BAB 2: Provokasi Kartu Nama Hitam dan Kebodohan Impulsif di Pojok Restoran

​Semburat jingga kemerahan dari matahari senja mulai menyapu langit ibu kota yang bising. Seminggu telah berlalu sejak pembatalan pernikahan akbar yang sempat menghebohkan jagat maya itu. Nadine Lavena berjalan menyusuri trotoar beton yang ramai, membiarkan embusan angin sore menerpa wajahnya yang tanpa ekspresi. Pikirannya terasa hampa, lelah, dan nyaris mati rasa setelah badai pengkhianatan yang memporak-porandakan harga dirinya. Langkah kaki ini murni hanya sebuah pelarian sesaat. Ia butuh mengistirahatkan kepalanya dari tatapan kasihan dan bisik-bisik miring orang-orang di kantor yang mulai terasa seperti jarum halus.

​Langkah kaki Nadine terhenti di depan sebuah bangunan dengan eksterior bata merah tanpa plester. Sebuah papan besi berkarat bertuliskan nama restoran dengan konsep industrial berdiri kokoh di samping pintu masuk. Dari balik jendela kaca besar yang mulai sedikit berembun karena perbedaan suhu, suasana di dalam tampak begitu tenang. Kontras dengan kegaduhan jalan raya di luar sana.

​Nadine mendorong pintu kayu berbingkai besi hitam tebal. Bunyi denting bel kuningan menyambut kehadirannya, langsung disusul oleh aroma pekat biji kopi Arabica yang baru saja digiling, berpadu dengan keharuman mentega manis yang menguar dari panggangan roti yang baru matang. Perpaduan aroma yang menenangkan. Dinding semen ekspos berwarna abu-abu gelap, jajaran lampu gantung Edison yang berpijar kuning temaram, serta tiang-tiang baja hitam kokoh memberikan atmosfer kasual yang ia butuhkan saat ini.

​Nadine memilih meja paling pojok, sebuah area yang agak temaram namun memberinya sudut pandang bebas ke seluruh penjuru ruangan. Ia meletakkan tas jinjing kulitnya dengan anggun, lalu memesan secangkir iced americano tanpa gula dan sepotong croissant cokelat kepada pelayan yang datang mendekat.

​Tak lama setelah pesanannya tiba di atas meja kayu yang kasar, perhatian Nadine teralih oleh kedatangan seorang perempuan cantik bergaun merah ketat. Perempuan itu memilih meja yang berada tepat di jalur pandang Nadine. Dari gesturnya yang terus-menerus memeriksa riasan melalui cermin bedak kecil, juga aroma parfum melati sintetik yang menyengat tajam dari tubuhnya, perempuan itu jelas tengah menunggu seseorang yang sangat penting dengan tingkat kecemasan tinggi.

​Pintu restoran kembali berdenting beberapa menit kemudian. Detik itu juga, Nadine merasakan atmosfer di dalam ruangan mendadak turun beberapa derajat. Dingin yang menusuk.

​Seorang pria melangkah masuk dengan keangkuhan yang nyata dalam setiap gerakannya. Postur tubuhnya yang maskulin dan tegap dibalut setelan jas abu-abu gelap tanpa dasi, meregang sempurna pada proporsi tubuh yang tampak terlalu tidak nyata untuk ukuran manusia biasa. Wajahnya luar biasa tampan dengan rahang tegas yang kaku, namun sepasang matanya memancarkan aura es yang menusuk. Pria itu adalah Kyle Ernest.

​Kyle berjalan lurus tanpa mengalihkan pandangan, menuju meja perempuan bergaun merah yang langsung menegakkan punggungnya dengan senyum lebar. Pria itu duduk di hadapannya tanpa sedikit pun berniat membalas keramahan tersebut. Sikapnya begitu angkuh saat tangannya menjatuhkan selembar dokumen tebal di atas meja kayu.

​"Langsung saja ke intinya. Ini draf pernikahan kontrak yang saya tawarkan. Baca dan tanda tangani jika Anda setuju."

​Suara berat dan datar itu terdengar sangat acuh tak acuh, seolah-olah Kyle sedang melakukan transaksi jual beli tanah alih-alih menawarkan sebuah komitmen hidup.

​Perempuan seksi itu mengernyitkan dahi. Begitu matanya membaca poin demi poin di lembaran tersebut, wajah cantiknya yang dilapisi riasan tebal mendadak berubah masai. "Apa-apaan ini, Pak Kyle? Tidak diperbolehkan tidur seranjang? Tidak boleh mencampuri urusan pribadi Anda? Bahkan tidak ada pembangunan keharmonisan secara nyata di luar rumah kecuali berakting di depan kamera? Anda sedang bercanda dengan saya?"

​Mata perempuan itu meneliti wajah Kyle, mencoba mencari celah. Secara objektif, perempuan mana yang tidak akan tergoda oleh ketampanan dan proporsi tubuh Kyle yang begitu sempurna? Perempuan itu memajukan tubuhnya, menatap Kyle dengan pandangan sensual yang kentara, mencoba menggoda pria es itu secara terang-terangan. "Kita bisa memulainya dengan lebih santai, Kyle. Tubuhmu... terlalu sayang untuk diabaikan begitu saja dalam sebuah pernikahan, bukan?"

​Kyle sama sekali tidak bergeming. Tatapannya tetap sedingin es utara, sama sekali tidak tersentuh oleh godaan murah itu. "Saya tidak butuh romansa ataupun sentuhan fisik dari Anda. Tugas Anda hanya berakting sebagai istri yang patuh di depan orang tua saya agar mereka berhenti mengganggu saya dengan kencan buta ini."

​"Perjanjian ini benar-benar konyol dan menghina saya!"

​Perempuan itu berdiri dengan menghentakkan kakinya keras-keras ke lantai semen ekspos, merasa harga dirinya diinjak-injak di tempat umum. Sebelum membalikkan badan untuk pergi, dengan refleks yang cepat ia meraih gelas air putih dingin di atas meja dan menyiramkannya tepat ke wajah tampan Kyle.

​"Percuma ganteng kalau tidak bisa digunakan! Dasar pria aneh!"

​Hentakan sepatu hak tingginya yang memekakkan telinga mengiringi langkah gusarnya keluar dari restoran.

​Nadine yang sejak awal menyaksikan seluruh pertunjukan gratis itu dari pojok ruangan spontan menarik sudut bibirnya. Suara percakapan mereka yang cukup jelas terdengar karena posisi meja yang berdekatan membuat insting humornya terusik. Sebuah senyuman tipis terukir di wajah anggunnya, memperlihatkan sedikit barisan giginya yang rapi. Drama di depannya ini jauh lebih menghibur daripada tayangan televisi mana pun.

​Namun, gerakan kecil dari bibir Nadine ternyata tidak luput dari sepasang mata tajam milik Kyle. Pria itu meraih selembar tisu dari wadah di meja, mengusap sisa air putih yang menetes dari ujung rambut dan rahang tegasnya dengan gerakan perlahan, tanpa mengubah ekspresi dinginnya sama sekali. Matanya kini terkunci sepenuhnya pada Nadine.

​Kyle berdiri dari kursinya. Langkah kakinya yang lebar terdengar mantap mendekati meja pojok tempat Nadine duduk, lalu menatap wanita itu dari atas dengan pandangan mengintimidasi yang tajam.

​"Kenapa? Anda juga mau menggunakan saya?"

​Nadine menghentikan senyumannya, namun ia sama sekali tidak menunjukkan raut wajah takut atau salah tingkah karena tertangkap basah sedang menertawakan kemalangan orang lain. Ia mendongak dengan tenang, membalas tatapan tajam pria beraura es di depannya dengan ketenangan yang setara.

​"Maaf, saya tidak tertarik. Hanya merasa lucu."

​Mendengar jawaban yang begitu tenang dari seorang wanita asing, Kyle menaikkan sebelah alisnya. Ketertarikan samar yang belum pernah ada sebelumnya melintas di matanya yang biasa mati rasa. Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Kyle menarik kursi besi di hadapan Nadine dan duduk dengan sikap angkuh yang khas.

​"Jadi bagaimana jika Anda saja yang menjadi pasangan kontrak saya?"

​Nadine terkejut. Cangkir kopi yang baru saja hendak diletakkannya kembali ke atas meja tertahan di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya mendarat dengan denting pelan. Ia menatap Kyle dengan tatapan tidak percaya, mengamati wajah tampan yang kini dipenuhi kelicikan yang mulai tampak di sela-sela ekspresi dinginnya.

​"Anda gila ya? Sekurang-itukah persediaan perempuan yang mau dengan Anda?"

​"Yang mau banyak, bahkan mengantre sampai luar jalan raya. Hanya saja saya tidak ingin mereka mencampuri urusan pribadi saya, apalagi menuntut kisah romantis sungguhan di dalam rumah. Namun Anda baru saja bilang tidak tertarik pada saya, jadi bagaimana jika terima saja?" Kyle bersandar pada kursi besi, melipat kedua tangannya di depan dada dengan pose menantang.

​"Tidak, saya tidak mau."

​"Berarti ucapan Anda yang tidak tertarik pada tubuh saya itu bohong. Anda menolak karena sebenarnya Anda takut akan tergoda pada saya, sama seperti wanita bergaun merah tadi."

​Senyum smirk Kyle mengembang tipis, sangat tipis namun cukup untuk memprovokasi harga diri Nadine yang sedang berada di titik sensitif.

​"Tidak, saya tidak berbohong." Nadine menegaskan suaranya, sepasang matanya menajam menatap Kyle dengan ketegasan yang mutlak.

​"Ya sudah, terima saja jika begitu. Buktikan kalau ucapan Anda yang tidak tertarik itu nyata."

​{Pria ini... benar-benar tinggi hati sekali. Dia pikir semua hal di dunia ini bisa dia taklukkan dan dia tebak dengan mudah menggunakan ketampanannya?}

​Naluri pertahanan diri di dalam otak Nadine tiba-tiba merasa tertantang oleh perkataan provokatif dari Kyle. Sifat dasarnya yang keras kepala seketika mendominasi akal sehatnya, menenggelamkan rasa waspada yang seharusnya ia miliki terhadap orang asing. Ia menatap lurus ke dalam manik mata Kyle yang kelabu sedingin salju.

​"Oke, saya terima."

​"Deal."

​Kyle memberikan senyuman smirk yang menandakan kemenangan mutlaknya atas ego wanita di hadapannya. Sebelum berdiri dari kursi dan meninggalkan meja, pria itu merogoh saku jas abu-abunya, mengeluarkan sebuah kartu nama eksklusif berwarna hitam dengan tulisan berlapis emas, lalu meletakkannya dengan ketukan pelan di atas meja kayu.

​"Pendaftaran pernikahan akan diadakan tiga hari lagi di kantor KUA setempat, sekaligus menandatangani surat perjanjian pernikahan kontraknya. Jangan sampai terlambat, Calon Istri."

​Kyle berdiri, membalikkan tubuh maskulinnya, dan melangkah keluar dari restoran dengan gaya dinginnya yang berkuasa, meninggalkan aroma kayu cendana tipis di sekitar meja Nadine.

​Lima belas menit berlalu setelah kepergian Kyle, dan Nadine masih terpaku di kursinya, menatap kartu nama hitam bertuliskan 'Kyle Ernest - CEO Ernest Group' itu dengan pandangan horor yang mendalam. Kesadaran penuh mendadak menghantam kepalanya bagai gada besi yang sangat berat. Es di dalam gelas iced americano-nya telah mencair sepenuhnya, menyisakan air kopi yang tawar.

​{Nadine Lavena, kamu benar-benar bodoh! Sangat, sangat bodoh! Bagaimana bisa kamu menyetujui ajakan pernikahan kontrak dari orang asing yang sama sekali tidak kamu kenal hanya karena terpancing gengsi murah?}

Episodes
1 Episode 1: Batalnya Sebuah Komitmen Palsu dan Jeratan Masa Lalu sang Pria Es
2 BAB 2: Provokasi Kartu Nama Hitam dan Kebodohan Impulsif di Pojok Restoran
3 BAB 3: Permainan Papan Catur Dua Jiwa dan Lahirnya Perjanjian Tiga Tahun
4 BAB 4.1: Kehangatan Palsu dan Lahirnya Transaksi Baru di Bawah Atap Yang Sama
5 BAB 4.2: Kehangatan Palsu dan Lahirnya Transaksi Baru di Bawah Atap yang Sama
6 BAB 5.1: Genggaman Tangan Palsu dan Pria Es yang Menolak Melihat Realita
7 BAB 5.2: Genggaman Tangan Palsu dan Pria Es yang Menolak Melihat Realita
8 BAB 6: Semangkuk Sup Kehangatan dan Hantu dari Masa Lalu
9 BAB 7: Parasit yang Mengetuk Pintu dan Ancaman Pemutusan Kontrak 30 Miliar
10 BAB 8: Aliansi Dua Serigala Serakah dan Jaringan Keamanan yang Berbalik Arah
11 BAB 9: Kala Ilusi Lima Tahun Hancur Total di Bawah Sisa Cahaya Senja Menteng
12 BAB 10: Batas Suci yang Ternoda dan Runtuhnya Aturan Main Pernikahan Bisnis
13 BAB 11: Memo Denda Lima Belas Miliar dan Biaya Operasional Akting Akhir Pekan
14 BAB 12: Skandal yang Mengintip dari Balik Bayangan dan Motivator Terbaik Nadine
15 BAB 13: Saat Badai Skandal Berubah Menjadi Panggung Kemenangan Proyektor Konvens
16 BAB 14: Keangkuhan yang Terluka dan Retorika Lembaran Kontrak
17 BAB 15: Provokasi Potong Gaji 20% dan Runtuhnya Pasal Ketiga
18 BAB 16: Ketika Dinding Es Rubah Mematahkan Insting Posesif sang Predator
19 BAB 17: Siasat Baru sang Parasit dan Aliansi Rumah Menteng
20 BAB 18: Riak Pengakuan di Koridor Sunyi dan Kamera yang Mengintai
21 BAB 19: Analisis Risiko dan Sentuhan yang Tergelincir
22 BAB 20: Jebakan Lensa dan Siasat yang Menyamar
23 BAB 21: Aliansi yang Merapat dan Klausul Risiko Tambahan
24 BAB 22: Relokasi yang Merusak Batas Profesional
25 BAB 23: Strategi Perlindungan dan Detak Jantung yang Mengkhianati
26 BAB 24: Kuliner Lima Puluh Juta dan Sentuhan Menteng
27 BAB 25: Kalkulasi yang Bergeser dan Panggilan dari Masa Lalu
28 ​BAB 26: Skenario Pertemuan dan Kepemilikan yang Tidak Terbantahkan
29 BAB 27: Ruang Sempit dan Denda yang Mengintai
30 BAB 28: Perjanjian Baru di Atas Kertas Kontrak
31 BAB 29: Kompensasi Dapur dan Lembaran Rencana Baru
32 BAB 30: Gaun Sutra dan Kepemilikan yang Absolut
33 BAB 31: Logika yang Rusak dan Menu Sarapan Seharga Seratus Juta
34 BAB 32: Siasat Laporan Bulanan dan Jebakan yang Sempit
35 BAB 33: Distorsi Angka dan Negosiasi Hangat di Dapur Menteng
36 BAB 34: Hidangan Hangat dan Siasat yang Menjerat
37 BAB 35: Tarif Perlindungan dan Siasat di Balik Pintu Jati
38 BAB 36: Aromaterapi Dapur dan Sandiwara di Tepi Pelabuhan
39 BAB 37: Konfrontasi Meja Makan dan Taktik Negosiasi yang Licik
40 BAB 38: Pulang ke Menteng dan Amandemen yang Diperas Halus
41 BAB 39: Klausul Kolong Meja dan Jaminan Satu Miliar Rupiah
42 BAB 40: Menu Kemenangan dan Siasat yang Menyamar di Pagi Hari
43 BAB 41: Getaran yang Bergeser Tanpa Transaksi
44 BAB 42: Keheningan Kamar dan Detak yang Menuntut
45 BAB 43: Langkah Senyap di Lorong Barat
46 BAB 44: Jebakan Sektor Timur dan Keputusan Instan
47 BAB 45: Kalkulasi Bahaya dan Rencana yang Bergeser
48 BAB 46: Penyergapan Dermaga Empat dan Retakan Benteng Es
49 ​BAB 47: Retakan Pertama pada Dinding Logika
50 BAB 48: Hangat yang Dinanti dan Amandemen Tanpa Syarat
51 ​BAB 49: Papan Catur yang Berguncang dan Siasat di Ruang Perawatan
52 BAB 50: Langkah Skakmat Sang Permaisuri dan Hangat yang Menetap
53 BAB 51: Sandaran Hangat Tanpa Tarif
54 BAB 52: Jejak Satelit dan Sudut Papan Catur
55 BAB 53: Sandera Keamanan dan Sekutu yang Tersisa
56 BAB 54: Konfrontasi Hukum di Teras Menteng
57 BAB 55: Sandera Siber di Ujung Jari
58 BAB 56: Penyusup dalam Selimut dan Hidangan Pemulihan
59 BAB 57: Penjaga Server dan Logika yang Melunak
60 BAB 58: Aliansi yang Mengunci dan Sudut Papan Catur Baru
61 BAB 59: Aliansi Bayangan dan Benteng Finansial Baru
62 BAB 60: Runtuhnya Vektor Capital dan Kehangatan yang Utuh
63 ​BAB 61: Kotak Kayu Kuno dan Lembaran yang Hilang
64 BAB 62: Akhir dari Bayang-bayang dan Deklarasi Tulus
65 BAB 63: Lembaran Merah dan Pengalihan Kekuasaan Tanpa Tarif
66 BAB 64: Siasat Penerbangan dan Kamar yang Menyatu
67 BAB 65: Strategi Angkasa dan Penyelesaian Akhir di London
68 BAB 66: Kamar Suite Tanpa Batas dan Detik-Detik Epilog yang Damai
69 BAB 67: Langkah Santai di Tepi Thames
70 BAB 68: Labuhan Terakhir Nona Nadine
71 BAB 69: Negosiasi Panggilan dan Standardisasi Baru
72 BAB 70: Praktik di Dapur dan Sentuhan yang Menetap
73 BAB 71: Kepemilikan yang Menuntut dan Pembakaran Ancaman
74 BAB 72: Jerat Kehangatan di Kamar Utama
75 BAB 73: Kepemilikan yang Absolut dan Interupsi yang Diabaikan
76 BAB 74: Puncak Gairah dan Sandera Ranjang Menteng
77 BAB 75: Otoritas yang Mengganggu dan Jerat yang Semakin Erat
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Episode 1: Batalnya Sebuah Komitmen Palsu dan Jeratan Masa Lalu sang Pria Es
2
BAB 2: Provokasi Kartu Nama Hitam dan Kebodohan Impulsif di Pojok Restoran
3
BAB 3: Permainan Papan Catur Dua Jiwa dan Lahirnya Perjanjian Tiga Tahun
4
BAB 4.1: Kehangatan Palsu dan Lahirnya Transaksi Baru di Bawah Atap Yang Sama
5
BAB 4.2: Kehangatan Palsu dan Lahirnya Transaksi Baru di Bawah Atap yang Sama
6
BAB 5.1: Genggaman Tangan Palsu dan Pria Es yang Menolak Melihat Realita
7
BAB 5.2: Genggaman Tangan Palsu dan Pria Es yang Menolak Melihat Realita
8
BAB 6: Semangkuk Sup Kehangatan dan Hantu dari Masa Lalu
9
BAB 7: Parasit yang Mengetuk Pintu dan Ancaman Pemutusan Kontrak 30 Miliar
10
BAB 8: Aliansi Dua Serigala Serakah dan Jaringan Keamanan yang Berbalik Arah
11
BAB 9: Kala Ilusi Lima Tahun Hancur Total di Bawah Sisa Cahaya Senja Menteng
12
BAB 10: Batas Suci yang Ternoda dan Runtuhnya Aturan Main Pernikahan Bisnis
13
BAB 11: Memo Denda Lima Belas Miliar dan Biaya Operasional Akting Akhir Pekan
14
BAB 12: Skandal yang Mengintip dari Balik Bayangan dan Motivator Terbaik Nadine
15
BAB 13: Saat Badai Skandal Berubah Menjadi Panggung Kemenangan Proyektor Konvens
16
BAB 14: Keangkuhan yang Terluka dan Retorika Lembaran Kontrak
17
BAB 15: Provokasi Potong Gaji 20% dan Runtuhnya Pasal Ketiga
18
BAB 16: Ketika Dinding Es Rubah Mematahkan Insting Posesif sang Predator
19
BAB 17: Siasat Baru sang Parasit dan Aliansi Rumah Menteng
20
BAB 18: Riak Pengakuan di Koridor Sunyi dan Kamera yang Mengintai
21
BAB 19: Analisis Risiko dan Sentuhan yang Tergelincir
22
BAB 20: Jebakan Lensa dan Siasat yang Menyamar
23
BAB 21: Aliansi yang Merapat dan Klausul Risiko Tambahan
24
BAB 22: Relokasi yang Merusak Batas Profesional
25
BAB 23: Strategi Perlindungan dan Detak Jantung yang Mengkhianati
26
BAB 24: Kuliner Lima Puluh Juta dan Sentuhan Menteng
27
BAB 25: Kalkulasi yang Bergeser dan Panggilan dari Masa Lalu
28
​BAB 26: Skenario Pertemuan dan Kepemilikan yang Tidak Terbantahkan
29
BAB 27: Ruang Sempit dan Denda yang Mengintai
30
BAB 28: Perjanjian Baru di Atas Kertas Kontrak
31
BAB 29: Kompensasi Dapur dan Lembaran Rencana Baru
32
BAB 30: Gaun Sutra dan Kepemilikan yang Absolut
33
BAB 31: Logika yang Rusak dan Menu Sarapan Seharga Seratus Juta
34
BAB 32: Siasat Laporan Bulanan dan Jebakan yang Sempit
35
BAB 33: Distorsi Angka dan Negosiasi Hangat di Dapur Menteng
36
BAB 34: Hidangan Hangat dan Siasat yang Menjerat
37
BAB 35: Tarif Perlindungan dan Siasat di Balik Pintu Jati
38
BAB 36: Aromaterapi Dapur dan Sandiwara di Tepi Pelabuhan
39
BAB 37: Konfrontasi Meja Makan dan Taktik Negosiasi yang Licik
40
BAB 38: Pulang ke Menteng dan Amandemen yang Diperas Halus
41
BAB 39: Klausul Kolong Meja dan Jaminan Satu Miliar Rupiah
42
BAB 40: Menu Kemenangan dan Siasat yang Menyamar di Pagi Hari
43
BAB 41: Getaran yang Bergeser Tanpa Transaksi
44
BAB 42: Keheningan Kamar dan Detak yang Menuntut
45
BAB 43: Langkah Senyap di Lorong Barat
46
BAB 44: Jebakan Sektor Timur dan Keputusan Instan
47
BAB 45: Kalkulasi Bahaya dan Rencana yang Bergeser
48
BAB 46: Penyergapan Dermaga Empat dan Retakan Benteng Es
49
​BAB 47: Retakan Pertama pada Dinding Logika
50
BAB 48: Hangat yang Dinanti dan Amandemen Tanpa Syarat
51
​BAB 49: Papan Catur yang Berguncang dan Siasat di Ruang Perawatan
52
BAB 50: Langkah Skakmat Sang Permaisuri dan Hangat yang Menetap
53
BAB 51: Sandaran Hangat Tanpa Tarif
54
BAB 52: Jejak Satelit dan Sudut Papan Catur
55
BAB 53: Sandera Keamanan dan Sekutu yang Tersisa
56
BAB 54: Konfrontasi Hukum di Teras Menteng
57
BAB 55: Sandera Siber di Ujung Jari
58
BAB 56: Penyusup dalam Selimut dan Hidangan Pemulihan
59
BAB 57: Penjaga Server dan Logika yang Melunak
60
BAB 58: Aliansi yang Mengunci dan Sudut Papan Catur Baru
61
BAB 59: Aliansi Bayangan dan Benteng Finansial Baru
62
BAB 60: Runtuhnya Vektor Capital dan Kehangatan yang Utuh
63
​BAB 61: Kotak Kayu Kuno dan Lembaran yang Hilang
64
BAB 62: Akhir dari Bayang-bayang dan Deklarasi Tulus
65
BAB 63: Lembaran Merah dan Pengalihan Kekuasaan Tanpa Tarif
66
BAB 64: Siasat Penerbangan dan Kamar yang Menyatu
67
BAB 65: Strategi Angkasa dan Penyelesaian Akhir di London
68
BAB 66: Kamar Suite Tanpa Batas dan Detik-Detik Epilog yang Damai
69
BAB 67: Langkah Santai di Tepi Thames
70
BAB 68: Labuhan Terakhir Nona Nadine
71
BAB 69: Negosiasi Panggilan dan Standardisasi Baru
72
BAB 70: Praktik di Dapur dan Sentuhan yang Menetap
73
BAB 71: Kepemilikan yang Menuntut dan Pembakaran Ancaman
74
BAB 72: Jerat Kehangatan di Kamar Utama
75
BAB 73: Kepemilikan yang Absolut dan Interupsi yang Diabaikan
76
BAB 74: Puncak Gairah dan Sandera Ranjang Menteng
77
BAB 75: Otoritas yang Mengganggu dan Jerat yang Semakin Erat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!