Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Kebangkitan Sang Awakener Terkuat Di Akhir Zaman

Prolog: Kesempatan Kedua di Ambang Kiamat

Pagi itu, langit Jakarta berwarna merah darah, seolah matahari sendiri telah menyerah menyinari dunia yang telah mati. Asap hitam menggantung rendah di udara, menutupi sisa-sisa gedung pencakar langit yang kini hanya menyisakan kerangka beton yang rapuh. Jalanan yang dahulu dipenuhi deru kendaraan berubah menjadi hamparan bangkai mobil berkarat, tulang-belulang manusia, dan lolongan makhluk yang pernah disebut manusia. Sepuluh tahun telah berlalu sejak dunia jatuh ke dalam kiamat, dan selama itu pula umat manusia belajar bahwa monster paling mengerikan bukanlah rasa lapar, melainkan harapan yang terus dipaksa bertahan hidup.

Arga berlari tanpa menoleh sedikit pun. Napasnya berat, setiap tarikan udara terasa seperti menghirup pecahan kaca, sementara darah terus mengalir dari pelipis kirinya dan lengan kanannya hampir mati rasa akibat luka sobek yang belum sempat sembuh. Meski tubuhnya berada di ambang kehancuran, genggamannya pada sebuah kristal merah muda seukuran bola bisbol tidak bergeming sedikit pun. Kristal Zombie Tier 6 itu adalah hasil pertaruhan nyawa puluhan kelompok pemburu yang saling membantai, tiket menuju kekuatan Awakener Tier 6, sekaligus harga yang harus ia bayar dengan mengorbankan seluruh rekan seperjuangannya.

Ledakan dahsyat mengguncang bangunan di belakangnya. Sebuah dinding beton runtuh ketika sesosok makhluk transparan menerobos keluar tanpa kehilangan sedikit pun kecepatannya. Tubuh makhluk itu menyerupai kaca buram, sepasang mata putih kebiruan memancarkan cahaya dingin, dan setiap langkahnya nyaris tidak menimbulkan suara. Itulah Zombie Tier 7, varian Zombie Hantu yang bahkan peluru kendali tidak pernah mampu dihentikan.

"Dia di sana!"

Suara itu terdengar begitu jelas, namun bukan berasal dari manusia. Makhluk transparan itu mengucapkannya dengan nada datar yang justru terasa lebih mengerikan daripada raungan monster mana pun. Arga tetap berlari tanpa menoleh. Sepuluh tahun bertahan hidup telah mengajarinya satu aturan sederhana: ketika seseorang menoleh kepada kematian, berarti kematian sudah berada tepat di belakangnya.

Ia melompati celah sempit antar gedung, berguling di atas atap bangunan berikutnya, lalu kembali memacu tubuhnya yang hampir mencapai batas. Sepatu tempurnya yang telah rusak nyaris terlepas dari kedua kaki, tetapi rasa sakit tidak lagi berarti dibandingkan keinginan untuk bertahan hidup. Dari ketinggian, ia dapat melihat ribuan zombie memenuhi setiap ruas jalan. Ada Zombie Tier 1 yang tubuhnya telah membusuk, Zombie Tier 3 dengan cakar baja yang mampu mencabik baja tipis, Zombie Tier 5 yang memimpin gerombolan, hingga beberapa Zombie Tier 6 yang merobohkan bangunan hanya dengan hentakan kaki. Seluruh Jakarta telah berubah menjadi sarang neraka, dan semua monster itu tunduk kepada satu pemimpin yang kini terus mengejarnya.

Arga akhirnya tiba di ujung atap. Di hadapannya terbentang jurang selebar hampir lima puluh meter menuju gedung berikutnya, jarak yang bahkan mustahil dilompati oleh Awakener Tier 5 sekalipun. Perlahan ia membalikkan tubuhnya, menatap sosok transparan yang berjalan santai menghampiri. Makhluk itu tidak tampak tergesa-gesa maupun marah. Sebaliknya, senyum tipis yang terukir di wajahnya seolah menunjukkan bahwa pertemuan ini adalah sesuatu yang telah lama dinantikan.

"Sudah lama tidak bertemu... Arga."

Jantung Arga seolah berhenti berdetak. Suara itu terdengar terlalu manusia untuk keluar dari mulut seekor zombie.

"Ternyata benar," ucap makhluk itu sambil tersenyum tipis. "Kau masih hidup sampai sekarang."

Arga mempererat genggamannya pada pedang Tier 5 miliknya. Pedang emas sepanjang satu setengah meter itu masih dipenuhi bercak darah hitam zombie, sementara aura keemasan samar menyelimuti bilahnya hingga membuat zombie-zombie lemah di bawah gedung tidak berani mendekat. Tatapannya tajam menembus sosok di hadapannya. "Aku tidak mengenalmu."

Zombie itu tertawa pelan, lalu memiringkan kepalanya seolah tengah menikmati kebingungan Arga. "Kalau begitu..." katanya lirih, "bagaimana dengan nama Sari?" Tubuh Arga membeku seketika. Nama itu menghantam kesadarannya jauh lebih keras daripada ledakan apa pun.

"Adikmu," lanjut zombie itu dengan suara yang nyaris lembut. "Gadis yang mati sambil memanggil namamu pada tahun ketiga kiamat."

Bayangan seorang gadis SMA berambut sebahu memenuhi benak Arga. Senyumnya yang cerah, tawanya yang selalu menghangatkan suasana, dan tangannya yang sering menarik lengannya saat mereka pulang bersama muncul begitu jelas di hadapan matanya. Namun kenangan indah itu segera berubah menjadi mimpi buruk ketika tubuh mungil Sari yang berlumuran darah kembali terbayang, tercabik-cabik oleh gerombolan zombie sementara dirinya datang terlambat untuk menyelamatkan.

Arga menggeram keras. Aura emas meledak dari tubuhnya, lalu ia melesat seperti peluru dengan seluruh kekuatan yang tersisa. Pedang Tier 5 di tangannya mengayunkan tebasan berlapis yang mampu membelah kendaraan lapis baja, tetapi serangan itu hanya menghantam udara kosong. Tubuh zombie transparan tersebut berubah menjadi bayangan sesaat sebelum bilah pedang menyentuhnya.

"Masih sama," bisik suara itu dari belakang Arga. "Terlalu emosional."

Sebelum Arga sempat berbalik, sebuah cakar hitam menghantam pedangnya dengan kekuatan yang mustahil dibendung. Retakan kecil muncul pada bilah emas itu, kemudian menjalar begitu cepat hingga memenuhi seluruh permukaannya. Dalam sekejap, pedang yang telah menemaninya selama enam tahun bertarung hancur menjadi ribuan serpihan yang berhamburan di udara.

"Tidak..."

Belum sempat ia bereaksi, tangan zombie itu telah menembus dadanya. Daging, tulang, dan jantungnya tertusuk begitu mudah, seolah tubuh manusia hanyalah selembar kertas basah. Arga memuntahkan darah ketika Kristal Tier 6 terlepas dari genggamannya dan menggelinding di atas lantai beton. Penglihatannya mulai kabur, udara terasa semakin dingin, dan seluruh tenaganya perlahan menghilang.

Zombie itu mendekat hingga wajah mereka hanya terpaut beberapa sentimeter. Dengan nada tenang yang justru terasa lebih mengerikan daripada amarah, ia berkata bahwa selama sepuluh tahun terakhir ia sengaja membiarkan Arga tetap hidup. Menurutnya, menyaksikan Arga kehilangan satu demi satu orang yang dicintainya jauh lebih menyenangkan daripada membunuhnya sejak awal.

Air mata bercampur darah mengalir di pipi Arga. Ia tidak menangis karena takut menghadapi kematian, melainkan karena penyesalan yang menyesakkan dada. Ia gagal melindungi kedua orang tuanya, gagal menyelamatkan Sari, gagal menyatukan umat manusia, dan gagal menghentikan penyebaran Necrovirus Sapiens yang mengubah sembilan puluh persen populasi dunia menjadi monster. Bahkan ilmuwan misterius yang menemukan ramuan Awakener pun tewas dibunuh para pengkhianat yang dahulu ia anggap sebagai saudara. Selama sepuluh tahun bertahan hidup, yang tersisa darinya hanyalah tumpukan penyesalan yang tidak pernah bisa ditebus.

Pandangannya semakin gelap hingga langit merah yang dipenuhi abu menjadi satu-satunya hal yang masih mampu ia lihat. Dalam detik-detik terakhir hidupnya, bibir Arga bergerak perlahan, mengucapkan harapan yang bahkan terdengar mustahil.

"Kalau... aku bisa kembali..."

Kesunyian.

Bunyi notifikasi ponsel memecah keheningan. Arga membuka mata dengan napas tersengal, lalu mendapati langit-langit putih, kipas angin tua yang berputar pelan, aroma mi instan yang memenuhi ruangan, dan dinding kos sempit dengan cat yang telah mengelupas. Ia langsung terduduk dan refleks meraba dadanya. Tidak ada luka, tidak ada darah, dan tidak ada lubang menganga tempat jantungnya seharusnya telah berhenti berdetak.

Dengan tangan gemetar, Arga memandangi kedua telapak tangannya. Kulitnya kembali halus tanpa bekas luka maupun kapalan akibat bertahun-tahun menggenggam pedang. Ketika pandangannya beralih kepada kalender yang tergantung di dinding, pupil matanya langsung mengecil.

14 Juni 2026.

"Tidak mungkin..."

Ponselnya kembali berbunyi. Saat layar menyala, sebuah pesan singkat muncul dari seseorang yang seharusnya telah lama tiada.

Sari: "Mas, nanti pulang jangan lupa beliin es krim ya. Katanya dekat kosmu lagi diskon, hehe."

Napas Arga tercekat. Nama itu, pesan sederhana itu, adalah sesuatu yang selama sepuluh tahun hanya bisa ia temui dalam mimpi. Air mata mengalir tanpa mampu ia bendung ketika memeluk ponsel itu erat di dadanya.

"Tidak... kali ini tidak."

"Aku tidak akan membiarkanmu mati."

Belum sempat emosinya mereda, rasa sakit luar biasa menghantam kepalanya. Seluruh ingatan dari sepuluh tahun kehidupan sebelumnya membanjiri pikirannya tanpa ampun. Ia mengingat lokasi kemunculan gerbang zombie pertama, asal mula penyebaran Mikroba Necrovirus Sapiens dari lapisan es Siberia, resep ramuan Awakener yang memerlukan sepuluh kristal zombie sesuai tier yang direbus bersama daun mint dan garam selama satu jam, cara menempa senjata bertier tinggi, letak gudang persenjataan, identitas para pengkhianat yang akan menjual umat manusia demi kekuasaan, hingga lokasi ilmuwan misterius yang kelak mampu mengubah sejarah dunia.

Arga memegangi kepalanya sambil terengah, tetapi rasa sakit itu belum berakhir. Tiba-tiba sebuah ruang gelap tanpa batas terbuka di dalam kesadarannya. Tempat itu begitu luas, sunyi, tanpa cahaya, dan seolah tidak mengenal konsep waktu. Sebuah suara asing bergema di benaknya, menjelaskan bahwa sebuah Ruang Dimensi telah terikat dengan jiwanya. Segala benda yang disimpan di dalam ruang tersebut tidak akan mengalami kerusakan, perubahan, ataupun penuaan meskipun melewati ribuan tahun, dan seluruh proses penyimpanan maupun pengambilan cukup dilakukan melalui pikiran.

Arga membelalak. Ia menatap botol air mineral di atas meja, lalu mencoba memerintahkannya masuk ke dalam ruang dimensi. Dalam sekejap botol itu lenyap dari hadapannya, sementara di dalam kesadarannya ia melihat benda tersebut mengambang tenang di ruang gelap itu. Ketika ia memerintahkannya keluar, botol tersebut kembali muncul tepat di atas meja tanpa mengalami perubahan sedikit pun.

Perlahan Arga menarik napas panjang. Takdir benar-benar memberinya kesempatan kedua, dan kali ini ia tidak berniat mengulang kesalahan yang sama. Ia segera mengambil sebuah buku tulis lusuh dan mulai menyusun rencana dengan tenang. Dalam benaknya telah tersusun urutan tindakan yang harus dilakukan: mengumpulkan seluruh persediaan makanan dan obat-obatan, menyiapkan tempat perlindungan, membawa Sari serta kedua orang tuanya ke lokasi yang aman, menemukan ilmuwan misterius sebelum organisasi lain bergerak, merebut kristal zombie pertama, menempa senjata sejak dini, menyingkirkan para pengkhianat sebelum mereka berkembang, dan membangun kekuatan sebelum kejadian kehidupan lalu terulang kembali.

Setelah semua rencana itu selesai dituliskan, Arga memandang matahari pagi yang menyinari jendela kosnya. Dunia masih tampak damai. Orang-orang masih berangkat bekerja seperti biasa, anak-anak masih tertawa di pinggir jalan, dan tidak seorang pun menyadari bahwa tiga puluh hari lagi bumi akan berubah menjadi neraka.

Arga menutup buku itu perlahan. Senyum tipis terukir di wajah yang selama sepuluh tahun hanya mengenal keputusasaan, sementara tatapannya memancarkan keyakinan yang belum pernah ia miliki pada kehidupan sebelumnya.

"Kali ini..."

"...aku yang akan tersenyum terakhir."

Terpopuler

Comments

Riyanganz

Riyanganz

lumayan untuk awalan, semoga tidak mengecewakan

2026-08-18

1

Rene

Rene

subrek, mungkin aku bakal ngikutin seri ini, soalnya lagi nulis genre kiamat juga🤭 semangat thor

2026-07-17

1

Rene

Rene

mampir dulu🤭

2026-07-17

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog: Kesempatan Kedua di Ambang Kiamat
2 Chapter 1: Tiga Puluh Hari Sebelum Kiamat
3 Chapter 2: Pengumpulan Logistik
4 Chapter 3: Kristal Pertama
5 Chapter 4: Pertarungan Pertama di Kehidupan Kedua
6 Chapter 5: Laboratorium Rahasia dan Bayangan Organisasi Hitam
7 Chapter 6: Bayangan yang Mulai Memburu
8 Chapter 7: Penyusupan ke Sektor-9
9 Chapter 8: Rahasia Awakener Alpha
10 Chapter 9: Perburuan Sepuluh Kristal
11 Chapter 10: Ramuan Pertama Sang Awakener
12 Chapter 11: Kebangkitan Awakener Pertama
13 Chapter 12: Melepaskan Masa Lalu, Membangun Benteng Masa Depan
14 Chapter 13: Penjarahan Terbesar Sebelum Kiamat
15 Chapter 14: Tiga Minggu Membangun Benteng Terakhir
16 Chapter 15: Jejak Pertama Menuju Bandung
17 Chapter 16: Pemburu di Kota Kembang
18 Chapter 17: Pemburu Bertemu Pemburu
19 Chapter 18: Target Prioritas S-Grade
20 Chapter 19: Perburuan Bayangan Menuju Surabaya
21 Chapter 20: Menembus Jalur Bayangan Pelabuhan Surabaya
22 Chapter 21: Jalur Bayangan dan Awal Perburuan
23 Chapter 22: Jaring yang Mulai Menutup, Bayangan Omega, dan Sang Pemburu
24 Chapter 23: Naluri Sang Pelacak dan Jejak yang Mulai Bertemu
25 Chapter 24: Jejak yang Disengaja, Umpan untuk Sang Pemburu
26 Chapter 25: Konvoi Tanpa Tujuan, Bayangan di Balik Truk Tanpa Aura
27 Chapter 26: Senja Dua Pemburu, Konvoi yang Terbelah
28 Chapter 27: Langkah Mundur Seorang Pemburu, Bidak Pertama Sang Pelacak
29 Chapter 28: Gerbang Omega: Jantung Project Genesis yang Tersembunyi
30 Chapter 29: Ketenangan Sebelum Hari Nol
31 Chapter 30: Kepulangan Terakhir Sebelum Hari Nol
32 Chapter 31: Rumah Terakhir Sebelum Dunia Berakhir
33 Chapter 32: Malam Terakhir Sebelum Hari Nol
34 Chapter 33: Hari Nol: Dunia Lama Berakhir
35 Chapter 34: Siaran yang Mengubah Dunia
36 Chapter 35: Jejak Sang Direktur Genesis
37 Chapter 36: Siaran Kedua yang Mengubah Aturan Permainan
38 Chapter 37: Petunjuk Pertama Menuju Sarang Genesis
39 Chapter 38: Lahirnya Keluarga Awakener Baru
40 Chapter 39: Perjalanan Menuju Citraland
41 Chapter 40: Protokol Alpha
42 Chapter 41: Warisan Genesis
43 Chapter 42: Asal Necrovirus
44 Chapter 43: Perlombaan Dimulai
45 Chapter 44: Pengakuan Arga
46 Chapter 45: Ramuan Awakener
47 Chapter 46: Evolusi Dipercepat
48 Chapter 47: Tatapan Sang Predator
49 Chapter 48: Kompas Masa Depan
50 Chapter 49: Mangsa Terbaik
51 Chapter 50: Celah Kristal
52 Chapter 51: Akhir Predator
53 Chapter 52: Pertanda Kebangkitan
54 Chapter 53: Ramuan Harapan
55 Chapter 54: Kebangkitan Emas
56 Chapter 55: Evolusi Tier Dua
57 Chapter 56: Warisan Predator
58 Chapter 57: Mata Sang Induk
59 Chapter 58: Panggilan Sang Induk
60 Chapter 59: Malam Para Pemburu
61 Chapter 60: Lahirnya Commander King
62 Chapter 61: Raja yang Berbicara
63 Chapter 62: Utusan Pertama
64 Chapter 63: Kebangkitan Calamity
65 Chapter 64: Kebangkitan Sang Jurang
66 Chapter 65: Lahirnya Emperor Commander
67 Chapter 66: Dekrit Penaklukan Jawa
68 Chapter 67: Pemburu Sang Waktu
69 Chapter 68: Kelahiran Ascension
70 Chapter 69: Undangan Kiamat
71 Chapter 70: Resonansi Empat Bencana
72 Chapter 71: Mata di Atas Bencana
73 Chapter 72: Anomali Kedua
74 Chapter 73: Resonansi Anomali
75 Chapter 74: Variabel Terlarang
76 Chapter 75: Gerbang Pertama
77 Chapter 76: Munculnya Calamity Legion
78 Chapter 77: Kebangkitan Chain Keeper
79 Chapter 78: Jantung Rantai
80 Chapter 79: Gerbang yang Bergerak
81 Chapter 80: Nama dari Kehampaan
82 Chapter 81: Perburuan Sang Pembawa Waktu
83 Chapter 82: Dunia di Balik Gerbang
84 Chapter 83: Perjalanan Dunia Asing
85 Chapter 84: Pengungkapan dan Penjelasan
86 Chapter 85: Rahasia Dunia Asal
87 Chapter 86: Akhir Sebuah Siklus
88 Chapter 87: Jejak Menuju Asal
89 Chapter 88: Kota Asal
Episodes

Updated 89 Episodes

1
Prolog: Kesempatan Kedua di Ambang Kiamat
2
Chapter 1: Tiga Puluh Hari Sebelum Kiamat
3
Chapter 2: Pengumpulan Logistik
4
Chapter 3: Kristal Pertama
5
Chapter 4: Pertarungan Pertama di Kehidupan Kedua
6
Chapter 5: Laboratorium Rahasia dan Bayangan Organisasi Hitam
7
Chapter 6: Bayangan yang Mulai Memburu
8
Chapter 7: Penyusupan ke Sektor-9
9
Chapter 8: Rahasia Awakener Alpha
10
Chapter 9: Perburuan Sepuluh Kristal
11
Chapter 10: Ramuan Pertama Sang Awakener
12
Chapter 11: Kebangkitan Awakener Pertama
13
Chapter 12: Melepaskan Masa Lalu, Membangun Benteng Masa Depan
14
Chapter 13: Penjarahan Terbesar Sebelum Kiamat
15
Chapter 14: Tiga Minggu Membangun Benteng Terakhir
16
Chapter 15: Jejak Pertama Menuju Bandung
17
Chapter 16: Pemburu di Kota Kembang
18
Chapter 17: Pemburu Bertemu Pemburu
19
Chapter 18: Target Prioritas S-Grade
20
Chapter 19: Perburuan Bayangan Menuju Surabaya
21
Chapter 20: Menembus Jalur Bayangan Pelabuhan Surabaya
22
Chapter 21: Jalur Bayangan dan Awal Perburuan
23
Chapter 22: Jaring yang Mulai Menutup, Bayangan Omega, dan Sang Pemburu
24
Chapter 23: Naluri Sang Pelacak dan Jejak yang Mulai Bertemu
25
Chapter 24: Jejak yang Disengaja, Umpan untuk Sang Pemburu
26
Chapter 25: Konvoi Tanpa Tujuan, Bayangan di Balik Truk Tanpa Aura
27
Chapter 26: Senja Dua Pemburu, Konvoi yang Terbelah
28
Chapter 27: Langkah Mundur Seorang Pemburu, Bidak Pertama Sang Pelacak
29
Chapter 28: Gerbang Omega: Jantung Project Genesis yang Tersembunyi
30
Chapter 29: Ketenangan Sebelum Hari Nol
31
Chapter 30: Kepulangan Terakhir Sebelum Hari Nol
32
Chapter 31: Rumah Terakhir Sebelum Dunia Berakhir
33
Chapter 32: Malam Terakhir Sebelum Hari Nol
34
Chapter 33: Hari Nol: Dunia Lama Berakhir
35
Chapter 34: Siaran yang Mengubah Dunia
36
Chapter 35: Jejak Sang Direktur Genesis
37
Chapter 36: Siaran Kedua yang Mengubah Aturan Permainan
38
Chapter 37: Petunjuk Pertama Menuju Sarang Genesis
39
Chapter 38: Lahirnya Keluarga Awakener Baru
40
Chapter 39: Perjalanan Menuju Citraland
41
Chapter 40: Protokol Alpha
42
Chapter 41: Warisan Genesis
43
Chapter 42: Asal Necrovirus
44
Chapter 43: Perlombaan Dimulai
45
Chapter 44: Pengakuan Arga
46
Chapter 45: Ramuan Awakener
47
Chapter 46: Evolusi Dipercepat
48
Chapter 47: Tatapan Sang Predator
49
Chapter 48: Kompas Masa Depan
50
Chapter 49: Mangsa Terbaik
51
Chapter 50: Celah Kristal
52
Chapter 51: Akhir Predator
53
Chapter 52: Pertanda Kebangkitan
54
Chapter 53: Ramuan Harapan
55
Chapter 54: Kebangkitan Emas
56
Chapter 55: Evolusi Tier Dua
57
Chapter 56: Warisan Predator
58
Chapter 57: Mata Sang Induk
59
Chapter 58: Panggilan Sang Induk
60
Chapter 59: Malam Para Pemburu
61
Chapter 60: Lahirnya Commander King
62
Chapter 61: Raja yang Berbicara
63
Chapter 62: Utusan Pertama
64
Chapter 63: Kebangkitan Calamity
65
Chapter 64: Kebangkitan Sang Jurang
66
Chapter 65: Lahirnya Emperor Commander
67
Chapter 66: Dekrit Penaklukan Jawa
68
Chapter 67: Pemburu Sang Waktu
69
Chapter 68: Kelahiran Ascension
70
Chapter 69: Undangan Kiamat
71
Chapter 70: Resonansi Empat Bencana
72
Chapter 71: Mata di Atas Bencana
73
Chapter 72: Anomali Kedua
74
Chapter 73: Resonansi Anomali
75
Chapter 74: Variabel Terlarang
76
Chapter 75: Gerbang Pertama
77
Chapter 76: Munculnya Calamity Legion
78
Chapter 77: Kebangkitan Chain Keeper
79
Chapter 78: Jantung Rantai
80
Chapter 79: Gerbang yang Bergerak
81
Chapter 80: Nama dari Kehampaan
82
Chapter 81: Perburuan Sang Pembawa Waktu
83
Chapter 82: Dunia di Balik Gerbang
84
Chapter 83: Perjalanan Dunia Asing
85
Chapter 84: Pengungkapan dan Penjelasan
86
Chapter 85: Rahasia Dunia Asal
87
Chapter 86: Akhir Sebuah Siklus
88
Chapter 87: Jejak Menuju Asal
89
Chapter 88: Kota Asal

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!