Diet Kelas Pekerja

Aroma bumbu mi instan goreng yang gurih nan melegenda memenuhi setiap sudut apartemen tipe studio milik Kinanti. Di atas kompor satu tungku, asap mengepul tipis dari wajan kecil. Kinanti dengan lihai mengaduk mi, menambahkan satu butir telur ayam, dan menaburkan bawang goreng ekstra di atasnya. Sederhana, murah, namun bagi pekerja korporat yang kelaparan di malam hari, ini adalah hidangan bintang lima.

Di atas kasur busa, sepasang mata hijau zamrud milik Arkan—yang masih terjebak dalam wujud kucing oranye gembul—mengikuti setiap pergerakan Kinanti. Hidung kecilnya kembang-kempis. Bau MSG yang tajam itu entah bagaimana berhasil menembus ego aristokratnya dan langsung memicu air liur di mulut kecilnya.

Kriuuuk.

Perut Arkan berbunyi lagi, kali ini lebih keras. Kucing itu mendengus kesal, merasa dikhianati oleh organ tubuhnya sendiri.

Kinanti membawa piring mi instan itu ke lantai dekat kasur, duduk bersila, lalu mulai menyuap mie dengan garpu. "Selamat makan, Pak Arkan. Kalau Bapak berubah pikiran, baunya gratis kok," goda Kinanti, sengaja mengunyah dengan suara yang agak keras.

Arkan menegakkan tubuhnya. Ia menatap piring mi tersebut, lalu menatap makanan kucing kalengan murah merek swalayan yang tadi sempat Kinanti beli di minimarket bawah apartemen saat taksi berhenti. Makanan kaleng itu berlabel "Rasa Tuna Spesial", tapi bagi penciuman tajam Arkan, baunya menjijikkan.

Dengan langkah kaku dan penuh kehati-hatian, si kucing oranye melompat turun dari kasur. Ia berjalan memutari piring Kinanti, menjaga jarak sekitar tiga puluh sentimeter, lalu duduk dengan anggun. Ia mengeong pelan, nadanya tidak lagi sekeras di kantor, melainkan lebih seperti sebuah perintah yang terpaksa diperhalus. ‘Beri saya bagian yang tidak pakai racun kuning itu (telur).’

"Eh? Bapak mau?" Kinanti meletakkan garpunya, menatap sang bos dengan tidak percaya. "Ini mi instan lho, Pak. Makanan rakyat jelata yang penuh natrium. Lambung Bapak yang biasa diisi daging wagyu berlapis emas nanti bisa kaget."

Arkan membalas dengan tatapan dingin, lalu mengangkat satu cakar depannya dan menepuk lantai dengan tidak sabar.

"Oke, oke. Sebentar," Kinanti bangkit, mengambil sebuah piring kecil dari rak dapur. Ia memisahkan beberapa helai mi yang bersih dari bumbu cabai, meniupnya sampai dingin, lalu memotongnya kecil-kecil agar mudah dikunyah oleh struktur mulut kucing. "Nih. Jangan protes kalau besok Bapak sariawan."

Piring kecil itu diletakkan di depan Arkan. Sang CEO menunduk, mengendus mi tersebut selama beberapa detik untuk memastikan tidak ada racun, lalu mulai mencicipinya.

Nyam. Nyam. Nyam.

Kinanti menahan napas, memperhatikan ekspresi wajah kucing itu. Detik berikutnya, mata hijau Arkan sedikit melebar. Sapuan lidah merah mudanya menjadi lebih cepat. Dalam waktu kurang dari dua menit, piring kecil itu sudah bersih mengilat, tidak menyisakan sehelai mi pun.

Arkan duduk kembali, lalu dengan refleks yang tak bisa ia kontrol sebagai bangsa kucing, ia mengangkat kaki depannya dan mulai menjilati sisa bumbu mi di sekitar kumisnya. Begitu menyadari apa yang sedang ia lakukan di depan bawahannya, Arkan langsung membeku. Ia menurunkan kakinya dengan cepat, berdehem dengan suara mengeong pendek yang canggung, lalu memalingkan wajah ke arah lain.

Kinanti meledak dalam tawa. "Hahaha! Astaga, Pak Arkan! Ternyata seorang Arkananta Mahardika juga bertekuk lutut di hadapan mi instan goreng kearifan lokal!"

Kucing itu mendesis pelan, telinganya mendatar ke belakang. Jika ia sedang dalam wujud manusia, Kinanti pasti sudah dipecat atau minimal dimutasi ke cabang terjauh di pedalaman. Namun dalam wujud ini, ancaman desisan itu justru terlihat sangat menggemaskan.

Setelah makan malam yang absurd itu selesai, Kinanti membereskan piring dan mencucinya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Hujan di luar mulai mereda, menyisakan suara rintik-rintik kecil yang menenangkan. Rasa lelah yang luar biasa setelah berhari-hari lembur mulai menyerang Kinanti. Matanya terasa seberat timbal.

Ia berjalan ke arah kasur tunggalnya, lalu melirik Arkan yang sedang duduk di atas sofa lipat, tampak bingung mencari posisi nyaman karena bahan sofa yang agak kasar.

"Pak," panggil Kinanti sambil menguap. "Saya mau tidur. Besok pagi kita harus memikirkan bagaimana caranya menjelaskan ke kantor kenapa Bapak tidak masuk kerja tanpa membuat curiga Rangga."

Mendengar nama Rangga, telinga Arkan langsung tegak. Rangga adalah Direktur Operasional yang sudah lama mengincar posisinya. Jika Rangga tahu Arkan menghilang, pria licik itu pasti akan langsung mengadakan rapat umum pemegang saham darurat untuk melengserkannya.

Arkan melompat turun dari sofa, berjalan mendekati kasur Kinanti, lalu melompat ke atasnya. Tanpa permisi, kucing gembul itu berjalan ke sudut kasur yang paling dekat dengan dinding, memutar tubuhnya tiga kali, lalu meringkuk di sana, mengklaim area tersebut sebagai wilayah kekuasaannya.

Kinanti menghela napas pasrah. "Ya sudahlah, kasur saya sekarang jadi milik Bapak juga. Tapi awas ya, jangan mencakar saya saat tidur."

Kinanti merebahkan tubuhnya, menarik selimut tipisnya hingga ke dada, dan mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur berwarna kuning temaram. Ruangan menjadi hening.

Di dalam kegelapan, Kinanti tidak bisa langsung memejamkan mata. Pikirannya melayang. Bagaimana bisa semua ini terjadi? Apakah ini kutukan penyihir? Atau penyakit genetik yang aneh? Ia menoleh ke samping, menatap gundukan bulu oranye yang bernapas dengan teratur di ujung kasurnya.

Saat dalam wujud manusia, Arkan terlihat seperti raksasa yang tak tersentuh—berdiri tegak di atas podium, memberikan perintah dengan suara bariton yang tegas, dan selalu dikelilingi oleh pengawal dan kemewahan. Namun sekarang, di atas kasur murah ini, sang CEO tampak begitu kecil, rapuh, dan sepenuhnya bergantung pada dirinya.

Tanpa sadar, tangan Kinanti bergerak maju. Jemarinya dengan ragu-ragu menyentuh bagian atas kepala Arkan, tepat di antara kedua telinga segitiganya, lalu memberikan usapan lembut yang perlahan turun ke arah bawah dagu.

Tubuh kucing itu sempat menegang sesaat. Kinanti panik dan hendak menarik tangannya, mengira ia akan dicakar. Namun, sebelum tangannya menjauh, sebuah suara getaran halus mulai terdengar dari dalam dada si kucing.

Purr... purr... purr...

Arkan mendengkur. Suara dengkurannya berat dan berirama, tanda bahwa tubuh hewan itu merasa sangat nyaman dan rileks. Kucing gembul itu bahkan mendongakkan kepalanya sedikit, membiarkan jemari Kinanti mengusap dagunya dengan lebih leluasa, sementara matanya terpejam rapat.

Kinanti tersenyum kecil di kegelapan. "Ternyata, di balik semua sifat galak Bapak, Bapak cuma seekor kucing yang kesepian ya, Pak?" bisiknya pelan.

Tidak ada jawaban, hanya suara dengkuran halus yang mengisi keheningan malam. Rasa hangat yang aneh mulai menyelimuti hati Kinanti. Di malam yang dingin itu, di sebuah apartemen sempit di sudut kota Jakarta, sang sekretaris dan bos besarnya terlelap dalam damai, tidak menyadari bahwa hari esok akan membawa badai korporat yang jauh lebih besar dari sekadar urusan makanan kucing.

Episodes
1 Ras Terkuat Di Lantai 32
2 Manajemen Krisis Bulu
3 Diet Kelas Pekerja
4 Sandiwara Hari Sabtu
5 Konspirasi Diatas Meja Makan
6 Canggung Pasca Transformasi
7 Rapat Hari Senin Yang Berdarah
8 Aturan Baru Di Kantor Baru
9 Kunjungan Ke Kediaman Eyang Widya
10 uji Coba Pendekatan Baru
11 Diplomasi Teh Hijau
12 Rahasia Kitab Kuno Mahardika
13 Badai Dipinggir Jalan Tol
14 Transformasi Di Rest Area
15 Rapat Umum Pemegang Saham Dan Ancaman Baru
16 Rencana Balasan Sang Sekertaris
17 Makan Malam Tanpa Prediksi Cuaca
18 Surat Kaleng Dari Masa Lalu
19 Jebakan Di Dermaga Sunda Kelapa
20 Sumpah Yang Terjaga
21 Langkah Skakmat Sang CEO
22 Penyusup Digital Di Menteng
23 Ramuan Bagi Sang Penjaga
24 Jejak Digital Sang Pemburu
25 Penggerebekan Di Cikarang
26 Pengkhianatan Di Balik Meja Hijau
27 Umpan Untuk Sang Pengkhianat
28 Menuju Sarang Selo Atmojo
29 Perjamuan Malam Di Lereng Merbabu
30 Malam Terakhir Digital
31 Protokol Baru Di Mahardika Tower
32 Faksi Kedua Terbangun
33 Gerbang Menuju Ouroboros
34 Menara Yang Berputar
35 Labirin Jangka Perunggu
36 Pertempuran di Keystone Zenit
37 Kembali Ke Lantai 32
38 Fraksi Ketiga Di Balik Tabir
39 Audit Takdir Dimulai
40 Proyeksi Sumpah 1845
41 Liburan Tak Berjadwal Dan Terapi Jeruk
42 Kabut Pagi Dan Rahasia Kabir
43 Naskah Yang Terkubur
44 Pertempuran Aliansi Strategis
45 Sidang Akhir Diatas Awan
46 Kembali Ke Jakarta Dengan Oleh - Oleh Tak Diundang
47 Misteri Lembaran Hilang
48 Jaringan Pasar Gelap Spiritual
49 Menyusup Ke Pelelangan Kabir
50 Penawaran Berdarah
51 Jejak Di Pelabuhan Lama
52 Badai Di Sunda Kelapa
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Ras Terkuat Di Lantai 32
2
Manajemen Krisis Bulu
3
Diet Kelas Pekerja
4
Sandiwara Hari Sabtu
5
Konspirasi Diatas Meja Makan
6
Canggung Pasca Transformasi
7
Rapat Hari Senin Yang Berdarah
8
Aturan Baru Di Kantor Baru
9
Kunjungan Ke Kediaman Eyang Widya
10
uji Coba Pendekatan Baru
11
Diplomasi Teh Hijau
12
Rahasia Kitab Kuno Mahardika
13
Badai Dipinggir Jalan Tol
14
Transformasi Di Rest Area
15
Rapat Umum Pemegang Saham Dan Ancaman Baru
16
Rencana Balasan Sang Sekertaris
17
Makan Malam Tanpa Prediksi Cuaca
18
Surat Kaleng Dari Masa Lalu
19
Jebakan Di Dermaga Sunda Kelapa
20
Sumpah Yang Terjaga
21
Langkah Skakmat Sang CEO
22
Penyusup Digital Di Menteng
23
Ramuan Bagi Sang Penjaga
24
Jejak Digital Sang Pemburu
25
Penggerebekan Di Cikarang
26
Pengkhianatan Di Balik Meja Hijau
27
Umpan Untuk Sang Pengkhianat
28
Menuju Sarang Selo Atmojo
29
Perjamuan Malam Di Lereng Merbabu
30
Malam Terakhir Digital
31
Protokol Baru Di Mahardika Tower
32
Faksi Kedua Terbangun
33
Gerbang Menuju Ouroboros
34
Menara Yang Berputar
35
Labirin Jangka Perunggu
36
Pertempuran di Keystone Zenit
37
Kembali Ke Lantai 32
38
Fraksi Ketiga Di Balik Tabir
39
Audit Takdir Dimulai
40
Proyeksi Sumpah 1845
41
Liburan Tak Berjadwal Dan Terapi Jeruk
42
Kabut Pagi Dan Rahasia Kabir
43
Naskah Yang Terkubur
44
Pertempuran Aliansi Strategis
45
Sidang Akhir Diatas Awan
46
Kembali Ke Jakarta Dengan Oleh - Oleh Tak Diundang
47
Misteri Lembaran Hilang
48
Jaringan Pasar Gelap Spiritual
49
Menyusup Ke Pelelangan Kabir
50
Penawaran Berdarah
51
Jejak Di Pelabuhan Lama
52
Badai Di Sunda Kelapa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!