BAB 5

Langkahku baru saja terasa ringan setelah melepas jas putih, saat aku hendak menikmati heningnya ruang ganti, namun getaran ponsel di dalam saku seolah menarikku kembali ke kenyataan.

Ponselku kembali bergetar sebuah ritme yang sudah sangat kukenal. Aku mengeluarkan benda itu, aku membukanya dengan helaan napas panjang dan layar menampilkan deretan pesan singkat yang dingin namun menusuk. Tanpa basa-basi, dia menanyakan keberadaanku dan menuntut penjelasan kenapa aku belum keluar dari gedung rumah sakit.

Membaca barisan kata-kata itu saja sudah cukup membuat udara di sekitarku terasa lebih tipis, Pesan-pesan itu bukan sekadar perhatian, melainkan rantai tak terlihat yang selalu menarikku kembali ke bawah kendalinya. mengingatkanku bahwa meski aku dokter di sini, aku hanyalah miliknya di luar sana.

Abhi " What time does it finish ? " (Selesai jam berapa ?)

​Caca " At 12 o'clock there will be a small action first, maybe a little bit later. " (Jam 12 nanti ada tindakan kecil dulu, mungkin agak mundur sedikit.)

​Abhi " I'll pick you up. We'll have lunch outside. " (Aku jemput. Kita makan siang di luar.)

​Caca " Oh, no need. I already ordered delivery to the doctor's office. I'm just going to rest here, I'm feeling a bit tired. " (Oh, tidak perlu. Aku sudah pesan delivery ke ruang dokter saja. Aku sedang ingin istirahat di sini, agak lelah rasanya.)

​Abhi " Just cancel the order. I'm already on my way. We're eating out. " (Batalkan saja pesanannya. Aku sudah di perjalanan. Kita makan di luar.)

​Caca " But I really don't want to go out, bhi. I just want to sit quietly in this room during break time. Please understand, okay ? " (Tapi aku benar-benar tidak ingin keluar, bhi. Aku cuma ingin duduk diam di ruangan ini selama jam istirahat. Tolong mengerti, ya ?)

​Abhi " You're not asking permission. I don't like you eating alone there. I'll be in the lobby in 15 minutes. " (Kamu tidak sedang meminta izin. Aku tidak suka kamu makan sendirian di sana. 15 menit lagi aku sampai di lobi.)

​Caca " I don't want to be disturbed, bhi. I need some time to myself. " (Aku sedang tidak ingin diganggu, bhi. Aku butuh waktu untuk diriku sendiri.)

​Abhi " I won't bother you. I'll check it myself. Don't turn off your phone. See you later. " (Aku tidak akan mengganggumu. Aku hanya akan memastikannya sendiri. Jangan matikan ponselmu. Sampai nanti.)

Setelah mematikan telepon dengan tangan yang masih gemetar, aku membiarkan tubuhku meluruh di kursi, mencoba mencuri sedikit kedamaian dalam ruang praktik yang sunyi, aku menyandarkan kepala ke kursi, memejamkan mata rapat-rapat demi mengusir penat.

Namun, keheningan itu tak bertahan lama. Sebuah sentuhan jemari yang dingin namun familiar tiba-tiba terasa di puncak kepalaku, mengusap helai rambutku dengan ritme yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja memaksakan kehendaknya, setiap inci dari jemarinya yang hangat di kepalaku adalah milik pria yang sama yang baru saja mendikte hidupku lewat telepon.

Aku tak perlu membuka mata untuk tahu siapa pemilik sentuhan itu, dia sudah di sini, bahkan sebelum aku sempat menyadari kehadirannya. Aku membuka mata perlahan, dan mendapatinya sudah berdiri tepat di belakang kursiku, menatapku dengan tatapan dingin yang tak terbaca. Dan dia tidak pernah benar-benar membiarkanku sendiri, bukan?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!