Setelah aku selesai bersiap, ia sudah berdiri di depan pintu, siap mengantarku dengan gerak-gerik yang efisien. Selama perjalanan, ia tidak banyak bicara, namun tangannya sesekali menggenggam jemariku dengan erat di atas persneling. Perjalanan menuju tempat kerjaku terasa singkat di bawah kendalinya.
Abhi mengantarku dengan ketenangan yang intimidatif, membuat siapa pun yang berpapasan dengan mobil kami seolah enggan untuk mendekat. Saat aku hendak membuka pintu untuk turun, Abhi menahan lenganku sejenak, tatapannya menyapu penampilanku dengan saksama memastikan tak ada satu pun yang kurang.
'' Jangan buat aku menunggu lebih lama dari yang seharusnya,'' ucapnya pendek, namun nadanya sarat akan klaim yang tak terbantahkan.
Tepat sebelum aku membuka pintu mobil, Abhi sudah mengunci gerakanku dengan satu tangannya, ia menarik tengkukku mendekat.
Sebuah ciuman singgah di keningku dengan lembut, namun kecupan sekilas di bibirku terasa seperti klaim mutlak, abhi tidak langsung melepasnya. Baginya, bibirku adalah candu yang harus Abhi cicipi setiap kali kita akan berpisah sebuah pengingat bisu tentang siapa yang memiliki akses penuh atas diriku dan matanya menatapku lekat seolah bibirku adalah candu yang tak pernah cukup ia nikmati, bagi Abhi dia membutuhkan untuk menenangkan sisi liar di dalam dirinya, dan dia tidak akan pernah bosan untuk kembali 'menagih' rasa itu padaku dan itu menjadi sebuah ritual wajib yang abhi pastikan sebelum membiarkanku menjauh dari jangkauannya.
Di balik dinding-dinding putih rumah sakit yang steril dan aroma disinfektan yang menyengat, aku menemukan kebebasan yang paling murni. Menjadi seorang dokter kandungan di rumah sakit adalah tempat di mana aku menemukan napas yang sesungguhnya.
Di balik pintu ruang praktik yang tenang, aku tidak lagi dilihat sebagai sosok yang harus selalu dipantau atau dibatasi ruang geraknya.
Di sini, aku tidak dipanggil sebagai "milik" siapa pun, melainkan sebagai sosok yang diandalkan. Di dunia medis ini, aku adalah otoritas. Saat mengenakan jas putih dan memegang rekam medis, aku merasa benar-benar hidup, sebuah identitas yang sepenuhnya milikku sendiri, jauh dari bayang-bayang pria yang menganggap proteksi berlebihan sebagai bentuk kasih sayang.
Setiap hari, aku berhadapan dengan keajaiban kehidupan yang sedang tumbuh. Aku mendampingi para calon ibu, mendengarkan detak jantung janin melalui USG, dan memastikan setiap proses kehamilan berjalan dengan aman.
Kepercayaan yang diberikan oleh para pasien kepadaku memberikan kepuasan yang tidak bisa digantikan oleh apa pun. Di sini, aku bebas membuat keputusan medis yang krusial, berdiskusi dengan rekan sejawat, dan tertawa bersama para perawat tanpa perlu merasa waswas akan tatapan tajam atau peringatan dingin yang menuntutku untuk selalu berada dalam jangkauan pengawasannya,
khawatir akan tatapan tajam atau peringatan posesif yang membayangi gerak-gerikku.
Tidak ada yang mendikte ke mana aku boleh pergi, dengan siapa aku boleh berbicara, atau berapa lama aku boleh menghabiskan waktu di luar jangkauan pengawasan.
Pekerjaan ini adalah pelarian yang legal, elegan dan ruang untuk bernapas. Saat aku memegang kendali atas ruang persalinan, aku merasa menjadi sosok yang sangat berdaya. Aku tidak perlu bersikap rapuh, aku tidak perlu meminta izin untuk melangkah, dan yang paling penting, aku tidak perlu merasa terkekang. Kebebasan inilah yang menjaga kewarasanku. Di rumah sakit, aku bukanlah "milik" yang harus dikunci di dalam rumah, aku adalah profesional yang dihargai karena kompetensi dan ketegasanku.
Tentu, terkadang aku merasa lelah dengan tumpukan jadwal dan tekanan pekerjaan yang tinggi, namun kelelahan itu terasa sangat melegakan dibandingkan dengan lelahnya harus terus-menerus memberikan penjelasan kepada seseorang yang posesif.
Di rumah sakit, aku bisa menjadi diriku sendiri—seorang dokter yang cerdas, mandiri, dan bebas. Setiap detak jantung janin yang kudengar seolah menjadi pengingat bahwa hidup adalah tentang kesempatan untuk tumbuh dan bernapas.
Di balik dinding rumah sakit ini, aku tidak lagi merasa seperti burung dalam sangkar, melainkan wanita yang sedang terbang tinggi dengan sayapnya sendiri dan di sini aku adalah aku, tanpa syarat dan tanpa batasan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 47 Episodes
Comments