RETAKNYA DINDING KEANGKUHAN

Suasana di parkiran Fakultas Hukum pagi itu terasa sangat bising bagi Zaid. Bising bukan karena suaranya. Tapi karena isi kepalanya.

Meski suara musik EDM terdengar samar dari mobil salah satu anggota gengnya yang sengaja diputar kencang, dan gelak tawa teman-temannya memenuhi udara, pikirannya justru tertinggal di meja makan tadi pagi.

Tertinggal di sosok Khadijah yang menuangkan air untuknya. Yang menyendokkan nasi untuknya. Yang dipanggil "Mas" dengan suara lembut di depan Abi dan Umi.

Ada sesuatu yang mengusik nuraninya. Sesuatu yang mengganjal di dada. Saat mengingat ketenangan Khadijah yang tetap melayaninya meski ia bersikap kasar semalam. Meski ia membanting pintu dan pergi ke kelab.

_Gadis itu... kenapa bisa setenang itu?_ batin Zaid. _Seharusnya dia marah. Seharusnya dia nangis teriak. Tapi dia malah bikin sarapan._

"Zaid, _babe!_ Ke mana saja sih? Semalam di grup nggak balas, ditelpon nggak diangkat," suara manja itu memotong lamunannya.

Suara itu milik Sherly. Mahasiswi semester 5 Fakultas Hukum. Seorang model kampus yang sudah lama mengejar Zaid. DM-nya tidak pernah dibalas. Tapi ia tidak pernah menyerah.

Tanpa permisi, Sherly langsung menggelayutkan tangannya di lengan Zaid yang terbalut jaket kulit. Tubuhnya menempel. Menyandarkan kepalanya dengan posesif di bahu Zaid. Seperti sudah menjadi haknya.

Zaid biasanya tidak peduli. Baginya, wanita-wanita seperti Sherly hanyalah penghias ego. Boneka yang bisa dipamerkan ke anak-anak geng. "Lihat, gue diincer model."

Namun, hari ini berbeda.

Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik yang salah. Panas. Menjijikkan. Bau parfum Sherly yang menyengat, manis dan menusuk, mendadak membuatnya mual.

Dan entah kenapa, ia justru merindukan aroma lembut misk dan kayu gaharu yang sempat ia cium dari cadar Khadijah semalam. Aroma yang tenang. Aroma yang suci.

Secara refleks, mata Zaid menyapu ke arah kafe di seberang jalan. Kafe "Al-Fatih" yang sering dipakai anak-anak LDK nongkrong.

Ia melihat tiga sosok wanita bercadar keluar dari sana. Berjalan beriringan. Salah satunya berjalan paling belakang. Langkahnya goyah. Tidak secepat dua temannya. Tangannya tampak meremas ujung gamisnya sendiri dengan kuat, sampai buku jarinya pucat.

Zaid mengenali postur itu. Cara berjalan itu. Cara meremas gamis itu.

Itu Khadijah.

Darah Zaid serasa berhenti mengalir.

Melihat Khadijah menyaksikan pemandangan ini, melihat ia digelayuti Sherly di depan umum, ada rasa panik yang belum pernah Zaid rasakan sebelumnya. Bukan panik ketahuan tawuran. Bukan panik ketahuan bolos.

Ini panik karena takut. Takut mengecewakan. Takut dilihat rendah oleh orang yang... yang bahkan ia tidak tahu kenapa ia peduli.

Rasa bersalah menghantamnya telak. Seperti ditinju di ulu hati.

"Lepasin!" bentak Zaid tiba-tiba. Suaranya menggelegar, memecah keramaian.

Zaid menyentakkan lengannya dengan keras. Tenaga penuh. Hingga Sherly hampir kehilangan keseimbangan dan mundur beberapa langkah.

Gerakan itu begitu kasar dan mendadak. Begitu tidak seperti Zaid yang biasanya cuek dan santai.

Tawa teman-temannya seketika terhenti. Musik dimatikan. Rian dan Haikal yang berada di dekat sana langsung terdiam menatap Zaid dengan alis bertaut.

"Zaid? Kamu kenapa sih? Kasar banget!" Sherly merengut. Wajahnya memerah karena malu dilihat banyak orang. Matanya berkaca-kaca. "Aku cuma nyapa!"

"Jangan pernah sentuh aku lagi," desis Zaid dengan suara rendah yang mengancam. Rahangnya mengeras. Matanya menatap Sherly dengan sorot kebencian yang mendalam.

Bukan karena Sherly salah. Tapi karena ia membenci dirinya sendiri. Membenci versi dirinya yang terlihat begitu rendah, begitu murahan, di mata Khadijah.

Zaid tidak memedulikan rengekan Sherly. Tidak memedulikan tatapan heran 20 pasang mata di parkiran. Ia langsung berbalik, matanya liar mencari-cari sosok Khadijah di antara kerumunan.

Namun istrinya itu sudah menghilang. Sudah masuk ke dalam arus mahasiswa yang menuju gedung Fakultas Tarbiyah. Hanya tersisa punggung gamis putih yang menghilang di balik pintu.

Di dalam koridor kampus yang dingin, Khadijah berjalan secepat yang ia bisa. Hampir berlari.

Aisyah dan Fatimah berusaha mengejarnya dari belakang. "Khadijah! Tunggu!"

Mereka sampai di sebuah taman yang sepi di belakang gedung kampus. Taman yang jarang dilewati orang. Banyak pohon rindang dan bangku kayu. Tempat yang biasa dipakai untuk murojaah.

Di sana, Khadijah akhirnya berhenti. Lututnya lemas. Ia terduduk di bangku taman. Dan bendungan yang ia tahan sejak pagi jebol.

Bahunya berguncang hebat. Tangisnya pecah.

"Istighfar, Khadijah... Istighfar," bisik Aisyah sambil memeluk sahabatnya erat. Mengusap punggungnya. "Tenang..."

"Sakit, Syah... Sakit sekali," suara Khadijah pecah. Tersedu-sedu. "Saya tidak mengharapkan dia mencintai saya sekarang. Saya tahu itu mustahil. Tapi setidaknya... setidaknya hargai pernikahan ini. Hargai almarhum Mas Farhan yang menitipkan saya padanya dengan darah terakhirnya."

Ia terisak lebih keras. "Saya ini apa? Mainan? Benda titipan yang bisa ditaruh sembarangan?"

Khadijah menangis sesenggukan. Selama ini ia selalu menjadi gadis yang kuat. Yang mampu menghafal bait demi bait firman Tuhan tanpa mengeluh. Yang mampu tahajud 8 rakaat meski demam.

Namun hari ini, ia hanyalah seorang wanita berusia 20 tahun. Seorang istri baru. Yang hatinya hancur melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain tepat setelah mereka makan bersama. Tepat setelah ia menuangkan kopi untuknya.

"Laki-laki itu memang tidak punya hati!" Fatimah mengepalkan tangannya. Matanya merah karena marah. "Khadijah, kamu harus bicara pada mertuamu. Pada Habib Umar. Kamu tidak bisa membiarkan dirimu dihina seperti ini. Ini pelecehan!"

Khadijah menggeleng cepat. Keras. Air matanya berceceran di balik cadar. "Tidak. Jangan sampai Umi dan Abi tahu. Demi Allah jangan."

Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan. "Itu akan menyakiti hati mereka. Mereka baru kehilangan anak sulungnya. Saya tidak mau menambah luka mereka. Saya sudah berjanji pada orang tua saya untuk menuruti mereka. Untuk menjaga nama baik dua keluarga."

Ia menarik napas panjang. Bergetar. "Saya akan bertahan, Fatimah. Mungkin ini adalah ujian kesabaran yang Allah berikan agar derajat saya dinaikkan. Mungkin ini cara Allah menguji, apakah aku benar-benar ridho dengan takdirNya."

Di area parkir, suasana masih tegang. Dingin.

Rian mendekati Zaid dengan wajah bingung. Tangannya masih memegang helm. Sementara Haikal hanya bersedekap dengan tatapan menghakimi. Kecewa.

"Lo kenapa, Zaid?" tanya Rian hati-hati. "Sherly itu kan 'piala' lo selama ini. Cewek paling cantik di kampus yang ngejar-ngejar lo. Kenapa tiba-tiba lo buang kayak sampah gitu? Lo kesurupan?"

Zaid tidak menjawab. Matanya masih menatap ke arah gedung Tarbiyah. Kosong.

Ia malah menoleh ke arah Haikal. Suaranya pelan. "Lo lihat tadi? Khadijah keluar dari kafe itu?"

Haikal mengangguk pelan. Wajahnya datar. "Dia lihat semuanya, Zaid. Dari awal sampai akhir. Dia lihat suaminya sendiri membiarkan wanita lain bergelayutan di lengannya. Puas kamu sekarang? Bangga?"

Kata-kata itu seperti pisau.

Zaid memukul kap mobil Alphard Abinya dengan tinjunya. _Brak!_ Catnya penyok sedikit. "Gue nggak tahu dia ada di sana! Sumpah gue nggak tahu! Kenapa dia nggak bilang kalau dia mau ke kafe itu?! Kenapa dia nggak chat gue?!"

"Masalahnya bukan dia ada di sana atau tidak, Zaid!" bentak Haikal. Kali ini suaranya tidak lagi tenang. Ini pertama kalinya Haikal membentak Zaid. "Masalahnya adalah lo nggak punya rasa hormat pada ikatan suci yang baru lo ucapkan kemarin di hadapan Allah dan para saksi! Lo keturunan Al-Idrus! Nama besar Abi lo! Di mana harga diri lo sebagai laki-laki?!"

Rian, yang biasanya mata keranjang dan paling jago ngegoda, kali ini terdiam. Ia melihat ada sesuatu yang berbeda di mata Zaid.

Bukan takut pada hukuman Abinya. Bukan takut diomelin.

Tapi takut kehilangan. Takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum ia miliki. Takut kehilangan rasa hormat dari satu pasang mata itu.

"Susul dia, Zaid," ujar Rian pelan. Nadanya serius untuk pertama kalinya. "Gue memang mata keranjang. Gue memang brengsek. Tapi gue tahu batasan. Istri lo itu bukan wanita sembarangan. Dia hafizah, Zaid. Sekali lo bikin dia menyerah. Sekali lo bikin dia capek dan pergi... lo nggak bakal bisa nemuin wanita kayak dia lagi seumur hidup lo."

Kalimat itu menghantam Zaid.

Tanpa sepatah kata pun, tanpa pamit, ia berbalik. Ia berlari.

Berlari menerobos parkiran. Berlari melewati Sherly yang masih menangis. Berlari menuju gedung Fakultas Tarbiyah. Mengabaikan teriakan "Zaid!" dari belakang dan tatapan heran ratusan mahasiswa lain.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang "Pangeran Kelab Malam" itu berlari mengejar sesuatu yang suci.

Zaid menemukan Khadijah di taman belakang.

Istrinya itu sedang duduk sendirian di bangku paling pojok. Aisyah dan Fatimah sudah pergi, memberi ruang.

Khadijah memegang mushaf kecilnya yang selalu ia bawa di dalam tas. Bahunya sudah tidak berguncang. Tapi suaranya saat melantunkan ayat suci terdengar serak dan penuh duka.

_"Wa laa tahinu wa laa tahzanu wa antumul a'launa..."_

_Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi..._

Zaid berhenti beberapa langkah di belakangnya. Jantungnya berdebar. Ia ragu. Lidahnya yang biasanya tajam untuk menghina dan berantem, mendadak kaku.

Bagaimana cara minta maaf pada seorang malaikat?

"Khadijah..." panggilnya pelan. Hampir seperti bisikan.

Khadijah tersentak. Mushafnya hampir jatuh. Ia segera merapikan posisinya dan menunduk dalam. Tidak berani menatap mata Zaid. "Iya, Mas—Zaid?"

Ia salah ucap. Dan buru-buru meralat.

Zaid mendekat. Lalu duduk di ujung bangku taman yang sama. Memberi jarak yang cukup lebar. Cukup untuk satu orang di tengah. Jarak yang aman.

"Tadi itu..." Zaid membuka suara. Kaku. "Tadi itu bukan kemauanku. Dia yang tiba-tiba datang. Gue kaget."

Khadijah terdiam sejenak. Lama. Angin menggerakkan ujung cadarnya.

"Mas tidak perlu menjelaskan apa pun pada saya," jawab Khadijah akhirnya. Suaranya datar. Mati. "Saya tahu posisi saya. Saya hanya istri titipan. Saya tidak punya hak untuk cemburu. Tidak punya hak untuk marah."

Mendengar kata "titipan", hati Zaid seperti tersayat pisau tumpul. Sakitnya tumpul tapi dalam.

"Jangan bilang begitu," kata Zaid. Lebih cepat dari yang ia kira.

"Lalu saya harus bilang apa?" Khadijah menoleh. Meski matanya tertutup cadar, Zaid bisa merasakan tatapan yang penuh luka itu menembus ke dadanya. "Mas Zaid bebas melakukan apa pun. Itu hak Mas. Tapi tolong..."

Suara Khadijah bergetar. "Jika Mas ingin melakukan hal seperti itu, jangan lakukan di tempat saya bisa melihatnya. Jangan lakukan di kampus tempat saya menuntut ilmu. Jangan biarkan sahabat-sahabat saya mengasihani saya karena memiliki suami yang tidak bisa menjaga dirinya. Cukup saya saja yang menanggung malunya."

Zaid terdiam seribu bahasa.

Keangkuhannya. Keegoisannya. Citra "cool" nya. Runtuh seketika di depan kelembutan yang terluka itu.

Ia ingin meminta maaf. Kata "maaf" sudah di ujung lidah. Tapi gengsinya. Tembok setinggi 10 meter itu masih menahan kata-kata itu di tenggorokan.

Ia berdiri. Gugup.

"Pulang nanti..." ujar Zaid akhirnya dengan nada yang kembali dingin. Nada ketus untuk menutupi rasa malu dan bersalahnya yang meluap. "Tunggu aku di gerbang belakang jam 4. Kita pulang bareng pakai mobil Abi. Jangan berani-berani pulang sendiri pakai taksi. Bahaya."

Itu bukan permintaan maaf. Itu perintah.

Zaid bangkit dan pergi begitu saja. Langkahnya cepat. Seperti melarikan diri.

Meninggalkan Khadijah yang hanya bisa beristighfar panjang di atas sajadah mini yang ia gelar di bangku taman.

Di balik sikap dinginnya, di balik kata-kata ketusnya, Zaid tidak sadar bahwa ia baru saja mulai membangun benteng perlindungan untuk istrinya.

Untuk pertama kalinya.

Meski caranya masih sangat berantakan. Meski caranya masih melukai.

Tapi itu langkah pertama.

Episodes
1 MAHKOTA YANG PATAH DI AMBANG ASHAR
2 DINGIN DI BALIK IJAB
3 PERGOLAKAN DI MEJA MAKAN
4 RETAKNYA DINDING KEANGKUHAN
5 PERGULATAN DI BALIK KEMUDI
6 BADAI DI JALANAN, DOA DI KEHENINGAN
7 DI BALIK TIRAI YANG TAK TERBUKA
8 LENYAPNYA BENTENG TERAKHIR
9 BIDADARI DI BALIK Fajar
10 GETARAN DI AMBANG SAJADAH
11 GERIMIS TEPUNG DI DAPUR CINTA
12 KERETA SENJA MENUJU MATARAM
13 DI BAWAH LANGIT JOGJA, AKU MEMILIHMU
14 PENYATUAN DUA HATI
15 CELOHTEH LUGU DI SERAMBI KRAKPYAK
16 PERPISAHAN DAN JANJI DI TANAH MATARAM
17 KEMBALI KE ASPAL IBU KOTA
18 GERIMIS DI BALIK JAKET KULIT
19 SETELAH BADAI MEREDA
20 DINDING KACA DAN RAHASIA YANG BOCOR
21 JEBAKAN DI BALIK DINDING KACA
22 IKRAK DI ATAS SAJADAH TUA
23 NYALIKAN SUMBU DI TENGAH TENANG
24 KELULUSAN DAN KETUKAN PALU TAKDIR
25 RUMAH DI ATAS SAJADAH YANG SAMA
26 BAYANG-BAYANG DI BALIK PINTU BENGKEL
27 BISIKAN DI BALIK KACA GELAP
28 DARI BALIK SAMPUL HIJAU
29 SERIGALA BERJAS RAPI
30 CAHAYA DI BALIK BADAI
31 UJI KELAYAKAN SEORANG AYAH
32 BISIKAN DI BALIK USG DAN UJIAN CINTA
33 DUA DUNIA DI UJUNG JALAN
34 KETUKAN PALU KEADILAN
35 GEMA TAFSYIR DI BAWAH REMBULAN
36 BADAI DI BALIK DINDING BENGKEL
37 PERTARUNGAN DI PUSAT BADAI
38 CAHAYA DI BALIK PINTU PEMULIHAN
39 AQIQAH DAN JEJAK-JEJAK KEBAIKAN
40 FOKUS BARU DI BALIK MASA GELEGAR
41 BENIH PERUBAHAN DI PINGGIRAN KOTA
42 BENTENG DI TENAH GELOMBANG
43 KEBENARAN DI ATAS MEJA HIJAU
44 BAYANG-BAYANG DI LORONG LBH
45 PUNCAK BADAI DAN KEAJAIBAN TANGAN DINGIN
46 HARAPAN DI LORONG PENGABDIAN
47 GELOMBANG BARU DAN JALAN KETENANGAN
48 JEJAK KEBENARAN DI BATAS SAMUDRA
49 KEMENANGAN MUTLAK DAN MUARA KEDAMAIAN
50 GELOMBANG BARU DI TEPI PANTAI
51 ANCAMAN DARI SEBERANG LAUTAN
52 GURITA FINANSIAL DAN STRATEGI PERTAMA
53 PERANGKAP DENGAN UMPAN EMAS
54 BAYANG-BAYANG DI TANAH PASEH
55 GELOMBANG DI KAKI GUNUNG
56 JEJAK HITAM DI PUSAT KOTA
57 GULITA DI UJUNG BADAI
58 SERANGAN DI BALIK MEJA HIJAU
59 JEJAK GELAP DAN DINDING KACA
60 BADAI DI BALIK MEJA HIJAU
61 JEJAK UANG DI BALIK BAYANGAN
62 KEMBALINYA SANG PELINDUNG
Episodes

Updated 62 Episodes

1
MAHKOTA YANG PATAH DI AMBANG ASHAR
2
DINGIN DI BALIK IJAB
3
PERGOLAKAN DI MEJA MAKAN
4
RETAKNYA DINDING KEANGKUHAN
5
PERGULATAN DI BALIK KEMUDI
6
BADAI DI JALANAN, DOA DI KEHENINGAN
7
DI BALIK TIRAI YANG TAK TERBUKA
8
LENYAPNYA BENTENG TERAKHIR
9
BIDADARI DI BALIK Fajar
10
GETARAN DI AMBANG SAJADAH
11
GERIMIS TEPUNG DI DAPUR CINTA
12
KERETA SENJA MENUJU MATARAM
13
DI BAWAH LANGIT JOGJA, AKU MEMILIHMU
14
PENYATUAN DUA HATI
15
CELOHTEH LUGU DI SERAMBI KRAKPYAK
16
PERPISAHAN DAN JANJI DI TANAH MATARAM
17
KEMBALI KE ASPAL IBU KOTA
18
GERIMIS DI BALIK JAKET KULIT
19
SETELAH BADAI MEREDA
20
DINDING KACA DAN RAHASIA YANG BOCOR
21
JEBAKAN DI BALIK DINDING KACA
22
IKRAK DI ATAS SAJADAH TUA
23
NYALIKAN SUMBU DI TENGAH TENANG
24
KELULUSAN DAN KETUKAN PALU TAKDIR
25
RUMAH DI ATAS SAJADAH YANG SAMA
26
BAYANG-BAYANG DI BALIK PINTU BENGKEL
27
BISIKAN DI BALIK KACA GELAP
28
DARI BALIK SAMPUL HIJAU
29
SERIGALA BERJAS RAPI
30
CAHAYA DI BALIK BADAI
31
UJI KELAYAKAN SEORANG AYAH
32
BISIKAN DI BALIK USG DAN UJIAN CINTA
33
DUA DUNIA DI UJUNG JALAN
34
KETUKAN PALU KEADILAN
35
GEMA TAFSYIR DI BAWAH REMBULAN
36
BADAI DI BALIK DINDING BENGKEL
37
PERTARUNGAN DI PUSAT BADAI
38
CAHAYA DI BALIK PINTU PEMULIHAN
39
AQIQAH DAN JEJAK-JEJAK KEBAIKAN
40
FOKUS BARU DI BALIK MASA GELEGAR
41
BENIH PERUBAHAN DI PINGGIRAN KOTA
42
BENTENG DI TENAH GELOMBANG
43
KEBENARAN DI ATAS MEJA HIJAU
44
BAYANG-BAYANG DI LORONG LBH
45
PUNCAK BADAI DAN KEAJAIBAN TANGAN DINGIN
46
HARAPAN DI LORONG PENGABDIAN
47
GELOMBANG BARU DAN JALAN KETENANGAN
48
JEJAK KEBENARAN DI BATAS SAMUDRA
49
KEMENANGAN MUTLAK DAN MUARA KEDAMAIAN
50
GELOMBANG BARU DI TEPI PANTAI
51
ANCAMAN DARI SEBERANG LAUTAN
52
GURITA FINANSIAL DAN STRATEGI PERTAMA
53
PERANGKAP DENGAN UMPAN EMAS
54
BAYANG-BAYANG DI TANAH PASEH
55
GELOMBANG DI KAKI GUNUNG
56
JEJAK HITAM DI PUSAT KOTA
57
GULITA DI UJUNG BADAI
58
SERANGAN DI BALIK MEJA HIJAU
59
JEJAK GELAP DAN DINDING KACA
60
BADAI DI BALIK MEJA HIJAU
61
JEJAK UANG DI BALIK BAYANGAN
62
KEMBALINYA SANG PELINDUNG

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!