ISTRI TITIPAN ABANG

ISTRI TITIPAN ABANG

MAHKOTA YANG PATAH DI AMBANG ASHAR

Wangian kayu gaharu dan bunga melati memenuhi setiap sudut kediaman keluarga Al-Haddad. Seharusnya, hari ini adalah hari yang paling terang dalam hidup Syarifah Khadijah Al-Eydrus. Di usianya yang genap 20 tahun, ia berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang hampir tak dikenali.

Khadijah adalah definisi kelembutan yang nyata. Sebagai seorang Hafizah 30 juz, wajahnya selalu memancarkan ketenangan yang bersumber dari cahaya Al-Quran. Hari ini, cadar sutra hitamnya dihiasi manik-manik kecil yang berkilau, senada dengan gaun putih gading yang menutup auratnya dengan sempurna.

"Cantik sekali putri Ummi," bisik Ummi Salamah sembari mengusap bahu Khadijah.

Khadijah hanya menunduk. Di balik cadarnya, wajahnya merona. Ia akan menikah dengan Habib Farhan, pria yang selama ini menjadi standar kesalehannya. Farhan adalah sosok yang selalu menjaga pandangan, bersuara lembut, dan menjadi kebanggaan keluarga Al-Idrus. Bagi Khadijah, Farhan adalah hadiah dari Allah atas kesabarannya menjaga hati.

"Apa Mas Farhan sudah di perjalanan, Mi?" suara Khadijah terdengar manis, seperti denting kecapi yang tenang.

"Sudah, Sayang. Ayahmu baru saja telepon, mereka sudah masuk batas kota. Sebentar lagi, statusmu akan berubah."

Khadijah menggenggam tasbih kecil di tangannya. Bibirnya tak henti melantunkan selawat, mencoba meredam debar jantung yang kian liar. Namun, di tengah kedamaian itu, sebuah firasat buruk tiba-tiba mencubit relung hatinya. Langit yang tadinya cerah mendadak tertutup mendung abu-abu yang pekat.

Beberapa kilometer dari sana, di sebuah jalanan aspal yang gersang, raungan mesin motor gede membelah keheningan. Zaid Al-Idrus, dengan jaket kulit hitam yang penuh coretan simbol geng motornya, memacu motor dengan kecepatan gila. Rambutnya yang sedikit berantakan tertutup helm, tapi tatapan matanya yang tajam dan dingin tetap terasa meski tertutup kaca gelap.

Zaid adalah anomali. Di saat kakaknya, Farhan, bersiap mengenakan jubah putih untuk akad, Zaid justru baru saja keluar dari markas gengnya setelah semalaman terjaga. Ia tampan—sangat tampan—dengan garis rahang tegas dan lesung pipi yang akan terlihat sangat manis jika saja ia sering tersenyum. Namun, Zaid jarang tersenyum. Baginya, dunia adalah tempat yang munafik, dan ia memilih untuk menjadi pemberontak daripada pengikut.

Ponsel di saku jaketnya bergetar hebat. Zaid menepi di pinggir jalan, membuka helmnya, dan memperlihatkan wajah yang tampak lelah namun memikat.

"Halo, Rian? Kenapa?" tanya Zaid ketus.

"Zaid! Lo di mana?! Buruan ke Rumah Sakit Umum! Mobil Bang Farhan... mobilnya kecelakaan beruntun di jalan lintas!" suara Rian, sahabatnya yang biasanya santai, terdengar panik dan gemetar.

Dunia Zaid seolah berhenti berputar. Jantungnya berdegup kencang, menghantam dadanya dengan keras. Tanpa membalas ucapan Rian, ia segera memakai helmnya kembali. Kali ini, ia memacu motornya lebih kencang dari sebelumnya, melompati lampu merah, mengabaikan keselamatan dirinya sendiri.

Rumah sakit itu beraroma antiseptik yang menusuk. Khadijah tiba di sana dengan gaun pengantin yang kini terseret di lantai rumah sakit. Ia tidak peduli lagi pada kebersihan gaunnya. Cadarnya basah oleh air mata yang tak bisa dibendung.

Di depan ruang ICU, ia melihat pemandangan yang menghancurkan jiwanya. Ayahnya dan Ayah Farhan Habib Umar saling berpelukan dalam isak tangis. Zaid tiba beberapa saat kemudian, napasnya tersengal, debu jalanan masih menempel di jaket kulitnya.

"Umi... Bang Farhan mana?" Zaid bertanya dengan suara serak, nyaris hilang.

Umi tidak menjawab, hanya menunjuk ke dalam ruangan kaca. Di sana, Farhan terbaring dengan berbagai selang menempel di tubuhnya. Wajahnya yang biasanya berseri kini pucat pasi, dipenuhi luka goresan kaca.

Khadijah berdiri mematung di sudut ruangan. Ia melihat Zaid masuk ke dalam. Untuk pertama kalinya, ia melihat sosok Zaid dari dekat adik dari pria yang ia cintai. Zaid tampak sangat berantakan, sangat jauh dari kesan religius, namun ada sorot penderitaan yang sama di mata pria itu.

Di dalam ruangan, Farhan membuka matanya sedikit. Ia menatap Zaid yang menggenggam tangannya erat.

"Zaid..." bisik Farhan, suaranya seperti embusan angin terakhir. "Jaga... Khadijah. Dia mutiara... jangan biarkan dia... layu karena duka ini. Sempurnakan... akadnya... untukku."

Zaid menggeleng keras. "Nggak, Bang! Lo harus sembuh! Lo yang harus nikah sama dia! Gue nggak bisa! Gue kotor, Bang!"

Farhan hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang membawa kedamaian terakhir, sebelum monitor jantung di sampingnya mengeluarkan bunyi panjang yang datar.

Pip-----------------------

Jeritan pecah di seluruh lorong rumah sakit. Khadijah jatuh terduduk di lantai dingin. Mahkotanya patah. Mimpinya runtuh sebelum sempat dibangun. Hari bahagianya telah resmi menjadi hari duka paling kelam dalam sejarah hidupnya.

### **Penerimaan yang Terpaksa**

Tiga hari setelah pemakaman, suasana di rumah besar keluarga Al-Idrus masih terasa mencekam. Zaid mengurung diri di kamar, menatap jaket kulitnya yang tergeletak di lantai. Kata-kata Farhan terus terngiang seperti kutukan.

"Zaid, keluar nak," suara Habib Umar terdengar dari balik pintu.

Zaid membuka pintu dengan wajah kuyu. Ayahnya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Ayah dan Ayah Khadijah sudah bicara. Wasiat kakakmu adalah amanah. Kita tidak bisa membiarkan Khadijah dalam ketidakpastian. Ayahnya sangat memohon agar kamu menggantikan posisi Farhan. Demi persahabatan kami, demi wasiat kakakmu, dan demi menjaga kehormatan Khadijah sebagai seorang Syarifah."

Zaid tertawa hambar. "Ayah bercanda? Aku ketua geng motor, Yah. Aku ke diskotik, aku berkelahi. Ayah mau menjerumuskan gadis suci itu ke dalam neraka yang kubuat sendiri?"

"Mungkin dia adalah jalanmu menuju surga, Zaid," balas ayahnya tenang namun tegas. "Keluarga Al-Haddad sudah menyetujui. Khadijah... dia anak yang sangat penurut. Dia menerima keputusan orang tuanya meski hatinya hancur."

Zaid mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Ia menoleh ke arah foto Farhan yang terpajang di atas meja. Wajah Farhan yang teduh seolah memintanya untuk mengangguk.

"Baik," ucap Zaid dingin. "Aku akan menikahinya. Tapi jangan salahkan aku kalau dia menangis setiap hari karena sifatku."

Zaid melangkah keluar, menyambar kunci motornya. Ia butuh pelarian. Di luar sana, dua sahabatnya sudah menunggu.

"Lo serius mau nikah sama tuh cewek cadar?" tanya Rian sambil bersandar di motornya. "Sayang banget, Zaid. Di kampus banyak yang antre, lo malah pilih yang ketutup rapat gitu. Ntar lo bosen, lho."

"Diam kau, Rian!" bentak Haikal. "Zaid, ini kesempatanmu. Khadijah itu wanita mulia. Jangan kau nodai wasiat kakakmu dengan tingkah konyolmu."

Zaid hanya diam, menatap aspal jalanan yang gelap. Di dalam hatinya, sebuah peperangan baru saja dimulai. Perang antara egonya yang liar dan tanggung jawab yang dipaksakan oleh takdir.

Terpopuler

Comments

Emi Sudiarni

Emi Sudiarni

awal yg bgus,

2026-08-20

0

lihat semua
Episodes
1 MAHKOTA YANG PATAH DI AMBANG ASHAR
2 DINGIN DI BALIK IJAB
3 PERGOLAKAN DI MEJA MAKAN
4 RETAKNYA DINDING KEANGKUHAN
5 PERGULATAN DI BALIK KEMUDI
6 BADAI DI JALANAN, DOA DI KEHENINGAN
7 DI BALIK TIRAI YANG TAK TERBUKA
8 LENYAPNYA BENTENG TERAKHIR
9 BIDADARI DI BALIK Fajar
10 GETARAN DI AMBANG SAJADAH
11 GERIMIS TEPUNG DI DAPUR CINTA
12 KERETA SENJA MENUJU MATARAM
13 DI BAWAH LANGIT JOGJA, AKU MEMILIHMU
14 PENYATUAN DUA HATI
15 CELOHTEH LUGU DI SERAMBI KRAKPYAK
16 PERPISAHAN DAN JANJI DI TANAH MATARAM
17 KEMBALI KE ASPAL IBU KOTA
18 GERIMIS DI BALIK JAKET KULIT
19 SETELAH BADAI MEREDA
20 DINDING KACA DAN RAHASIA YANG BOCOR
21 JEBAKAN DI BALIK DINDING KACA
22 IKRAK DI ATAS SAJADAH TUA
23 NYALIKAN SUMBU DI TENGAH TENANG
24 KELULUSAN DAN KETUKAN PALU TAKDIR
25 RUMAH DI ATAS SAJADAH YANG SAMA
26 BAYANG-BAYANG DI BALIK PINTU BENGKEL
27 BISIKAN DI BALIK KACA GELAP
28 DARI BALIK SAMPUL HIJAU
29 SERIGALA BERJAS RAPI
30 CAHAYA DI BALIK BADAI
31 UJI KELAYAKAN SEORANG AYAH
32 BISIKAN DI BALIK USG DAN UJIAN CINTA
33 DUA DUNIA DI UJUNG JALAN
34 KETUKAN PALU KEADILAN
35 GEMA TAFSYIR DI BAWAH REMBULAN
36 BADAI DI BALIK DINDING BENGKEL
37 PERTARUNGAN DI PUSAT BADAI
38 CAHAYA DI BALIK PINTU PEMULIHAN
39 AQIQAH DAN JEJAK-JEJAK KEBAIKAN
40 FOKUS BARU DI BALIK MASA GELEGAR
41 BENIH PERUBAHAN DI PINGGIRAN KOTA
42 BENTENG DI TENAH GELOMBANG
43 KEBENARAN DI ATAS MEJA HIJAU
44 BAYANG-BAYANG DI LORONG LBH
45 PUNCAK BADAI DAN KEAJAIBAN TANGAN DINGIN
46 HARAPAN DI LORONG PENGABDIAN
47 GELOMBANG BARU DAN JALAN KETENANGAN
48 JEJAK KEBENARAN DI BATAS SAMUDRA
49 KEMENANGAN MUTLAK DAN MUARA KEDAMAIAN
50 GELOMBANG BARU DI TEPI PANTAI
51 ANCAMAN DARI SEBERANG LAUTAN
52 GURITA FINANSIAL DAN STRATEGI PERTAMA
53 PERANGKAP DENGAN UMPAN EMAS
54 BAYANG-BAYANG DI TANAH PASEH
55 GELOMBANG DI KAKI GUNUNG
56 JEJAK HITAM DI PUSAT KOTA
57 GULITA DI UJUNG BADAI
58 SERANGAN DI BALIK MEJA HIJAU
59 JEJAK GELAP DAN DINDING KACA
60 BADAI DI BALIK MEJA HIJAU
61 JEJAK UANG DI BALIK BAYANGAN
62 KEMBALINYA SANG PELINDUNG
Episodes

Updated 62 Episodes

1
MAHKOTA YANG PATAH DI AMBANG ASHAR
2
DINGIN DI BALIK IJAB
3
PERGOLAKAN DI MEJA MAKAN
4
RETAKNYA DINDING KEANGKUHAN
5
PERGULATAN DI BALIK KEMUDI
6
BADAI DI JALANAN, DOA DI KEHENINGAN
7
DI BALIK TIRAI YANG TAK TERBUKA
8
LENYAPNYA BENTENG TERAKHIR
9
BIDADARI DI BALIK Fajar
10
GETARAN DI AMBANG SAJADAH
11
GERIMIS TEPUNG DI DAPUR CINTA
12
KERETA SENJA MENUJU MATARAM
13
DI BAWAH LANGIT JOGJA, AKU MEMILIHMU
14
PENYATUAN DUA HATI
15
CELOHTEH LUGU DI SERAMBI KRAKPYAK
16
PERPISAHAN DAN JANJI DI TANAH MATARAM
17
KEMBALI KE ASPAL IBU KOTA
18
GERIMIS DI BALIK JAKET KULIT
19
SETELAH BADAI MEREDA
20
DINDING KACA DAN RAHASIA YANG BOCOR
21
JEBAKAN DI BALIK DINDING KACA
22
IKRAK DI ATAS SAJADAH TUA
23
NYALIKAN SUMBU DI TENGAH TENANG
24
KELULUSAN DAN KETUKAN PALU TAKDIR
25
RUMAH DI ATAS SAJADAH YANG SAMA
26
BAYANG-BAYANG DI BALIK PINTU BENGKEL
27
BISIKAN DI BALIK KACA GELAP
28
DARI BALIK SAMPUL HIJAU
29
SERIGALA BERJAS RAPI
30
CAHAYA DI BALIK BADAI
31
UJI KELAYAKAN SEORANG AYAH
32
BISIKAN DI BALIK USG DAN UJIAN CINTA
33
DUA DUNIA DI UJUNG JALAN
34
KETUKAN PALU KEADILAN
35
GEMA TAFSYIR DI BAWAH REMBULAN
36
BADAI DI BALIK DINDING BENGKEL
37
PERTARUNGAN DI PUSAT BADAI
38
CAHAYA DI BALIK PINTU PEMULIHAN
39
AQIQAH DAN JEJAK-JEJAK KEBAIKAN
40
FOKUS BARU DI BALIK MASA GELEGAR
41
BENIH PERUBAHAN DI PINGGIRAN KOTA
42
BENTENG DI TENAH GELOMBANG
43
KEBENARAN DI ATAS MEJA HIJAU
44
BAYANG-BAYANG DI LORONG LBH
45
PUNCAK BADAI DAN KEAJAIBAN TANGAN DINGIN
46
HARAPAN DI LORONG PENGABDIAN
47
GELOMBANG BARU DAN JALAN KETENANGAN
48
JEJAK KEBENARAN DI BATAS SAMUDRA
49
KEMENANGAN MUTLAK DAN MUARA KEDAMAIAN
50
GELOMBANG BARU DI TEPI PANTAI
51
ANCAMAN DARI SEBERANG LAUTAN
52
GURITA FINANSIAL DAN STRATEGI PERTAMA
53
PERANGKAP DENGAN UMPAN EMAS
54
BAYANG-BAYANG DI TANAH PASEH
55
GELOMBANG DI KAKI GUNUNG
56
JEJAK HITAM DI PUSAT KOTA
57
GULITA DI UJUNG BADAI
58
SERANGAN DI BALIK MEJA HIJAU
59
JEJAK GELAP DAN DINDING KACA
60
BADAI DI BALIK MEJA HIJAU
61
JEJAK UANG DI BALIK BAYANGAN
62
KEMBALINYA SANG PELINDUNG

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!