DINGIN DI BALIK IJAB

Lantai masjid utama di kota itu terasa sedingin es saat Zaid melangkah masuk. Ia tidak mengenakan jubah putih seperti yang dulu direncanakan Farhan. Zaid memilih kemeja hitam polos dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mahal dan urat-urat tangannya yang tegang. Di luar masjid, puluhan motor anggota gengnya terparkir, menimbulkan suara bising yang sempat membuat beberapa jamaah mengernyitkan dahi.

Khadijah duduk di balik tirai pembatas kayu yang ukirannya sangat rapat. Ia bisa mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arah meja akad. Itu bukan langkah Farhan yang ringan dan teratur. Langkah ini berat, tegas, dan penuh keraguan.

"Saudara Zaid Al-Idrus bin Umar Al-Idrus..." suara penghulu menggema, memecah keheningan yang menyesakkan.

Zaid menatap meja di depannya dengan pandangan kosong. Di sampingnya, Habib Umar menggenggam lututnya sendiri, berdoa agar putranya tidak melakukan hal konyol.

"Saya terima nikahnya Syarifah Khadijah Al-Eydrus binti Abdullah Al-Haddad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

Kalimat itu meluncur dari bibir Zaid dalam satu tarikan napas. Dingin, tanpa getaran cinta, namun sah di mata Tuhan dan manusia. Di balik tirai, bahu Khadijah bergetar. Ia baru saja resmi menjadi istri dari pria yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Seorang pria yang namanya lebih sering terdengar dalam berita tawuran kampus daripada daftar hadir majelis taklim.

Kamar pengantin itu dihias dengan mawar putih, namun bagi Zaid, ruangan itu terasa seperti sel penjara. Ia masuk ke kamar saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Khadijah masih duduk di tepi ranjang, masih mengenakan gaun akadnya, masih tertutup cadar.

Zaid melepas kemeja hitamnya, menyisakan kaos dalam putih yang membungkus tubuh atletisnya. Ia tidak menyapa. Ia menuju lemari, mengambil jaket kulitnya kembali.

"Kamu mau ke mana, Mas?" suara Khadijah memecah keheningan. Lembut, namun ada ketegasan seorang Hafizah di sana.

Zaid berhenti, tangannya sudah memegang gagang pintu. Ia berbalik, menatap Khadijah dengan tatapan sinis yang menjadi ciri khasnya di kampus. "Jangan panggil aku 'Mas'. Kedengarannya menjijikkan di telingaku. Aku bukan Farhan."

Khadijah terdiam. Jantungnya serasa diremas. "Tapi kamu suamiku sekarang."

"Suami karena wasiat, bukan karena mauku," Zaid melangkah mendekat, aroma parfum maskulin yang tajam bercampur sedikit aroma asap rokok menusuk indra penciuman Khadijah. "Dengar, Khadijah. Kamu punya duniamu sendiri dengan Al-Quran dan sajadahmu. Aku punya duniaku sendiri di jalanan. Kita tidak akan pernah bertemu di tengah. Jangan tunggu aku pulang."

BRAK!

Pintu tertutup dengan keras. Khadijah memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata jatuh menyentuh kain cadarnya. Ia mengambil mushaf kecil dari atas nakas, membukanya di bawah cahaya lampu tidur yang temaram. Ia butuh kekuatan yang lebih besar dari sekadar rasa sabar manusia.

Zaid memacu motornya menuju pusat kota, di mana lampu neon kelab malam mulai berkedip liar. Di sebuah sudut VIP, dua sahabatnya sudah menunggu dengan ekspresi yang sangat kontras.

"Selamat ya, pengantin baru!" Rian berteriak di tengah dentuman musik *techno*. Ia menepuk bahu Zaid sambil menyesap minumannya. "Gimana? Rasanya nikah sama Syarifah? Pasti kaku banget ya? Atau malah 'surprise'?"

Zaid menyentakkan tangan Rian dari bahunya. "Diamlah, Rian. Aku ke sini buat tenang, bukan buat bahas itu."

"Tenang gimana? Lo ninggalin bidadari di rumah demi tempat bising begini? Lo bener-bener nggak punya perasaan, Zaid," sela Haikal yang duduk dengan menyilangkan kaki, hanya memesan jus jeruk sebagai bentuk protes kecilnya karena selalu diajak ke tempat seperti ini.

"Dia bukan pilihanku, Kal! Dia titipan Abang. Lo tahu kan rasanya dikasih beban yang lo nggak sanggup pikul?" Zaid meneguk minuman dingin di depannya dengan rakus.

"Tapi dia istrimu sekarang, Zaid," suara Haikal meninggi, mencoba mengalahkan suara musik. "Ayahmu, Habib Umar, punya nama besar. Jangan sampai perbuatanmu di sini mempermalukan istrimu yang suci itu. Dia hafizah, Zaid. Dia menjaga kehormatannya, sedangkan kamu..."

"Aku apa?!" Zaid berdiri, wajahnya memerah. Lesung pipinya terlihat namun kali ini karena rahang yang mengeras marah. "Aku nggak pernah minta jadi anak Habib! Aku nggak pernah minta jadi adik Farhan! Aku cuma mau jadi diriku sendiri!"

Zaid pergi meninggalkan area VIP itu, namun ia tidak pulang. Ia menuju balkon kelab yang menghadap ke jalanan kota. Ia menyalakan sebatang rokok, menatap langit malam yang tak berbintang. Bayangan wajah Khadijah yang tertutup cadar tiba-tiba melintas. Ia teringat bagaimana Khadijah tetap menunduk saat ia mengucapkan ijab kabul. Ada aura ketulusan yang membuatnya merasa kerdil.

Pukul lima pagi, Zaid pulang dengan langkah gontai. Ia berharap Khadijah sudah tidur. Namun, saat ia membuka pintu kamar, ia menemukan istrinya masih dalam posisi yang sama bersimpuh di atas sajadah.

Khadijah baru saja menyelesaikan zikir subuhnya. Ia menoleh perlahan saat mendengar pintu terbuka. Ia bangkit, mendekati Zaid yang tampak sangat kacau. Tanpa kata, Khadijah mengulurkan tangannya untuk mengambil jaket Zaid.

Zaid sempat ingin menepis, namun tangannya berhenti di udara saat melihat mata Khadijah. Mata itu tidak memancarkan kemarahan atau penghakiman. Hanya ada kelelahan dan kasih sayang yang sangat tulus.

"Air hangatnya sudah siap di kamar mandi, Mas—maksud saya, Zaid," Khadijah meralat panggilannya dengan suara rendah. "Sarapan juga sudah saya siapkan di meja. Saya tidak tahu kamu suka apa, jadi saya buatkan nasi goreng kesukaan almarhum Kak Farhan."

Mendengar nama Farhan, pertahanan Zaid sedikit runtuh. Ia menatap Khadijah lama, lalu mendengus pelan. "Lain kali jangan buatkan apa yang disukai Bang Farhan. Aku bukan dia."

Zaid melangkah masuk ke kamar mandi, meninggalkan Khadijah yang berdiri mematung. Khadijah menarik napas panjang. Ini baru hari pertama. Ia tahu, perjuangan untuk meluluhkan hati seorang Zaid Al-Idrus akan jauh lebih sulit daripada menghafal ribuan ayat Al-Quran. Namun, di dalam hatinya, ia sudah berjanji: ia tidak akan melepaskan tangan pria ini sebelum ia membawanya kembali ke jalan Allah.

Terpopuler

Comments

david 123

david 123

ikuti kisah yg menyedihkan ...
semoga ttp semangat ya thor

2026-08-14

0

lihat semua
Episodes
1 MAHKOTA YANG PATAH DI AMBANG ASHAR
2 DINGIN DI BALIK IJAB
3 PERGOLAKAN DI MEJA MAKAN
4 RETAKNYA DINDING KEANGKUHAN
5 PERGULATAN DI BALIK KEMUDI
6 BADAI DI JALANAN, DOA DI KEHENINGAN
7 DI BALIK TIRAI YANG TAK TERBUKA
8 LENYAPNYA BENTENG TERAKHIR
9 BIDADARI DI BALIK Fajar
10 GETARAN DI AMBANG SAJADAH
11 GERIMIS TEPUNG DI DAPUR CINTA
12 KERETA SENJA MENUJU MATARAM
13 DI BAWAH LANGIT JOGJA, AKU MEMILIHMU
14 PENYATUAN DUA HATI
15 CELOHTEH LUGU DI SERAMBI KRAKPYAK
16 PERPISAHAN DAN JANJI DI TANAH MATARAM
17 KEMBALI KE ASPAL IBU KOTA
18 GERIMIS DI BALIK JAKET KULIT
19 SETELAH BADAI MEREDA
20 DINDING KACA DAN RAHASIA YANG BOCOR
21 JEBAKAN DI BALIK DINDING KACA
22 IKRAK DI ATAS SAJADAH TUA
23 NYALIKAN SUMBU DI TENGAH TENANG
24 KELULUSAN DAN KETUKAN PALU TAKDIR
25 RUMAH DI ATAS SAJADAH YANG SAMA
26 BAYANG-BAYANG DI BALIK PINTU BENGKEL
27 BISIKAN DI BALIK KACA GELAP
28 DARI BALIK SAMPUL HIJAU
29 SERIGALA BERJAS RAPI
30 CAHAYA DI BALIK BADAI
31 UJI KELAYAKAN SEORANG AYAH
32 BISIKAN DI BALIK USG DAN UJIAN CINTA
33 DUA DUNIA DI UJUNG JALAN
34 KETUKAN PALU KEADILAN
35 GEMA TAFSYIR DI BAWAH REMBULAN
36 BADAI DI BALIK DINDING BENGKEL
37 PERTARUNGAN DI PUSAT BADAI
38 CAHAYA DI BALIK PINTU PEMULIHAN
39 AQIQAH DAN JEJAK-JEJAK KEBAIKAN
40 FOKUS BARU DI BALIK MASA GELEGAR
41 BENIH PERUBAHAN DI PINGGIRAN KOTA
42 BENTENG DI TENAH GELOMBANG
43 KEBENARAN DI ATAS MEJA HIJAU
44 BAYANG-BAYANG DI LORONG LBH
45 PUNCAK BADAI DAN KEAJAIBAN TANGAN DINGIN
46 HARAPAN DI LORONG PENGABDIAN
47 GELOMBANG BARU DAN JALAN KETENANGAN
48 JEJAK KEBENARAN DI BATAS SAMUDRA
49 KEMENANGAN MUTLAK DAN MUARA KEDAMAIAN
50 GELOMBANG BARU DI TEPI PANTAI
51 ANCAMAN DARI SEBERANG LAUTAN
52 GURITA FINANSIAL DAN STRATEGI PERTAMA
53 PERANGKAP DENGAN UMPAN EMAS
54 BAYANG-BAYANG DI TANAH PASEH
55 GELOMBANG DI KAKI GUNUNG
56 JEJAK HITAM DI PUSAT KOTA
57 GULITA DI UJUNG BADAI
58 SERANGAN DI BALIK MEJA HIJAU
59 JEJAK GELAP DAN DINDING KACA
60 BADAI DI BALIK MEJA HIJAU
61 JEJAK UANG DI BALIK BAYANGAN
62 KEMBALINYA SANG PELINDUNG
Episodes

Updated 62 Episodes

1
MAHKOTA YANG PATAH DI AMBANG ASHAR
2
DINGIN DI BALIK IJAB
3
PERGOLAKAN DI MEJA MAKAN
4
RETAKNYA DINDING KEANGKUHAN
5
PERGULATAN DI BALIK KEMUDI
6
BADAI DI JALANAN, DOA DI KEHENINGAN
7
DI BALIK TIRAI YANG TAK TERBUKA
8
LENYAPNYA BENTENG TERAKHIR
9
BIDADARI DI BALIK Fajar
10
GETARAN DI AMBANG SAJADAH
11
GERIMIS TEPUNG DI DAPUR CINTA
12
KERETA SENJA MENUJU MATARAM
13
DI BAWAH LANGIT JOGJA, AKU MEMILIHMU
14
PENYATUAN DUA HATI
15
CELOHTEH LUGU DI SERAMBI KRAKPYAK
16
PERPISAHAN DAN JANJI DI TANAH MATARAM
17
KEMBALI KE ASPAL IBU KOTA
18
GERIMIS DI BALIK JAKET KULIT
19
SETELAH BADAI MEREDA
20
DINDING KACA DAN RAHASIA YANG BOCOR
21
JEBAKAN DI BALIK DINDING KACA
22
IKRAK DI ATAS SAJADAH TUA
23
NYALIKAN SUMBU DI TENGAH TENANG
24
KELULUSAN DAN KETUKAN PALU TAKDIR
25
RUMAH DI ATAS SAJADAH YANG SAMA
26
BAYANG-BAYANG DI BALIK PINTU BENGKEL
27
BISIKAN DI BALIK KACA GELAP
28
DARI BALIK SAMPUL HIJAU
29
SERIGALA BERJAS RAPI
30
CAHAYA DI BALIK BADAI
31
UJI KELAYAKAN SEORANG AYAH
32
BISIKAN DI BALIK USG DAN UJIAN CINTA
33
DUA DUNIA DI UJUNG JALAN
34
KETUKAN PALU KEADILAN
35
GEMA TAFSYIR DI BAWAH REMBULAN
36
BADAI DI BALIK DINDING BENGKEL
37
PERTARUNGAN DI PUSAT BADAI
38
CAHAYA DI BALIK PINTU PEMULIHAN
39
AQIQAH DAN JEJAK-JEJAK KEBAIKAN
40
FOKUS BARU DI BALIK MASA GELEGAR
41
BENIH PERUBAHAN DI PINGGIRAN KOTA
42
BENTENG DI TENAH GELOMBANG
43
KEBENARAN DI ATAS MEJA HIJAU
44
BAYANG-BAYANG DI LORONG LBH
45
PUNCAK BADAI DAN KEAJAIBAN TANGAN DINGIN
46
HARAPAN DI LORONG PENGABDIAN
47
GELOMBANG BARU DAN JALAN KETENANGAN
48
JEJAK KEBENARAN DI BATAS SAMUDRA
49
KEMENANGAN MUTLAK DAN MUARA KEDAMAIAN
50
GELOMBANG BARU DI TEPI PANTAI
51
ANCAMAN DARI SEBERANG LAUTAN
52
GURITA FINANSIAL DAN STRATEGI PERTAMA
53
PERANGKAP DENGAN UMPAN EMAS
54
BAYANG-BAYANG DI TANAH PASEH
55
GELOMBANG DI KAKI GUNUNG
56
JEJAK HITAM DI PUSAT KOTA
57
GULITA DI UJUNG BADAI
58
SERANGAN DI BALIK MEJA HIJAU
59
JEJAK GELAP DAN DINDING KACA
60
BADAI DI BALIK MEJA HIJAU
61
JEJAK UANG DI BALIK BAYANGAN
62
KEMBALINYA SANG PELINDUNG

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!