Sandiwara Hari Sabtu

Sinar matahari pagi hari Sabtu menerobos masuk melalui celah gorden abu-abu yang tipis, menyiram wajah Kinanti Amalia dengan kehangatan yang tidak diinginkan. Gadis itu melenguh, mengerutkan kening, dan mencoba menarik selimutnya lebih tinggi untuk menghalau silau. Namun, alih-alih merasakan kain selimut yang lembut, jemarinya justru menyentuh sesuatu yang berbulu tebal, hangat, dan... bergerak.

Meong.

Suara serak bernada protes itu langsung memutus rantai mimpi tidur Kinanti. Matanya terbuka lebar dalam sekejap. Pikirannya yang sempat kosong selama beberapa detik setelah bangun tidur langsung dipaksa mengingat kenyataan pahit: ia tidak sedang bermimpi. Bosnya yang kejam masih berwujud kucing oranye gembul, dan sekarang makhluk itu sedang duduk tepat di atas perutnya.

Mata hijau zamrud Arkan menatap Kinanti dengan pandangan menginterogasi, seolah-olah Kinanti adalah tersangka korupsi dana bansos. Kucing itu mengangkat satu cakar depannya, lalu menepuk pipi Kinanti dengan bantalan kakinya yang empuk—tapi cukup keras untuk membuat gadis itu mengaduh pelan.

"Aduh! Pak Arkan, ini masih jam tujuh pagi di hari Sabtu!" protes Kinanti, melirik jam beker kecil di meja samping kasurnya. "Hari Sabtu itu hak asasi karyawan untuk bangun siang!"

Arkan tidak peduli dengan hak asasi manusia. Ia melompat turun dari perut Kinanti, berjalan menuju meja tempat Kinanti meletakkan ponselnya semalam, lalu menoleh ke belakang, mengeluarkan meongan pendek yang sangat otoriter.

Kinanti menghela napas panjang, bangkit dari kasur dengan rambut yang acak-acakan mirip sarang burung. Ia mengambil ponsel Arkan dan membukanya menggunakan sidik jari bawahannya sendiri yang sudah ia hafal polanya. Begitu layar menyala, rentetan notifikasi langsung membanjiri layar. Ada dua puluh panggilan tak terjawab dan belasan pesan WhatsApp.

Semuanya dari Rangga, sang Direktur Operasional yang licik.

"Gawat, Pak," kata Kinanti, mendadak kehilangan rasa kantuknya. Ia duduk di tepi kasur sambil membaca pesan-pesan tersebut. "Pak Rangga mengirim pesan sejak jam enam pagi. Dia bilang dia tahu Bapak tidak pulang menggunakan mobil dinas semalam. Dia juga bilang ada dokumen darurat dari investor Singapura yang harus Bapak tanda tangani langsung pagi ini di kantor."

Kucing oranye itu langsung melompat ke atas pangkuan Kinanti untuk ikut melihat layar ponsel. Membaca nama Rangga, bulu-bulu di punggung Arkan seketika berdiri tegak. Ekornya mengibas gusar ke kanan dan ke kiri.

"Dia pasti sengaja, Pak," analisis Kinanti, otaknya yang biasa menangani krisis korporat mulai bekerja dengan cepat. "Hari Sabtu kantor libur, dan urusan investor Singapura itu jadwalnya baru minggu depan. Pak Rangga sengaja memajukan jadwalnya karena dia curiga Bapak sedang tidak bisa dihubungi atau menyembunyikan sesuatu."

Arkan menatap Kinanti, lalu mengeong dengan nada mendesak. Ia mulai menggaruk-garuk layar ponsel, mencoba menunjuk aplikasi Notes atau sesuatu untuk berkomunikasi.

"Sebentar, Pak. Biar saya ketikkan sesuatu, Bapak tinggal mengeong sekali untuk 'Ya' dan dua kali untuk 'Tidak', oke?"

Arkan mengangguk sekali—sebuah gerakan kepala yang sangat manusiawi hingga membuat Kinanti merinding.

"Pertama, apakah kutukan ini ada obatnya yang instan?"

Meong-meong. (Tidak).

"Kedua, apakah kutukan ini akan hilang sendiri kalau siang hari?"

Meong-meong. (Tidak).

Kinanti menggigit bibir bawahnya, mulai panik. "Lalu bagaimana Bapak bisa berubah kembali jadi manusia semalam? Tunggu... semalam ada petir dan hujan deras. Apakah Bapak berubah karena hujan?"

Arkan terdiam sejenak. Ia mengingat-ingat kejadian semalam. Kepalanya miring ke kanan, lalu ia mengeong sekali. Ya.

"Artinya, Bapak berubah jadi kucing kalau ada hujan atau badai?" tanya Kinanti lagi.

Arkan menggelengkan kepala, lalu menepuk ponsel dengan cakarnya, menunjuk ke arah pesan Rangga yang penuh kata-kata provokatif. Ia mengeong dengan nada frustrasi yang sangat tinggi.

"Oh... bukan cuma hujan? Tapi juga kalau emosi Bapak sedang tidak stabil? Seperti sangat marah atau panik?" Kinanti menebak.

Arkan mengeong sekali dengan tegas. Tepat sekali.

"Astaga, pemicunya merepotkan sekali," keluh Kinanti sambil memijat pelipisnya. "Jadi sekarang, wujud Bapak tertahan seperti ini karena Bapak sedang stres memikirkan Rangga dan perusahaan?"

Arkan menundukkan kepalanya, mengembuskan napas berat. Sungguh ironis. Seorang pria yang menguasai hajat hidup ribuan karyawan sekarang harus pasrah karena emosinya sendiri mengunci tubuhnya dalam wujud hewan peliharaan yang menggemaskan.

"Baiklah. Kalau begitu, kita tidak punya pilihan selain melakukan sandiwara," ujar Kinanti, matanya berkilat penuh tekad. Sebagai sekretaris pribadi, tugas utamanya adalah menjaga reputasi dan posisi bosnya, apa pun taruhannya. "Kita harus meyakinkan Pak Rangga bahwa Bapak sedang sehat walafiat, tapi tidak bisa diganggu."

Kinanti mulai menyusun rencana. Ia membuka aplikasi pesan dan mengetik balasan untuk Rangga menggunakan akun Arkan, sementara Arkan mengawasi setiap huruf yang diketik dari balik bahunya.

“Rangga, saya sedang berada di vila keluarga di Bogor untuk meninjau aset pribadi secara mendadak. Dokumen dari Singapura kirimkan saja lewat kurir ke alamat sekretaris saya, Kinanti. Dia yang akan membawa dokumen itu kepada saya untuk ditandatangani. Jangan mengganggu akhir pekan saya jika tidak mau posisi analisismu saya evaluasi ulang.”

"Bagaimana, Pak? Cukup ketus dan mengancam khas Pak Arkan?" tanya Kinanti menyeringai.

Arkan menatap teks tersebut, lalu mendengur pelan sambil mengangguk. Teks itu sangat akurat dengan gaya bahasanya yang arogan. Kinanti menekan tombol kirim.

Hanya butuh waktu satu menit sampai Rangga membalas:

“Baik, Pak Arkan. Kurir akan mengantar dokumen itu ke apartemen Kinanti dalam satu jam. Pastikan hari Senin dokumen itu sudah ada di meja saya dengan tanda tangan Bapak.”

"Satu jam?!" Kinanti terpekik, melompat dari kasur sampai Arkan terjungkal ke belakang. "Aduh, maaf Pak! Tapi kurirnya datang satu jam lagi! Apartemen saya berantakan sekali, dan Bapak... Bapak harus disembunyikan!"

Arkan bangkit dengan gusar, menjilat bulu dadanya yang berantakan akibat terjungkal tadi, lalu menatap Kinanti dengan pandangan meremehkan, seolah mengatakan: ‘Kenapa kamu yang panik? Yang jadi kucing itu saya!’

Selama empat puluh lima menit berikutnya, apartemen kecil itu berubah menjadi medan perang. Kinanti berlari ke sana kemari, menyambar baju-baju kotor dan melemparkannya ke dalam mesin cuci, menyapu lantai dengan kecepatan cahaya, dan menyembunyikan semua jejak makanan kucing yang sempat ia beli semalam.

Sementara itu, Arkan duduk dengan tenang di atas lemari pakaian yang tinggi—tempat tertinggi yang bisa ia capai untuk menghindari sapu Kinanti—sambil memperhatikan sekretarisnya bekerja keras dengan ekspresi geli yang tertahan.

"Pak Arkan, turun! Bapak harus masuk ke dalam kamar mandi atau lemari saat kurir datang!" seru Kinanti sambil mendongak, napasnya tersengal-sengal.

Arkan memalingkan wajah, berpura-pura tuli. Masuk lemari? Benar-benar tidak elit.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu depan membuat jantung Kinanti hampir copot. "Itu pasti kurirnya! Pak, tolong diam di atas sana dan jangan bersuara sedikit pun!" bisik Kinanti panik.

Gadis itu merapikan bajunya, mengambil napas dalam-dalam, lalu membuka pintu apartemennya. Di luar berdiri seorang pria berjaket ojek daring membawa sebuah map besar berlogo PT Mahardika Megah.

"Dengan Mbak Kinanti? Ini ada titipan dokumen penting dari Pak Rangga untuk segera diproses," kata kurir itu sopan.

"Ah, iya benar. Terima kasih banyak, Pak," jawab Kinanti, berusaha tersenyum semanis mungkin. Ia menerima map tersebut dan hendak menandatangani resi penerimaan.

Namun, di dalam apartemen, sebuah petaka kecil terjadi. Seekor lalat besar entah bagaimana berhasil masuk melewati ventilasi dan terbang tepat di depan hidung Arkan yang sedang duduk di atas lemari. Insting predator alamiah sebagai bangsa kucing yang tertanam di tubuh barunya tiba-tiba bangkit, mengalahkan akal sehat manusianya.

Mata hijau Arkan membesar, pupilnya melebar penuh hingga hitam total. Kepalanya bergerak-gerak mengikuti arah terbang lalat.

Hap!

Arkan melompat dari atas lemari, mencoba menangkap lalat tersebut di udara. Namun, tubuh gembulnya yang berat tidak seimbang. Ia gagal menangkap lalat dan justru mendarat dengan telak di atas tumpukan kardus kosong di sudut ruangan, menimbulkan suara hantaman yang sangat keras.

BRAAAKK!!!

Kurir di depan pintu langsung menjengit kaget. "Suara apa itu, Mbak? Ada maling?"

Kinanti mematung, senyumnya membeku. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Arkan sedang berusaha keluar dari reruntuhan kardus dengan sehelai tisu bekas tersangkut di telinganya, tampak sangat bodoh dan murka di saat yang bersamaan.

"Oh! Itu... itu cuma... celengan babi saya yang jatuh, Pak!" bohong Kinanti dengan suara melengking karena panik. "Lantai saya agak licin, hehe. Ini resinya sudah saya tanda tangani, terima kasih ya Pak, selamat siang!"

Kinanti langsung menutup pintu apartemen dengan cepat, menguncinya, lalu bersandar di balik pintu sambil mengembuskan napas yang tertahan sejak tadi. Ia menoleh ke arah Arkan yang kini sedang duduk di tengah kekacauan kardus, berusaha melepaskan tisu dari telinganya dengan cakar depan.

Kinanti berjalan mendekat, berkacak pinggang, dan menatap bos besarnya dengan gelengan kepala. "Pak Arkan... saya tahu Bapak bos saya di kantor. Tapi di apartemen ini, tolong kendalikan insting kucing oranye Bapak sebelum kita berdua masuk penjara karena penipuan korporat!"

Arkan berhasil melepaskan tisu di telinganya, menatap Kinanti dengan tatapan yang sangat bersalah—sebuah ekspresi langka yang belum pernah Kinanti lihat selama dua tahun bekerja dengannya—lalu mengeluarkan meongan pelan yang terdengar seperti ucapan maaf yang sangat terpaksa.

Kinanti menghela napas, kemarahannya langsung menguap melihat wajah gembul yang menggemaskan itu. Ia berlutut, mengambil map dokumen dari Rangga, lalu meletakkannya di lantai di depan Arkan. "Nah, sekarang mari kita lihat dokumen apa yang membuat Pak Rangga sampai senekat ini mengganggu akhir pekan kita."

Episodes
1 Ras Terkuat Di Lantai 32
2 Manajemen Krisis Bulu
3 Diet Kelas Pekerja
4 Sandiwara Hari Sabtu
5 Konspirasi Diatas Meja Makan
6 Canggung Pasca Transformasi
7 Rapat Hari Senin Yang Berdarah
8 Aturan Baru Di Kantor Baru
9 Kunjungan Ke Kediaman Eyang Widya
10 uji Coba Pendekatan Baru
11 Diplomasi Teh Hijau
12 Rahasia Kitab Kuno Mahardika
13 Badai Dipinggir Jalan Tol
14 Transformasi Di Rest Area
15 Rapat Umum Pemegang Saham Dan Ancaman Baru
16 Rencana Balasan Sang Sekertaris
17 Makan Malam Tanpa Prediksi Cuaca
18 Surat Kaleng Dari Masa Lalu
19 Jebakan Di Dermaga Sunda Kelapa
20 Sumpah Yang Terjaga
21 Langkah Skakmat Sang CEO
22 Penyusup Digital Di Menteng
23 Ramuan Bagi Sang Penjaga
24 Jejak Digital Sang Pemburu
25 Penggerebekan Di Cikarang
26 Pengkhianatan Di Balik Meja Hijau
27 Umpan Untuk Sang Pengkhianat
28 Menuju Sarang Selo Atmojo
29 Perjamuan Malam Di Lereng Merbabu
30 Malam Terakhir Digital
31 Protokol Baru Di Mahardika Tower
32 Faksi Kedua Terbangun
33 Gerbang Menuju Ouroboros
34 Menara Yang Berputar
35 Labirin Jangka Perunggu
36 Pertempuran di Keystone Zenit
37 Kembali Ke Lantai 32
38 Fraksi Ketiga Di Balik Tabir
39 Audit Takdir Dimulai
40 Proyeksi Sumpah 1845
41 Liburan Tak Berjadwal Dan Terapi Jeruk
42 Kabut Pagi Dan Rahasia Kabir
43 Naskah Yang Terkubur
44 Pertempuran Aliansi Strategis
45 Sidang Akhir Diatas Awan
46 Kembali Ke Jakarta Dengan Oleh - Oleh Tak Diundang
47 Misteri Lembaran Hilang
48 Jaringan Pasar Gelap Spiritual
49 Menyusup Ke Pelelangan Kabir
50 Penawaran Berdarah
51 Jejak Di Pelabuhan Lama
52 Badai Di Sunda Kelapa
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Ras Terkuat Di Lantai 32
2
Manajemen Krisis Bulu
3
Diet Kelas Pekerja
4
Sandiwara Hari Sabtu
5
Konspirasi Diatas Meja Makan
6
Canggung Pasca Transformasi
7
Rapat Hari Senin Yang Berdarah
8
Aturan Baru Di Kantor Baru
9
Kunjungan Ke Kediaman Eyang Widya
10
uji Coba Pendekatan Baru
11
Diplomasi Teh Hijau
12
Rahasia Kitab Kuno Mahardika
13
Badai Dipinggir Jalan Tol
14
Transformasi Di Rest Area
15
Rapat Umum Pemegang Saham Dan Ancaman Baru
16
Rencana Balasan Sang Sekertaris
17
Makan Malam Tanpa Prediksi Cuaca
18
Surat Kaleng Dari Masa Lalu
19
Jebakan Di Dermaga Sunda Kelapa
20
Sumpah Yang Terjaga
21
Langkah Skakmat Sang CEO
22
Penyusup Digital Di Menteng
23
Ramuan Bagi Sang Penjaga
24
Jejak Digital Sang Pemburu
25
Penggerebekan Di Cikarang
26
Pengkhianatan Di Balik Meja Hijau
27
Umpan Untuk Sang Pengkhianat
28
Menuju Sarang Selo Atmojo
29
Perjamuan Malam Di Lereng Merbabu
30
Malam Terakhir Digital
31
Protokol Baru Di Mahardika Tower
32
Faksi Kedua Terbangun
33
Gerbang Menuju Ouroboros
34
Menara Yang Berputar
35
Labirin Jangka Perunggu
36
Pertempuran di Keystone Zenit
37
Kembali Ke Lantai 32
38
Fraksi Ketiga Di Balik Tabir
39
Audit Takdir Dimulai
40
Proyeksi Sumpah 1845
41
Liburan Tak Berjadwal Dan Terapi Jeruk
42
Kabut Pagi Dan Rahasia Kabir
43
Naskah Yang Terkubur
44
Pertempuran Aliansi Strategis
45
Sidang Akhir Diatas Awan
46
Kembali Ke Jakarta Dengan Oleh - Oleh Tak Diundang
47
Misteri Lembaran Hilang
48
Jaringan Pasar Gelap Spiritual
49
Menyusup Ke Pelelangan Kabir
50
Penawaran Berdarah
51
Jejak Di Pelabuhan Lama
52
Badai Di Sunda Kelapa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!