hari Senin Yang Berdarah
8
Aturan Baru Di Kantor Baru
9
Kunjungan Ke Kediaman Eyang Widya
10
uji Coba Pendekatan Baru
11
Diplomasi Teh Hijau
12
Rahasia Kitab Kuno Mahardika
13
Badai Dipinggir Jalan Tol
14
Transformasi Di Rest Area
15
Rapat Umum Pemegang Saham Dan Ancaman Baru
16
Rencana Balasan Sang Sekertaris
17
Makan Malam Tanpa Prediksi Cuaca
18
Surat Kaleng Dari Masa Lalu
19
Jebakan Di Dermaga Sunda Kelapa
20
Sumpah Yang Terjaga
21
Langkah Skakmat Sang CEO
22
Penyusup Digital Di Menteng
23
Ramuan Bagi Sang Penjaga
24
Jejak Digital Sang Pemburu
25
Penggerebekan Di Cikarang
26
Pengkhianatan Di Balik Meja Hijau
27
Umpan Untuk Sang Pengkhianat
28
Menuju Sarang Selo Atmojo
29
Perjamuan Malam Di Lereng Merbabu
30
Malam Terakhir Digital
31
Protokol Baru Di Mahardika Tower
32
Faksi Kedua Terbangun
33
Gerbang Menuju Ouroboros
34
Menara Yang Berputar
35
Labirin Jangka Perunggu
36
Pertempuran di Keystone Zenit
37
Kembali Ke Lantai 32
38
Fraksi Ketiga Di Balik Tabir
39
Audit Takdir Dimulai
40
Proyeksi Sumpah 1845
41
Liburan Tak Berjadwal Dan Terapi Jeruk
42
Kabut Pagi Dan Rahasia Kabir
43
Naskah Yang Terkubur
44
Pertempuran Aliansi Strategis
45
Sidang Akhir Diatas Awan
46
Kembali Ke Jakarta Dengan Oleh - Oleh Tak Diundang
47
Misteri Lembaran Hilang
48
Jaringan Pasar Gelap Spiritual
49
Menyusup Ke Pelelangan Kabir
50
Penawaran Berdarah
51
Jejak Di Pelabuhan Lama
52
Badai Di Sunda Kelapa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!