PERGOLAKAN DI MEJA MAKAN

Mentari pagi baru saja menyembul dari balik cakrawala, menyiratkan cahaya keemasan yang menembus jendela kaca kediaman Habib Umar yang megah. Aroma kopi Arabika dan nasi kebuli yang hangat menyeruak, menciptakan suasana rumah tangga yang seharusnya harmonis. Namun, di meja makan itu, keheningan terasa begitu berat, hanya denting sendok yang sesekali memecah kesunyian.

Zaid duduk dengan wajah yang masih tampak mengantuk. Rambutnya yang sedikit acak-acakan justru menambah kesan maskulin pada wajah tampannya. Di sampingnya, Khadijah duduk dengan tenang, cadar hitamnya sudah terpasang sempurna, menutupi kecantikan yang hanya boleh dilihat oleh mahramnya. Ia dengan telaten melayani kebutuhan Zaid, menuangkan air putih dan menyendokkan nasi, meski suaminya itu hanya menatap piring dengan pandangan dingin.

"Zaid, hari ini kamu berangkat ke kampus jam berapa?" tanya Umi Syarifah dengan suara lembut namun berwibawa.

"Jam delapan, Mi. Ada kelas pagi," jawab Zaid singkat tanpa menoleh.

Umi Syarifah tersenyum kecil, matanya melirik ke arah Khadijah yang sedang menunduk. "Kebetulan sekali. Khadijah juga ada jadwal pagi, kan? Kenapa kalian tidak berangkat bareng saja? Lagipula kampus kalian sama, hanya beda fakultas."

Zaid tersedak kopinya. Ia terbatuk kecil sambil menatap Uminya dengan mata membelalak. Selama tiga tahun kuliah di Universitas Nasional, Zaid tidak pernah tahu—atau tepatnya tidak pernah peduli—bahwa istrinya juga menimba ilmu di tempat yang sama. Dunia mereka terlalu berbeda; Zaid adalah penguasa area parkir dan kantin teknik, sementara Khadijah adalah permata yang tersembunyi di Fakultas Tarbiyah.

"Bareng?" Zaid mengernyit. "Enggak bisa, Mi. Zaid mau naik motor. Kalau naik motor nanti cadar Khadijah terbang-terbang, repot."

"Zaid!" suara berat Habib Umar menyahut dari ujung meja. "Abi sudah bilang, selama kamu sudah berkeluarga, simpan dulu motor besarmu itu. Pakai mobil Abi saja. Lebih aman dan lebih pantas untuk seorang suami yang mengantar istrinya."

Zaid mengembuskan napas kasar. Ia merasa terjepit. Baginya, membawa mobil ke kampus berarti merusak citra "cool" dan bebas yang selama ini ia bangun di depan anggota geng motornya. Namun, melihat tatapan tajam Abinya, Zaid tak berani membantah lebih jauh.

Sebelum suasana semakin tegang, Khadijah mengangkat kepalanya. "Maaf Umi, Abi... sepertinya Khadijah memang tidak bisa bareng Mas Zaid hari ini."

Zaid sedikit terkejut mendengar Khadijah memanggilnya 'Mas' di depan orang tua mereka, namun ia lebih lega karena penolakannya mendapat dukungan.

"Khadijah sudah ada janji ketemuan sama teman-teman sebelum kelas dimulai. Ada urusan organisasi yang harus diselesaikan segera. Jadi, Khadijah berangkat sendiri saja naik taksi online," lanjut Khadijah dengan nada yang sangat sopan, mencoba mencairkan suasana agar suaminya tidak semakin terpojok.

Setelah perdebatan di meja makan, Khadijah benar-benar berangkat lebih awal. Ia turun di sebuah kafe dekat gerbang kampus untuk menemui dua sahabat dekatnya, Aisyah dan Fatimah. Mereka adalah sesama Hafizah yang selalu menjadi tempat Khadijah berbagi keluh kesah.

"Khadijah, kamu pucat sekali. Apa Mas Zaid masih bersikap dingin?" tanya Aisyah cemas saat melihat sahabatnya itu lebih banyak melamun.

Khadijah hanya tersenyum di balik cadarnya. "Mas Zaid hanya butuh waktu, Isyah. Hidayah itu milik Allah, tugas saya hanya bersabar."

Namun, ketenangan Khadijah runtuh dalam sekejap. Dari jendela kafe yang menghadap langsung ke area parkir fakultas hukum yang berseberangan, Fatimah tiba-tiba mematung. Matanya menatap tajam ke arah sebuah mobil mewah yang baru saja terparkir.

"Khadijah... bukannya itu mobil mertuamu?" Fatimah menunjuk dengan tangan gemetar.

Khadijah menoleh. Ia melihat Zaid keluar dari mobil mobil Abinya. Namun, Zaid tidak sendiri. Seorang wanita dengan pakaian minim dan rambut pirang yang tergerai indah langsung menghampiri Zaid. Tanpa rasa malu, wanita itu menggelayut manja di lengan Zaid, tertawa lepas seolah-olah mereka adalah pasangan paling bahagia di dunia.

"Astaghfirullah... Khadijah, itu suamimu, kan?" Aisyah menutup mulutnya karena terkejut. "Kenapa dia membiarkan wanita itu menyentuhnya seperti itu di depan umum?"

Dunia seolah runtuh bagi Khadijah. Dadanya terasa sesak, seperti ada ribuan jarum yang menusuk jantungnya secara bersamaan. Ia melihat Zaid tidak menepis tangan wanita itu, bahkan Zaid tampak menikmati perhatian yang diberikan.

Sakit. Sangat sakit. Hati Khadijah yang lembut hancur berkeping-keping. Pria yang baru beberapa jam lalu duduk satu meja makan dengannya, kini bersikap seolah pernikahan mereka tidak pernah ada.

"Khadijah, kamu mau ke sana?" tanya Fatimah geram. "Biar aku yang jambak wanita itu!"

"Jangan," suara Khadijah bergetar. Ia memejamkan mata rapat-rapat, buliran bening mulai membasahi cadarnya. "Astaghfirullahaladzim... Astaghfirullahaladzim..."

Khadijah beristighfar berkali-kali dalam hati, mencoba menekan rasa hancur yang membuncah. Ia tidak ingin membuat keributan yang akan mempermalukan nama besar keluarganya dan mertuanya. Dengan tangan yang gemetar, ia meremas tasnya.

"Ayo kita masuk kelas sekarang. Saya... saya tidak ingin melihatnya lebih lama lagi," ucap Khadijah seraya bangkit dengan langkah yang goyah.

Di parkiran sana, Zaid sempat menoleh ke arah kafe, merasa seperti ada sepasang mata yang memperhatikannya. Namun, ia kembali larut dalam tawa teman-teman kampusnya, sama sekali tidak menyadari bahwa di seberang sana, ada sekeping hati suci yang baru saja ia hancurkan hingga tak berbentuk lagi.

Episodes
1 MAHKOTA YANG PATAH DI AMBANG ASHAR
2 DINGIN DI BALIK IJAB
3 PERGOLAKAN DI MEJA MAKAN
4 RETAKNYA DINDING KEANGKUHAN
5 PERGULATAN DI BALIK KEMUDI
6 BADAI DI JALANAN, DOA DI KEHENINGAN
7 DI BALIK TIRAI YANG TAK TERBUKA
8 LENYAPNYA BENTENG TERAKHIR
9 BIDADARI DI BALIK Fajar
10 GETARAN DI AMBANG SAJADAH
11 GERIMIS TEPUNG DI DAPUR CINTA
12 KERETA SENJA MENUJU MATARAM
13 DI BAWAH LANGIT JOGJA, AKU MEMILIHMU
14 PENYATUAN DUA HATI
15 CELOHTEH LUGU DI SERAMBI KRAKPYAK
16 PERPISAHAN DAN JANJI DI TANAH MATARAM
17 KEMBALI KE ASPAL IBU KOTA
18 GERIMIS DI BALIK JAKET KULIT
19 SETELAH BADAI MEREDA
20 DINDING KACA DAN RAHASIA YANG BOCOR
21 JEBAKAN DI BALIK DINDING KACA
22 IKRAK DI ATAS SAJADAH TUA
23 NYALIKAN SUMBU DI TENGAH TENANG
24 KELULUSAN DAN KETUKAN PALU TAKDIR
25 RUMAH DI ATAS SAJADAH YANG SAMA
26 BAYANG-BAYANG DI BALIK PINTU BENGKEL
27 BISIKAN DI BALIK KACA GELAP
28 DARI BALIK SAMPUL HIJAU
29 SERIGALA BERJAS RAPI
30 CAHAYA DI BALIK BADAI
31 UJI KELAYAKAN SEORANG AYAH
32 BISIKAN DI BALIK USG DAN UJIAN CINTA
33 DUA DUNIA DI UJUNG JALAN
34 KETUKAN PALU KEADILAN
35 GEMA TAFSYIR DI BAWAH REMBULAN
36 BADAI DI BALIK DINDING BENGKEL
37 PERTARUNGAN DI PUSAT BADAI
38 CAHAYA DI BALIK PINTU PEMULIHAN
39 AQIQAH DAN JEJAK-JEJAK KEBAIKAN
40 FOKUS BARU DI BALIK MASA GELEGAR
41 BENIH PERUBAHAN DI PINGGIRAN KOTA
42 BENTENG DI TENAH GELOMBANG
43 KEBENARAN DI ATAS MEJA HIJAU
44 BAYANG-BAYANG DI LORONG LBH
45 PUNCAK BADAI DAN KEAJAIBAN TANGAN DINGIN
46 HARAPAN DI LORONG PENGABDIAN
47 GELOMBANG BARU DAN JALAN KETENANGAN
48 JEJAK KEBENARAN DI BATAS SAMUDRA
49 KEMENANGAN MUTLAK DAN MUARA KEDAMAIAN
50 GELOMBANG BARU DI TEPI PANTAI
51 ANCAMAN DARI SEBERANG LAUTAN
52 GURITA FINANSIAL DAN STRATEGI PERTAMA
53 PERANGKAP DENGAN UMPAN EMAS
54 BAYANG-BAYANG DI TANAH PASEH
55 GELOMBANG DI KAKI GUNUNG
56 JEJAK HITAM DI PUSAT KOTA
57 GULITA DI UJUNG BADAI
58 SERANGAN DI BALIK MEJA HIJAU
59 JEJAK GELAP DAN DINDING KACA
60 BADAI DI BALIK MEJA HIJAU
61 JEJAK UANG DI BALIK BAYANGAN
62 KEMBALINYA SANG PELINDUNG
Episodes

Updated 62 Episodes

1
MAHKOTA YANG PATAH DI AMBANG ASHAR
2
DINGIN DI BALIK IJAB
3
PERGOLAKAN DI MEJA MAKAN
4
RETAKNYA DINDING KEANGKUHAN
5
PERGULATAN DI BALIK KEMUDI
6
BADAI DI JALANAN, DOA DI KEHENINGAN
7
DI BALIK TIRAI YANG TAK TERBUKA
8
LENYAPNYA BENTENG TERAKHIR
9
BIDADARI DI BALIK Fajar
10
GETARAN DI AMBANG SAJADAH
11
GERIMIS TEPUNG DI DAPUR CINTA
12
KERETA SENJA MENUJU MATARAM
13
DI BAWAH LANGIT JOGJA, AKU MEMILIHMU
14
PENYATUAN DUA HATI
15
CELOHTEH LUGU DI SERAMBI KRAKPYAK
16
PERPISAHAN DAN JANJI DI TANAH MATARAM
17
KEMBALI KE ASPAL IBU KOTA
18
GERIMIS DI BALIK JAKET KULIT
19
SETELAH BADAI MEREDA
20
DINDING KACA DAN RAHASIA YANG BOCOR
21
JEBAKAN DI BALIK DINDING KACA
22
IKRAK DI ATAS SAJADAH TUA
23
NYALIKAN SUMBU DI TENGAH TENANG
24
KELULUSAN DAN KETUKAN PALU TAKDIR
25
RUMAH DI ATAS SAJADAH YANG SAMA
26
BAYANG-BAYANG DI BALIK PINTU BENGKEL
27
BISIKAN DI BALIK KACA GELAP
28
DARI BALIK SAMPUL HIJAU
29
SERIGALA BERJAS RAPI
30
CAHAYA DI BALIK BADAI
31
UJI KELAYAKAN SEORANG AYAH
32
BISIKAN DI BALIK USG DAN UJIAN CINTA
33
DUA DUNIA DI UJUNG JALAN
34
KETUKAN PALU KEADILAN
35
GEMA TAFSYIR DI BAWAH REMBULAN
36
BADAI DI BALIK DINDING BENGKEL
37
PERTARUNGAN DI PUSAT BADAI
38
CAHAYA DI BALIK PINTU PEMULIHAN
39
AQIQAH DAN JEJAK-JEJAK KEBAIKAN
40
FOKUS BARU DI BALIK MASA GELEGAR
41
BENIH PERUBAHAN DI PINGGIRAN KOTA
42
BENTENG DI TENAH GELOMBANG
43
KEBENARAN DI ATAS MEJA HIJAU
44
BAYANG-BAYANG DI LORONG LBH
45
PUNCAK BADAI DAN KEAJAIBAN TANGAN DINGIN
46
HARAPAN DI LORONG PENGABDIAN
47
GELOMBANG BARU DAN JALAN KETENANGAN
48
JEJAK KEBENARAN DI BATAS SAMUDRA
49
KEMENANGAN MUTLAK DAN MUARA KEDAMAIAN
50
GELOMBANG BARU DI TEPI PANTAI
51
ANCAMAN DARI SEBERANG LAUTAN
52
GURITA FINANSIAL DAN STRATEGI PERTAMA
53
PERANGKAP DENGAN UMPAN EMAS
54
BAYANG-BAYANG DI TANAH PASEH
55
GELOMBANG DI KAKI GUNUNG
56
JEJAK HITAM DI PUSAT KOTA
57
GULITA DI UJUNG BADAI
58
SERANGAN DI BALIK MEJA HIJAU
59
JEJAK GELAP DAN DINDING KACA
60
BADAI DI BALIK MEJA HIJAU
61
JEJAK UANG DI BALIK BAYANGAN
62
KEMBALINYA SANG PELINDUNG

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!