"Kak, proyek ini menyangkut ribuan karyawan." Saras menatap kakaknya dengan sorot mata penuh permohonan sekaligus frustrasi. "Di perusahaan, Papa sedang menghadapi krisis, Kak. Please... hanya minum segelas doang."
Chantika menggenggam gelas itu lebih erat sebelum akhirnya meneguk isinya hingga tandas.
"Jika ada yang mulai gak beres, aku harus segera pergi." Itulah yang ada di kepalanya.
Senyum tipis terukir di sudut bibir Bryan. "Bagus."
Saras ikut tersenyum. "Kalau begitu, sekarang kita bisa lanjut membicarakan investasi, 'kan?"
"Tentu." Bryan mengangguk pelan. "Tapi sebelumnya, Nona Saras, aku mau meminta bantuanmu mengambil dokumen proposal yang tertinggal di mobilku. Aku baru ingat, asistenku menitipkannya di sana."
"Tentu." Saras langsung berdiri.
"Biar Kakak saja, Ras." Chantika ikut berdiri.
"Nona Chantika tetap di sini saja," kata Bryan. "Aku sekalian ingin mengenal calon rekan bisnis keluargamu."
"Kak, temani sebentar ya," pinta Saras. Ia mendekat ke kakaknya, lalu berbisik, "Kakak bisa berkelahi. Jika ada apa-apa Kakak bisa membela diri. Sedangkan aku... Kakak gak mau terjadi apa-apa 'kan sama adikmu ini?"
Lalu tanpa menunggu jawaban dari kakaknya Saras segera meraih kunci dari Bryan, kemudian keluar dari kamar.
Mau tak mau Chantika kembali duduk. Karena yang dikatakan adiknya memang masuk akal.
Begitu pintu tertutup, pandangan Bryan beralih pada Chantika. "Aku dengar... putri tertua keluarga Rahardja memilih menjadi seorang polwan. Itu kamu, bukan?"
"Benar."
Namun, sebelum sempat melanjutkan kalimatnya, kepala Chantika mendadak terasa berat. Pandangannya mulai berputar. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
"Maaf... saya permisi sebentar."
Ia berusaha berdiri. Namun, baru beberapa langkah, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terhuyung.
Bryan memerhatikan perubahan pada wajah Chantika. Kedua pipi gadis itu mulai memerah. Napasnya sedikit memburu, sementara sorot matanya perlahan kehilangan fokus.
Sudut bibir Bryan bergerak samar, nyaris tak terlihat. Lalu bergumam pelan, nyaris berbisik, "Akhirnya bekerja juga."
Chantika mengerjapkan mata beberapa kali. Kepalanya terasa semakin berat.
"Apa... yang kau masukkan ke dalam minuman itu?" suaranya mulai melemah.
"Aku hanya ingin kita bisa berbincang dengan lebih santai." Bryan bangkit dari sofa, lalu melangkah perlahan mendekatinya.
Spontan Chantika mundur selangkah. "Jangan mendekat."
"Tenang saja." Bryan masih tersenyum. "Aku tidak akan menyakitimu."
Tatapan Chantika berubah tajam. Meski pandangannya mulai kabur, nalurinya sebagai penegak hukum menangkap bahaya yang terpancar dari pria itu.
"Kau bohong."
Bryan terus mendekat. "Kau cantik, Nona Chantika. Sangat disayangkan kalau malam ini berakhir begitu saja."
Ia mengulurkan tangan hendak menyentuh pipi Chantika.
Plak!
Chantika menepis tangan itu sekuat tenaga. "Jangan sentuh aku!"
Bryan mengembuskan napas kesal. "Kau masih bisa melawan rupanya."
"Kalau kau mendekat lagi, aku akan menangkapmu," ancam Chantika.
Ucapan itu justru membuat Bryan tertawa. "Menangkapku? Lihat dirimu dulu."
Bryan malah menerjang.
Meski tubuhnya limbung, refleks Chantika masih terlatih. Begitu Bryan meraih lengannya, Chantika memutar tubuh, melepaskan cengkeraman lawan, lalu menghantam siku pria itu.
Brak!
Bryan terdorong menghantam meja. Tanpa memberi kesempatan, Chantika menendang lututnya. Pria itu kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut.
"Sial!"
Chantika memanfaatkan kesempatan itu. Dengan napas tersengal, ia berlari menuju pintu.
"Berhenti!"
Bryan berusaha mengejar, tetapi benturan tadi membuat langkahnya lambat. Namun ia berhasil menarik ujung blouse Chantika.
Tak ingin terus di kejar, dengan gerakan goyah Chantika menendang perut Bryan. Lalu--
BUGH!
Chantika memukul tengkuk pria itu. Dalam hitungan detik Bryan kehilangan kesadaran. Dan--
BRUK!
Tubuh Bryan jatuh ke lantai.
Chantika membuka pintu dan berlari keluar. Lorong hotel tampak berputar di depan matanya. Lampu di langit-langit seperti titik-titik cahaya. Namun ia terus memaksa kedua kakinya melangkah meski tubuhnya semakin lemah.
"Aku... harus bertemu dokter...."
Langkahnya mulai sempoyongan. Dinding menjadi satu-satunya penopang agar ia tidak jatuh.
Dengan tangan gemetar, ia membuka tasnya, mencari ponsel.
"Sial!" umpatnya pelan.
Sebelum meminum wine itu, ia memang sudah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Jika terjadi sesuatu, ia akan segera menghubungi rekan kerja atau kantor polisi. Namun, ponselnya hilang.
"Siapa yang ngambil?"
Kepalanya semakin berat. Ia tak punya waktu memikirkan jawabannya.
Tangannya meraba setiap pintu kamar yang dilewatinya, berharap menemukan seseorang yang bisa dimintai pertolongan.
Hingga akhirnya, telapak tangannya menekan sebuah pintu yang ternyata tidak terkunci.
Klik.
Pintu itu terbuka ke dalam. Tubuh Chantika kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung beberapa langkah sebelum akhirnya jatuh ke arah seorang pria yang baru saja keluar dari ruang tengah kamar.
Pria itu refleks menangkap tubuhnya.
Mata Chantika yang mulai berat berusaha menatap wajah pria tersebut, tetapi semuanya terlihat buram.
"Tolong...."
Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari bibirnya sebelum kesadarannya benar-benar menghilang di dalam pelukan pria asing itu.
Tangannya tanpa sengaja menyentuh kulit dada pria yang mengenakan kimono tidur itu. Anehnya, ia merasakan ketenangan dari sentuhan tersebut.
"Nona, apa kau sadar dengan yang kau lakukan?" tanya pria itu dengan suara rendah.
"Panas," gumam Chantika. Tubuhnya tampak gelisah. "Tolong aku...."
Ia menempelkan pipinya di dada Enzo yang, entah mengapa, terasa begitu nyaman. Tangannya bergerak tanpa sadar di atas dada bidang pria itu.
Enzo, yang biasanya sangat benci disentuh wanita, entah mengapa kali ini justru tak mampu menjauh dari gadis yang telah lancang menyentuh tubuhnya.
"Bantu aku...." Chantika menarik leher pria itu, lalu mengecup bibirnya.
Enzo mengepalkan tangan saat Chantika menciumnya semakin agresif. Ia tak ingin memanfaatkan gadis yang jelas sedang berada di bawah pengaruh obat itu. Namun, entah mengapa jantungnya justru berdegup kencang dan darahnya mengalir lebih cepat. Hal yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Matanya terpejam, berusaha meredakan gejolak dalam dirinya. Namun....
"Kau yang menggodaku. Jadi, jangan salahkan aku."
Tanpa aba-aba, Enzo melingkarkan lengannya di bawah bokong Chantika dan mengangkat tubuh gadis itu. Dengan kakinya, ia menutup pintu, lalu membawa Chantika ke atas ranjang.
...🔸🔸🔸...
..."Takdir sering kali datang bukan melalui jalan yang indah, melainkan melalui pengkhianatan yang tak pernah kita duga."...
..."Orang yang berniat menjatuhkanmu mungkin berhasil membuatmu tersandung, tetapi takdir tetap mampu membawamu kepada seseorang yang telah dipersiapkan untukmu."...
..."Ada pintu yang kita buka karena putus asa, tanpa menyadari bahwa di baliknya, hidup kita akan berubah selamanya."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 129 Episodes
Comments
asih
adik tiri luknut pingen dapat investasi tapi mengorbankan kakanya sendiri ,, membalas kebaikan dengan kevurukan hanya Karna iri dan ingin di puji, hanya Karna sebuah jabatan menghancurkan org lain, kenapa tidak dirimu sendiri Aja yang menyerahkan dirimu pada pria belang itu
ayo Enzo serang jangan kasih ampun terus kalàu sudah kau tanggung jawab ya jangan slenco dan lari Loh
2026-07-07
5
Anonim
Bryan basa-basi dulu bicara sama Chantika.
Obat sudah bekerja di organ tubuh Chantika. Tubuhnya kehilangan keseimbangan ketika melangkah mau pergi.
Kepala makin berat, sorot matanya kehilangan fokus
Tapi Chantika masih sadar, bertanya minumannya dimasukin apa sama Bryan.
Chantika masih kuat menepis tangan Bryan yang hendak menyentuh pipinya.
Chantika si polwan cantik, meski tubuhnya limbung, tidak membiarkan Bryan begitu saja menyentuh dirinya. Dihajarlah Bryan. Sampai terdorong tubuhnya menghantam meja dan jatuh berlutut.
Chantika dengan nafas tersengal memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari menuju pintu.
Akibat benturan tadi, dengan langkah lambat Bryan berusaha mengejar. Berhasil menarik ujung blus Chantika.
2026-07-26
1
Anonim
Saras terus memaksa kakaknya untuk minum wine.
Waah Chantika, diminum juga wine yang sudah dicampur obat laknat.
Chantika sadar apa yang dia minum. Pikirannya, jika ada yang mulai gak beres, dia harus segera pergi.
Bryan senang jebakannya mengena Chantika.
Boro-boro lanjut membicarakan investasi. Mana mau Bryan begitu. Yang ada Saras disingkirkan dari kamar itu.
Saras semangat dimintai tolong mengambil dokumen proposal Bryan yang tertinggal di mobil.
Dia belum tahu kakaknya kena jebakan Bryan.
2026-07-25
1