Bos Kucing Oranye

Bos Kucing Oranye

Ras Terkuat Di Lantai 32

Jika ada tiga hal yang paling dihindari oleh seluruh karyawan PT Mahardika Megah, jawabannya adalah: lembur di hari Jumat, lift macet, dan Arkananta Mahardika.

Poin ketiga adalah yang paling mematikan. Arkananta atau yang biasa dipanggil Pak Arkan—adalah CEO muda yang ketampanannya setara dengan dewa Yunani, namun sayangnya, efisiensi kerjanya setara dengan robot pembunuh, dan toleransinya terhadap kesalahan sedekat jarak antara kelopak mata saat berkedip. Singkatnya, dia adalah predator puncak di ekosistem korporat ini.

Dan di sinilah Kinanti Amalia berada. Duduk di kubikelnya yang berjarak hanya lima meter dari pintu kaca buram ruangan sang CEO, sementara jam dinding digital sudah menunjukkan pukul 20.45 malam. Di luar, hujan deras khas bulan November mengguyur Jakarta dengan brutal, menciptakan simfoni ketukan air yang berisik di jendela kaca besar lantai 32.

"Kinanti."

Suara interkom berbunyi, dingin dan datar, langsung menusuk gendang telinga Kinanti. Gadis itu tersentak, refleks menegakkan punggungnya yang sudah pegal akut.

"Iya, Pak?" jawab Kinanti, berusaha menyembunyikan nada mengantuk dari suaranya.

"Laporan analisis pasar untuk proyek re-branding di Surabaya. Bawa ke ruangan saya. Sekarang."

Klik.

Sambungan diputus sepihak tanpa menunggu jawaban. Kinanti mengembuskan napas panjang, meniup poni poninya yang mulai lepek. Ia melirik tumpukan kertas di sebelah laptopnya. Dengan pasrah, ia merapikan map jepit berwarna biru tua tersebut, bercermin sekilas di layar ponselnya untuk memastikan lingkaran hitam di bawah matanya tidak membuatnya terlihat seperti zombi, lalu berdiri.

Gadis itu mengetuk pintu kayu mahoni tebal di hadapannya sebanyak tiga kali.

"Masuk."

Kinanti mendorong pintu. Aroma kopi arabika mahal dan parfum maskulin beraroma wood langsung menyergap indra penciumannya. Di balik meja kerja marmer yang luas, Arkan duduk dengan kemeja putih yang lengannya sudah digulung hingga siku. Dasi hitamnya sudah sedikit dilonggarkan, namun auranya tetap mengintimidasi. Mata elangnya langsung mengunci pergerakan Kinanti.

"Ini laporan yang Bapak minta," kata Kinanti sopan, meletakkan map tersebut di atas meja.

Arkan tidak menjawab. Jemari panjangnya yang mengenakan jam tangan mewah langsung membuka map tersebut. Ruangan itu seketika hening, hanya menyisakan suara lembar kertas yang dibalik dan gemuruh guntur di luar gedung yang samar-samar terdengar.

Setiap detik terasa seperti satu jam bagi Kinanti. Ia memperhatikan dahi Arkan yang perlahan berkerut. Itu pertanda buruk. Sangat buruk.

"Kinanti," panggil Arkan tanpa mengalihkan pandangan dari kertas.

"Ya, Pak?"

"Kamu tahu apa perbedaan antara rencana bisnis dan daftar belanjaan ibu rumah tangga?" tanya Arkan, suaranya teredam tapi tajam. Ia mendongak, menatap Kinanti dengan tatapan yang bisa membekukan air hangat. "Rencana bisnis butuh otak untuk menyusunnya. Sedangkan di halaman empat belas ini, saya hanya melihat spekulasi tanpa data makro yang jelas. Kamu mengerjakannya sambil tidur?"

Kinanti menggigit bagian dalam pipinya. Jantungnya berdegup kencang antara kesal dan takut. Ya Tuhan, saya lembur tiga hari berturut-turut untuk ini! teriaknya dalam hati. Namun secara profesional, yang keluar dari mulutnya adalah, "Maaf, Pak. Di bagian itu, tim riset memang belum memberikan data terbaru karena—"

DUMMM!!!

Belum sempat Kinanti menyelesaikan kalimatnya, sebuah dentuman petir yang luar biasa keras menggelegar tepat di luar jendela. Suaranya begitu dahsyat hingga kaca jendela bergetar hebat. Bersamaan dengan itu, seluruh lampu di lantai 32 mati total.

Gelap gulita.

"Astaga!" Kinanti terpekik, refleks mundur satu langkah. Jantungnya hampir copot.

"Pak Arkan? Bapak tidak apa-apa?" tanya Kinanti panik. Ia meraba-raba sakunya, mencari ponsel untuk menyalakan senter.

Namun, sebelum jemarinya berhasil meraih ponsel, suasana aneh terjadi. Di tengah kegelapan, Kinanti mendengar suara desisan yang aneh dari arah kursi CEO. Itu bukan suara manusia. Itu terdengar seperti... suara kain yang bergesekan dengan kasar, disusul suara hantaman sesuatu yang empuk ke atas lantai.

Meong.

Kinanti membeku. Senter ponselnya akhirnya menyala, memotong kegelapan ruangan mewah tersebut. Ia mengarahkan cahaya lampu ke kursi kerja Arkan.

Kursi itu kosong.

"Pak Arkan?" Pikirannya langsung melayang ke hal-hal aneh. Apakah bosnya diculik alien saat lampu mati? Atau melompat keluar jendela karena stres melihat laporannya?

Senter Kinanti bergerak turun ke lantai. Di sana, di atas karpet wol pembawaan dari Persia, terdapat pemandangan yang membuat otak Kinanti mengalami system crash alias eror total.

Setelan jas hitam mahal milik Arkan tergeletak mengempis di lantai, lengkap dengan kemeja putih dan celana kainnya, seolah-olah sang pemilik baru saja menguap ke udara. Namun, di bagian kerah kemeja yang longgar, sesuatu yang berbulu bergerak-gerak dengan gelisah.

Sebuah kepala berbulu oranye cerah muncul dari balik kerah. Dua telinga segitiga tegak berdiri, dan sepasang mata bulat besar berwarna hijau zamrud menatap langsung ke arah senter Kinanti.

Itu adalah seekor kucing oranye. Gembul, berbulu tebal, dengan corak garis-garis yang sangat simetris.

"M-meong?" Kinanti mengerjap-erkerjap. "Kucing? Kok bisa ada kucing di lantai 32?"

Kucing oranye itu tampak sangat terganggu dengan cahaya senter. Ia mengibaskan ekornya yang tebal dengan gusar, lalu berjalan keluar dari tumpukan baju mahal tersebut dengan langkah yang... anehnya sangat berwibawa. Ia melompat ke atas kursi kerja marmer, menduduki bantal kursi, lalu menatap Kinanti dengan pandangan yang... tunggu dulu.

Kinanti memicingkan mata. Tatapan kucing itu tidak seperti kucing biasa yang minta makan. Mata hijau zamrud itu menatapnya dengan tajam, dingin, penuh penghinaan, dan... sangat familiar.

Itu tatapan mata Pak Arkan.

Meong! MEEONGG! Kucing itu mengeong dengan nada tinggi dan galak, seolah-olah sedang memaki Kinanti dalam bahasa felines. Ia mengangkat satu cakar depannya, menunjuk ke arah laptop yang mati, lalu menunjuk ke arah Kinanti.

"Pak... Arkan?" bisik Kinanti, suaranya bergetar. "Ini... benar-benar Bapak?"

Kucing oranye itu mengembuskan napas berat dari hidung kecilnya yang merah muda—sebuah gestur yang persis sama dengan yang dilakukan Arkan jika sedang menghadapi karyawan bodoh. Kucing itu kemudian melangkah maju di atas meja, meraih sebuah pulpen montblanc mahal dengan mulutnya, dan dengan susah payah menyeretnya di atas kertas laporan Kinanti, meninggalkan goresan cakar berbentuk huruf 'X' besar.

Setelah itu, si kucing duduk tegak, melipat kedua kaki depannya di dada (atau setidaknya mencoba melakukannya dengan tubuh gembulnya), dan menatap Kinanti dengan angkuh.

Kinanti memegangi kepalanya yang mendadak pening luar biasa. Oksigen di otaknya seolah menolak untuk memproses kenyataan ini.

Bosnya yang kejam, dingin, pembenci kesalahan, dan beraset miliaran rupiah... baru saja berubah menjadi ras terkuat di bumi: seekor kucing oranye.

DUMM!

Guntur kembali berbunyi di luar, dan lampu ruangan tiba-tiba menyala kembali.

Kinanti berharap pemandangan di depannya akan berubah kembali menjadi pria tampan berjas. Namun kenyataannya tetap sama. Di atas meja marmer, seekor kucing oranye gembul sedang menatapnya sambil menjilati telapak kakinya dengan ekspresi paling sombong yang pernah ada di dunia.

"Demi apa..." Kinanti bergumam pelan, lututnya terasa lemas. "Saya pasti sudah gila karena kebanyakan lembur."

Kucing itu berhenti menjilat kakinya, menatap Kinanti, lalu mengeong sekali lagi dengan sangat otoriter, seolah mengatakan: Jangan cuma melamun, carikan saya makanan sekarang, Babu!

Hari Jumat malam itu, hidup Kinanti Amalia resmi berubah dari drama korporat menjadi komedi fantasi yang tidak masuk akal.

Terpopuler

Comments

Ana Dww

Ana Dww

😭Sama seperti Cleo—Kucing oranyeku

2026-07-09

1

lihat semua
Episodes
1 Ras Terkuat Di Lantai 32
2 Manajemen Krisis Bulu
3 Diet Kelas Pekerja
4 Sandiwara Hari Sabtu
5 Konspirasi Diatas Meja Makan
6 Canggung Pasca Transformasi
7 Rapat Hari Senin Yang Berdarah
8 Aturan Baru Di Kantor Baru
9 Kunjungan Ke Kediaman Eyang Widya
10 uji Coba Pendekatan Baru
11 Diplomasi Teh Hijau
12 Rahasia Kitab Kuno Mahardika
13 Badai Dipinggir Jalan Tol
14 Transformasi Di Rest Area
15 Rapat Umum Pemegang Saham Dan Ancaman Baru
16 Rencana Balasan Sang Sekertaris
17 Makan Malam Tanpa Prediksi Cuaca
18 Surat Kaleng Dari Masa Lalu
19 Jebakan Di Dermaga Sunda Kelapa
20 Sumpah Yang Terjaga
21 Langkah Skakmat Sang CEO
22 Penyusup Digital Di Menteng
23 Ramuan Bagi Sang Penjaga
24 Jejak Digital Sang Pemburu
25 Penggerebekan Di Cikarang
26 Pengkhianatan Di Balik Meja Hijau
27 Umpan Untuk Sang Pengkhianat
28 Menuju Sarang Selo Atmojo
29 Perjamuan Malam Di Lereng Merbabu
30 Malam Terakhir Digital
31 Protokol Baru Di Mahardika Tower
32 Faksi Kedua Terbangun
33 Gerbang Menuju Ouroboros
34 Menara Yang Berputar
35 Labirin Jangka Perunggu
36 Pertempuran di Keystone Zenit
37 Kembali Ke Lantai 32
38 Fraksi Ketiga Di Balik Tabir
39 Audit Takdir Dimulai
40 Proyeksi Sumpah 1845
41 Liburan Tak Berjadwal Dan Terapi Jeruk
42 Kabut Pagi Dan Rahasia Kabir
43 Naskah Yang Terkubur
44 Pertempuran Aliansi Strategis
45 Sidang Akhir Diatas Awan
46 Kembali Ke Jakarta Dengan Oleh - Oleh Tak Diundang
47 Misteri Lembaran Hilang
48 Jaringan Pasar Gelap Spiritual
49 Menyusup Ke Pelelangan Kabir
50 Penawaran Berdarah
51 Jejak Di Pelabuhan Lama
52 Badai Di Sunda Kelapa
Episodes

Updated 52 Episodes

1
Ras Terkuat Di Lantai 32
2
Manajemen Krisis Bulu
3
Diet Kelas Pekerja
4
Sandiwara Hari Sabtu
5
Konspirasi Diatas Meja Makan
6
Canggung Pasca Transformasi
7
Rapat Hari Senin Yang Berdarah
8
Aturan Baru Di Kantor Baru
9
Kunjungan Ke Kediaman Eyang Widya
10
uji Coba Pendekatan Baru
11
Diplomasi Teh Hijau
12
Rahasia Kitab Kuno Mahardika
13
Badai Dipinggir Jalan Tol
14
Transformasi Di Rest Area
15
Rapat Umum Pemegang Saham Dan Ancaman Baru
16
Rencana Balasan Sang Sekertaris
17
Makan Malam Tanpa Prediksi Cuaca
18
Surat Kaleng Dari Masa Lalu
19
Jebakan Di Dermaga Sunda Kelapa
20
Sumpah Yang Terjaga
21
Langkah Skakmat Sang CEO
22
Penyusup Digital Di Menteng
23
Ramuan Bagi Sang Penjaga
24
Jejak Digital Sang Pemburu
25
Penggerebekan Di Cikarang
26
Pengkhianatan Di Balik Meja Hijau
27
Umpan Untuk Sang Pengkhianat
28
Menuju Sarang Selo Atmojo
29
Perjamuan Malam Di Lereng Merbabu
30
Malam Terakhir Digital
31
Protokol Baru Di Mahardika Tower
32
Faksi Kedua Terbangun
33
Gerbang Menuju Ouroboros
34
Menara Yang Berputar
35
Labirin Jangka Perunggu
36
Pertempuran di Keystone Zenit
37
Kembali Ke Lantai 32
38
Fraksi Ketiga Di Balik Tabir
39
Audit Takdir Dimulai
40
Proyeksi Sumpah 1845
41
Liburan Tak Berjadwal Dan Terapi Jeruk
42
Kabut Pagi Dan Rahasia Kabir
43
Naskah Yang Terkubur
44
Pertempuran Aliansi Strategis
45
Sidang Akhir Diatas Awan
46
Kembali Ke Jakarta Dengan Oleh - Oleh Tak Diundang
47
Misteri Lembaran Hilang
48
Jaringan Pasar Gelap Spiritual
49
Menyusup Ke Pelelangan Kabir
50
Penawaran Berdarah
51
Jejak Di Pelabuhan Lama
52
Badai Di Sunda Kelapa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!