Kehidupan Yang Lain

Di dalam ruang tengah rumah megah yang terletak jauh dari hiruk-pikuk kota Bandung, keheningan pagi itu dipecahkan oleh coretan antusias di atas kertas. Maira tengah menggambar di buku gambarnya dengan sangat serius. Ia sedang menggambar seekor kupu-kupu yang cantik, begitulah bentuk yang diinginkan oleh imajinasi khas anak usia empat tahun. Saking fokusnya pada krayon warna-warni di tangannya, Maira sampai menjulurkan sedikit ujung lidahnya dan menggigitnya di sebelah kanan bibir. Kedua alisnya menukik tajam, sementara kedua matanya mendadak juling, seolah-olah tengah memecahkan sebuah teka-teki yang sangat rumit pada kertas di hadapannya.

Adam yang sedang duduk tenang di sofa sembari membaca buku bacaannya, melirik tingkah aneh tersebut. Ia menghela napas panjang melihat kebiasaan buruk adiknya yang selalu muncul setiap kali sedang terlalu fokus.

"Maira, jangan dijulingin begitu matanya. Nanti kalau enggak bisa balik lagi ke posisi semula bagaimana? Mau matanya begitu terus?" tegur Adam dengan nada sok dewasa.

Maira menghentikan goresan krayonnya sejenak. Ia mengangkat wajah, menatap sang kakak dengan bibir yang langsung mengerucut maju.

"Apa cih Abang? Olang nda cengajaaa, nda cadal jugaaa. Ingat kata Loosuuul, kalau nda cengaja itu nda papa. Jadi olang kok lepot kali lah bapak pala nabi ini," gerutu Maira panjang lebar, membawa-bawa nama Rasul dengan logika polosnya.

Setelah berhasil mengomeli kakaknya, ia kembali menunduk untuk melanjutkan gambarnya. Namun, baru dua detik berlalu, anak kecil itu tiba-tiba mengangkat kepalanya lagi dengan ekspresi syok, seolah baru saja mengingat sebuah bencana besar. Ia langsung beranjak berdiri dari lantai, berlari kecil menuju lemari pakaian di sudut kamar, lalu mengambil sebuah celengan plastik berbentuk ayam jago berwarna merah dari sana.

"Maila lupaaaa minta uang ke Abi buat kacih makan ini Lembooo," gumamnya dengan raut wajah penuh rasa kecewa dan penyesalan yang amat sangat.

Pandangannya lalu berputar, beralih menatap ke arah Adam yang sudah kembali fokus dengan buku bacaannya. Detik berikutnya, seulas senyum licik yang lebar merekah di bibir mungil Maira setelah mendapatkan sebuah ide cemerlang. Dengan langkah yang sengaja dibuat mengendap-endap agar tidak bersuara, ia berjalan perlahan mendekati Adam yang masih tak terusik.

"Heh bapak pala nabi, minta dua lebu," Maira menjulurkan telapak tangan mungilnya tepat di depan wajah Adam, menghalangi pandangan kakaknya dari buku.

Adam melongo, menatap telapak tangan kecil yang bergoyang-goyang di depan hidungnya itu dengan tatapan tak percaya. "Ngapaiiiin tiap hari kamu kasih makan celengan ayam itu duit dua ribu? Kayak mau bangun dinasti aja kamu, Mai. Enggak ada, Abang enggak punya uang."

Maira langsung menarik kembali tangannya, berkacak pinggang dengan wajah yang merengut total. "Ih Abang nih, nda cayang adik kali! Cudahlah, Maila mau ganti Abang balu saja. Melepotkan punya Abang, dua lebu pun nda punya. Namanya aja yang bapak pala nabi, tapi pelit," gerutu Maira kesal. Dengan langkah mengentak-entak, ia membalikkan badan dan berjalan pergi mengabaikan kakaknya.

Adam hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah melihat drama acak sang adik yang selalu berhasil membuatnya pening. "Apa sih dia itu? Anak Abi bukan sih sebenarnya? Kelakuannya kadang-kadang mirip anak kambing," gumam Adam pelan, kembali melanjutkan bacaannya di tengah rumah yang sunyi itu, tanpa tahu bahwa di luar sana, dunia mereka yang tenang sebenarnya sedang berdiri di atas bom waktu.

.

.

.

.

Sementara itu, di tempat yang sangat berbeda dan berjarak ratusan kilometer dari ketenangan Bandung, Azzam mengayunkan langkah kakinya di sebuah rumah sakit mewah di pusat kota Jakarta. Pria itu berjalan tegap menyusuri koridor panjang yang sunyi dan beraroma obat yang tajam. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ia sedang berjalan menuju panggung eksekusi. Langkah kakinya akhirnya terhenti tepat di depan sebuah pintu kayu kokoh dengan plang ruang rawat VVIP.

Azzam memejamkan mata sejenak, menetapkan hatinya dan membuang jauh-jauh sisa kehangatan yang baru saja ia rasakan bersama Azra beberapa jam lalu. Perlahan, ia mengulurkan tangan, menarik handle pintu, dan mendorongnya ke dalam.

Begitu pintu terbuka, hawa dingin dari pendingin ruangan langsung menyambutnya, membawa atmosfer yang kaku dan penuh tekanan formalitas. Beberapa orang kerabat dekat yang sejak tadi berdiri mengelilingi ranjang pasien seketika menoleh menatap kedatangannya. Menyadari siapa yang baru saja melangkah masuk, para kerabat itu pun perlahan mundur dan menyingkir ke sudut ruangan, memberi ruang bagi sang putra mahkota keluarga.

Azzam melangkahkan kakinya mendekati sosok wanita paruh baya yang tengah terbaring lemas dengan selang infus menancap di tangannya. Wanita itu adalah sang ibu. Begitu melihat sosok Azzam, garis wajah wanita tua itu yang semula tegang langsung melunak, berganti dengan seulas senyum yang menyiratkan sindiran halus.

"Umi sakit, baru kamu mau datang sudi menemui Umi, ya?" ucap wanita paruh baya itu dengan suara serak yang sarat akan kekecewaan yang dipendam lama.

Azzam memilih untuk tidak membela diri. Ia tahu, kata-kata hanya akan memperpanjang perdebatan yang melelahkan. Ia melangkah semakin dekat ke sisi ranjang, lalu mengulurkan kedua tangannya untuk meraih dan mengecup punggung tangan sang ibu dengan takzim, menunjukkan baktinya yang tak pernah putus meski hatinya bercabang di tempat lain. Setelahnya, ia menegakkan tubuh, membalas tatapan ibunya yang kini menatapnya dengan sorot mata mengintimidasi.

"Apa sesibuk itu kamu mengurus cabang restoranmu yang lain di luar kota, Azzam? Sampai-sampai kamu tidak ingat jalan pulang ke rumah ini? Mau sampai kapan kamu terus-terusan menjadikan Bandung sebagai alasan untuk mengabaikan keluarga?" cecar sang ibu bertubi-tubi.

"Umi ...," Azzam mencoba memotong dengan suara rendah dan tenang, memberi kode bahwa ini bukan tempat yang tepat untuk meributkan urusan mereka.

Namun, sang ibu tampaknya sudah kehilangan kesabaran. Tatapannya beralih ke arah lain di dalam ruangan tersebut. "Apa kamu tidak lelah terus-menerus menjalani hubungan jarak jauh dengan istrimu? Menelantarkannya di sini sendirian demi bisnis yang tidak ada habisnya? Hana, kemari, Nak. Tegur suamimu ini, jangan hanya diam saja melihat dia bersikap semaunya sendiri."

Perkataan sang ibu seketika membuat seluruh persendian di tubuh Azzam menegang kaku. Jantungnya berdegup lebih kencang, memicu rasa bersalah yang selama ini ia tekan kuat-kuat di dalam dadanya.

Azzam perlahan menolehkan kepalanya ke arah sudut ruangan yang remang-remang. Di sana, seorang wanita cantik dengan pakaian muslimah yang sangat anggun dan jilbab berwarna merah marun mulai melangkah mendekat dengan sangat pelan.

"Mas ...,"

_________________________________

Siapin tisu🤣

Terpopuler

Comments

jumirah slavina

jumirah slavina

buat lap ingus kh., soale Aku lagi flu🤭🤣

klo buat airmata gak mungkin deh.,
krn biasa'y d'tengah haru slalu ad kekocakan., itu yang Aku suka dari smua novel'mu...

looppeeeeeeee Kamu banyak-banyak❤

2026-07-05

12

Deera__

Deera__

astaghfirullah Ya Allah Azzam..tega kali menduakan istri. dn menyakiti dua wnita shalehah dan orang tua mu juga... pengkhianatan yg kejam.... apa slah istri pertamamu. apa alasan dari ini semua. GK ada yg dibenarkan. salah besar kau Azzam. Naudzubillah.. dimana hatimu itu. Astaghfirullah

2026-07-24

0

Nurlaela

Nurlaela

pasti ada alasan, di istri kedua Azzam merasa bahagia, tapi ketika sampe di istri pertama seperti ada tekanan gitu apalagi umi nya...cerita authorr satu ini berbeda dari karya sebelumnya tapi tetap the best👍👍👍👍👍

2026-07-05

2

lihat semua
Episodes
1 Kehangatan Pagi
2 Kebohongan Azzam
3 Kehidupan Yang Lain
4 Keinginan Hana
5 Kelakuan Maira
6 Posisi Yang Sulit
7 Istri Simpanan?
8 Nenek Itu Yang Ciapaaa?
9 Tingkah Si Biang Gula
10 Tersudut
11 Asbunnya Maira
12 Kebanggaan Seorang Anak
13 Parfum Yang Tertinggal
14 Suami Nyaris Sempurna
15 Curiga?
16 Tiket Ke London?
17 Harapan Azra
18 Bertemu?
19 Kebahagiaan Hana
20 Itu Suamiku
21 Puncak?
22 Dia Istri Pertama, Mas
23 Kesakitan Azra
24 Kemarahan Keluarga Ardana
25 Ceraikan Aku!
26 2 Istri Yang Saling Bicara
27 Tak Bisa Kehilangan
28 Pinjam Mai?
29 Pertemuan Pertama 2 Bocah menggemaskan
30 Cucu Perempuan Keluarga Ardana
31 Alasan Hana
32 2 Cucu Keluarga Ardana
33 Oh No ...
34 Surat Maryam
35 Pengantar Tidur Maira
36 Sikap Dingin Azra
37 Tetap Pada Keputusan?
38 Keributan Pagi
39 Rezeki Atau Cobaan?
40 Dipulangkan
41 Kedatangan Mertua
42 Obrolan Panas
43 Aku Akan Melepaskan Hana
44 Rumah Yang Dingin
45 Talak
46 Syarat Hana
47 Keputusan Berat
48 Jaga Kepercayaanku~
49 Hari Pertama Adam Sekolah
50 Bertukar Pikiran
51 Pembelaan Ayah Mertua
52 Kerinduan Azzam
53 Sikap Farhan
54 Puaca Jiblil!
55 Di jemput
56 Kediaman Ardana
57 Perhatian Di Balik Rasa Ketus
58 Kelakuan 2 Cadel
59 Ego
60 2 Bocah Keramat
61 Milik Sepenuhnya
62 Keributan Pagi
63 Batas Kesabaran Azzam
64 Aku Kembalikan Putrimu
65 Drop
66 Keadaan Bunda Khonsa
67 Pamit
68 Luka Seorang Anak
69 Lepaskan, Hana!
70 Tipuan Maira
71 Ibu & Anak
72 Periksa Kandungan
73 Sah Bercerai
74 Berdamai
75 Semakin Manis
76 Dion Sagara
77 Tak Sengaja
78 Pria Masa Lalu
79 Mendadak Lahiran
80 Si Cantik Baby Aisyah
81 Cemburunya Maira
82 Solusi
83 Maira Sakit
84 DBD
85 Ubaidillah
86 Pertemuan Pertama Azzam & Azra
87 Menantu Kebanggan Umi
88 Kecerewetan Putri Azzam
89 Titik Bahagia
90 CELITA BALUUUU
91 CERITA FRESH
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Kehangatan Pagi
2
Kebohongan Azzam
3
Kehidupan Yang Lain
4
Keinginan Hana
5
Kelakuan Maira
6
Posisi Yang Sulit
7
Istri Simpanan?
8
Nenek Itu Yang Ciapaaa?
9
Tingkah Si Biang Gula
10
Tersudut
11
Asbunnya Maira
12
Kebanggaan Seorang Anak
13
Parfum Yang Tertinggal
14
Suami Nyaris Sempurna
15
Curiga?
16
Tiket Ke London?
17
Harapan Azra
18
Bertemu?
19
Kebahagiaan Hana
20
Itu Suamiku
21
Puncak?
22
Dia Istri Pertama, Mas
23
Kesakitan Azra
24
Kemarahan Keluarga Ardana
25
Ceraikan Aku!
26
2 Istri Yang Saling Bicara
27
Tak Bisa Kehilangan
28
Pinjam Mai?
29
Pertemuan Pertama 2 Bocah menggemaskan
30
Cucu Perempuan Keluarga Ardana
31
Alasan Hana
32
2 Cucu Keluarga Ardana
33
Oh No ...
34
Surat Maryam
35
Pengantar Tidur Maira
36
Sikap Dingin Azra
37
Tetap Pada Keputusan?
38
Keributan Pagi
39
Rezeki Atau Cobaan?
40
Dipulangkan
41
Kedatangan Mertua
42
Obrolan Panas
43
Aku Akan Melepaskan Hana
44
Rumah Yang Dingin
45
Talak
46
Syarat Hana
47
Keputusan Berat
48
Jaga Kepercayaanku~
49
Hari Pertama Adam Sekolah
50
Bertukar Pikiran
51
Pembelaan Ayah Mertua
52
Kerinduan Azzam
53
Sikap Farhan
54
Puaca Jiblil!
55
Di jemput
56
Kediaman Ardana
57
Perhatian Di Balik Rasa Ketus
58
Kelakuan 2 Cadel
59
Ego
60
2 Bocah Keramat
61
Milik Sepenuhnya
62
Keributan Pagi
63
Batas Kesabaran Azzam
64
Aku Kembalikan Putrimu
65
Drop
66
Keadaan Bunda Khonsa
67
Pamit
68
Luka Seorang Anak
69
Lepaskan, Hana!
70
Tipuan Maira
71
Ibu & Anak
72
Periksa Kandungan
73
Sah Bercerai
74
Berdamai
75
Semakin Manis
76
Dion Sagara
77
Tak Sengaja
78
Pria Masa Lalu
79
Mendadak Lahiran
80
Si Cantik Baby Aisyah
81
Cemburunya Maira
82
Solusi
83
Maira Sakit
84
DBD
85
Ubaidillah
86
Pertemuan Pertama Azzam & Azra
87
Menantu Kebanggan Umi
88
Kecerewetan Putri Azzam
89
Titik Bahagia
90
CELITA BALUUUU
91
CERITA FRESH

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!