Chapter 3: Kristal Pertama

Hujan tidak pernah turun pada malam ketika takdir mulai bergerak, tetapi Arga tahu bencana terbesar justru lahir dalam keheningan. Cahaya lampu kamar kos memantul di atas peta Jakarta yang terbentang di meja, sementara sebuah lingkaran merah di sudut timur kota tampak seperti tetesan darah yang sengaja ditinggalkan seseorang. Di kehidupan sebelumnya, titik kecil itu tidak pernah menarik perhatian siapa pun sampai semuanya terlambat.

Ujung jari Arga berhenti tepat di atas lingkaran merah itu. Napasnya perlahan memanjang ketika ingatan yang terkubur selama sepuluh tahun kembali terbuka satu demi satu, seperti lembaran arsip tua yang dipaksa keluar dari debu waktu. Tidak banyak orang mengetahui bahwa kiamat sebenarnya tidak dimulai pada hari ketika jutaan manusia berubah menjadi zombie, melainkan beberapa minggu sebelumnya, ketika kematian pertama sengaja disembunyikan.

Ia masih mengingat percakapan para penyintas di markas besar pada tahun kedelapan kiamat. Seorang mantan ilmuwan pernah mabuk dan tanpa sengaja membocorkan bahwa sebelum wabah menyebar ke seluruh dunia, beberapa laboratorium telah lebih dulu menangani sampel mikroba purba yang ditemukan di lapisan es Siberia. Saat itu semua orang menganggapnya hanya teori konspirasi dari pria yang kehilangan kewarasannya.

Namun setelah mengumpulkan potongan informasi selama bertahun-tahun, Arga akhirnya menyadari bahwa pria tua itu tidak pernah berbohong. Mikroba Necrovirus Sapiens memang belum menyebar melalui atmosfer pada saat itu, tetapi sebagian kecil peneliti telah bersentuhan langsung dengan sumber infeksi. Mereka tidak berubah menjadi zombie seketika karena virus membutuhkan waktu untuk berkembang, namun beberapa tubuh mengalami mutasi yang gagal dan mati jauh lebih cepat daripada masa inkubasi normal.

Kematian mereka tidak pernah muncul di televisi ataupun koran. Pemerintah, pihak laboratorium, atau mungkin organisasi lain memilih menutup semua jejak sebelum kepanikan menyebar. Mayat-mayat itu dibungkam, fasilitas penelitian dikosongkan, dan semua orang yang mengetahui kejadian tersebut dipaksa diam.

Arga menyandarkan punggung ke kursi sambil memejamkan mata. Dalam kehidupan sebelumnya, para penyintas baru mengetahui keberadaan kristal zombie hampir seminggu setelah kiamat dimulai. Padahal, kristal pertama telah lahir jauh sebelum manusia menyadari bahwa dunia sedang menuju jurang kehancuran.

Ia masih mengingat bentuk kristal itu dengan jelas. Benda seukuran kelereng berwarna abu-abu kusam yang tumbuh di dalam otak Zombie Tier 1, terbentuk dari kondensasi energi biologis yang dipicu oleh Necrovirus Sapiens. Saat itu tidak seorang pun memahami nilainya. Banyak orang menghancurkannya bersama kepala zombie atau bahkan membuangnya karena mengira hanya gumpalan tulang yang mengeras.

Padahal, benda kecil itulah yang kemudian mengubah jalannya sejarah umat manusia. Dari kristal itulah lahir ramuan Awakener pertama, senjata pertama, dan harapan pertama untuk melawan kiamat. Jika ia berhasil mendapatkannya lebih awal, maka ia akan selangkah lebih maju dibanding seluruh dunia.

Sudut bibir Arga terangkat tipis. "Kalau sejarah memang memberi hadiah bagi orang yang datang lebih dulu," gumamnya lirih, "aku tidak akan menyia-nyiakannya lagi."

Ia membuka buku catatan yang telah dipenuhi tulisan semalam. Beberapa halaman berisi lokasi gudang logistik, sebagian lagi dipenuhi nama orang-orang yang kelak menjadi pengkhianat. Namun malam itu ia hanya menatap satu alamat yang ditulis menggunakan tinta merah, sebuah gudang penelitian tua di pinggiran Jakarta yang kelak hanya disebut sekilas dalam laporan investigasi rahasia.

Jam dinding berbunyi, tik... tok... tik... tok..., mengingatkannya bahwa waktu terus bergerak. Ia segera berdiri dan membuka lemari pakaian, lalu mengeluarkan jaket kulit tebal yang sudah lama tidak dipakai. Kainnya memang berat, tetapi cukup keras untuk mengurangi risiko gigitan yang belum terlalu kuat dari Zombie Tier 1.

Setelah itu ia mengambil celana lapangan berbahan tebal, sepasang sarung tangan kulit, dan helm proyek berwarna kuning yang dulu digunakan saat melakukan inspeksi bangunan. Penampilannya terlihat aneh jika dipakai bersamaan, tetapi Arga tidak peduli. Orang yang pernah melihat satu gigitan kecil mengubah manusia menjadi monster tidak akan pernah menganggap perlindungan sebagai sesuatu yang berlebihan.

Laci paling bawah menyimpan sebuah parang yang biasa digunakan saat kegiatan luar ruangan. Arga mengangkatnya perlahan, lalu mengayunkan bilah itu beberapa kali hingga terdengar suara, swussh... swussh..., membelah udara kamar yang sempit. Beratnya masih terasa pas di telapak tangan.

Ia lalu mengambil palu pemecah kaca dengan kepala baja pendek. Senjata itu tidak memiliki bilah tajam, tetapi mampu menghancurkan tengkorak lebih efektif dibanding banyak senjata lain. Pengalaman sepuluh tahun mengajarinya bahwa melawan zombie bukan soal gaya bertarung, melainkan efisiensi.

Senter, masker, tali nilon, korek api, beberapa botol bensin, dan kain lap langsung ia simpan ke dalam Ruang Dimensi. Satu per satu benda itu lenyap dengan suara halus, wusss, seolah ditelan ruang kosong yang tak terlihat. Kemampuan itu membuat persiapannya jauh lebih mudah dibanding kehidupan sebelumnya, ketika setiap perjalanan harus dibatasi oleh berat ransel di punggung.

Sebelum mematikan lampu, Arga berdiri cukup lama di depan cermin. Wajah yang menatap balik masih milik pemuda berusia dua puluh tiga tahun, tetapi sorot matanya berasal dari seseorang yang telah bertahan hidup selama satu dekade di neraka.

Ia mengangkat tangan kanan dan mengepalkannya perlahan.

"Hancurkan otaknya," bisiknya pelan.

Bayangan wajah Zombie Tier 9 yang membunuhnya muncul begitu jelas hingga napasnya sempat tercekat.

"Jangan beri kesempatan menggigit."

Kalimat itu diulangnya berkali-kali seperti mantra. Bukan karena ia takut lupa, melainkan karena kebiasaan adalah satu-satunya hal yang mampu menyelamatkan nyawa saat rasa panik mengambil alih.

Malam berlalu tanpa mimpi.

Keesokan paginya, langit Jakarta diselimuti awan tipis. Matahari baru saja naik ketika Arga menaiki bus kota menuju pinggiran ibu kota. Kendaraan itu berguncang pelan, gruduk... gruduk..., melewati jalanan yang dipenuhi pekerja kantoran dan siswa berseragam.

Tak seorang pun di dalam bus menyadari bahwa seorang pria di antara mereka sedang menuju lokasi kematian pertama dalam sejarah kiamat.

Sekitar satu jam kemudian, Arga turun di sebuah kawasan industri yang mulai sepi. Bangunan-bangunan tua berdiri berjajar dengan cat yang mengelupas dan pagar besi berkarat. Di ujung jalan tampak sebuah kompleks penelitian yang sudah tidak lagi beroperasi secara terbuka.

Dari luar, tempat itu terlihat biasa saja. Tidak ada garis polisi. Tidak ada ambulans. Bahkan beberapa pedagang masih berjualan di seberang jalan sambil bercanda dengan pelanggan mereka.

Arga berhenti melangkah.

Hidungnya bergerak pelan.

Lalu ia mengembuskan napas panjang.

Aroma itu.

Samar.

Hampir tidak terasa bagi manusia biasa.

Namun bagi seseorang yang telah hidup di tengah jutaan mayat selama sepuluh tahun, bau itu mustahil salah.

Bau daging yang mulai membusuk.

Ia menyeberangi halaman yang dipenuhi rumput liar. Sepatu botnya menginjak kerikil dengan bunyi, krek... krek..., sementara matanya terus menyapu setiap sudut bangunan. Semua tampak sunyi, tetapi keheningan seperti ini justru jauh lebih berbahaya dibanding suara keramaian.

Pintu utama ternyata tidak terkunci. Ketika didorong perlahan, engselnya mengeluarkan bunyi panjang, ngiiik..., memecah kesunyian lorong yang gelap.

Udara di dalam terasa lebih dingin.

Lebih lembap.

Dan jauh lebih busuk.

Cahaya senter menyapu lantai keramik yang dipenuhi noda hitam kecokelatan. Di beberapa bagian, bercak darah telah mengering membentuk pola panjang seperti bekas seseorang yang diseret secara paksa.

Arga berjongkok dan menyentuh salah satu bercak menggunakan ujung sarung tangannya.

Sudah lebih dari dua hari.

Sesuai ingatannya.

Ia terus melangkah semakin dalam. Beberapa meja laboratorium terguling, tabung reaksi pecah berserakan, sementara dinding di salah satu ruangan tampak penyok seolah pernah dihantam sesuatu dari dalam.

Kemudian...

Terdengar suara.

Duk...

Arga berhenti.

Duk...

Kali ini lebih jelas.

Duk...

Suara benturan pelan datang dari balik pintu laboratorium di ujung lorong.

Jari-jari Arga perlahan menggenggam gagang parang. Telapak tangannya tetap stabil, tetapi otot-otot lengannya mengencang secara naluriah. Tubuhnya langsung mengambil posisi menyerang, persis seperti ribuan kali yang pernah ia lakukan di kehidupan sebelumnya.

Ia mendekati pintu itu setahap demi setahap.

Semakin dekat.

Semakin jelas suara kunyahan pelan dari balik ruangan.

Krek... krek... krek...

Arga menarik napas dalam-dalam.

Lalu mendorong pintu itu perlahan.

Kreeeek...

Ruangan laboratorium terbuka sedikit demi sedikit.

Seorang pria berjas putih berdiri membelakanginya. Jas yang semula bersih kini dipenuhi bercak darah yang telah menghitam. Kepalanya tertunduk aneh, sementara kedua rahangnya bergerak perlahan, krek... krek..., mengunyah sesuatu yang tak terlihat dari tempat Arga berdiri.

Suara engsel pintu membuat tubuh pria itu berhenti bergerak.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan.

Lalu...

Kepalanya berputar perlahan hingga hampir seratus delapan puluh derajat.

Mata putih keruh tanpa pupil menatap lurus ke arah Arga.

Bibirnya yang robek terbuka lebar, mengeluarkan geraman parau.

"Graaaarrhh!"

Detik berikutnya, zombie itu menerjang dengan kecepatan yang mengejutkan.

Episodes
1 Prolog: Kesempatan Kedua di Ambang Kiamat
2 Chapter 1: Tiga Puluh Hari Sebelum Kiamat
3 Chapter 2: Pengumpulan Logistik
4 Chapter 3: Kristal Pertama
5 Chapter 4: Pertarungan Pertama di Kehidupan Kedua
6 Chapter 5: Laboratorium Rahasia dan Bayangan Organisasi Hitam
7 Chapter 6: Bayangan yang Mulai Memburu
8 Chapter 7: Penyusupan ke Sektor-9
9 Chapter 8: Rahasia Awakener Alpha
10 Chapter 9: Perburuan Sepuluh Kristal
11 Chapter 10: Ramuan Pertama Sang Awakener
12 Chapter 11: Kebangkitan Awakener Pertama
13 Chapter 12: Melepaskan Masa Lalu, Membangun Benteng Masa Depan
14 Chapter 13: Penjarahan Terbesar Sebelum Kiamat
15 Chapter 14: Tiga Minggu Membangun Benteng Terakhir
16 Chapter 15: Jejak Pertama Menuju Bandung
17 Chapter 16: Pemburu di Kota Kembang
18 Chapter 17: Pemburu Bertemu Pemburu
19 Chapter 18: Target Prioritas S-Grade
20 Chapter 19: Perburuan Bayangan Menuju Surabaya
21 Chapter 20: Menembus Jalur Bayangan Pelabuhan Surabaya
22 Chapter 21: Jalur Bayangan dan Awal Perburuan
23 Chapter 22: Jaring yang Mulai Menutup, Bayangan Omega, dan Sang Pemburu
24 Chapter 23: Naluri Sang Pelacak dan Jejak yang Mulai Bertemu
25 Chapter 24: Jejak yang Disengaja, Umpan untuk Sang Pemburu
26 Chapter 25: Konvoi Tanpa Tujuan, Bayangan di Balik Truk Tanpa Aura
27 Chapter 26: Senja Dua Pemburu, Konvoi yang Terbelah
28 Chapter 27: Langkah Mundur Seorang Pemburu, Bidak Pertama Sang Pelacak
29 Chapter 28: Gerbang Omega: Jantung Project Genesis yang Tersembunyi
30 Chapter 29: Ketenangan Sebelum Hari Nol
31 Chapter 30: Kepulangan Terakhir Sebelum Hari Nol
32 Chapter 31: Rumah Terakhir Sebelum Dunia Berakhir
33 Chapter 32: Malam Terakhir Sebelum Hari Nol
34 Chapter 33: Hari Nol: Dunia Lama Berakhir
35 Chapter 34: Siaran yang Mengubah Dunia
36 Chapter 35: Jejak Sang Direktur Genesis
37 Chapter 36: Siaran Kedua yang Mengubah Aturan Permainan
38 Chapter 37: Petunjuk Pertama Menuju Sarang Genesis
39 Chapter 38: Lahirnya Keluarga Awakener Baru
40 Chapter 39: Perjalanan Menuju Citraland
41 Chapter 40: Protokol Alpha
42 Chapter 41: Warisan Genesis
43 Chapter 42: Asal Necrovirus
44 Chapter 43: Perlombaan Dimulai
45 Chapter 44: Pengakuan Arga
46 Chapter 45: Ramuan Awakener
47 Chapter 46: Evolusi Dipercepat
48 Chapter 47: Tatapan Sang Predator
49 Chapter 48: Kompas Masa Depan
50 Chapter 49: Mangsa Terbaik
51 Chapter 50: Celah Kristal
52 Chapter 51: Akhir Predator
53 Chapter 52: Pertanda Kebangkitan
54 Chapter 53: Ramuan Harapan
55 Chapter 54: Kebangkitan Emas
56 Chapter 55: Evolusi Tier Dua
57 Chapter 56: Warisan Predator
58 Chapter 57: Mata Sang Induk
59 Chapter 58: Panggilan Sang Induk
60 Chapter 59: Malam Para Pemburu
61 Chapter 60: Lahirnya Commander King
62 Chapter 61: Raja yang Berbicara
63 Chapter 62: Utusan Pertama
64 Chapter 63: Kebangkitan Calamity
65 Chapter 64: Kebangkitan Sang Jurang
66 Chapter 65: Lahirnya Emperor Commander
67 Chapter 66: Dekrit Penaklukan Jawa
68 Chapter 67: Pemburu Sang Waktu
69 Chapter 68: Kelahiran Ascension
70 Chapter 69: Undangan Kiamat
71 Chapter 70: Resonansi Empat Bencana
72 Chapter 71: Mata di Atas Bencana
73 Chapter 72: Anomali Kedua
74 Chapter 73: Resonansi Anomali
75 Chapter 74: Variabel Terlarang
76 Chapter 75: Gerbang Pertama
77 Chapter 76: Munculnya Calamity Legion
78 Chapter 77: Kebangkitan Chain Keeper
79 Chapter 78: Jantung Rantai
80 Chapter 79: Gerbang yang Bergerak
81 Chapter 80: Nama dari Kehampaan
82 Chapter 81: Perburuan Sang Pembawa Waktu
83 Chapter 82: Dunia di Balik Gerbang
84 Chapter 83: Perjalanan Dunia Asing
85 Chapter 84: Pengungkapan dan Penjelasan
86 Chapter 85: Rahasia Dunia Asal
87 Chapter 86: Akhir Sebuah Siklus
88 Chapter 87: Jejak Menuju Asal
89 Chapter 88: Kota Asal
Episodes

Updated 89 Episodes

1
Prolog: Kesempatan Kedua di Ambang Kiamat
2
Chapter 1: Tiga Puluh Hari Sebelum Kiamat
3
Chapter 2: Pengumpulan Logistik
4
Chapter 3: Kristal Pertama
5
Chapter 4: Pertarungan Pertama di Kehidupan Kedua
6
Chapter 5: Laboratorium Rahasia dan Bayangan Organisasi Hitam
7
Chapter 6: Bayangan yang Mulai Memburu
8
Chapter 7: Penyusupan ke Sektor-9
9
Chapter 8: Rahasia Awakener Alpha
10
Chapter 9: Perburuan Sepuluh Kristal
11
Chapter 10: Ramuan Pertama Sang Awakener
12
Chapter 11: Kebangkitan Awakener Pertama
13
Chapter 12: Melepaskan Masa Lalu, Membangun Benteng Masa Depan
14
Chapter 13: Penjarahan Terbesar Sebelum Kiamat
15
Chapter 14: Tiga Minggu Membangun Benteng Terakhir
16
Chapter 15: Jejak Pertama Menuju Bandung
17
Chapter 16: Pemburu di Kota Kembang
18
Chapter 17: Pemburu Bertemu Pemburu
19
Chapter 18: Target Prioritas S-Grade
20
Chapter 19: Perburuan Bayangan Menuju Surabaya
21
Chapter 20: Menembus Jalur Bayangan Pelabuhan Surabaya
22
Chapter 21: Jalur Bayangan dan Awal Perburuan
23
Chapter 22: Jaring yang Mulai Menutup, Bayangan Omega, dan Sang Pemburu
24
Chapter 23: Naluri Sang Pelacak dan Jejak yang Mulai Bertemu
25
Chapter 24: Jejak yang Disengaja, Umpan untuk Sang Pemburu
26
Chapter 25: Konvoi Tanpa Tujuan, Bayangan di Balik Truk Tanpa Aura
27
Chapter 26: Senja Dua Pemburu, Konvoi yang Terbelah
28
Chapter 27: Langkah Mundur Seorang Pemburu, Bidak Pertama Sang Pelacak
29
Chapter 28: Gerbang Omega: Jantung Project Genesis yang Tersembunyi
30
Chapter 29: Ketenangan Sebelum Hari Nol
31
Chapter 30: Kepulangan Terakhir Sebelum Hari Nol
32
Chapter 31: Rumah Terakhir Sebelum Dunia Berakhir
33
Chapter 32: Malam Terakhir Sebelum Hari Nol
34
Chapter 33: Hari Nol: Dunia Lama Berakhir
35
Chapter 34: Siaran yang Mengubah Dunia
36
Chapter 35: Jejak Sang Direktur Genesis
37
Chapter 36: Siaran Kedua yang Mengubah Aturan Permainan
38
Chapter 37: Petunjuk Pertama Menuju Sarang Genesis
39
Chapter 38: Lahirnya Keluarga Awakener Baru
40
Chapter 39: Perjalanan Menuju Citraland
41
Chapter 40: Protokol Alpha
42
Chapter 41: Warisan Genesis
43
Chapter 42: Asal Necrovirus
44
Chapter 43: Perlombaan Dimulai
45
Chapter 44: Pengakuan Arga
46
Chapter 45: Ramuan Awakener
47
Chapter 46: Evolusi Dipercepat
48
Chapter 47: Tatapan Sang Predator
49
Chapter 48: Kompas Masa Depan
50
Chapter 49: Mangsa Terbaik
51
Chapter 50: Celah Kristal
52
Chapter 51: Akhir Predator
53
Chapter 52: Pertanda Kebangkitan
54
Chapter 53: Ramuan Harapan
55
Chapter 54: Kebangkitan Emas
56
Chapter 55: Evolusi Tier Dua
57
Chapter 56: Warisan Predator
58
Chapter 57: Mata Sang Induk
59
Chapter 58: Panggilan Sang Induk
60
Chapter 59: Malam Para Pemburu
61
Chapter 60: Lahirnya Commander King
62
Chapter 61: Raja yang Berbicara
63
Chapter 62: Utusan Pertama
64
Chapter 63: Kebangkitan Calamity
65
Chapter 64: Kebangkitan Sang Jurang
66
Chapter 65: Lahirnya Emperor Commander
67
Chapter 66: Dekrit Penaklukan Jawa
68
Chapter 67: Pemburu Sang Waktu
69
Chapter 68: Kelahiran Ascension
70
Chapter 69: Undangan Kiamat
71
Chapter 70: Resonansi Empat Bencana
72
Chapter 71: Mata di Atas Bencana
73
Chapter 72: Anomali Kedua
74
Chapter 73: Resonansi Anomali
75
Chapter 74: Variabel Terlarang
76
Chapter 75: Gerbang Pertama
77
Chapter 76: Munculnya Calamity Legion
78
Chapter 77: Kebangkitan Chain Keeper
79
Chapter 78: Jantung Rantai
80
Chapter 79: Gerbang yang Bergerak
81
Chapter 80: Nama dari Kehampaan
82
Chapter 81: Perburuan Sang Pembawa Waktu
83
Chapter 82: Dunia di Balik Gerbang
84
Chapter 83: Perjalanan Dunia Asing
85
Chapter 84: Pengungkapan dan Penjelasan
86
Chapter 85: Rahasia Dunia Asal
87
Chapter 86: Akhir Sebuah Siklus
88
Chapter 87: Jejak Menuju Asal
89
Chapter 88: Kota Asal

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!