BAB 3: Permainan Papan Catur Dua Jiwa dan Lahirnya Perjanjian Tiga Tahun

​Malam merayap semakin larut, menyisakan keheningan pekat yang mendesak masuk lewat celah-celah jendela kaca kamar tidur Nadine. Mist tipis beraroma lavender dari mesin difuser uap terus menyembur ke udara, mencoba menenangkan atmosfer ruangan yang terasa kaku. Namun, keharuman menenangkan itu gagal total meredakan kepanikan yang sedang bergolak liar di dalam dada Nadine.

​Langkah kakinya yang telanjang bergerak gusar, mondar-mandir di atas karpet bulu domba putih yang empuk. Sesekali, matanya melirik tajam ke arah ponsel pintar yang tergeletak pasrah di atas tempat tidur berseprai abu-abu.

​{Bagaimana cara membatalkan kegilaan ini? Kalau Papa sampai tahu aku mendaftarkan pernikahan dengan orang asing dalam waktu tiga hari, beliau bisa terkena serangan jantung di tempat. Aku harus menghentikan ini sekarang juga sebelum semuanya terlambat.}

​Nadine menyambar perangkat tipis itu dengan gerakan cepat. Jemarinya yang sedikit gemetar menyentuh layar, mengetikkan deretan nomor telepon yang tertera pada kartu nama hitam mengilap di tangan kirinya. Jantungnya berdentang keras, seolah memukul dinding dadanya tanpa ampun saat nada sambung mulai terdengar. Satu dering. Dua dering. Tepat pada deringan ketiga, panggilan itu mendadak tersambung dengan suara klik yang pelan namun tegas.

​"Halo, Pak Kyle?"

​Nadine menempelkan ponsel erat-erat ke telinganya, berusaha sekuat tenaga menyembunyikan getar samar pada suaranya agar terdengar seprofesional mungkin.

​"Siapa?"

​Suara berat dan dalam di seberang sana menyahut tanpa basa-basi. Nada bicaranya yang datar dan acuh tak acuh seketika mengirimkan sensasi dingin yang ganjil melalui gelombang udara telepon.

​"Wanita dari sudut restoran industrial tadi siang."

​"Ada apa?"

​Nadine menarik napas panjang, meremas ujung blus tidurnya yang berbahan katun tipis untuk mencari kekuatan batin. "Apakah... apakah masih ada celah bagi saya untuk membatalkan kesepakatan impulsif yang kita bicarakan tadi siang?"

​Hening sesaat, sebelum akhirnya terdengar suara kekehan sinis yang sangat tipis namun sarat akan ejekan dari seberang saluran. Kyle tampaknya sedang bergeser di atas kursi kerjanya, terdengar dari gesekan kulit mewah yang tertangkap mikrofon ponsel.

​"Ah, jadi dugaanku memang benar. Anda ternyata menyukai saya dan mendadak ketakutan tidak bisa menahan iman Anda setelah melihat ketampanan saya dari jarak dekat, bukan?"

​"Bukan begitu! Jangan terlalu percaya diri!"

​Nadine menyela cepat dengan suara yang naik satu oktav, tidak terima harga dirinya diinjak-injak begitu saja oleh pria yang baru ia temui beberapa jam lalu.

​"Lantas, apa alasan logis yang membuatmu berani mengganggu waktu istirahatku malam-malam begini?"

​Nadine menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga memucat. Kepalanya berputar dengan kecepatan penuh, merangkai alasan yang paling masuk akal agar ia tidak terlihat kalah dalam permainan ego ini. "Saya belum meneliti draf perjanjian kontraknya secara detail dan tertulis. Ada beberapa poin perlindungan diri yang ingin saya tambahkan sebelum saya benar-benar berkomitmen dalam kerja sama jangka panjang ini."

​"Begitu?"

​Kyle menjeda ucapannya, tampaknya sedang menimbang kerasnya kepala wanita asing ini yang ternyata cukup menghibur untuk dilayani.

​"Tenang saja, Pak Kyle. Ini sama sekali bukan pasal yang mengarah pada kehidupan pribadi Anda, ataupun tuntutan pembagian harta gono-gini di kemudian hari. Ini murni draf profesional demi kenyamanan bersama selama masa kontrak berjalan."

​"Baik. Besok pagi sekretaris pribadiku akan mengirimkan draf resminya ke email Anda. Tulis apa saja pasal perlindungan yang Anda inginkan, sepanjang itu tidak mengusik batas privasi saya."

​"Terima kasih banyak atas pengertiannya."

​Nadine langsung memutuskan sambungan sepihak tanpa menunggu kalimat penutup dari pria itu. Ia melemparkan ponselnya ke atas tumpukan bantal dengan napas yang memburu, namun seulas kelegaan kini mulai merayap tipis di dadanya.

​Keesokan harinya, sinar matahari pagi yang pucat menembus tirai tipis kamar kerja Nadine. Sebuah dokumen berformat PDF masuk ke dalam kotak masuk surat elektroniknya tepat pukul delapan pagi tanpa meleset satu menit pun, dikirim langsung oleh sekretaris pribadi dari kantor CEO Ernest Group.

​Nadine duduk dengan punggung tegak di depan meja kayu jati yang menghadap langsung ke arah taman samping rumah. Mengenakan kacamata baca berbingkai tipis, jemari lentiknya menggulirkan layar tablet, meneliti kata demi kata yang tertulis di atas draf kontrak tersebut dengan ketelitian tingkat tinggi seorang analis keuangan.

​Proses negosiasi ulang dan revisi pasal-pasal perlindungan diri yang diajukan Nadine berlangsung cukup alot selama beberapa jam berikutnya, dimediasi oleh sekretaris Kyle yang bergerak cepat tanpa banyak bertanya. Akhirnya, tepat sebelum tengah hari, kedua belah pihak mencapai kata sepakat secara mutlak. Saat Nadine membaca lembar akhir dokumen yang telah dibubuhi tanda tangan digital berwarna biru tua milik Kyle Ernest, sebuah senyuman puas terukir di wajah cantiknya.

​Dokumen tersebut kini memuat delapan pasal mutlak yang mengikat hubungan pernikahan kontrak mereka selama tiga tahun ke depan tanpa ruang untuk toleransi:

| Nomor Pasal | Isi Perjanjian Kontrak Pernikahan Kontrak |

| **Pasal 1** | Kontrak pernikahan ini hanya berlaku selama **3 tahun** terhitung sejak tanggal pendaftaran resmi di KUA. |

| **Pasal 2** | Pihak Pertama (Kyle Ernest) dan Pihak Kedua (Nadine Lavena) wajib **tidur di ruangan yang terpisah**. |

| **Pasal 3** | Kamar masing-masing pihak merupakan **ruang pribadi yang memiliki privasi penuh** dan dilarang keras dimasuki tanpa izin tertulis atau lisan dari pemilik kamar. |

| **Pasal 4** | Kedua belah pihak **dilarang keras mencampuri urusan pribadi** masing-masing di luar urusan yang melibatkan keluarga besar atau media. |

| **Pasal 5** | Kedua belah pihak **harus terlihat harmonis, serasi, dan saling mencintai** di depan keluarga besar dan di hadapan sorotan kamera media publik. |

| **Pasal 6** | **Tidak ada sentuhan fisik** yang bersifat intim di dalam rumah, apalagi perkembangan romansa dalam kehidupan sehari-hari secara nyata. |

| **Pasal 7** | **Denda sebesar Rp30.000.000.000 (Tiga Puluh Miliar Rupiah)** wajib dibayarkan secara tunai jika tidak menyelesaikan masa kontrak atau melanggar perjanjian terlebih dahulu. |

| **Pasal 8** | Pihak Kedua akan menerima **gaji per bulan sebesar Rp100.000.000 (Seratus Juta Rupiah)**, di luar fasilitas kartu ATM khusus dan barang-barang mewah yang diberikan untuk menunjang penampilan publik. |

Nadine mengetukkan kuku jarinya ke atas permukaan layar tablet yang dingin, memandangi angka seratus juta rupiah dan nilai denda tiga puluh miliar rupiah itu bergantian dengan binar mata yang berkilat tajam. Bagi seorang wanita yang telah mematikan fungsi hatinya dari segala urusan asmara, angka-angka fantastis ini adalah bentuk keamanan paling nyata yang bisa ia miliki.

​{Tiga tahun hidup dalam kemewahan tanpa gangguan, dibayar seratus juta sebulan hanya untuk berpura-pura tersenyum di hadapan kamera, dan memiliki kamar tidur pribadi yang terpisah? Ini adalah kesepakatan bisnis terbaik yang pernah kudapatkan sepanjang hidupku. Pria angkuh sedingin es itu pikir dia bisa menakut-nakutiku dengan denda tiga puluh miliar? Dia tidak tahu saja bahwa aku sama sekali tidak tertarik pada tubuhnya atau kekuasaannya. Aku hanya memercayai uang, karena lembaran uang tidak akan pernah mengkhianatiku seperti Heyden, atau membuangku ke bawah guyuran hujan seperti wanita itu.}

​Di belahan kota yang lain, di dalam ruang kantor utama di lantai teratas gedung Ernest Tower yang beraroma harum maskulin perpaduan kayu cedar dan kulit mewah, Kyle Ernest menyandarkan punggung tegapnya pada kursi kebesaran. Pandangannya menyapu pemandangan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang di bawah sana melalui dinding kaca tebal setinggi langit-langit.

​Matanya beralih menatap salinan draf kontrak pernikahan yang baru saja selesai ditandatangani oleh kedua belah pihak di layar gawai pribadinya. Sebuah senyuman tipis yang sarat akan kelicikan muncul di wajah tampannya yang sedingin salju saat melihat nama 'Nadine Lavena' tertulis rapi di kolom pihak kedua.

​"Dia wanita yang sangat menarik dan cukup tegas untuk ukuran orang asing. Setidaknya dia tidak menatapku dengan pandangan lapar atau berusaha menyentuhku seperti wanita-wanita lain yang dikirimkan Ibuku."

​Kyle menggulirkan draf tersebut ke bawah, mengetuk-ngetuk jarinya pada poin denda tiga puluh miliar rupiah dengan santai.

​"Biarkan dia bermain dengan aturan bisnis kecilnya ini untuk sementara waktu. Tiga tahun adalah waktu yang cukup lama untuk membuat Ibuku berhenti mengoceh tentang pernikahan."

​Kyle bergumam dengan suara rendah yang menggetarkan ruangan, mengira dirinya telah mengendalikan seluruh jalannya bidak catur takdir ini dengan sempurna dari kursinya yang nyaman. Pria es itu sama sekali tidak menyadari bahwa wanita yang baru saja ia ikat dalam perjanjian tertulis ini memiliki kecerdikan dan keteguhan hati yang jauh lebih mematikan dari apa yang bisa ia bayangkan. Roda permainan baru saja dimulai, dan kali ini, sang penguasa bisnis mungkin telah menemukan lawan tanding yang sepadan untuk membekukan hatinya sendiri.

Episodes
1 Episode 1: Batalnya Sebuah Komitmen Palsu dan Jeratan Masa Lalu sang Pria Es
2 BAB 2: Provokasi Kartu Nama Hitam dan Kebodohan Impulsif di Pojok Restoran
3 BAB 3: Permainan Papan Catur Dua Jiwa dan Lahirnya Perjanjian Tiga Tahun
4 BAB 4.1: Kehangatan Palsu dan Lahirnya Transaksi Baru di Bawah Atap Yang Sama
5 BAB 4.2: Kehangatan Palsu dan Lahirnya Transaksi Baru di Bawah Atap yang Sama
6 BAB 5.1: Genggaman Tangan Palsu dan Pria Es yang Menolak Melihat Realita
7 BAB 5.2: Genggaman Tangan Palsu dan Pria Es yang Menolak Melihat Realita
8 BAB 6: Semangkuk Sup Kehangatan dan Hantu dari Masa Lalu
9 BAB 7: Parasit yang Mengetuk Pintu dan Ancaman Pemutusan Kontrak 30 Miliar
10 BAB 8: Aliansi Dua Serigala Serakah dan Jaringan Keamanan yang Berbalik Arah
11 BAB 9: Kala Ilusi Lima Tahun Hancur Total di Bawah Sisa Cahaya Senja Menteng
12 BAB 10: Batas Suci yang Ternoda dan Runtuhnya Aturan Main Pernikahan Bisnis
13 BAB 11: Memo Denda Lima Belas Miliar dan Biaya Operasional Akting Akhir Pekan
14 BAB 12: Skandal yang Mengintip dari Balik Bayangan dan Motivator Terbaik Nadine
15 BAB 13: Saat Badai Skandal Berubah Menjadi Panggung Kemenangan Proyektor Konvens
16 BAB 14: Keangkuhan yang Terluka dan Retorika Lembaran Kontrak
17 BAB 15: Provokasi Potong Gaji 20% dan Runtuhnya Pasal Ketiga
18 BAB 16: Ketika Dinding Es Rubah Mematahkan Insting Posesif sang Predator
19 BAB 17: Siasat Baru sang Parasit dan Aliansi Rumah Menteng
20 BAB 18: Riak Pengakuan di Koridor Sunyi dan Kamera yang Mengintai
21 BAB 19: Analisis Risiko dan Sentuhan yang Tergelincir
22 BAB 20: Jebakan Lensa dan Siasat yang Menyamar
23 BAB 21: Aliansi yang Merapat dan Klausul Risiko Tambahan
24 BAB 22: Relokasi yang Merusak Batas Profesional
25 BAB 23: Strategi Perlindungan dan Detak Jantung yang Mengkhianati
26 BAB 24: Kuliner Lima Puluh Juta dan Sentuhan Menteng
27 BAB 25: Kalkulasi yang Bergeser dan Panggilan dari Masa Lalu
28 ​BAB 26: Skenario Pertemuan dan Kepemilikan yang Tidak Terbantahkan
29 BAB 27: Ruang Sempit dan Denda yang Mengintai
30 BAB 28: Perjanjian Baru di Atas Kertas Kontrak
31 BAB 29: Kompensasi Dapur dan Lembaran Rencana Baru
32 BAB 30: Gaun Sutra dan Kepemilikan yang Absolut
33 BAB 31: Logika yang Rusak dan Menu Sarapan Seharga Seratus Juta
34 BAB 32: Siasat Laporan Bulanan dan Jebakan yang Sempit
35 BAB 33: Distorsi Angka dan Negosiasi Hangat di Dapur Menteng
36 BAB 34: Hidangan Hangat dan Siasat yang Menjerat
37 BAB 35: Tarif Perlindungan dan Siasat di Balik Pintu Jati
38 BAB 36: Aromaterapi Dapur dan Sandiwara di Tepi Pelabuhan
39 BAB 37: Konfrontasi Meja Makan dan Taktik Negosiasi yang Licik
40 BAB 38: Pulang ke Menteng dan Amandemen yang Diperas Halus
41 BAB 39: Klausul Kolong Meja dan Jaminan Satu Miliar Rupiah
42 BAB 40: Menu Kemenangan dan Siasat yang Menyamar di Pagi Hari
43 BAB 41: Getaran yang Bergeser Tanpa Transaksi
44 BAB 42: Keheningan Kamar dan Detak yang Menuntut
45 BAB 43: Langkah Senyap di Lorong Barat
46 BAB 44: Jebakan Sektor Timur dan Keputusan Instan
47 BAB 45: Kalkulasi Bahaya dan Rencana yang Bergeser
48 BAB 46: Penyergapan Dermaga Empat dan Retakan Benteng Es
49 ​BAB 47: Retakan Pertama pada Dinding Logika
50 BAB 48: Hangat yang Dinanti dan Amandemen Tanpa Syarat
51 ​BAB 49: Papan Catur yang Berguncang dan Siasat di Ruang Perawatan
52 BAB 50: Langkah Skakmat Sang Permaisuri dan Hangat yang Menetap
53 BAB 51: Sandaran Hangat Tanpa Tarif
54 BAB 52: Jejak Satelit dan Sudut Papan Catur
55 BAB 53: Sandera Keamanan dan Sekutu yang Tersisa
56 BAB 54: Konfrontasi Hukum di Teras Menteng
57 BAB 55: Sandera Siber di Ujung Jari
58 BAB 56: Penyusup dalam Selimut dan Hidangan Pemulihan
59 BAB 57: Penjaga Server dan Logika yang Melunak
60 BAB 58: Aliansi yang Mengunci dan Sudut Papan Catur Baru
61 BAB 59: Aliansi Bayangan dan Benteng Finansial Baru
62 BAB 60: Runtuhnya Vektor Capital dan Kehangatan yang Utuh
63 ​BAB 61: Kotak Kayu Kuno dan Lembaran yang Hilang
64 BAB 62: Akhir dari Bayang-bayang dan Deklarasi Tulus
65 BAB 63: Lembaran Merah dan Pengalihan Kekuasaan Tanpa Tarif
66 BAB 64: Siasat Penerbangan dan Kamar yang Menyatu
67 BAB 65: Strategi Angkasa dan Penyelesaian Akhir di London
68 BAB 66: Kamar Suite Tanpa Batas dan Detik-Detik Epilog yang Damai
69 BAB 67: Langkah Santai di Tepi Thames
70 BAB 68: Labuhan Terakhir Nona Nadine
71 BAB 69: Negosiasi Panggilan dan Standardisasi Baru
72 BAB 70: Praktik di Dapur dan Sentuhan yang Menetap
73 BAB 71: Kepemilikan yang Menuntut dan Pembakaran Ancaman
74 BAB 72: Jerat Kehangatan di Kamar Utama
75 BAB 73: Kepemilikan yang Absolut dan Interupsi yang Diabaikan
76 BAB 74: Puncak Gairah dan Sandera Ranjang Menteng
77 BAB 75: Otoritas yang Mengganggu dan Jerat yang Semakin Erat
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Episode 1: Batalnya Sebuah Komitmen Palsu dan Jeratan Masa Lalu sang Pria Es
2
BAB 2: Provokasi Kartu Nama Hitam dan Kebodohan Impulsif di Pojok Restoran
3
BAB 3: Permainan Papan Catur Dua Jiwa dan Lahirnya Perjanjian Tiga Tahun
4
BAB 4.1: Kehangatan Palsu dan Lahirnya Transaksi Baru di Bawah Atap Yang Sama
5
BAB 4.2: Kehangatan Palsu dan Lahirnya Transaksi Baru di Bawah Atap yang Sama
6
BAB 5.1: Genggaman Tangan Palsu dan Pria Es yang Menolak Melihat Realita
7
BAB 5.2: Genggaman Tangan Palsu dan Pria Es yang Menolak Melihat Realita
8
BAB 6: Semangkuk Sup Kehangatan dan Hantu dari Masa Lalu
9
BAB 7: Parasit yang Mengetuk Pintu dan Ancaman Pemutusan Kontrak 30 Miliar
10
BAB 8: Aliansi Dua Serigala Serakah dan Jaringan Keamanan yang Berbalik Arah
11
BAB 9: Kala Ilusi Lima Tahun Hancur Total di Bawah Sisa Cahaya Senja Menteng
12
BAB 10: Batas Suci yang Ternoda dan Runtuhnya Aturan Main Pernikahan Bisnis
13
BAB 11: Memo Denda Lima Belas Miliar dan Biaya Operasional Akting Akhir Pekan
14
BAB 12: Skandal yang Mengintip dari Balik Bayangan dan Motivator Terbaik Nadine
15
BAB 13: Saat Badai Skandal Berubah Menjadi Panggung Kemenangan Proyektor Konvens
16
BAB 14: Keangkuhan yang Terluka dan Retorika Lembaran Kontrak
17
BAB 15: Provokasi Potong Gaji 20% dan Runtuhnya Pasal Ketiga
18
BAB 16: Ketika Dinding Es Rubah Mematahkan Insting Posesif sang Predator
19
BAB 17: Siasat Baru sang Parasit dan Aliansi Rumah Menteng
20
BAB 18: Riak Pengakuan di Koridor Sunyi dan Kamera yang Mengintai
21
BAB 19: Analisis Risiko dan Sentuhan yang Tergelincir
22
BAB 20: Jebakan Lensa dan Siasat yang Menyamar
23
BAB 21: Aliansi yang Merapat dan Klausul Risiko Tambahan
24
BAB 22: Relokasi yang Merusak Batas Profesional
25
BAB 23: Strategi Perlindungan dan Detak Jantung yang Mengkhianati
26
BAB 24: Kuliner Lima Puluh Juta dan Sentuhan Menteng
27
BAB 25: Kalkulasi yang Bergeser dan Panggilan dari Masa Lalu
28
​BAB 26: Skenario Pertemuan dan Kepemilikan yang Tidak Terbantahkan
29
BAB 27: Ruang Sempit dan Denda yang Mengintai
30
BAB 28: Perjanjian Baru di Atas Kertas Kontrak
31
BAB 29: Kompensasi Dapur dan Lembaran Rencana Baru
32
BAB 30: Gaun Sutra dan Kepemilikan yang Absolut
33
BAB 31: Logika yang Rusak dan Menu Sarapan Seharga Seratus Juta
34
BAB 32: Siasat Laporan Bulanan dan Jebakan yang Sempit
35
BAB 33: Distorsi Angka dan Negosiasi Hangat di Dapur Menteng
36
BAB 34: Hidangan Hangat dan Siasat yang Menjerat
37
BAB 35: Tarif Perlindungan dan Siasat di Balik Pintu Jati
38
BAB 36: Aromaterapi Dapur dan Sandiwara di Tepi Pelabuhan
39
BAB 37: Konfrontasi Meja Makan dan Taktik Negosiasi yang Licik
40
BAB 38: Pulang ke Menteng dan Amandemen yang Diperas Halus
41
BAB 39: Klausul Kolong Meja dan Jaminan Satu Miliar Rupiah
42
BAB 40: Menu Kemenangan dan Siasat yang Menyamar di Pagi Hari
43
BAB 41: Getaran yang Bergeser Tanpa Transaksi
44
BAB 42: Keheningan Kamar dan Detak yang Menuntut
45
BAB 43: Langkah Senyap di Lorong Barat
46
BAB 44: Jebakan Sektor Timur dan Keputusan Instan
47
BAB 45: Kalkulasi Bahaya dan Rencana yang Bergeser
48
BAB 46: Penyergapan Dermaga Empat dan Retakan Benteng Es
49
​BAB 47: Retakan Pertama pada Dinding Logika
50
BAB 48: Hangat yang Dinanti dan Amandemen Tanpa Syarat
51
​BAB 49: Papan Catur yang Berguncang dan Siasat di Ruang Perawatan
52
BAB 50: Langkah Skakmat Sang Permaisuri dan Hangat yang Menetap
53
BAB 51: Sandaran Hangat Tanpa Tarif
54
BAB 52: Jejak Satelit dan Sudut Papan Catur
55
BAB 53: Sandera Keamanan dan Sekutu yang Tersisa
56
BAB 54: Konfrontasi Hukum di Teras Menteng
57
BAB 55: Sandera Siber di Ujung Jari
58
BAB 56: Penyusup dalam Selimut dan Hidangan Pemulihan
59
BAB 57: Penjaga Server dan Logika yang Melunak
60
BAB 58: Aliansi yang Mengunci dan Sudut Papan Catur Baru
61
BAB 59: Aliansi Bayangan dan Benteng Finansial Baru
62
BAB 60: Runtuhnya Vektor Capital dan Kehangatan yang Utuh
63
​BAB 61: Kotak Kayu Kuno dan Lembaran yang Hilang
64
BAB 62: Akhir dari Bayang-bayang dan Deklarasi Tulus
65
BAB 63: Lembaran Merah dan Pengalihan Kekuasaan Tanpa Tarif
66
BAB 64: Siasat Penerbangan dan Kamar yang Menyatu
67
BAB 65: Strategi Angkasa dan Penyelesaian Akhir di London
68
BAB 66: Kamar Suite Tanpa Batas dan Detik-Detik Epilog yang Damai
69
BAB 67: Langkah Santai di Tepi Thames
70
BAB 68: Labuhan Terakhir Nona Nadine
71
BAB 69: Negosiasi Panggilan dan Standardisasi Baru
72
BAB 70: Praktik di Dapur dan Sentuhan yang Menetap
73
BAB 71: Kepemilikan yang Menuntut dan Pembakaran Ancaman
74
BAB 72: Jerat Kehangatan di Kamar Utama
75
BAB 73: Kepemilikan yang Absolut dan Interupsi yang Diabaikan
76
BAB 74: Puncak Gairah dan Sandera Ranjang Menteng
77
BAB 75: Otoritas yang Mengganggu dan Jerat yang Semakin Erat

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!