Ia membuka matanya tepat saat alarm pertama berbunyi, tanpa sisa kantuk yang berarti. Dengan gerakan yang terukur, ia merapikan tempat tidur—sebuah rutinitas yang tidak pernah ia lewatkan.
Kakinya menapak lantai kayu dengan langkah yang sunyi saat ia keluar dari kamar. Setiap langkahnya menuruni anak tangga terdengar berat dan ritmis, seolah ia sedang mengukur setiap inci ruang yang kini sepenuhnya berada di bawah pengawasannya.
Terdengar suara dingin dari arah bawah tangga.
Abhi " Perhatikan langkahmu sayang, jangan berlari "Caca " Apa yang kamu lakukan pagi-pagi sudah berada disini bhi ? "
Abhi " Memangnya kenapa ? Apa ada larangan untuk menemui tunangan sendiri ? "
Caca " Oh my god, kenapa kamu sudah bawel pagi-pagi begini ? Sedangkan jika bersama orang lain, kamu akan seperti patung "
Abhi " Sudah mengomelnya sayang ? Kemarilah "
Dengan langkah yang malas-malasan, aku melangkah gontai mendekati pusat duniaku. Begitu berada dalam jangkauan, abhi menarikku dengan tarikan yang kuat, menyatukan tubuh kita hingga tidak ada celah tersisa. Abhi memelukku dengan erat, hampir terasa mencekik. Sebuah bentuk posesif yang lahir dari rasa takut kehilangan. Ia tidak butuh kata-kata di dalam pelukan itu, ia sedang mengunci dunianya sendiri, dengan lirih berkata.
Abhi " I miss you SO BAD sweetheart...even though we meet every day. " (Aku sangat merindukanmu sayang...Meskipun setiap hari kita bertemu.)
Pelukannya yang semula terasa menuntut dan posesif, perlahan mulai melembut saat jemariku bergerak mengusap-usap punggungnya. Ia tampak begitu lelah, namun tangan besarnya masih mencengkeram pinggangku dengan posesif. Aku terus mengusapnya, mencoba menjadi penawar bagi dunia luar yang selalu menuntutnya untuk selalu kuat dan tanpa celah. membenamkan wajahnya lebih dalam di lekuk leherku, dan aku tahu, di saat-saat seperti inilah sisi dinginnya sepenuhnya tunduk pada rasa butuhnya padaku.
Aku menarik diri sedikit agar bisa memandang wajahnya dengan jelas. Mataku tak lepas menatap wajahnya yang kini tampak lebih tenang dalam dekapanku.
Di balik raut wajah yang biasanya dingin dan tak tersentuh itu, aku menemukan guratan lelah yang ia sembunyikan rapat-rapat dari dunia. Dengan hati-hati, kubelai pipinya, merasakan tekstur kulitnya yang terasa hangat di bawah jemariku.
Dia tidak memalingkan wajah, justru memejamkan mata dan sedikit menyandarkan kepala pada telapak tanganku. Dengan lembut, kubelai garis rahangnya yang tegas, jemariku menelusuri tiap inci wajahnya seolah sedang menghafal setiap lekuk yang hanya boleh kusentuh dan membiarkan pertahanannya luruh sepenuhnya di hadapanku.
Caca " Bhi ayo kita sarapan, pasti kamu belum makan kan ? Lihat wajahmu kurusan, ada kerutan dimana-mana seperti orang tua. Masak tunangan aku kelihatan tua sih, sedangkan ceweknya masih cantik jelita nan imut-imut "
Melihatnya tertawa lepas adalah pemandangan langka yang selalu membuat hatiku hangat. Suaranya yang berat membaur dengan tawaku, menciptakan harmoni yang jarang sekali kami punya.
Setelah tawa itu mereda, ia menarik kursi untukku dengan gerakan yang sangat posesif namun lembut, memastikan aku duduk tepat di hadapannya sebelum kami akhirnya memulai sarapan bersama dalam ketenangan yang nyaman.
Setelah sarapan usai, aku beranjak untuk bersiap, meninggalkan Abhi yang kini duduk diam di ruang tamu. Meski Abhi tidak banyak bicara, aku tahu Abhi menunggu dengan penuh perhatian. Setiap kali aku melirik dari balik pintu kamar, abhi masih di sana duduk tegak dengan tatapan mata yang seolah mengunci seluruh ruangan, memastikan bahwa saat aku kembali nanti, aku masih menjadi miliknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments