Kebohongan Azzam

"Abi pergi dulu yah," Azzam mengecup gemas pipi gembil putrinya. Namun, anak kecil itu justru menatapnya dengan kedua alis yang menukik tajam, seolah-olah hendak menerkam sang ayah. Azzam yang melihat ekspresi itu pun turut bingung.

"Kenapa Maira lihat Abi begitu?" tanya Azzam heran.

Maira Rumaisha, anak kedua pasangan itu, mencicit kesal, "Kita kele yah? Kenapa keljaaaaa aja telus Abi tuh. Kata Abi, Allah cudah kacihkan kita lejeki. Ngapain Abi kelja, nanti Allah kacih," ucap Maira dengan logika polos khas seorang bocah.

Mendengar ucapan bocah berusia empat tahun itu, senyum Azzam seketika merekah. "Tentu saja Allah sudah siapkan rezeki buat Maira, Abi, Ummah, dan Kak Adam. Tapi, kita harus jemput rezekinya. Masa tidak dijemput, iya kan? Abi pergi hanya seminggu kok," ucap Azzam berusaha memberi pengertian.

Maira mengerucutkan bibirnya makin maju, "Pake glab loh kan bica jemputnya, kata Abi cekalang celba gampang. Ya nda gampang itu macuk nelaka,"

"Surga, Mai, surga," potong Adam membenarkan ucapan adiknya, membuat Azzam dan Azra tidak bisa menahan tawa mereka.

"Iya culga, yaudah ciiiiih milip jugaaaa," bela Maira tidak mau kalah.

"Beda Maaaai, huh! Mau Abang jual saja rasanya jadinya!" geram Adam, gemas sekaligus kesal dengan kepolosan adiknya yang ajaib.

Azzam menurunkan putri kecilnya ke lantai. Ia kemudian beralih mendekati istrinya, memeluk tubuh Azra dengan erat, lalu mengecup kening wanita itu dengan penuh kelembutan. Sebuah kecupan yang selalu terasa seperti sebuah pamitan yang berat.

"Kalau ingin keluar rumah, jangan sendiri. Kabari aku kalau mau ke mana-mana. Dan jangan pulang sampai Maghrib, Aku tidak suka kamu di luar malam-malam," peringat Azzam dengan nada protektif yang tegas sembari menangkup kedua pipi istrinya.

"Iya, Mas. Kamu bilangnya ituuuu terus selama delapan tahun ini, sampai aku hafal di luar kepala," sahut Azra dengan nada gemas.

Azzam tersenyum tipis. Ia mendekatkan wajahnya, berniat memberikan kecupan perpisahan yang lebih intim pada sang istri. Namun, sudut matanya menangkap kedua anak mereka yang masih berdiri diam di sana, menatap mereka dengan tatapan polos tanpa berkedip. Seolah mengerti situasi orang dewasanya, Adam dengan sigap menarik kerah baju adiknya untuk masuk ke dalam rumah.

"Mai, ku dengar ikanmu mati di akuarium," bohong Adam demi mengalihkan perhatian adiknya.

"Ekheee Abaaaang belbohoooong!" pekik Maira panik, langsung berlari masuk diikuti Adam.

Azzam tersenyum geli melihat tingkah kedua anaknya. Ia kembali menatap sang istri, lalu tangannya bergerak merapikan helaian rambut Azra. "Kapan kamu siap pakai hijab heum?" bisik Azzam lembut. Pria itu kemudian mengecup cepat bibir istrinya, sebelum akhirnya menatap netra hazel Azra dengan lekat.

"Sebentar lagi," ucap Azra yang membuat Azzam mengangguk. Ia tak memaksa sang istri, tetapi dirinya memberi wanita itu waktu untuk memantapkan diri. Bukan karena paksaan, tetapi dari hati.

"Mas ... entah mengapa, aku merasa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku," ucap Azra tiba-tiba.

Kalimat sederhana itu seketika merenggut senyuman dari wajah tampan Azzam. Dalam sekejap, raut wajah pria itu berubah menjadi tegang, matanya berkedip kaku, dan tubuhnya seolah membeku menahan napas. Atmosfer di antara mereka mendadak terasa mencekam.

"Kamu ... gak rela kan sebenarnya jauh-jauh dari akuuuu?!" seru Azra kemudian dengan nada menggoda, memecah ketegangan yang sempat tercipta.

Mendengar kelanjutan kalimat istrinya, Azzam langsung mengembuskan napas lega. Senyumnya kembali lepas, seolah ada beban seberat batu yang baru saja diangkat dari pundaknya.

"Astaga, Sayang. Kamu membuatku takut setengah mati," ucap Azzam, langsung menarik Azra ke dalam dekapan hangatnya yang erat, menyembunyikan sisa kepanikan di wajahnya. Azra yang tidak menyadari perubahan ekspresi suaminya pun membalas pelukan itu dengan sayang.

"Kenapa harus takut? Kayak punya simpanan rahasia besar saja," seloroh Azra terkekeh.

Azzam tidak menjawab. Ia perlahan melepaskan pelukannya, lalu mengecup kening Azra untuk terakhir kalinya sebelum benar-benar melangkah mundur.

"Mas sudah kesiangan, pergi dulu yah. Assalamualaikum," ucap Azzam sembari masuk ke dalam mobilnya. Ia membunyikan klakson sekali sebagai tanda perpisahan, lalu mulai melajukan kendaraannya membelah jalanan sepi di daerah pinggiran Bandung itu.

Azra berdiri di ambang pintu, mengangkat tangannya dan melambaikannya pelan. "Wa'alaikumussalam," lirihnya.

Perlahan, senyuman di wajah cantik Azra luntur seiring dengan mobil Azzam yang kian menjauh dan menghilang di balik tikungan jalan. Tatapan matanya berubah menjadi redup dan kosong. Rasa sepi yang teramat sangat kembali menyergapnya, menyisakan sebuah tanya yang selama delapan tahun ini selalu berusaha ia kubur dalam-dalam.

"Bahkan di usia pernikahan kita yang ke-delapan tahun ... kamu belum mau mengenalkan aku dan anak-anak pada keluarga besarmu, Mas," lirih Azra dengan suara bergetar menahan kesedihan yang teramat dalam di tengah kesunyian rumah megah mereka.

Sementara itu di dalam mobil, setelah memastikan jarak rumah rahasianya sudah cukup jauh, raut wajah hangat Azzam yang penuh kasih sayang seketika sirna. Wajahnya berubah menjadi datar, dingin, dan dipenuhi ketegangan yang tertahan.

Azzam mengulurkan tangan ke depan, membuka laci dashboard mobilnya yang terkunci rapat. Dari dalam sana, ia mengambil sebuah ponsel lain, ponsel khusus yang tidak pernah diketahui oleh Azra sama sekali. Dengan gerakan tak sabar, ia menyalakan benda pipih tersebut. Begitu layar menyala, puluhan notifikasi yang sempat terabaikan langsung bermunculan, seolah mengingatkan dirinya pada realitas dunia aslinya yang rumit.

Azzam segera mencari sebuah kontak, lalu menghubungi seseorang di seberang sana. Nada sambung berdering tak lama, sebelum akhirnya panggilan itu terhubung.

"Aku akan pulang hari ini," ucap Azzam tanpa basa-basi, suaranya terdengar sangat dingin, tegas, dan penuh penekanan, berbanding terbalik dengan suara lembut yang ia gunakan pada Azra beberapa menit lalu.

Azzam menarik napas dalam-dalam, mencengkeram kuat setir mobilnya dengan sebelah tangan sembari melanjutkan, "Bilang pada Umi untuk jangan membuat masalah. Aku ke sana sekarang."

Setelah mendengar jawaban singkat dari seberang telepon, Azzam langsung memutuskan panggilan secara sepihak. Ia melempar ponsel tersebut ke kursi penumpang di sebelahnya. Tatapannya lurus menatap jalanan di depan dengan rahang yang mengeras. Ada rasa bersalah, lelah, dan ketakutan yang besar di matanya, takut jika dinding kebohongan yang ia bangun dengan rapi selama delapan tahun ini perlahan mulai runtuh.

Terpopuler

Comments

jumirah slavina

jumirah slavina

ajak lh Anak istri' buat jemput rezeki

2026-07-05

8

jumirah slavina

jumirah slavina

itu lh., hidup dalam kebohongan itu bagai bom waktu yang siap meledak kapan saja

2026-07-05

7

ismi

ismi

maaf ya thor karena ceritamu kali ini ada poligami saya undur diri,,untuk membacanya ditunggu karya berikutnya cerita kael dan allaura dibulan agustus,,sembgatttt👃👃👃sebelum undur diri saya berikan secangkir kopi dan bunga thor,assalamualaikum

2026-07-06

1

lihat semua
Episodes
1 Kehangatan Pagi
2 Kebohongan Azzam
3 Kehidupan Yang Lain
4 Keinginan Hana
5 Kelakuan Maira
6 Posisi Yang Sulit
7 Istri Simpanan?
8 Nenek Itu Yang Ciapaaa?
9 Tingkah Si Biang Gula
10 Tersudut
11 Asbunnya Maira
12 Kebanggaan Seorang Anak
13 Parfum Yang Tertinggal
14 Suami Nyaris Sempurna
15 Curiga?
16 Tiket Ke London?
17 Harapan Azra
18 Bertemu?
19 Kebahagiaan Hana
20 Itu Suamiku
21 Puncak?
22 Dia Istri Pertama, Mas
23 Kesakitan Azra
24 Kemarahan Keluarga Ardana
25 Ceraikan Aku!
26 2 Istri Yang Saling Bicara
27 Tak Bisa Kehilangan
28 Pinjam Mai?
29 Pertemuan Pertama 2 Bocah menggemaskan
30 Cucu Perempuan Keluarga Ardana
31 Alasan Hana
32 2 Cucu Keluarga Ardana
33 Oh No ...
34 Surat Maryam
35 Pengantar Tidur Maira
36 Sikap Dingin Azra
37 Tetap Pada Keputusan?
38 Keributan Pagi
39 Rezeki Atau Cobaan?
40 Dipulangkan
41 Kedatangan Mertua
42 Obrolan Panas
43 Aku Akan Melepaskan Hana
44 Rumah Yang Dingin
45 Talak
46 Syarat Hana
47 Keputusan Berat
48 Jaga Kepercayaanku~
49 Hari Pertama Adam Sekolah
50 Bertukar Pikiran
51 Pembelaan Ayah Mertua
52 Kerinduan Azzam
53 Sikap Farhan
54 Puaca Jiblil!
55 Di jemput
56 Kediaman Ardana
57 Perhatian Di Balik Rasa Ketus
58 Kelakuan 2 Cadel
59 Ego
60 2 Bocah Keramat
61 Milik Sepenuhnya
62 Keributan Pagi
63 Batas Kesabaran Azzam
64 Aku Kembalikan Putrimu
65 Drop
66 Keadaan Bunda Khonsa
67 Pamit
68 Luka Seorang Anak
69 Lepaskan, Hana!
70 Tipuan Maira
71 Ibu & Anak
72 Periksa Kandungan
73 Sah Bercerai
74 Berdamai
75 Semakin Manis
76 Dion Sagara
77 Tak Sengaja
78 Pria Masa Lalu
79 Mendadak Lahiran
80 Si Cantik Baby Aisyah
81 Cemburunya Maira
82 Solusi
83 Maira Sakit
84 DBD
85 Ubaidillah
86 Pertemuan Pertama Azzam & Azra
87 Menantu Kebanggan Umi
88 Kecerewetan Putri Azzam
89 Titik Bahagia
90 CELITA BALUUUU
91 CERITA FRESH
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Kehangatan Pagi
2
Kebohongan Azzam
3
Kehidupan Yang Lain
4
Keinginan Hana
5
Kelakuan Maira
6
Posisi Yang Sulit
7
Istri Simpanan?
8
Nenek Itu Yang Ciapaaa?
9
Tingkah Si Biang Gula
10
Tersudut
11
Asbunnya Maira
12
Kebanggaan Seorang Anak
13
Parfum Yang Tertinggal
14
Suami Nyaris Sempurna
15
Curiga?
16
Tiket Ke London?
17
Harapan Azra
18
Bertemu?
19
Kebahagiaan Hana
20
Itu Suamiku
21
Puncak?
22
Dia Istri Pertama, Mas
23
Kesakitan Azra
24
Kemarahan Keluarga Ardana
25
Ceraikan Aku!
26
2 Istri Yang Saling Bicara
27
Tak Bisa Kehilangan
28
Pinjam Mai?
29
Pertemuan Pertama 2 Bocah menggemaskan
30
Cucu Perempuan Keluarga Ardana
31
Alasan Hana
32
2 Cucu Keluarga Ardana
33
Oh No ...
34
Surat Maryam
35
Pengantar Tidur Maira
36
Sikap Dingin Azra
37
Tetap Pada Keputusan?
38
Keributan Pagi
39
Rezeki Atau Cobaan?
40
Dipulangkan
41
Kedatangan Mertua
42
Obrolan Panas
43
Aku Akan Melepaskan Hana
44
Rumah Yang Dingin
45
Talak
46
Syarat Hana
47
Keputusan Berat
48
Jaga Kepercayaanku~
49
Hari Pertama Adam Sekolah
50
Bertukar Pikiran
51
Pembelaan Ayah Mertua
52
Kerinduan Azzam
53
Sikap Farhan
54
Puaca Jiblil!
55
Di jemput
56
Kediaman Ardana
57
Perhatian Di Balik Rasa Ketus
58
Kelakuan 2 Cadel
59
Ego
60
2 Bocah Keramat
61
Milik Sepenuhnya
62
Keributan Pagi
63
Batas Kesabaran Azzam
64
Aku Kembalikan Putrimu
65
Drop
66
Keadaan Bunda Khonsa
67
Pamit
68
Luka Seorang Anak
69
Lepaskan, Hana!
70
Tipuan Maira
71
Ibu & Anak
72
Periksa Kandungan
73
Sah Bercerai
74
Berdamai
75
Semakin Manis
76
Dion Sagara
77
Tak Sengaja
78
Pria Masa Lalu
79
Mendadak Lahiran
80
Si Cantik Baby Aisyah
81
Cemburunya Maira
82
Solusi
83
Maira Sakit
84
DBD
85
Ubaidillah
86
Pertemuan Pertama Azzam & Azra
87
Menantu Kebanggan Umi
88
Kecerewetan Putri Azzam
89
Titik Bahagia
90
CELITA BALUUUU
91
CERITA FRESH

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!