2. Pertolongan dari Pintu yang Salah

"Kak, proyek ini menyangkut ribuan karyawan." Saras menatap kakaknya dengan sorot mata penuh permohonan sekaligus frustrasi. "Di perusahaan, Papa sedang menghadapi krisis, Kak. Please... hanya minum segelas doang."

Chantika menggenggam gelas itu lebih erat sebelum akhirnya meneguk isinya hingga tandas.

"Jika ada yang mulai gak beres, aku harus segera pergi." Itulah yang ada di kepalanya.

Senyum tipis terukir di sudut bibir Bryan. "Bagus."

Saras ikut tersenyum. "Kalau begitu, sekarang kita bisa lanjut membicarakan investasi, 'kan?"

"Tentu." Bryan mengangguk pelan. "Tapi sebelumnya, Nona Saras, aku mau meminta bantuanmu mengambil dokumen proposal yang tertinggal di mobilku. Aku baru ingat, asistenku menitipkannya di sana."

"Tentu." Saras langsung berdiri.

"Biar Kakak saja, Ras." Chantika ikut berdiri.

"Nona Chantika tetap di sini saja," kata Bryan. "Aku sekalian ingin mengenal calon rekan bisnis keluargamu."

"Kak, temani sebentar ya," pinta Saras. Ia mendekat ke kakaknya, lalu berbisik, "Kakak bisa berkelahi. Jika ada apa-apa Kakak bisa membela diri. Sedangkan aku... Kakak gak mau terjadi apa-apa 'kan sama adikmu ini?"

Lalu tanpa menunggu jawaban dari kakaknya Saras segera meraih kunci dari Bryan, kemudian keluar dari kamar.

Mau tak mau Chantika kembali duduk. Karena yang dikatakan adiknya memang masuk akal.

Begitu pintu tertutup, pandangan Bryan beralih pada Chantika. "Aku dengar... putri tertua keluarga Rahardja memilih menjadi seorang polwan. Itu kamu, bukan?"

"Benar."

Namun, sebelum sempat melanjutkan kalimatnya, kepala Chantika mendadak terasa berat. Pandangannya mulai berputar. Jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.

"Maaf... saya permisi sebentar."

Ia berusaha berdiri. Namun, baru beberapa langkah, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terhuyung.

Bryan memerhatikan perubahan pada wajah Chantika. Kedua pipi gadis itu mulai memerah. Napasnya sedikit memburu, sementara sorot matanya perlahan kehilangan fokus.

Sudut bibir Bryan bergerak samar, nyaris tak terlihat. Lalu bergumam pelan, nyaris berbisik, "Akhirnya bekerja juga."

Chantika mengerjapkan mata beberapa kali. Kepalanya terasa semakin berat.

"Apa... yang kau masukkan ke dalam minuman itu?" suaranya mulai melemah.

"Aku hanya ingin kita bisa berbincang dengan lebih santai." Bryan bangkit dari sofa, lalu melangkah perlahan mendekatinya.

Spontan Chantika mundur selangkah. "Jangan mendekat."

"Tenang saja." Bryan masih tersenyum. "Aku tidak akan menyakitimu."

Tatapan Chantika berubah tajam. Meski pandangannya mulai kabur, nalurinya sebagai penegak hukum menangkap bahaya yang terpancar dari pria itu.

"Kau bohong."

Bryan terus mendekat. "Kau cantik, Nona Chantika. Sangat disayangkan kalau malam ini berakhir begitu saja."

Ia mengulurkan tangan hendak menyentuh pipi Chantika.

Plak!

Chantika menepis tangan itu sekuat tenaga. "Jangan sentuh aku!"

Bryan mengembuskan napas kesal. "Kau masih bisa melawan rupanya."

"Kalau kau mendekat lagi, aku akan menangkapmu," ancam Chantika.

Ucapan itu justru membuat Bryan tertawa. "Menangkapku? Lihat dirimu dulu."

Bryan malah menerjang.

Meski tubuhnya limbung, refleks Chantika masih terlatih. Begitu Bryan meraih lengannya, Chantika memutar tubuh, melepaskan cengkeraman lawan, lalu menghantam siku pria itu.

Brak!

Bryan terdorong menghantam meja. Tanpa memberi kesempatan, Chantika menendang lututnya. Pria itu kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut.

"Sial!"

Chantika memanfaatkan kesempatan itu. Dengan napas tersengal, ia berlari menuju pintu.

"Berhenti!"

Bryan berusaha mengejar, tetapi benturan tadi membuat langkahnya lambat. Namun ia berhasil menarik ujung blouse Chantika.

Tak ingin terus di kejar, dengan gerakan goyah Chantika menendang perut Bryan. Lalu--

BUGH!

Chantika memukul tengkuk pria itu. Dalam hitungan detik Bryan kehilangan kesadaran. Dan--

BRUK!

Tubuh Bryan jatuh ke lantai.

Chantika membuka pintu dan berlari keluar. Lorong hotel tampak berputar di depan matanya. Lampu di langit-langit seperti titik-titik cahaya. Namun ia terus memaksa kedua kakinya melangkah meski tubuhnya semakin lemah.

"Aku... harus bertemu dokter...."

Langkahnya mulai sempoyongan. Dinding menjadi satu-satunya penopang agar ia tidak jatuh.

Dengan tangan gemetar, ia membuka tasnya, mencari ponsel.

"Sial!" umpatnya pelan.

Sebelum meminum wine itu, ia memang sudah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Jika terjadi sesuatu, ia akan segera menghubungi rekan kerja atau kantor polisi. Namun, ponselnya hilang.

"Siapa yang ngambil?"

Kepalanya semakin berat. Ia tak punya waktu memikirkan jawabannya.

Tangannya meraba setiap pintu kamar yang dilewatinya, berharap menemukan seseorang yang bisa dimintai pertolongan.

Hingga akhirnya, telapak tangannya menekan sebuah pintu yang ternyata tidak terkunci.

Klik.

Pintu itu terbuka ke dalam. Tubuh Chantika kehilangan keseimbangan. Ia terhuyung beberapa langkah sebelum akhirnya jatuh ke arah seorang pria yang baru saja keluar dari ruang tengah kamar.

Pria itu refleks menangkap tubuhnya.

Mata Chantika yang mulai berat berusaha menatap wajah pria tersebut, tetapi semuanya terlihat buram.

"Tolong...."

Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari bibirnya sebelum kesadarannya benar-benar menghilang di dalam pelukan pria asing itu.

Tangannya tanpa sengaja menyentuh kulit dada pria yang mengenakan kimono tidur itu. Anehnya, ia merasakan ketenangan dari sentuhan tersebut.

"Nona, apa kau sadar dengan yang kau lakukan?" tanya pria itu dengan suara rendah.

"Panas," gumam Chantika. Tubuhnya tampak gelisah. "Tolong aku...."

Ia menempelkan pipinya di dada Enzo yang, entah mengapa, terasa begitu nyaman. Tangannya bergerak tanpa sadar di atas dada bidang pria itu.

Enzo, yang biasanya sangat benci disentuh wanita, entah mengapa kali ini justru tak mampu menjauh dari gadis yang telah lancang menyentuh tubuhnya.

"Bantu aku...." Chantika menarik leher pria itu, lalu mengecup bibirnya.

Enzo mengepalkan tangan saat Chantika menciumnya semakin agresif. Ia tak ingin memanfaatkan gadis yang jelas sedang berada di bawah pengaruh obat itu. Namun, entah mengapa jantungnya justru berdegup kencang dan darahnya mengalir lebih cepat. Hal yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Matanya terpejam, berusaha meredakan gejolak dalam dirinya. Namun....

"Kau yang menggodaku. Jadi, jangan salahkan aku."

Tanpa aba-aba, Enzo melingkarkan lengannya di bawah bokong Chantika dan mengangkat tubuh gadis itu. Dengan kakinya, ia menutup pintu, lalu membawa Chantika ke atas ranjang.

 

...🔸🔸🔸...

..."Takdir sering kali datang bukan melalui jalan yang indah, melainkan melalui pengkhianatan yang tak pernah kita duga."...

..."Orang yang berniat menjatuhkanmu mungkin berhasil membuatmu tersandung, tetapi takdir tetap mampu membawamu kepada seseorang yang telah dipersiapkan untukmu."...

..."Ada pintu yang kita buka karena putus asa, tanpa menyadari bahwa di baliknya, hidup kita akan berubah selamanya."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

asih

asih

adik tiri luknut pingen dapat investasi tapi mengorbankan kakanya sendiri ,, membalas kebaikan dengan kevurukan hanya Karna iri dan ingin di puji, hanya Karna sebuah jabatan menghancurkan org lain, kenapa tidak dirimu sendiri Aja yang menyerahkan dirimu pada pria belang itu


ayo Enzo serang jangan kasih ampun terus kalàu sudah kau tanggung jawab ya jangan slenco dan lari Loh

2026-07-07

5

Anonim

Anonim

Bryan basa-basi dulu bicara sama Chantika.

Obat sudah bekerja di organ tubuh Chantika. Tubuhnya kehilangan keseimbangan ketika melangkah mau pergi.

Kepala makin berat, sorot matanya kehilangan fokus

Tapi Chantika masih sadar, bertanya minumannya dimasukin apa sama Bryan.

Chantika masih kuat menepis tangan Bryan yang hendak menyentuh pipinya.

Chantika si polwan cantik, meski tubuhnya limbung, tidak membiarkan Bryan begitu saja menyentuh dirinya. Dihajarlah Bryan. Sampai terdorong tubuhnya menghantam meja dan jatuh berlutut.

Chantika dengan nafas tersengal memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari menuju pintu.

Akibat benturan tadi, dengan langkah lambat Bryan berusaha mengejar. Berhasil menarik ujung blus Chantika.

2026-07-26

1

Anonim

Anonim

Saras terus memaksa kakaknya untuk minum wine.

Waah Chantika, diminum juga wine yang sudah dicampur obat laknat.

Chantika sadar apa yang dia minum. Pikirannya, jika ada yang mulai gak beres, dia harus segera pergi.

Bryan senang jebakannya mengena Chantika.

Boro-boro lanjut membicarakan investasi. Mana mau Bryan begitu. Yang ada Saras disingkirkan dari kamar itu.

Saras semangat dimintai tolong mengambil dokumen proposal Bryan yang tertinggal di mobil.

Dia belum tahu kakaknya kena jebakan Bryan.

2026-07-25

1

lihat semua
Episodes
1 1. Segelas Pengkhianatan
2 2. Pertolongan dari Pintu yang Salah
3 3. Rencana yang Berantakan
4 4. Takdir Tak Bisa Dijebak
5 5. Harga Sebuah Ambisi
6 6. Takdir yang Tak Terduga
7 7. Ketagihan
8 8. Wanita Pertama Tuan Enzo
9 9. Harga Sebuah Kesepakatan
10 10. Sidik Jari Sang Nyonya
11 11. Wanita yang Diakui Sang CEO
12 12. Kebenaran yang Tertunda
13 13. Identitas yang Kusimpan
14 14. Rahasia di Balik Pria Biasa
15 15. Pria Biasa dengan Rahasia Luar Biasa
16 16. Makan Malam Pertama
17 17.Ketika Dua Dunia Bertemu
18 18. Rindu yang Menyusup di Tengah Malam
19 19. Rumah Bernama Kamu
20 20. Selangkah Menuju Pernikahan
21 21. Jejak yang Tak Sinkron
22 22. Jejak yang Tak Sesederhana Dugaan
23 23. Jejak yang Tak Sesederhana Dugaan
24 24. Jejak Kebenaran dan Sebuah Lamaran
25 25. Sebelum Lamaran Itu Datang
26 26. Kejujuran Seorang Putri
27 27. CEO atau Staf Biasa?
28 28. Restu di Ambang Lamaran
29 29. Akses ke Keluarga Rahardja
30 30. Lamaran Seorang Staf Biasa
31 31. Siapa Kamu Sebenarnya?
32 32. Ujian Tanpa Gelar
33 33. Keputusan Rahardja
34 34.Keputusan Seorang Ayah
35 35. Hasrat Memiliki
36 36. Kecurigaan Saras
37 37. Rahasia di Balik Tirai
38 38. Rahasia yang Tak Terbukti
39 39. Bukan Sekadar Kontrak
40 40. Profesionalisme Seorang Enzo
41 41. Rahasia Calon Menantu
42 42. Jejak yang Disembunyikan
43 43. Jejak yang Mulai Diburu
44 44. Satu Langkah Sebelum Pernikahan
45 45. Jebakan Sebuah Kepercayaan
46 46. Janji di Tengah Ancaman
47 47. Janji di Gerbang Kehormatan
48 48. Selangkah Lebih Dulu
49 49. Target Bernama The Ghost
50 50. Rumah Bernama Kamu
51 51. Senyum yang Mulai Terusik
52 52. Badai Mulai Bergerak
53 53. Dua Wajah Seorang Enzo
54 54. Saat Sang Ghost Kembali
55 55. Topeng Sang Legenda
56 56. Di Balik Topeng Putih
57 57. Saat Rasa Penasaran Tumbuh
58 58. Jejak yang Mengarah Padanya
59 59. Jejak yang Sengaja Dihapus
60 60. Jejak Menuju Gudang Timur
61 61. Sedetik Sebelum Peluru
62 62. Kelemahan Sang Hantu
63 63. Jejak yang Mulai Terbaca
64 64. Di Antara Hangat dan Bahaya
65 65. Semakin Dekat dengan Rahasia
66 66. Semakin Dekat, Semakin Jauh
67 67. Jabatan Bukan Warisan
68 68. Jalur Mundur yang Tertutup
69 69. Di Tengah Kepungan
70 70. Sandera di Tengah Baku Tembak
71 71. Sang Penembak Misterius
72 72. Puzzle Sang Pemburu
73 73. Tempat untuk Pulang
74 74. Musuh yang Mulai Memahami
75 75. Pertanyaan Rahardja
76 76. Pelajaran Tentang Hormat
77 77. Lawan yang Akhirnya Berhadapan
78 78. Duel Tanpa Peluru
79 79. Mencari Celah
80 80. Celah yang Tak Akan Diberikan
81 81. Menjaga Batas
82 82. Batas yang Tak Boleh Dilanggar
83 83. Rumah yang Harus Dilindungi
84 84. Dua Garis, Dua Takdir
85 85. Pilihan yang Menyesakkan
86 86. Rahasia yang Tersingkap
87 87. Pilihlah Jujur
88 88. Tiga Bulan yang Terlambat
89 89. Seorang Ayah Menagih Pertanggungjawaban
90 90. Harga Sebuah Tanggung Jawab
91 91. Di Antara Dosa dan Tanggung Jawab
92 92. Takdir yang Enggan Pergi
93 93. Badai Baru di Ambang Pintu
94 94. Tanggung Jawab yang Tak Bisa Ditunda
95 95. Bukan Bagian dari Rahardja
96 96. Hak yang Tak Boleh Dirampas
97 97. Tanggung Jawab Tak Bisa Dipindahkan
98 98. Kejujuran yang Pahit
99 99. Restu yang Bukan Karena Kepercayaan
100 100. Langkah Bryan Dimulai
101 101. Umpan untuk Sang Hantu
102 102. Jebakan di Balik Penyergapan
103 103.
104 104. Kelemahan Sang Ghost
105 105. Satu Luka, Satu Petunjuk
106 106. Dua Jejak, Satu Identitas
107 107. Aroma yang Terlalu Familiar
108 108. Ingatan yang Terkubur
109 109. Saudara di Balik Topeng
110 110. Di Antara Hukum dan Keadilan
111 111. Kebohongan yang Mulai Terlihat
112 112. Pintu yang Dibuka dari Dalam
113 113. Langkah yang Membuka Rahasia
114 114. Satu Nama yang Mengubah Segalanya
115 115. Di Antara Hukum dan Keadilan
116 116. Antara Cinta dan Hukum
117 117. Tak Ada Lagi Rahasia
118 118. Keluarga yang Akhirnya Kembali
119 119. Jalan Keluar yang Salah
120 120. Kasih Sayang Bukan Hak Waris
121 121. Kesempatan Sebelum Hukum Datang
122 122. Pertanyaan Seorang Ayah
123 123. Antara Penyesalan dan Perburuan
124 124. Batas Baru Sang Bayangan
125 125. Tak Ada Lagi Tempat Bersembunyi
126 126. Belajar Berdiri Sendiri
127 127. Alasan Baru Sang Bayangan
128 128. SUAMIMU BUKAN SUAMIMU
129 129. Pada Akhirnya, Kita Memilih
Episodes

Updated 129 Episodes

1
1. Segelas Pengkhianatan
2
2. Pertolongan dari Pintu yang Salah
3
3. Rencana yang Berantakan
4
4. Takdir Tak Bisa Dijebak
5
5. Harga Sebuah Ambisi
6
6. Takdir yang Tak Terduga
7
7. Ketagihan
8
8. Wanita Pertama Tuan Enzo
9
9. Harga Sebuah Kesepakatan
10
10. Sidik Jari Sang Nyonya
11
11. Wanita yang Diakui Sang CEO
12
12. Kebenaran yang Tertunda
13
13. Identitas yang Kusimpan
14
14. Rahasia di Balik Pria Biasa
15
15. Pria Biasa dengan Rahasia Luar Biasa
16
16. Makan Malam Pertama
17
17.Ketika Dua Dunia Bertemu
18
18. Rindu yang Menyusup di Tengah Malam
19
19. Rumah Bernama Kamu
20
20. Selangkah Menuju Pernikahan
21
21. Jejak yang Tak Sinkron
22
22. Jejak yang Tak Sesederhana Dugaan
23
23. Jejak yang Tak Sesederhana Dugaan
24
24. Jejak Kebenaran dan Sebuah Lamaran
25
25. Sebelum Lamaran Itu Datang
26
26. Kejujuran Seorang Putri
27
27. CEO atau Staf Biasa?
28
28. Restu di Ambang Lamaran
29
29. Akses ke Keluarga Rahardja
30
30. Lamaran Seorang Staf Biasa
31
31. Siapa Kamu Sebenarnya?
32
32. Ujian Tanpa Gelar
33
33. Keputusan Rahardja
34
34.Keputusan Seorang Ayah
35
35. Hasrat Memiliki
36
36. Kecurigaan Saras
37
37. Rahasia di Balik Tirai
38
38. Rahasia yang Tak Terbukti
39
39. Bukan Sekadar Kontrak
40
40. Profesionalisme Seorang Enzo
41
41. Rahasia Calon Menantu
42
42. Jejak yang Disembunyikan
43
43. Jejak yang Mulai Diburu
44
44. Satu Langkah Sebelum Pernikahan
45
45. Jebakan Sebuah Kepercayaan
46
46. Janji di Tengah Ancaman
47
47. Janji di Gerbang Kehormatan
48
48. Selangkah Lebih Dulu
49
49. Target Bernama The Ghost
50
50. Rumah Bernama Kamu
51
51. Senyum yang Mulai Terusik
52
52. Badai Mulai Bergerak
53
53. Dua Wajah Seorang Enzo
54
54. Saat Sang Ghost Kembali
55
55. Topeng Sang Legenda
56
56. Di Balik Topeng Putih
57
57. Saat Rasa Penasaran Tumbuh
58
58. Jejak yang Mengarah Padanya
59
59. Jejak yang Sengaja Dihapus
60
60. Jejak Menuju Gudang Timur
61
61. Sedetik Sebelum Peluru
62
62. Kelemahan Sang Hantu
63
63. Jejak yang Mulai Terbaca
64
64. Di Antara Hangat dan Bahaya
65
65. Semakin Dekat dengan Rahasia
66
66. Semakin Dekat, Semakin Jauh
67
67. Jabatan Bukan Warisan
68
68. Jalur Mundur yang Tertutup
69
69. Di Tengah Kepungan
70
70. Sandera di Tengah Baku Tembak
71
71. Sang Penembak Misterius
72
72. Puzzle Sang Pemburu
73
73. Tempat untuk Pulang
74
74. Musuh yang Mulai Memahami
75
75. Pertanyaan Rahardja
76
76. Pelajaran Tentang Hormat
77
77. Lawan yang Akhirnya Berhadapan
78
78. Duel Tanpa Peluru
79
79. Mencari Celah
80
80. Celah yang Tak Akan Diberikan
81
81. Menjaga Batas
82
82. Batas yang Tak Boleh Dilanggar
83
83. Rumah yang Harus Dilindungi
84
84. Dua Garis, Dua Takdir
85
85. Pilihan yang Menyesakkan
86
86. Rahasia yang Tersingkap
87
87. Pilihlah Jujur
88
88. Tiga Bulan yang Terlambat
89
89. Seorang Ayah Menagih Pertanggungjawaban
90
90. Harga Sebuah Tanggung Jawab
91
91. Di Antara Dosa dan Tanggung Jawab
92
92. Takdir yang Enggan Pergi
93
93. Badai Baru di Ambang Pintu
94
94. Tanggung Jawab yang Tak Bisa Ditunda
95
95. Bukan Bagian dari Rahardja
96
96. Hak yang Tak Boleh Dirampas
97
97. Tanggung Jawab Tak Bisa Dipindahkan
98
98. Kejujuran yang Pahit
99
99. Restu yang Bukan Karena Kepercayaan
100
100. Langkah Bryan Dimulai
101
101. Umpan untuk Sang Hantu
102
102. Jebakan di Balik Penyergapan
103
103.
104
104. Kelemahan Sang Ghost
105
105. Satu Luka, Satu Petunjuk
106
106. Dua Jejak, Satu Identitas
107
107. Aroma yang Terlalu Familiar
108
108. Ingatan yang Terkubur
109
109. Saudara di Balik Topeng
110
110. Di Antara Hukum dan Keadilan
111
111. Kebohongan yang Mulai Terlihat
112
112. Pintu yang Dibuka dari Dalam
113
113. Langkah yang Membuka Rahasia
114
114. Satu Nama yang Mengubah Segalanya
115
115. Di Antara Hukum dan Keadilan
116
116. Antara Cinta dan Hukum
117
117. Tak Ada Lagi Rahasia
118
118. Keluarga yang Akhirnya Kembali
119
119. Jalan Keluar yang Salah
120
120. Kasih Sayang Bukan Hak Waris
121
121. Kesempatan Sebelum Hukum Datang
122
122. Pertanyaan Seorang Ayah
123
123. Antara Penyesalan dan Perburuan
124
124. Batas Baru Sang Bayangan
125
125. Tak Ada Lagi Tempat Bersembunyi
126
126. Belajar Berdiri Sendiri
127
127. Alasan Baru Sang Bayangan
128
128. SUAMIMU BUKAN SUAMIMU
129
129. Pada Akhirnya, Kita Memilih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!