Logika Diatas Cinta

Logika Diatas Cinta

Episode 1: Batalnya Sebuah Komitmen Palsu dan Jeratan Masa Lalu sang Pria Es

​Aroma sup asparagus yang gurih berpadu dengan wangi panggangan daging premium memenuhi ruang VIP restoran hotel bintang lima itu. Alunan musik jazz lembut yang mengalun dari sudut ruangan seharusnya menciptakan atmosfer yang intim dan hangat. Hari ini, tepat tiga minggu sebelum hari pernikahan akbar digelar, dua keluarga besar berkumpul untuk mematangkan detail akhir. Namun, bagi Nadine Lavena, udara di dalam ruangan ini terasa mencekik, seolah-olah mereka sedang merayakan kepalsuan di atas tumpukan bangkai yang disembunyikan dengan rapi.

​Di sampingnya, Heyden Ames duduk dengan postur tegak dan senyum menawan yang tak pernah lepas dari wajah tampannya. Sesekali, pria itu mengusap punggung tangan Nadine dengan lembut, menunjukkan gestur penuh kasih sayang di hadapan orang tua mereka.

​"Untuk urusan suvenir kristal dan undangan tambahan dari relasi kerja, semua sudah diselesaikan minggu lalu, Tante. Nadine yang memilih konsepnya langsung," ucap Heyden dengan nada suara yang begitu manis dan penuh perhatian.

​"Ah, selera Nadine memang selalu mengagumkan. Ibu tidak sabar melihat kalian berdua berdiri di pelaminan nanti," sahut ibunda Heyden sembari menyesap teh kamomilnya dengan anggun.

​Nadine menarik tangannya perlahan dari genggaman Heyden, meletakkannya di atas pangkuan. Wajahnya yang berparas unik memancarkan ketenangan yang mutlak, seolah ia tengah menghadiri rapat bisnis alih-alih pembicaraan hari bahagianya sendiri.

​"Ada apa, Sayang? Kamu lelah?" Heyden berbisik lembut, mendekatkan wajahnya dengan tatapan mata yang dipenuhi kehangatan palsu.

​Nadine tidak menjawab. Wanita itu membuka tas jinjingnya dengan gerakan anggun yang terukur. Tangannya yang lentik meraba seberkas amplop cokelat tebal yang terasa berat di dalam sana. Dengan satu gerakan tegas, Nadine menjatuhkan amplop itu tepat di tengah meja bundar, berdentang pelan dengan mangkuk porselen di dekatnya. Bunyi deb yang berat itu seketika menghentikan tawa dan obrolan kedua keluarga.

​"Nadine? Apa ini?" Ayah Nadine yang duduk di ujung meja mengernyitkan dahi, menatap putrinya dengan bingung.

​"Silakan dibuka, Heyden. Kurasa isi di dalamnya jauh lebih menarik daripada pembahasan vendor katering kita hari ini."

​Heyden tertawa canggung, matanya melirik sekilas ke arah ibunya sebelum meraih amplop tersebut. "Kamu ini ada-ada saja, Nadine. Membuat kejutan di depan orang tua kita—"

​Kalimat Heyden terputus seketika saat segel amplop terbuka dan isinya terserak di atas meja. Lembaran-lembaran foto beresolusi tinggi memperlihatkan dirinya tengah memeluk erat seorang wanita seksi di dalam lobi sebuah apartemen mewah. Tidak hanya itu, beberapa lembar cetakan berisi riwayat obrolan digital yang teramat mesra terpampang nyata dengan tanggal dan waktu yang sangat jelas tepat satu bulan yang lalu, saat Heyden pamit untuk perjalanan bisnis ke luar kota.

​Warna darah langsung surut dari wajah tampan Heyden. Tangannya gemetar hebat, membuat selembar foto tergelincir jatuh ke lantai marmer.

​"Ini... Nadine, ini tidak seperti yang kamu pikirkan! Ini hanya salah paham!"

​"Salah paham yang konsisten selama tiga bulan terakhir, Heyden? Di apartemen yang kamu sewa menggunakan kartu kredit atas namaku?" Nadine bertanya dengan suara yang sangat tenang, tanpa ada nada histeris sedikit pun.

​"Nadine! Apa-apaan kamu ini! Jangan membuat fitnah yang merusak nama baik anak saya di meja ini!" Ibu Heyden berdiri dari kursinya dengan wajah memerah, menunjuk Nadine dengan telunjuk yang bergetar karena murka.

​"Ibu Ames yang terhormat, anak Anda yang menghancurkan nama baik keluarga Anda sendiri. Pernikahan ini batal." Nadine berdiri dari kursinya. Ia merapikan blus satinnya yang sedikit berkerut dengan gerakan yang sangat santai, seolah tidak ada badai yang baru saja ia sulut di dalam ruangan itu.

​"Nadine, kumohon! Aku khilaf, aku mencintaimu! Hanya kamu yang akan menjadi tumpuanku, Nadine!" Heyden mencoba merangsek maju dan meraih pergelangan tangan Nadine, namun ayah Nadine dengan cepat berdiri dan menggebrak meja hingga cangkir-cangkir teh berdenting keras.

​"Jangan berani-berani menyentuh putriku dengan tangan kotormu, keparat! Pertemuan ini selesai!" Suara bariton sang ayah menggema penuh amarah, langsung menghentikan langkah Heyden.

​Nadine membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari ruang VIP tanpa menoleh lagi. Punggungnya tegak, langkah kaki dengan sepatu berhak sedang terdengar konstan di atas karpet tebal koridor hotel yang sunyi dan berbau pengharum ruangan lavender yang mewah.

​{Cinta. Kasih sayang. Komitmen manusia. Semuanya benar-benar hal tabu yang paling menjijikkan dan tidak masuk akal di dunia ini.}

​Di dalam dadanya yang hampa, rasa sakit itu menjelma menjadi dinding es yang tebal. Kejadian hari ini seolah memutar kembali kaset rusak yang paling ia benci dalam hidupnya. Ingatan masa kecilnya mendadak berputar kejam saat ia masih berusia tujuh tahun, berdiri di bawah guyuran hujan melihat ibu kandungnya sendiri mengemas koper, membuangnya tanpa pernah menoleh lagi seolah Nadine hanyalah seonggok sampah yang tidak berharga.

​Nadine mencengkeram tali tasnya erat-erat. Air matanya tidak menetes, karena ia sudah bersumpah bahwa air mata terlalu berharga untuk dibuang demi manusia-manusia pengkhianat. Sungguh bodoh dirinya yang sempat memercayai Heyden sebagai semangat hidup dan tumpuan masa depannya. Di dunia ini, tidak ada satu pun manusia yang bisa dipercaya dan disayangi dengan tulus, terkecuali ayahnya sendiri. Selebihnya, segalanya hanyalah tentang transaksi dan bagaimana cara mempertahankan diri dari kejamnya rasa kecewa.

****

​Aroma asap cerutu mahal berpadu dengan wangi kayu cendana dari furnitur antik memenuhi ruang kerja utama kediaman Ernest. Di balik meja kaca besar, Kyle Ernest duduk dengan postur tegap yang kaku. Setelan jas hitam custom-tailored yang melekat sempurna pada tubuh maskulinnya menegaskan kekuasaan mutlak yang ia miliki di usianya yang masih tergolong muda. Namun, wajah tampannya sedingin es utara, sama sekali tidak tersentuh oleh kehangatan lampu kristal yang berpijar di atas kepalanya.

​Di seberang meja, sang ibu duduk dengan raut wajah yang dipenuhi tuntutan, membolak-balik selembar brosur profil dari putri seorang rekan bisnis terpandang.

​"Besok malam, jam delapan tepat di restoran hotel bintang lima. Ibu tidak mau mendengar alasan pekerjaan lagi, Kyle. Kamu harus datang ke kencan buta ini."

​"Aku tidak punya waktu untuk permainan kekanak-kanakan seperti ini, Ibu." Kyle menjawab dengan suara berat yang datar, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet yang menampilkan laporan saham.

​"Ini bukan permainan! Ibu dan Ayah ingin segera memomong cucu. Umurmu sudah lebih dari cukup untuk memimpin keluarga ini sepenuhnya. Sampai kapan kamu mau hidup membujang seperti ini?"

​"Sampai aku menemukan wanita yang tepat."

​"Wanita yang tepat? Maksudmu perempuan licik bernama Kinara itu?" Suara sang ibu mendadak meninggi, dipenuhi rasa antipati yang mendalam. "Sampai mati pun, Ibu tidak akan pernah mengizinkan wanita serakah seperti dia masuk ke dalam silsilah keluarga Ernest! Dia hanya menginginkan hartamu, Kyle!"

​"Kinara tidak seperti itu. Ibu tidak pernah mengenalnya dengan baik." Kyle meletakkan tabletnya di atas meja dengan ketukan yang cukup keras, mengisyaratkan bahwa kesabarannya mulai menipis.

​"Ibu yang mengirimnya keluar negeri lima tahun lalu karena Ibu tahu persis isi otaknya! Sudahlah, besok malam kamu harus datang, atau Ibu akan membekukan seluruh aset pribadimu di yayasan keluarga." Sang ibu berdiri, melangkah pergi dari ruangan dengan ketukan sepatu hak tinggi yang tajam, meninggalkan keheningan yang mencekik.

​Kyle menyandarkan punggungnya pada kursi kulit kebesarannya, menghela napas panjang sembari memijat pelipisnya yang berdenyut. Pria itu merogoh laci mejanya yang terkunci, mengeluarkan sebuah ponsel khusus yang hanya memiliki satu kontak di dalamnya. Ia membuka sebuah aplikasi pelacak dan galeri foto terenkripsi yang dikirimkan oleh agen rahasianya di London.

​Di layar kaca itu, terpampang foto seorang wanita cantik nan seksi dengan gaun mini ketat yang sedang berjalan keluar dari sebuah butik mewah di kawasan mewah London. Kinara Inka. Wanita yang selama lima tahun ini selalu ia pantau diam-diam dari kejauhan, wanita yang ia yakini sebagai satu-satunya pemilik ketulusan di masa lalunya.

​{Kinara... tunggu sebentar lagi. Aku akan menemukan cara untuk membawamu kembali ke sini, tidak peduli seberapa keras Ibu dan Ayah menentang kita.}

​Kyle mengusap layar ponselnya dengan lembut, ekspresi es di wajahnya melunak sesaat sebelum kembali mengeras. Pria itu tidak pernah mengetahui, atau mungkin menolak untuk melihat fakta, bahwa di seberang lautan sana, Kinara Inka sedang tertawa riang di atas sofa kelab malam bersama beberapa pria asing, menggunakan kartu kredit tanpa limit yang setiap bulan diisi oleh Kyle. Bagi Kinara, Kyle Ernest hanyalah sebuah mesin ATM berjalan yang bodoh, pria tampan penuh kuasa yang sangat mudah dimanipulasi hanya dengan derai air mata palsu dan akting wanita tertindas.

​Begitu mudahnya Kyle dibayangi oleh ilusi cinta, sementara di sudut kota yang sama, takdir sedang mempersiapkan seorang wanita yang jauh berbeda untuk mematahkan seluruh keyakinan bodohnya itu.

Episodes
1 Episode 1: Batalnya Sebuah Komitmen Palsu dan Jeratan Masa Lalu sang Pria Es
2 BAB 2: Provokasi Kartu Nama Hitam dan Kebodohan Impulsif di Pojok Restoran
3 BAB 3: Permainan Papan Catur Dua Jiwa dan Lahirnya Perjanjian Tiga Tahun
4 BAB 4.1: Kehangatan Palsu dan Lahirnya Transaksi Baru di Bawah Atap Yang Sama
5 BAB 4.2: Kehangatan Palsu dan Lahirnya Transaksi Baru di Bawah Atap yang Sama
6 BAB 5.1: Genggaman Tangan Palsu dan Pria Es yang Menolak Melihat Realita
7 BAB 5.2: Genggaman Tangan Palsu dan Pria Es yang Menolak Melihat Realita
8 BAB 6: Semangkuk Sup Kehangatan dan Hantu dari Masa Lalu
9 BAB 7: Parasit yang Mengetuk Pintu dan Ancaman Pemutusan Kontrak 30 Miliar
10 BAB 8: Aliansi Dua Serigala Serakah dan Jaringan Keamanan yang Berbalik Arah
11 BAB 9: Kala Ilusi Lima Tahun Hancur Total di Bawah Sisa Cahaya Senja Menteng
12 BAB 10: Batas Suci yang Ternoda dan Runtuhnya Aturan Main Pernikahan Bisnis
13 BAB 11: Memo Denda Lima Belas Miliar dan Biaya Operasional Akting Akhir Pekan
14 BAB 12: Skandal yang Mengintip dari Balik Bayangan dan Motivator Terbaik Nadine
15 BAB 13: Saat Badai Skandal Berubah Menjadi Panggung Kemenangan Proyektor Konvens
16 BAB 14: Keangkuhan yang Terluka dan Retorika Lembaran Kontrak
17 BAB 15: Provokasi Potong Gaji 20% dan Runtuhnya Pasal Ketiga
18 BAB 16: Ketika Dinding Es Rubah Mematahkan Insting Posesif sang Predator
19 BAB 17: Siasat Baru sang Parasit dan Aliansi Rumah Menteng
20 BAB 18: Riak Pengakuan di Koridor Sunyi dan Kamera yang Mengintai
21 BAB 19: Analisis Risiko dan Sentuhan yang Tergelincir
22 BAB 20: Jebakan Lensa dan Siasat yang Menyamar
23 BAB 21: Aliansi yang Merapat dan Klausul Risiko Tambahan
24 BAB 22: Relokasi yang Merusak Batas Profesional
25 BAB 23: Strategi Perlindungan dan Detak Jantung yang Mengkhianati
26 BAB 24: Kuliner Lima Puluh Juta dan Sentuhan Menteng
27 BAB 25: Kalkulasi yang Bergeser dan Panggilan dari Masa Lalu
28 ​BAB 26: Skenario Pertemuan dan Kepemilikan yang Tidak Terbantahkan
29 BAB 27: Ruang Sempit dan Denda yang Mengintai
30 BAB 28: Perjanjian Baru di Atas Kertas Kontrak
31 BAB 29: Kompensasi Dapur dan Lembaran Rencana Baru
32 BAB 30: Gaun Sutra dan Kepemilikan yang Absolut
33 BAB 31: Logika yang Rusak dan Menu Sarapan Seharga Seratus Juta
34 BAB 32: Siasat Laporan Bulanan dan Jebakan yang Sempit
35 BAB 33: Distorsi Angka dan Negosiasi Hangat di Dapur Menteng
36 BAB 34: Hidangan Hangat dan Siasat yang Menjerat
37 BAB 35: Tarif Perlindungan dan Siasat di Balik Pintu Jati
38 BAB 36: Aromaterapi Dapur dan Sandiwara di Tepi Pelabuhan
39 BAB 37: Konfrontasi Meja Makan dan Taktik Negosiasi yang Licik
40 BAB 38: Pulang ke Menteng dan Amandemen yang Diperas Halus
41 BAB 39: Klausul Kolong Meja dan Jaminan Satu Miliar Rupiah
42 BAB 40: Menu Kemenangan dan Siasat yang Menyamar di Pagi Hari
43 BAB 41: Getaran yang Bergeser Tanpa Transaksi
44 BAB 42: Keheningan Kamar dan Detak yang Menuntut
45 BAB 43: Langkah Senyap di Lorong Barat
46 BAB 44: Jebakan Sektor Timur dan Keputusan Instan
47 BAB 45: Kalkulasi Bahaya dan Rencana yang Bergeser
48 BAB 46: Penyergapan Dermaga Empat dan Retakan Benteng Es
49 ​BAB 47: Retakan Pertama pada Dinding Logika
50 BAB 48: Hangat yang Dinanti dan Amandemen Tanpa Syarat
51 ​BAB 49: Papan Catur yang Berguncang dan Siasat di Ruang Perawatan
52 BAB 50: Langkah Skakmat Sang Permaisuri dan Hangat yang Menetap
53 BAB 51: Sandaran Hangat Tanpa Tarif
54 BAB 52: Jejak Satelit dan Sudut Papan Catur
55 BAB 53: Sandera Keamanan dan Sekutu yang Tersisa
56 BAB 54: Konfrontasi Hukum di Teras Menteng
57 BAB 55: Sandera Siber di Ujung Jari
58 BAB 56: Penyusup dalam Selimut dan Hidangan Pemulihan
59 BAB 57: Penjaga Server dan Logika yang Melunak
60 BAB 58: Aliansi yang Mengunci dan Sudut Papan Catur Baru
61 BAB 59: Aliansi Bayangan dan Benteng Finansial Baru
62 BAB 60: Runtuhnya Vektor Capital dan Kehangatan yang Utuh
63 ​BAB 61: Kotak Kayu Kuno dan Lembaran yang Hilang
64 BAB 62: Akhir dari Bayang-bayang dan Deklarasi Tulus
65 BAB 63: Lembaran Merah dan Pengalihan Kekuasaan Tanpa Tarif
66 BAB 64: Siasat Penerbangan dan Kamar yang Menyatu
67 BAB 65: Strategi Angkasa dan Penyelesaian Akhir di London
68 BAB 66: Kamar Suite Tanpa Batas dan Detik-Detik Epilog yang Damai
69 BAB 67: Langkah Santai di Tepi Thames
70 BAB 68: Labuhan Terakhir Nona Nadine
71 BAB 69: Negosiasi Panggilan dan Standardisasi Baru
72 BAB 70: Praktik di Dapur dan Sentuhan yang Menetap
73 BAB 71: Kepemilikan yang Menuntut dan Pembakaran Ancaman
74 BAB 72: Jerat Kehangatan di Kamar Utama
75 BAB 73: Kepemilikan yang Absolut dan Interupsi yang Diabaikan
76 BAB 74: Puncak Gairah dan Sandera Ranjang Menteng
77 BAB 75: Otoritas yang Mengganggu dan Jerat yang Semakin Erat
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Episode 1: Batalnya Sebuah Komitmen Palsu dan Jeratan Masa Lalu sang Pria Es
2
BAB 2: Provokasi Kartu Nama Hitam dan Kebodohan Impulsif di Pojok Restoran
3
BAB 3: Permainan Papan Catur Dua Jiwa dan Lahirnya Perjanjian Tiga Tahun
4
BAB 4.1: Kehangatan Palsu dan Lahirnya Transaksi Baru di Bawah Atap Yang Sama
5
BAB 4.2: Kehangatan Palsu dan Lahirnya Transaksi Baru di Bawah Atap yang Sama
6
BAB 5.1: Genggaman Tangan Palsu dan Pria Es yang Menolak Melihat Realita
7
BAB 5.2: Genggaman Tangan Palsu dan Pria Es yang Menolak Melihat Realita
8
BAB 6: Semangkuk Sup Kehangatan dan Hantu dari Masa Lalu
9
BAB 7: Parasit yang Mengetuk Pintu dan Ancaman Pemutusan Kontrak 30 Miliar
10
BAB 8: Aliansi Dua Serigala Serakah dan Jaringan Keamanan yang Berbalik Arah
11
BAB 9: Kala Ilusi Lima Tahun Hancur Total di Bawah Sisa Cahaya Senja Menteng
12
BAB 10: Batas Suci yang Ternoda dan Runtuhnya Aturan Main Pernikahan Bisnis
13
BAB 11: Memo Denda Lima Belas Miliar dan Biaya Operasional Akting Akhir Pekan
14
BAB 12: Skandal yang Mengintip dari Balik Bayangan dan Motivator Terbaik Nadine
15
BAB 13: Saat Badai Skandal Berubah Menjadi Panggung Kemenangan Proyektor Konvens
16
BAB 14: Keangkuhan yang Terluka dan Retorika Lembaran Kontrak
17
BAB 15: Provokasi Potong Gaji 20% dan Runtuhnya Pasal Ketiga
18
BAB 16: Ketika Dinding Es Rubah Mematahkan Insting Posesif sang Predator
19
BAB 17: Siasat Baru sang Parasit dan Aliansi Rumah Menteng
20
BAB 18: Riak Pengakuan di Koridor Sunyi dan Kamera yang Mengintai
21
BAB 19: Analisis Risiko dan Sentuhan yang Tergelincir
22
BAB 20: Jebakan Lensa dan Siasat yang Menyamar
23
BAB 21: Aliansi yang Merapat dan Klausul Risiko Tambahan
24
BAB 22: Relokasi yang Merusak Batas Profesional
25
BAB 23: Strategi Perlindungan dan Detak Jantung yang Mengkhianati
26
BAB 24: Kuliner Lima Puluh Juta dan Sentuhan Menteng
27
BAB 25: Kalkulasi yang Bergeser dan Panggilan dari Masa Lalu
28
​BAB 26: Skenario Pertemuan dan Kepemilikan yang Tidak Terbantahkan
29
BAB 27: Ruang Sempit dan Denda yang Mengintai
30
BAB 28: Perjanjian Baru di Atas Kertas Kontrak
31
BAB 29: Kompensasi Dapur dan Lembaran Rencana Baru
32
BAB 30: Gaun Sutra dan Kepemilikan yang Absolut
33
BAB 31: Logika yang Rusak dan Menu Sarapan Seharga Seratus Juta
34
BAB 32: Siasat Laporan Bulanan dan Jebakan yang Sempit
35
BAB 33: Distorsi Angka dan Negosiasi Hangat di Dapur Menteng
36
BAB 34: Hidangan Hangat dan Siasat yang Menjerat
37
BAB 35: Tarif Perlindungan dan Siasat di Balik Pintu Jati
38
BAB 36: Aromaterapi Dapur dan Sandiwara di Tepi Pelabuhan
39
BAB 37: Konfrontasi Meja Makan dan Taktik Negosiasi yang Licik
40
BAB 38: Pulang ke Menteng dan Amandemen yang Diperas Halus
41
BAB 39: Klausul Kolong Meja dan Jaminan Satu Miliar Rupiah
42
BAB 40: Menu Kemenangan dan Siasat yang Menyamar di Pagi Hari
43
BAB 41: Getaran yang Bergeser Tanpa Transaksi
44
BAB 42: Keheningan Kamar dan Detak yang Menuntut
45
BAB 43: Langkah Senyap di Lorong Barat
46
BAB 44: Jebakan Sektor Timur dan Keputusan Instan
47
BAB 45: Kalkulasi Bahaya dan Rencana yang Bergeser
48
BAB 46: Penyergapan Dermaga Empat dan Retakan Benteng Es
49
​BAB 47: Retakan Pertama pada Dinding Logika
50
BAB 48: Hangat yang Dinanti dan Amandemen Tanpa Syarat
51
​BAB 49: Papan Catur yang Berguncang dan Siasat di Ruang Perawatan
52
BAB 50: Langkah Skakmat Sang Permaisuri dan Hangat yang Menetap
53
BAB 51: Sandaran Hangat Tanpa Tarif
54
BAB 52: Jejak Satelit dan Sudut Papan Catur
55
BAB 53: Sandera Keamanan dan Sekutu yang Tersisa
56
BAB 54: Konfrontasi Hukum di Teras Menteng
57
BAB 55: Sandera Siber di Ujung Jari
58
BAB 56: Penyusup dalam Selimut dan Hidangan Pemulihan
59
BAB 57: Penjaga Server dan Logika yang Melunak
60
BAB 58: Aliansi yang Mengunci dan Sudut Papan Catur Baru
61
BAB 59: Aliansi Bayangan dan Benteng Finansial Baru
62
BAB 60: Runtuhnya Vektor Capital dan Kehangatan yang Utuh
63
​BAB 61: Kotak Kayu Kuno dan Lembaran yang Hilang
64
BAB 62: Akhir dari Bayang-bayang dan Deklarasi Tulus
65
BAB 63: Lembaran Merah dan Pengalihan Kekuasaan Tanpa Tarif
66
BAB 64: Siasat Penerbangan dan Kamar yang Menyatu
67
BAB 65: Strategi Angkasa dan Penyelesaian Akhir di London
68
BAB 66: Kamar Suite Tanpa Batas dan Detik-Detik Epilog yang Damai
69
BAB 67: Langkah Santai di Tepi Thames
70
BAB 68: Labuhan Terakhir Nona Nadine
71
BAB 69: Negosiasi Panggilan dan Standardisasi Baru
72
BAB 70: Praktik di Dapur dan Sentuhan yang Menetap
73
BAB 71: Kepemilikan yang Menuntut dan Pembakaran Ancaman
74
BAB 72: Jerat Kehangatan di Kamar Utama
75
BAB 73: Kepemilikan yang Absolut dan Interupsi yang Diabaikan
76
BAB 74: Puncak Gairah dan Sandera Ranjang Menteng
77
BAB 75: Otoritas yang Mengganggu dan Jerat yang Semakin Erat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!