Chapter 1: Tiga Puluh Hari Sebelum Kiamat

Arga masih menggenggam ponselnya ketika air mata terakhir jatuh ke layar yang memantulkan wajahnya sendiri. Nama Sari masih terpampang di ruang obrolan, disertai pesan sederhana yang beberapa menit lalu nyaris membuat dadanya runtuh. Di kehidupan sebelumnya, pesan itu menjadi kenangan yang tak pernah bisa ia balas lagi. Kini, untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun penuh darah dan kematian, ia menyadari bahwa takdir benar-benar memberinya kesempatan kedua.

Tangannya perlahan menutup layar ponsel, tetapi jari-jarinya tetap bergetar. Ingatan tentang tubuh adiknya yang dingin, tangisan yang tak pernah sempat ia dengar untuk terakhir kalinya, dan penyesalan yang menemaninya selama bertahun-tahun datang silih berganti seperti ombak yang menghantam karang. Napasnya memburu, lalu ia memejamkan mata seraya mengepalkan kedua tangan hingga buku-buku jarinya memutih. "Cukup," bisiknya lirih. "Aku sudah menangis selama sepuluh tahun."

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi seolah menjadi garis pemisah antara dua kehidupan. Ketika Arga kembali membuka mata, tatapannya tidak lagi dimiliki seorang pria berusia dua puluh tiga tahun yang baru memulai hidup. Sorot matanya jauh lebih tua, lebih dingin, dan menyimpan ketenangan yang hanya bisa dimiliki seseorang yang telah berkali-kali melihat kematian menari di depan wajahnya. Sejak saat itu, Arga tahu bahwa dirinya bukan lagi orang yang sama. Ia adalah manusia yang telah hidup dua kali.

Ia berdiri perlahan dan berjalan menuju jendela kamar kos yang sempit. Di luar sana, Jakarta masih bernapas seperti biasa. Klakson kendaraan saling bersahutan, pedagang kaki lima mulai membuka dagangan, sementara para pekerja bergegas mengejar waktu yang mereka kira akan terus berputar selamanya. Tidak seorang pun menyadari bahwa tiga puluh hari lagi, jalanan yang ramai itu akan dipenuhi darah, jeritan, dan mayat hidup yang berburu tanpa mengenal lelah.

Sudut bibir Arga terangkat tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak mengandung kebahagiaan. Ia menatap langit biru yang cerah, mengingat bagaimana warna yang sama berubah menjadi merah darah ketika dunia runtuh. Dulu ia hanya bisa mengikuti arus, berlari tanpa arah, kehilangan keluarga, teman, dan harapan sedikit demi sedikit. Kali ini, ia tidak akan membiarkan masa depan menelan semua yang ia sayangi.

Ia menarik sebuah buku tulis lusuh dari laci meja belajar. Buku itu dulunya hanya dipenuhi catatan pekerjaan dan hitungan pengeluaran bulanan, tetapi sekarang lembaran-lembarannya akan menjadi peta perang terbesar dalam sejarah hidupnya. Begitu ujung pulpen menyentuh kertas, tangannya bergerak nyaris tanpa jeda, seolah seluruh ingatan yang tersimpan selama sepuluh tahun takut menghilang jika tidak segera dituliskan.

Tanggal pertama yang ia tulis adalah hari ketika wabah dimulai. Setelah itu, ia menggoreskan lokasi kemunculan gerbang zombie pertama di Jakarta, tempat ribuan manusia akan terjebak karena menganggapnya sekadar ledakan biasa. Di bawahnya, ia menuliskan gudang logistik yang dalam kehidupan sebelumnya baru ditemukan enam bulan setelah kiamat, ketika hampir seluruh persediaannya sudah dijarah orang lain.

Pulpen terus bergerak, meninggalkan jejak tinta yang semakin rapat memenuhi halaman. Nama ilmuwan misterius yang menyebarkan resep ramuan Awakener ia lingkari beberapa kali meski identitas asli pria itu masih menjadi teka-teki. Arga tidak mengetahui siapa sosok tersebut, tetapi ia tahu di mana jejak pertama penelitiannya muncul dan bagaimana informasi itu perlahan menyelamatkan umat manusia dari kepunahan total.

Keningnya berkerut ketika mulai menuliskan resep ramuan Awakener. Kristal zombie, daun mint, garam dapur, lalu proses perebusan selama satu jam. Di masa lalu, resep sederhana itu dipandang sebagai omong kosong sebelum akhirnya terbukti mampu mengubah manusia biasa menjadi petarung yang sanggup melawan para monster. Ia masih mengingat berapa banyak orang yang mati sia-sia karena terlambat mempercayainya.

Halaman berikutnya berisi sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada lokasi ataupun resep. Arga mulai menulis nama demi nama orang yang suatu hari nanti akan mengkhianati umat manusia demi kekuasaan dan keselamatan pribadi. Beberapa di antaranya kelak menjadi pemimpin kelompok besar, sementara yang lain menjual lokasi markas penyintas kepada gerombolan zombie demi mendapatkan perlindungan sementara. Ujung pulpen berhenti sejenak ketika satu nama muncul di benaknya, lalu ia menarik garis tebal di bawahnya.

"Kali ini..." gumamnya pelan sambil menatap nama itu. "Aku tidak akan membiarkan kalian hidup cukup lama untuk mengulang dosa yang sama."

Tanpa terasa, hampir seluruh isi buku telah dipenuhi tulisan. Ada lokasi kristal evolusi pertama, jalur evakuasi yang paling aman, hingga beberapa tempat yang kelak menjadi wilayah kematian karena munculnya zombie-zombie tingkat tinggi. Semakin banyak yang ia tulis, semakin ia menyadari bahwa pengetahuan adalah senjata paling mematikan yang ia miliki. Orang lain membutuhkan sepuluh tahun penuh darah untuk mempelajari semua itu, sedangkan ia telah membawanya kembali ke masa lalu.

Arga memandang kalender yang tergantung di dinding. Tanggal empat belas Juni ditandai lingkaran merah kecil, sementara pikirannya otomatis menghitung mundur menuju hari ketika dunia berubah menjadi neraka. Bibirnya mengeras. Tiga puluh hari terdengar panjang bagi orang biasa, tetapi bagi seseorang yang harus mengubah takdir seluruh umat manusia, waktu itu terasa lebih pendek daripada satu tarikan napas.

Saat hendak menutup buku, tiba-tiba sebuah sensasi aneh memenuhi kepalanya. Seolah ada ruang kosong yang terbuka jauh di dalam kesadarannya, sebuah tempat luas tanpa batas yang tidak memiliki cahaya maupun kegelapan. Arga terdiam cukup lama, lalu secara naluriah mengulurkan tangan ke arah botol air mineral yang berada di atas meja.

Botol itu menghilang.

Bukan jatuh.

Bukan hancur.

Benar-benar lenyap dari dunia nyata.

Detik berikutnya, Arga merasakan keberadaan botol tersebut berada di dalam ruang asing yang baru saja muncul di benaknya. Ia mencoba mengeluarkannya kembali, dan benda itu langsung muncul di telapak tangannya dengan suhu, isi, bahkan embun yang sama persis seperti sebelum menghilang.

Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia mengambil ransel yang tergeletak di lantai, memasukkannya ke dalam ruang itu, lalu mengeluarkannya lagi. Tidak ada perubahan sedikit pun. Resleting masih terbuka, posisi buku di dalam tas tidak bergeser, bahkan debu yang menempel di permukaannya tetap sama.

Rasa penasaran mulai mengalahkan keterkejutannya. Kali ini ia mendorong meja kecil di samping kasur sambil memusatkan pikirannya. Dalam sekejap, meja itu lenyap tanpa suara. Arga memanggilnya kembali beberapa detik kemudian, dan meja tersebut muncul tepat di tempat semula tanpa meninggalkan bekas sedikit pun pada lantai.

Ia mengulang percobaan berkali-kali menggunakan benda yang berbeda. Gelas, pakaian, sendok, hingga kipas angin kecil yang biasa ia gunakan saat listrik padam. Hasilnya tidak pernah berubah. Tidak ada kerusakan, tidak ada penyusutan, bahkan waktu seolah benar-benar berhenti begitu benda memasuki ruang tersebut.

Arga mengembuskan napas panjang sambil menyandarkan tubuh ke kursi. Perlahan senyum kecil muncul di wajahnya, senyum yang jauh lebih tulus dibandingkan sebelumnya. Kemampuan ini jauh melampaui sekadar tempat penyimpanan biasa. Di dunia yang sebentar lagi dipenuhi perebutan makanan, obat-obatan, senjata, dan bahan bakar, ruang tanpa batas itu sama berharganya dengan kehidupan itu sendiri.

"Kalau begitu... tidak ada alasan bagiku untuk miskin sebelum kiamat."

Ucapan itu memunculkan ide yang membuat matanya perlahan berbinar. Jika waktu benar-benar berhenti di dalam ruang tersebut, maka makanan tidak akan basi, obat tidak akan kedaluwarsa, bahan bakar tidak akan rusak, bahkan persediaan apa pun bisa disimpan selama bertahun-tahun tanpa kehilangan kualitasnya. Untuk pertama kalinya, Arga melihat peluang yang bahkan tidak pernah ia bayangkan pada kehidupan sebelumnya.

Ia segera mengambil dompet dan membuka aplikasi perbankan di ponselnya. Saldo yang tersisa tidak seberapa, hanya cukup untuk menjalani hidup sederhana selama beberapa bulan. Arga tersenyum tipis. Jumlah itu memang kecil, tetapi uang hanyalah alat. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana mengubah setiap rupiah menjadi peluang bertahan hidup.

Ia membuka laci dan mengeluarkan beberapa barang yang masih memiliki nilai jual. Laptop lama, kamera yang jarang dipakai, koleksi jam tangan pemberian rekan kerja, hingga motor yang selama ini menjadi kendaraan hariannya. Semua itu tidak akan berarti apa-apa ketika kiamat tiba. Sebaliknya, makanan, obat, logam, dan bahan bakar akan menjadi mata uang baru yang menentukan siapa hidup dan siapa mati.

Beberapa menit kemudian Arga sudah berdiri di depan pintu kamar kos. Setelah memastikan buku catatan tersimpan aman di dalam ransel, ia melangkah keluar menuju tangga dengan wajah tenang. Matahari pagi menyinari jalanan Jakarta yang masih dipenuhi tawa anak-anak, aroma sarapan dari warung pinggir jalan, dan orang-orang yang sibuk mengejar rutinitas mereka.

Arga menghentikan langkah sejenak sebelum menatap keramaian di depannya. Dalam benaknya, semua pemandangan damai itu perlahan bertumpuk dengan bayangan masa depan yang dipenuhi kobaran api, reruntuhan gedung, dan lautan zombie yang tak berujung. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan menuju bank dengan langkah mantap sambil bergumam pelan, "Nikmatilah kedamaian ini... karena tiga puluh hari lagi dunia akan berakhir."

Terpopuler

Comments

Rene

Rene

jelas lah bjir, cuma sebulan, bisa apa🤭 apalagi posisinya kismin

2026-07-18

0

Rene

Rene

nah, mending bantai aja mereka dulu, mumpung masih jadi cunguk🤭

2026-07-18

0

Rene

Rene

ya gak papa mau nagis lagi juga🤭

2026-07-18

0

lihat semua
Episodes
1 Prolog: Kesempatan Kedua di Ambang Kiamat
2 Chapter 1: Tiga Puluh Hari Sebelum Kiamat
3 Chapter 2: Pengumpulan Logistik
4 Chapter 3: Kristal Pertama
5 Chapter 4: Pertarungan Pertama di Kehidupan Kedua
6 Chapter 5: Laboratorium Rahasia dan Bayangan Organisasi Hitam
7 Chapter 6: Bayangan yang Mulai Memburu
8 Chapter 7: Penyusupan ke Sektor-9
9 Chapter 8: Rahasia Awakener Alpha
10 Chapter 9: Perburuan Sepuluh Kristal
11 Chapter 10: Ramuan Pertama Sang Awakener
12 Chapter 11: Kebangkitan Awakener Pertama
13 Chapter 12: Melepaskan Masa Lalu, Membangun Benteng Masa Depan
14 Chapter 13: Penjarahan Terbesar Sebelum Kiamat
15 Chapter 14: Tiga Minggu Membangun Benteng Terakhir
16 Chapter 15: Jejak Pertama Menuju Bandung
17 Chapter 16: Pemburu di Kota Kembang
18 Chapter 17: Pemburu Bertemu Pemburu
19 Chapter 18: Target Prioritas S-Grade
20 Chapter 19: Perburuan Bayangan Menuju Surabaya
21 Chapter 20: Menembus Jalur Bayangan Pelabuhan Surabaya
22 Chapter 21: Jalur Bayangan dan Awal Perburuan
23 Chapter 22: Jaring yang Mulai Menutup, Bayangan Omega, dan Sang Pemburu
24 Chapter 23: Naluri Sang Pelacak dan Jejak yang Mulai Bertemu
25 Chapter 24: Jejak yang Disengaja, Umpan untuk Sang Pemburu
26 Chapter 25: Konvoi Tanpa Tujuan, Bayangan di Balik Truk Tanpa Aura
27 Chapter 26: Senja Dua Pemburu, Konvoi yang Terbelah
28 Chapter 27: Langkah Mundur Seorang Pemburu, Bidak Pertama Sang Pelacak
29 Chapter 28: Gerbang Omega: Jantung Project Genesis yang Tersembunyi
30 Chapter 29: Ketenangan Sebelum Hari Nol
31 Chapter 30: Kepulangan Terakhir Sebelum Hari Nol
32 Chapter 31: Rumah Terakhir Sebelum Dunia Berakhir
33 Chapter 32: Malam Terakhir Sebelum Hari Nol
34 Chapter 33: Hari Nol: Dunia Lama Berakhir
35 Chapter 34: Siaran yang Mengubah Dunia
36 Chapter 35: Jejak Sang Direktur Genesis
37 Chapter 36: Siaran Kedua yang Mengubah Aturan Permainan
38 Chapter 37: Petunjuk Pertama Menuju Sarang Genesis
39 Chapter 38: Lahirnya Keluarga Awakener Baru
40 Chapter 39: Perjalanan Menuju Citraland
41 Chapter 40: Protokol Alpha
42 Chapter 41: Warisan Genesis
43 Chapter 42: Asal Necrovirus
44 Chapter 43: Perlombaan Dimulai
45 Chapter 44: Pengakuan Arga
46 Chapter 45: Ramuan Awakener
47 Chapter 46: Evolusi Dipercepat
48 Chapter 47: Tatapan Sang Predator
49 Chapter 48: Kompas Masa Depan
50 Chapter 49: Mangsa Terbaik
51 Chapter 50: Celah Kristal
52 Chapter 51: Akhir Predator
53 Chapter 52: Pertanda Kebangkitan
54 Chapter 53: Ramuan Harapan
55 Chapter 54: Kebangkitan Emas
56 Chapter 55: Evolusi Tier Dua
57 Chapter 56: Warisan Predator
58 Chapter 57: Mata Sang Induk
59 Chapter 58: Panggilan Sang Induk
60 Chapter 59: Malam Para Pemburu
61 Chapter 60: Lahirnya Commander King
62 Chapter 61: Raja yang Berbicara
63 Chapter 62: Utusan Pertama
64 Chapter 63: Kebangkitan Calamity
65 Chapter 64: Kebangkitan Sang Jurang
66 Chapter 65: Lahirnya Emperor Commander
67 Chapter 66: Dekrit Penaklukan Jawa
68 Chapter 67: Pemburu Sang Waktu
69 Chapter 68: Kelahiran Ascension
70 Chapter 69: Undangan Kiamat
71 Chapter 70: Resonansi Empat Bencana
72 Chapter 71: Mata di Atas Bencana
73 Chapter 72: Anomali Kedua
74 Chapter 73: Resonansi Anomali
75 Chapter 74: Variabel Terlarang
76 Chapter 75: Gerbang Pertama
77 Chapter 76: Munculnya Calamity Legion
78 Chapter 77: Kebangkitan Chain Keeper
79 Chapter 78: Jantung Rantai
80 Chapter 79: Gerbang yang Bergerak
81 Chapter 80: Nama dari Kehampaan
82 Chapter 81: Perburuan Sang Pembawa Waktu
83 Chapter 82: Dunia di Balik Gerbang
84 Chapter 83: Perjalanan Dunia Asing
85 Chapter 84: Pengungkapan dan Penjelasan
86 Chapter 85: Rahasia Dunia Asal
87 Chapter 86: Akhir Sebuah Siklus
88 Chapter 87: Jejak Menuju Asal
89 Chapter 88: Kota Asal
Episodes

Updated 89 Episodes

1
Prolog: Kesempatan Kedua di Ambang Kiamat
2
Chapter 1: Tiga Puluh Hari Sebelum Kiamat
3
Chapter 2: Pengumpulan Logistik
4
Chapter 3: Kristal Pertama
5
Chapter 4: Pertarungan Pertama di Kehidupan Kedua
6
Chapter 5: Laboratorium Rahasia dan Bayangan Organisasi Hitam
7
Chapter 6: Bayangan yang Mulai Memburu
8
Chapter 7: Penyusupan ke Sektor-9
9
Chapter 8: Rahasia Awakener Alpha
10
Chapter 9: Perburuan Sepuluh Kristal
11
Chapter 10: Ramuan Pertama Sang Awakener
12
Chapter 11: Kebangkitan Awakener Pertama
13
Chapter 12: Melepaskan Masa Lalu, Membangun Benteng Masa Depan
14
Chapter 13: Penjarahan Terbesar Sebelum Kiamat
15
Chapter 14: Tiga Minggu Membangun Benteng Terakhir
16
Chapter 15: Jejak Pertama Menuju Bandung
17
Chapter 16: Pemburu di Kota Kembang
18
Chapter 17: Pemburu Bertemu Pemburu
19
Chapter 18: Target Prioritas S-Grade
20
Chapter 19: Perburuan Bayangan Menuju Surabaya
21
Chapter 20: Menembus Jalur Bayangan Pelabuhan Surabaya
22
Chapter 21: Jalur Bayangan dan Awal Perburuan
23
Chapter 22: Jaring yang Mulai Menutup, Bayangan Omega, dan Sang Pemburu
24
Chapter 23: Naluri Sang Pelacak dan Jejak yang Mulai Bertemu
25
Chapter 24: Jejak yang Disengaja, Umpan untuk Sang Pemburu
26
Chapter 25: Konvoi Tanpa Tujuan, Bayangan di Balik Truk Tanpa Aura
27
Chapter 26: Senja Dua Pemburu, Konvoi yang Terbelah
28
Chapter 27: Langkah Mundur Seorang Pemburu, Bidak Pertama Sang Pelacak
29
Chapter 28: Gerbang Omega: Jantung Project Genesis yang Tersembunyi
30
Chapter 29: Ketenangan Sebelum Hari Nol
31
Chapter 30: Kepulangan Terakhir Sebelum Hari Nol
32
Chapter 31: Rumah Terakhir Sebelum Dunia Berakhir
33
Chapter 32: Malam Terakhir Sebelum Hari Nol
34
Chapter 33: Hari Nol: Dunia Lama Berakhir
35
Chapter 34: Siaran yang Mengubah Dunia
36
Chapter 35: Jejak Sang Direktur Genesis
37
Chapter 36: Siaran Kedua yang Mengubah Aturan Permainan
38
Chapter 37: Petunjuk Pertama Menuju Sarang Genesis
39
Chapter 38: Lahirnya Keluarga Awakener Baru
40
Chapter 39: Perjalanan Menuju Citraland
41
Chapter 40: Protokol Alpha
42
Chapter 41: Warisan Genesis
43
Chapter 42: Asal Necrovirus
44
Chapter 43: Perlombaan Dimulai
45
Chapter 44: Pengakuan Arga
46
Chapter 45: Ramuan Awakener
47
Chapter 46: Evolusi Dipercepat
48
Chapter 47: Tatapan Sang Predator
49
Chapter 48: Kompas Masa Depan
50
Chapter 49: Mangsa Terbaik
51
Chapter 50: Celah Kristal
52
Chapter 51: Akhir Predator
53
Chapter 52: Pertanda Kebangkitan
54
Chapter 53: Ramuan Harapan
55
Chapter 54: Kebangkitan Emas
56
Chapter 55: Evolusi Tier Dua
57
Chapter 56: Warisan Predator
58
Chapter 57: Mata Sang Induk
59
Chapter 58: Panggilan Sang Induk
60
Chapter 59: Malam Para Pemburu
61
Chapter 60: Lahirnya Commander King
62
Chapter 61: Raja yang Berbicara
63
Chapter 62: Utusan Pertama
64
Chapter 63: Kebangkitan Calamity
65
Chapter 64: Kebangkitan Sang Jurang
66
Chapter 65: Lahirnya Emperor Commander
67
Chapter 66: Dekrit Penaklukan Jawa
68
Chapter 67: Pemburu Sang Waktu
69
Chapter 68: Kelahiran Ascension
70
Chapter 69: Undangan Kiamat
71
Chapter 70: Resonansi Empat Bencana
72
Chapter 71: Mata di Atas Bencana
73
Chapter 72: Anomali Kedua
74
Chapter 73: Resonansi Anomali
75
Chapter 74: Variabel Terlarang
76
Chapter 75: Gerbang Pertama
77
Chapter 76: Munculnya Calamity Legion
78
Chapter 77: Kebangkitan Chain Keeper
79
Chapter 78: Jantung Rantai
80
Chapter 79: Gerbang yang Bergerak
81
Chapter 80: Nama dari Kehampaan
82
Chapter 81: Perburuan Sang Pembawa Waktu
83
Chapter 82: Dunia di Balik Gerbang
84
Chapter 83: Perjalanan Dunia Asing
85
Chapter 84: Pengungkapan dan Penjelasan
86
Chapter 85: Rahasia Dunia Asal
87
Chapter 86: Akhir Sebuah Siklus
88
Chapter 87: Jejak Menuju Asal
89
Chapter 88: Kota Asal

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!