BAB 4.2: Kehangatan Palsu dan Lahirnya Transaksi Baru di Bawah Atap yang Sama

Bagi seorang Nadine Lavena, memasak adalah bentuk quality time terbaik untuk dirinya sendiri sejak dulu. Sifatnya yang terkadang ceroboh dalam hal-hal kecil mendadak berubah menjadi sangat fokus, tegas, dan penuh perhitungan saat berada di area dapur. Ia selalu menyukai proses mengolah bahan makanan menjadi hidangan yang lezat, karena baginya, aroma masakan yang memenuhi ruangan adalah satu-satunya hal yang mampu memberikan kehangatan nyata di tengah kehampaan hatinya pasca-dikhianati.

​Nadine melangkah turun ke lantai satu, menuju dapur bersih bergaya skandinavia yang dilengkapi dengan peralatan masak premium berlapis baja antikarat yang berkilau mewah. Wanita itu membuka pintu lemari es besar dua pintu di sudut dapur, dan seulas senyuman tipis muncul di wajah cantiknya saat melihat bahan makanan segar yang terisi sangat lengkap di dalamnya, tampaknya telah disiapkan oleh kepala pelayan atas perintah Kyle.

​Nadine memutuskan untuk membuat fettuccine carbonara krim tebal dengan taburan potongan daging asap kering dan jamur kancing segar, hidangan nyaman kesukaannya yang biasa ia masak saat ingin memanjakan dirinya sendiri setelah melalui hari yang melelahkan.

​Aroma gurih dari mentega yang meleleh di atas wajan panas, tumisan bawang bombai yang harum, dan parutan keju parmesan yang kaya mulai menguar ke udara, memenuhi seluruh sudut ruangan lantai satu dengan keharuman yang teramat menggugah selera. Kehangatan masakan itu perlahan mengusir atmosfer dingin dan kaku yang sebelumnya mendominasi rumah besar tersebut. Nadine bergerak dengan sangat cekatan di depan kompor, mengaduk saus putih yang mulai mengental dengan ritme yang teratur.

​Saat ia sedang menuangkan pasta fettuccine yang telah matang ke atas sebuah piring saji porselen putih, suara langkah kaki yang berat dan konstan terdengar memasuki area dapur dari arah lobi utama. Nadine menoleh perlahan tanpa menghentikan gerakannya.

​Kyle Ernest sudah berdiri di ambang pintu dapur. Pria itu tampaknya baru saja kembali dari kantornya, namun ia sudah menanggalkan jas abu-abunya, menyisakan kemeja hitam formal yang terkancing rapi dengan dua kancing teratas yang terbuka, memberikan kesan maskulin yang santai namun tetap memancarkan aura dingin yang kuat.

​Kyle menghentikan langkah kakinya tepat di dekat meja konter pulau di tengah dapur. Hidungnya menghirup aroma masakan yang begitu pekat dan lezat, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya di dalam rumahnya yang biasanya selalu sunyi dan berbau steril. Matanya yang tajam menatap piring berisi pasta krim di hadapan Nadine dengan pandangan menilai yang tidak terbaca.

​"Anda memasak?"

​Suara berat Kyle terdengar sedikit lebih serak dari biasanya, kelelahan setelah seharian penuh memimpin rapat direksi perusahaan.

​"Ya. Ini salah satu cara saya untuk menikmati waktu luang dan menyegarkan pikiran saya sendiri." Nadine meletakkan garpu perak di samping piring saji miliknya, lalu menatap Kyle sekilas dengan binar mata yang acuh tak acuh. "Saya hanya membuat satu porsi kecil untuk diri saya sendiri karena saya tidak tahu jam berapa Anda akan pulang ke rumah ini. Lagi pula, pasal keempat di kontrak kita melarang kita untuk mencampuri urusan pribadi masing-masing, dan saya mengasumsikan urusan perut juga termasuk di dalamnya."

​Kyle menaikkan sebelah alisnya, merasa sedikit terusik sekaligus gemas oleh ketegasan wanita di hadapannya ini yang selalu menggunakan pasal-pasal kontrak sebagai benteng pertahanan mutlak untuk membatasi interaksi sosial mereka di dalam rumah. Ada rasa gengsi pria yang mendadak terusik di dalam dada Kyle, namun ia tidak bisa membohongi indra penciumannya bahwa aroma pasta buatan Nadine benar-benar berhasil membangkitkan rasa laparnya yang tertahan sejak siang.

​"Rumah megah ini adalah milikku, dan seluruh fasilitas dapur bersih ini juga merupakan aset pribadiku, Nona Nadine. Mengingat fakta bahwa aku membayar gaji bulanan Anda sebesar seratus juta rupiah, kurasa memasak tambahan satu porsi lagi untuk suamimu tidak akan membuat Anda mengalami kebangkrutan materi."

​Kyle berjalan mendekat, lalu duduk di atas salah satu kursi bar tinggi di seberang meja konter dapur dengan sikap angkuh dan tatapan mata yang menantang.

​Nadine menghentikan gerakannya, menatap wajah tampan Kyle dengan pandangan menilai yang tajam. Sifat dasarnya yang keras kepala dan sangat tidak suka ditantang oleh siapa pun mendadak bergejolak di dalam dadanya. Wanita anggun itu meletakkan piring pastanya kembali ke atas konter, lalu bersedekap dada dengan pose yang tidak kalah menantang.

​"Memasak tambahan satu porsi lagi membutuhkan alokasi tenaga ekstra dan waktu luang saya yang berharga, Pak Kyle. Dan setahu saya, layanan koki pribadi untuk Anda sama sekali tidak tercantum di dalam draf kontrak pernikahan kita yang sudah kita sepakati bersama."

​Kyle Ernest memberikan seulas senyuman smirk yang teramat tipis namun sarat akan kelicikan yang mulai ia tunjukkan khusus kepada Nadine. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pria itu merogoh ponsel pintarnya dari saku celana, melakukan beberapa ketukan cepat di atas layar kaca beresolusi tinggi tersebut, lalu meletakkan kembali ponselnya dengan ketukan pelan di atas meja konter.

​Satu detik kemudian, ponsel milik Nadine yang tergeletak di dekat wastafel dapur mendadak bergetar keras, menampilkan sebuah notifikasi pesan singkat dari aplikasi perbankan digitalnya yang berkilau di bawah lampu dapur.

​Nadine melirik layar ponselnya sekilas, dan matanya menangkap sebuah pesan transferan dana masuk ke rekening pribadinya sebesar Rp50.000.000 (Lima Puluh Juta Rupiah) dari rekening atas nama Kyle Ernest, dengan sebuah catatan transfer singkat yang tertulis jelas di bagian bawah: 'Biaya tambahan kompensasi makanan malam'.

​Kyle kembali menyandarkan punggung tegapnya pada kursi bar, menatap wajah Nadine dengan pandangan menilai yang kental akan keangkuhan hartanya. "Bagaimana dengan argumen Anda sekarang, Nona Nadine? Apakah alokasi tenaga ekstra Anda sudah mendapatkan kompensasi yang sepadan?"

​Nadine menatap angka lima puluh juta rupiah di layar ponselnya, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke arah wajah tampan Kyle. Sedetik kemudian, seluruh ketegasan dan raut wajah keras kepalanya runtuh tanpa sisa di hadapan kilauan nominal uang tersebut. Binar mata wanita berparas unik itu mendadak berubah menjadi sangat cerah dan dipenuhi binar kepuasan yang tidak ditutup-tutupi. Sifat dasarnya yang hanya mencintai uang dan mengabaikan harga diri sentimental membuat Nadine tersenyum dengan sangat manis dan anggun sebuah senyuman bisnis terbaiknya yang belum pernah Kyle lihat sebelumnya.

​Nadine dengan cekatan meraih kembali wajan baja di atas kompor, menyalakan pemantik api dengan gerakan yang sangat riang. "Tentu saja, Tuan Ernest yang terhormat. Pelayanan prima tingkat tinggi dan hidangan terbaik dari dapur ini akan segera disajikan ke hadapan Anda dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Silakan duduk dengan nyaman dan tunggu dengan sabar."

​Kyle Ernest sempat tertegun selama beberapa detik di atas kursinya, memperhatikan perubahan ekspresi dan sikap Nadine yang berbalik seratus delapan puluh derajat dalam waktu sekejap hanya karena sebaris angka digital di rekening tabungan. Pria beraura es itu menggelengkan kepalanya perlahan, ada rasa geli sekaligus kebingungan yang asing yang merayap di dalam benaknya. Ia menyadari bahwa wanita kontrak yang kini berstatus sebagai istrinya ini benar-benar makhluk yang unik; ia bisa sangat ceroboh dan impulsif dalam gengsi, namun di sisi lain ia bisa menjadi sangat tegas, pragmatis, dan penuh perhitungan jika menyangkut keuntungan materi yang nyata.

​{Wanita ini... dia benar-benar tidak memiliki ketertarikan emosional sedikit pun pada diriku atau pesona fisikku. Matanya hanya berkilat terang saat melihat angka nominal uang masuk ke dalam rekening pribadinya.}

​Ada sebersit perasaan aneh yang sedikit menggelitik harga diri dan ego maskulin Kyle malam itu. Sepanjang hidupnya yang bergelimang kekuasaan dan ketampanan sempurna, semua wanita dari berbagai kalangan selalu mencoba segala cara untuk mendekatinya, memohon perhatiannya, atau mendambakan sentuhan fisiknya demi status sosial. Namun, Nadine Lavena justru memperlakukannya murni sebagai seorang bos besar, seorang mitra bisnis, atau sebuah mesin ATM berjalan yang bisa diperas secara legal dan profesional di bawah payung hukum kontrak pernikahan.

​Tanpa disadari oleh kedua belah pihak, di balik keheningan malam yang mulai larut di rumah Menteng dan keharuman saus krim pasta yang memenuhi udara dapur bersih itu, sebuah getaran slow romance yang teramat tipis dan samar mulai merayap di antara celah-celah pasal kontrak yang selalu mereka agungkan. Sebuah awal interaksi yang tenang dan penuh kehangatan palsu, sebelum badai besar yang sesungguhnya datang dari seberang lautan untuk mematahkan seluruh ketenangan tersebut.

Episodes
1 Episode 1: Batalnya Sebuah Komitmen Palsu dan Jeratan Masa Lalu sang Pria Es
2 BAB 2: Provokasi Kartu Nama Hitam dan Kebodohan Impulsif di Pojok Restoran
3 BAB 3: Permainan Papan Catur Dua Jiwa dan Lahirnya Perjanjian Tiga Tahun
4 BAB 4.1: Kehangatan Palsu dan Lahirnya Transaksi Baru di Bawah Atap Yang Sama
5 BAB 4.2: Kehangatan Palsu dan Lahirnya Transaksi Baru di Bawah Atap yang Sama
6 BAB 5.1: Genggaman Tangan Palsu dan Pria Es yang Menolak Melihat Realita
7 BAB 5.2: Genggaman Tangan Palsu dan Pria Es yang Menolak Melihat Realita
8 BAB 6: Semangkuk Sup Kehangatan dan Hantu dari Masa Lalu
9 BAB 7: Parasit yang Mengetuk Pintu dan Ancaman Pemutusan Kontrak 30 Miliar
10 BAB 8: Aliansi Dua Serigala Serakah dan Jaringan Keamanan yang Berbalik Arah
11 BAB 9: Kala Ilusi Lima Tahun Hancur Total di Bawah Sisa Cahaya Senja Menteng
12 BAB 10: Batas Suci yang Ternoda dan Runtuhnya Aturan Main Pernikahan Bisnis
13 BAB 11: Memo Denda Lima Belas Miliar dan Biaya Operasional Akting Akhir Pekan
14 BAB 12: Skandal yang Mengintip dari Balik Bayangan dan Motivator Terbaik Nadine
15 BAB 13: Saat Badai Skandal Berubah Menjadi Panggung Kemenangan Proyektor Konvens
16 BAB 14: Keangkuhan yang Terluka dan Retorika Lembaran Kontrak
17 BAB 15: Provokasi Potong Gaji 20% dan Runtuhnya Pasal Ketiga
18 BAB 16: Ketika Dinding Es Rubah Mematahkan Insting Posesif sang Predator
19 BAB 17: Siasat Baru sang Parasit dan Aliansi Rumah Menteng
20 BAB 18: Riak Pengakuan di Koridor Sunyi dan Kamera yang Mengintai
21 BAB 19: Analisis Risiko dan Sentuhan yang Tergelincir
22 BAB 20: Jebakan Lensa dan Siasat yang Menyamar
23 BAB 21: Aliansi yang Merapat dan Klausul Risiko Tambahan
24 BAB 22: Relokasi yang Merusak Batas Profesional
25 BAB 23: Strategi Perlindungan dan Detak Jantung yang Mengkhianati
26 BAB 24: Kuliner Lima Puluh Juta dan Sentuhan Menteng
27 BAB 25: Kalkulasi yang Bergeser dan Panggilan dari Masa Lalu
28 ​BAB 26: Skenario Pertemuan dan Kepemilikan yang Tidak Terbantahkan
29 BAB 27: Ruang Sempit dan Denda yang Mengintai
30 BAB 28: Perjanjian Baru di Atas Kertas Kontrak
31 BAB 29: Kompensasi Dapur dan Lembaran Rencana Baru
32 BAB 30: Gaun Sutra dan Kepemilikan yang Absolut
33 BAB 31: Logika yang Rusak dan Menu Sarapan Seharga Seratus Juta
34 BAB 32: Siasat Laporan Bulanan dan Jebakan yang Sempit
35 BAB 33: Distorsi Angka dan Negosiasi Hangat di Dapur Menteng
36 BAB 34: Hidangan Hangat dan Siasat yang Menjerat
37 BAB 35: Tarif Perlindungan dan Siasat di Balik Pintu Jati
38 BAB 36: Aromaterapi Dapur dan Sandiwara di Tepi Pelabuhan
39 BAB 37: Konfrontasi Meja Makan dan Taktik Negosiasi yang Licik
40 BAB 38: Pulang ke Menteng dan Amandemen yang Diperas Halus
41 BAB 39: Klausul Kolong Meja dan Jaminan Satu Miliar Rupiah
42 BAB 40: Menu Kemenangan dan Siasat yang Menyamar di Pagi Hari
43 BAB 41: Getaran yang Bergeser Tanpa Transaksi
44 BAB 42: Keheningan Kamar dan Detak yang Menuntut
45 BAB 43: Langkah Senyap di Lorong Barat
46 BAB 44: Jebakan Sektor Timur dan Keputusan Instan
47 BAB 45: Kalkulasi Bahaya dan Rencana yang Bergeser
48 BAB 46: Penyergapan Dermaga Empat dan Retakan Benteng Es
49 ​BAB 47: Retakan Pertama pada Dinding Logika
50 BAB 48: Hangat yang Dinanti dan Amandemen Tanpa Syarat
51 ​BAB 49: Papan Catur yang Berguncang dan Siasat di Ruang Perawatan
52 BAB 50: Langkah Skakmat Sang Permaisuri dan Hangat yang Menetap
53 BAB 51: Sandaran Hangat Tanpa Tarif
54 BAB 52: Jejak Satelit dan Sudut Papan Catur
55 BAB 53: Sandera Keamanan dan Sekutu yang Tersisa
56 BAB 54: Konfrontasi Hukum di Teras Menteng
57 BAB 55: Sandera Siber di Ujung Jari
58 BAB 56: Penyusup dalam Selimut dan Hidangan Pemulihan
59 BAB 57: Penjaga Server dan Logika yang Melunak
60 BAB 58: Aliansi yang Mengunci dan Sudut Papan Catur Baru
61 BAB 59: Aliansi Bayangan dan Benteng Finansial Baru
62 BAB 60: Runtuhnya Vektor Capital dan Kehangatan yang Utuh
63 ​BAB 61: Kotak Kayu Kuno dan Lembaran yang Hilang
64 BAB 62: Akhir dari Bayang-bayang dan Deklarasi Tulus
65 BAB 63: Lembaran Merah dan Pengalihan Kekuasaan Tanpa Tarif
66 BAB 64: Siasat Penerbangan dan Kamar yang Menyatu
67 BAB 65: Strategi Angkasa dan Penyelesaian Akhir di London
68 BAB 66: Kamar Suite Tanpa Batas dan Detik-Detik Epilog yang Damai
69 BAB 67: Langkah Santai di Tepi Thames
70 BAB 68: Labuhan Terakhir Nona Nadine
71 BAB 69: Negosiasi Panggilan dan Standardisasi Baru
72 BAB 70: Praktik di Dapur dan Sentuhan yang Menetap
73 BAB 71: Kepemilikan yang Menuntut dan Pembakaran Ancaman
74 BAB 72: Jerat Kehangatan di Kamar Utama
75 BAB 73: Kepemilikan yang Absolut dan Interupsi yang Diabaikan
76 BAB 74: Puncak Gairah dan Sandera Ranjang Menteng
77 BAB 75: Otoritas yang Mengganggu dan Jerat yang Semakin Erat
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Episode 1: Batalnya Sebuah Komitmen Palsu dan Jeratan Masa Lalu sang Pria Es
2
BAB 2: Provokasi Kartu Nama Hitam dan Kebodohan Impulsif di Pojok Restoran
3
BAB 3: Permainan Papan Catur Dua Jiwa dan Lahirnya Perjanjian Tiga Tahun
4
BAB 4.1: Kehangatan Palsu dan Lahirnya Transaksi Baru di Bawah Atap Yang Sama
5
BAB 4.2: Kehangatan Palsu dan Lahirnya Transaksi Baru di Bawah Atap yang Sama
6
BAB 5.1: Genggaman Tangan Palsu dan Pria Es yang Menolak Melihat Realita
7
BAB 5.2: Genggaman Tangan Palsu dan Pria Es yang Menolak Melihat Realita
8
BAB 6: Semangkuk Sup Kehangatan dan Hantu dari Masa Lalu
9
BAB 7: Parasit yang Mengetuk Pintu dan Ancaman Pemutusan Kontrak 30 Miliar
10
BAB 8: Aliansi Dua Serigala Serakah dan Jaringan Keamanan yang Berbalik Arah
11
BAB 9: Kala Ilusi Lima Tahun Hancur Total di Bawah Sisa Cahaya Senja Menteng
12
BAB 10: Batas Suci yang Ternoda dan Runtuhnya Aturan Main Pernikahan Bisnis
13
BAB 11: Memo Denda Lima Belas Miliar dan Biaya Operasional Akting Akhir Pekan
14
BAB 12: Skandal yang Mengintip dari Balik Bayangan dan Motivator Terbaik Nadine
15
BAB 13: Saat Badai Skandal Berubah Menjadi Panggung Kemenangan Proyektor Konvens
16
BAB 14: Keangkuhan yang Terluka dan Retorika Lembaran Kontrak
17
BAB 15: Provokasi Potong Gaji 20% dan Runtuhnya Pasal Ketiga
18
BAB 16: Ketika Dinding Es Rubah Mematahkan Insting Posesif sang Predator
19
BAB 17: Siasat Baru sang Parasit dan Aliansi Rumah Menteng
20
BAB 18: Riak Pengakuan di Koridor Sunyi dan Kamera yang Mengintai
21
BAB 19: Analisis Risiko dan Sentuhan yang Tergelincir
22
BAB 20: Jebakan Lensa dan Siasat yang Menyamar
23
BAB 21: Aliansi yang Merapat dan Klausul Risiko Tambahan
24
BAB 22: Relokasi yang Merusak Batas Profesional
25
BAB 23: Strategi Perlindungan dan Detak Jantung yang Mengkhianati
26
BAB 24: Kuliner Lima Puluh Juta dan Sentuhan Menteng
27
BAB 25: Kalkulasi yang Bergeser dan Panggilan dari Masa Lalu
28
​BAB 26: Skenario Pertemuan dan Kepemilikan yang Tidak Terbantahkan
29
BAB 27: Ruang Sempit dan Denda yang Mengintai
30
BAB 28: Perjanjian Baru di Atas Kertas Kontrak
31
BAB 29: Kompensasi Dapur dan Lembaran Rencana Baru
32
BAB 30: Gaun Sutra dan Kepemilikan yang Absolut
33
BAB 31: Logika yang Rusak dan Menu Sarapan Seharga Seratus Juta
34
BAB 32: Siasat Laporan Bulanan dan Jebakan yang Sempit
35
BAB 33: Distorsi Angka dan Negosiasi Hangat di Dapur Menteng
36
BAB 34: Hidangan Hangat dan Siasat yang Menjerat
37
BAB 35: Tarif Perlindungan dan Siasat di Balik Pintu Jati
38
BAB 36: Aromaterapi Dapur dan Sandiwara di Tepi Pelabuhan
39
BAB 37: Konfrontasi Meja Makan dan Taktik Negosiasi yang Licik
40
BAB 38: Pulang ke Menteng dan Amandemen yang Diperas Halus
41
BAB 39: Klausul Kolong Meja dan Jaminan Satu Miliar Rupiah
42
BAB 40: Menu Kemenangan dan Siasat yang Menyamar di Pagi Hari
43
BAB 41: Getaran yang Bergeser Tanpa Transaksi
44
BAB 42: Keheningan Kamar dan Detak yang Menuntut
45
BAB 43: Langkah Senyap di Lorong Barat
46
BAB 44: Jebakan Sektor Timur dan Keputusan Instan
47
BAB 45: Kalkulasi Bahaya dan Rencana yang Bergeser
48
BAB 46: Penyergapan Dermaga Empat dan Retakan Benteng Es
49
​BAB 47: Retakan Pertama pada Dinding Logika
50
BAB 48: Hangat yang Dinanti dan Amandemen Tanpa Syarat
51
​BAB 49: Papan Catur yang Berguncang dan Siasat di Ruang Perawatan
52
BAB 50: Langkah Skakmat Sang Permaisuri dan Hangat yang Menetap
53
BAB 51: Sandaran Hangat Tanpa Tarif
54
BAB 52: Jejak Satelit dan Sudut Papan Catur
55
BAB 53: Sandera Keamanan dan Sekutu yang Tersisa
56
BAB 54: Konfrontasi Hukum di Teras Menteng
57
BAB 55: Sandera Siber di Ujung Jari
58
BAB 56: Penyusup dalam Selimut dan Hidangan Pemulihan
59
BAB 57: Penjaga Server dan Logika yang Melunak
60
BAB 58: Aliansi yang Mengunci dan Sudut Papan Catur Baru
61
BAB 59: Aliansi Bayangan dan Benteng Finansial Baru
62
BAB 60: Runtuhnya Vektor Capital dan Kehangatan yang Utuh
63
​BAB 61: Kotak Kayu Kuno dan Lembaran yang Hilang
64
BAB 62: Akhir dari Bayang-bayang dan Deklarasi Tulus
65
BAB 63: Lembaran Merah dan Pengalihan Kekuasaan Tanpa Tarif
66
BAB 64: Siasat Penerbangan dan Kamar yang Menyatu
67
BAB 65: Strategi Angkasa dan Penyelesaian Akhir di London
68
BAB 66: Kamar Suite Tanpa Batas dan Detik-Detik Epilog yang Damai
69
BAB 67: Langkah Santai di Tepi Thames
70
BAB 68: Labuhan Terakhir Nona Nadine
71
BAB 69: Negosiasi Panggilan dan Standardisasi Baru
72
BAB 70: Praktik di Dapur dan Sentuhan yang Menetap
73
BAB 71: Kepemilikan yang Menuntut dan Pembakaran Ancaman
74
BAB 72: Jerat Kehangatan di Kamar Utama
75
BAB 73: Kepemilikan yang Absolut dan Interupsi yang Diabaikan
76
BAB 74: Puncak Gairah dan Sandera Ranjang Menteng
77
BAB 75: Otoritas yang Mengganggu dan Jerat yang Semakin Erat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!