3. Rencana yang Berantakan

Chantika yang terpengaruh obat langsung menyambut agresif kala Enzo mengecup bibirnya. Jemarinya bergerak gelisah mencari kenyamanan di kulit pria yang kini di atasnya.

Enzo tak menyangka malam ini akan bertemu seorang gadis yang tidak membuatnya merasa risih saat disentuh. Bahkan sentuhan ini meski seperti mengantarkan arus listrik ke seluruh tubuhnya, anehnya ia malah merasa nyaman di antara hasratnya yang makn menggelora.

Tak sabar, ia menarik tali kimono tidur yang tak lagi menutupi seluruh tubuhnya karena ulah Chantika. Ia melepas dan melemparkan baju itu asal.

Ia benar-benar merasa gila. Tak menyangka bahwa mencium seorang wanita bisa membuatnya nyaman dan gelisah dalam waktu bersamaan.

"Ahh..."

Chantika mendesah ketika bibir Enzo mengecup dan menyesap kulit lehernya.

KRAK!

Enzo yang sudah tak sabar menarik blouse yang dikenakan Chantika. Ia melucuti pakaian mereka berdua hingga tak tersisa.

Pria itu mengecup setiap inci kulit putih itu. Ia menghisap ujung benda bulat yang ia temukan hingga cairan putih keluar. Tanpa ragu ia menelannya. Lidahnya terjulur menjilat cairan putih yang tertinggal di sudut bibirnya.

"Enak," gumamnya di antara deru napasnya.

Tubuh polos itu bergesekan, bertabrakan tanpa penghalang. Enzo menyelipkan jemarinya di antara jemari Chantika, menggenggamnya erat di atas kasur.

Pinggangnya bergerak semakin cepat. Napasnya memburu, jantungnya berlarian. Sumpah demi apapun ia belum pernah merasakan kenikmatan yang membuatnya merasa gila dan candu sekaligus. Gerakkannya membuat tubuh Chantika terombang ambing.

Wanita itu mendesah, bahkan memekik dalam kungkungan Enzo. Tubuh mereka bergolak, tenggelam dalam kenikmatan yang tak seharusnya mereka reguk.

Hingga akhirnya suara lenguhan panjang keduanya memenuhi ruangan. Enzo mendekap erat tubuh Chantika.

"Mulai malam ini.. Kau adalah milikku," bisik Enzo dengan napas yang belum stabil. "Wanitaku."

Enzo mengecup lembut kening Chantika yang basah oleh peluh.

Malam itu menjadi malam pertama Enzo menyentuh seorang wanita, sekaligus malam pertama ia menyerahkan dirinya pada hasrat yang selama ini selalu berhasil ia kendalikan.

Anehnya, setelah semuanya usai dan Chantika terlelap di dadanya, rasa kantuk perlahan datang menghampirinya.

Pria yang selama ini harus menelan pil tidur agar bisa beristirahat itu kini justru terlelap tanpa meminum apa pun. Entah mengapa, kehangatan dan aroma lembut tubuh Chantika menghadirkan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, hingga akhirnya ia tenggelam dalam mimpi.

***

Di kamar lain_

Bryan akhirnya tersadar. Tangannya terangkat memegang tengkuknya, lalu menyapu pandangan ke seluruh ruangan.

"Sial!"

Umpatnya begitu menyadari Chantika sudah tak ada lagi.

Ia berusaha bangkit, tetapi lutut dan perutnya masih terasa nyeri. Semua itu akibat serangan Chantika.

"Benar-benar liar," gumamnya. Salah satu sudut bibirnya perlahan terangkat. "Padahal dosis obat itu sudah cukup tinggi, tapi dia masih bisa melawan dan bahkan melumpuhkanku. Benar-benar seorang polisi."

Sesaat kemudian, senyum tipis kembali terukir di bibirnya.

"Aku jadi makin penasaran padanya."

Tatapannya kemudian beralih ke map proposal di atas meja yang tadi dibawa Saras.

"Gadis licik itu harus mengobati kekecewaanku malam ini."

Bryan mengambil ponselnya dan menghubungi Saras.

Tak lama, nada sambung terdengar.

 

Di dalam mobil yang melaju menuju rumah, Saras mengernyit saat melihat nama Bryan muncul di layar ponselnya.

"Kenapa dia menghubungiku? Bukannya sekarang seharusnya dia dan Chantika..."

Meski begitu, ia tetap menerima panggilan dan menyalakan mode pengeras suara.

"Halo, Tuan."

"Cari di mana kakakmu itu," suara Bryan terdengar dingin dari seberang. "Aku mau dia kembali ke kamarku secepatnya."

Saras mengernyit.

"Eh, Tuan. Bukankah kita sudah sepakat kalau aku hanya mengantarnya sampai ke kamar Tuan? Selebihnya itu urusan Tuan sendiri," jawabnya, tak ingin disalahkan.

Meski begitu, ia juga penasaran ke mana Chantika pergi. Bukankah tadi kakaknya sudah meminum wine yang dicampur obat?

"Aku tidak peduli," potong Bryan dingin. "Kalau malam ini dia gak kembali ke kamarku, jangan harap kau mendapat investasi dariku."

"Eh, Tuan—"

Tut... tut... tut...

Sambungan terputus. Saras mengembuskan napas kasar.

"Kenapa semuanya jadi berantakan begini? Semua ini gara-gara Chantika. Sialan."

Saras akhirnya menepikan mobilnya di tepi jalan. Ia segera menghubungi nomor Chantika. Namun, sesaat kemudian terdengar nada dering dari dalam tasnya.

"Damn!"

Saras memukul setir dengan kesal. Ia baru teringat. Saat di hotel tadi, diam-diam ia mengambil ponsel Chantika dari dalam tas kakak tirinya itu ketika perempuan tersebut sedang meneguk wine.

Tujuannya jelas. Ia tak ingin Chantika meminta bantuan kepada siapa pun. Bagaimanapun, Chantika adalah seorang polwan. Jika sempat menghubungi rekan kerja atau kantor polisi, seluruh rencananya bisa berantakan. Namun kini, justru ponsel itu menjadi masalah baginya sendiri.

"Ah! Kenapa semuanya jadi berantakan begini?"

Saras mengembuskan napas kasar, lalu menyalakan kembali mesin mobil dan memutar kemudi menuju hotel.

 

Sesampainya di sana, ia bergegas menghampiri meja resepsionis.

"Maaf, Kak. Apa Anda melihat wanita yang tadi masuk ke hotel ini bersama saya?"

Resepsionis tersenyum sopan. "Maaf, Bu. Saya kurang memerhatikan."

Saras mulai gelisah. "Kalau begitu, boleh saya melihat rekaman CCTV? Nomor kakak saya tidak bisa dihubungi. Saya takut terjadi sesuatu."

Resepsionis menggeleng pelan. "Maaf, Bu. Rekaman CCTV tidak dapat diperlihatkan kepada tamu karena merupakan kebijakan hotel. Jika memang ada keadaan darurat, saya bisa menghubungi petugas keamanan untuk membantu melakukan pengecekan."

Saras mengepalkan tangannya di balik tas. "Kalau begitu... tolong bantu saya. Kakak saya menghilang."

Melihat kepanikan di wajah Saras, resepsionis segera menghubungi petugas keamanan hotel. Tak lama kemudian, seorang petugas keamanan datang menghampiri.

"Ada yang bisa kami bantu, Bu?"

"Saya mencari kakak saya. Tadi kami datang bersama sekitar pukul delapan, tetapi sekarang dia menghilang. Saya khawatir terjadi sesuatu."

Petugas keamanan mengangguk.

"Baik, Bu. Kami akan membantu melakukan pengecekan melalui sistem CCTV internal. Namun, mohon maaf, rekamannya tidak bisa kami perlihatkan secara langsung. Jika kami menemukan keberadaan atau arah perginya, kami akan segera memberi tahu Ibu."

"Baik, tolong secepatnya, ya. Saya benar-benar khawatir," pinta Saras dengan wajah cemas.

"Baik, Bu. Mohon tunggu sebentar."

Petugas keamanan mengangguk, lalu bergegas menuju ruang kontrol CCTV. Sesampainya di sana, ia segera meminta petugas operator memutar rekaman sesuai waktu kedatangan Saras.

Layar monitor memperlihatkan Saras memasuki hotel bersama seorang wanita. Beberapa menit kemudian, Saras terlihat keluar seorang diri.

"Kembalikan sedikit," pinta petugas keamanan.

Operator mengangguk, lalu memutar ulang rekaman. Tampak jelas Saras dan wanita itu memasuki salah satu kamar VIP.

"Kamar VIP milik Tuan Bryan," gumam operator.

 

...🔸🔸🔸...

..."Tak semua langkah yang tersesat berakhir pada kehancuran. Kadang, justru di sanalah takdir mempertemukan dua jiwa yang tak pernah saling mencari."...

..."Orang yang berniat menjatuhkanmu mungkin berhasil mengubah arah hidupmu, tetapi tidak pernah bisa mengubah takdir yang telah ditetapkan untukmu."...

..."Manusia bisa menyusun rencana, tetapi takdir selalu memiliki jalan yang tak mampu ditebak siapa pun."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Anonim

Anonim

Bryan sudah sadar dari pingsan.

Yang mau dikerjain seorang polisi. Kena apes sendiri, perut dan dengkulnya masih nyeri dihajar Chantika.

Dia menghubungi Saras lewat ponselnya.

Parah nih Saras. Berarti dia mau disuruh mengambil dokumen proposal Bryan yang tertinggal di mobil itu hanya akal-akalan mereka berdua. Bukannya tadi Saras meraih kunci mobil Bryan. Kemana selanjutnya kunci itu kalau Saras terus kabur meninggalkan kakaknya ?

Saras ternyata yang mengambil ponsel Chantika.

2026-07-27

1

Fadillah Ahmad

Fadillah Ahmad

Mungkin, ini adalah pengalaman pertama, bagi Enzo dan Chsntika... 😂😂😂

Tapi, Sialnya Takdir mempertemukan Enzo dan Chsntika malah dalam sebuah insiden Cinta satu Malam. Berbeda jauh dengan Pertemian Ryu dan Seroja dulu. Yang di Pertemukan oleh takdir dengsn cara yang baik. Tanpa adamya Cinta Satu Malam Seperti ini. 😂😂😂 Memang Sial takdirmu Chsntika! 😂😂😂

Mahkota, yang selama bertahun-tahun kamu jaga, akhirnya hilang Karena Enzo! Yang sialnya, nggk pula bisa mengendalikan diri! 😂😂😂 Enzo sudah kalah, sama bujuk Rayu Iblis! 😂😂😂

2026-07-08

2

Anonim

Anonim

Enzo dan Chantika telah menyatu.

Enzo langsung mengklaim Chantika miliknya.

Enzo baru pertama kali menyentuh seorang wanita.

Chantika terlelap di dada Enzo.

Enzo pun terlelap tanpa harus menelan pil tidur yang selama ini dikonsumsi agar bisa beristirahat. Kehangatan dan aroma tubuh Chantika membuat Enzo merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

2026-07-27

1

lihat semua
Episodes
1 1. Segelas Pengkhianatan
2 2. Pertolongan dari Pintu yang Salah
3 3. Rencana yang Berantakan
4 4. Takdir Tak Bisa Dijebak
5 5. Harga Sebuah Ambisi
6 6. Takdir yang Tak Terduga
7 7. Ketagihan
8 8. Wanita Pertama Tuan Enzo
9 9. Harga Sebuah Kesepakatan
10 10. Sidik Jari Sang Nyonya
11 11. Wanita yang Diakui Sang CEO
12 12. Kebenaran yang Tertunda
13 13. Identitas yang Kusimpan
14 14. Rahasia di Balik Pria Biasa
15 15. Pria Biasa dengan Rahasia Luar Biasa
16 16. Makan Malam Pertama
17 17.Ketika Dua Dunia Bertemu
18 18. Rindu yang Menyusup di Tengah Malam
19 19. Rumah Bernama Kamu
20 20. Selangkah Menuju Pernikahan
21 21. Jejak yang Tak Sinkron
22 22. Jejak yang Tak Sesederhana Dugaan
23 23. Jejak yang Tak Sesederhana Dugaan
24 24. Jejak Kebenaran dan Sebuah Lamaran
25 25. Sebelum Lamaran Itu Datang
26 26. Kejujuran Seorang Putri
27 27. CEO atau Staf Biasa?
28 28. Restu di Ambang Lamaran
29 29. Akses ke Keluarga Rahardja
30 30. Lamaran Seorang Staf Biasa
31 31. Siapa Kamu Sebenarnya?
32 32. Ujian Tanpa Gelar
33 33. Keputusan Rahardja
34 34.Keputusan Seorang Ayah
35 35. Hasrat Memiliki
36 36. Kecurigaan Saras
37 37. Rahasia di Balik Tirai
38 38. Rahasia yang Tak Terbukti
39 39. Bukan Sekadar Kontrak
40 40. Profesionalisme Seorang Enzo
41 41. Rahasia Calon Menantu
42 42. Jejak yang Disembunyikan
43 43. Jejak yang Mulai Diburu
44 44. Satu Langkah Sebelum Pernikahan
45 45. Jebakan Sebuah Kepercayaan
46 46. Janji di Tengah Ancaman
47 47. Janji di Gerbang Kehormatan
48 48. Selangkah Lebih Dulu
49 49. Target Bernama The Ghost
50 50. Rumah Bernama Kamu
51 51. Senyum yang Mulai Terusik
52 52. Badai Mulai Bergerak
53 53. Dua Wajah Seorang Enzo
54 54. Saat Sang Ghost Kembali
55 55. Topeng Sang Legenda
56 56. Di Balik Topeng Putih
57 57. Saat Rasa Penasaran Tumbuh
58 58. Jejak yang Mengarah Padanya
59 59. Jejak yang Sengaja Dihapus
60 60. Jejak Menuju Gudang Timur
61 61. Sedetik Sebelum Peluru
62 62. Kelemahan Sang Hantu
63 63. Jejak yang Mulai Terbaca
64 64. Di Antara Hangat dan Bahaya
65 65. Semakin Dekat dengan Rahasia
66 66. Semakin Dekat, Semakin Jauh
67 67. Jabatan Bukan Warisan
68 68. Jalur Mundur yang Tertutup
69 69. Di Tengah Kepungan
70 70. Sandera di Tengah Baku Tembak
71 71. Sang Penembak Misterius
72 72. Puzzle Sang Pemburu
73 73. Tempat untuk Pulang
74 74. Musuh yang Mulai Memahami
75 75. Pertanyaan Rahardja
76 76. Pelajaran Tentang Hormat
77 77. Lawan yang Akhirnya Berhadapan
78 78. Duel Tanpa Peluru
79 79. Mencari Celah
80 80. Celah yang Tak Akan Diberikan
81 81. Menjaga Batas
82 82. Batas yang Tak Boleh Dilanggar
83 83. Rumah yang Harus Dilindungi
84 84. Dua Garis, Dua Takdir
85 85. Pilihan yang Menyesakkan
86 86. Rahasia yang Tersingkap
87 87. Pilihlah Jujur
88 88. Tiga Bulan yang Terlambat
89 89. Seorang Ayah Menagih Pertanggungjawaban
90 90. Harga Sebuah Tanggung Jawab
91 91. Di Antara Dosa dan Tanggung Jawab
92 92. Takdir yang Enggan Pergi
93 93. Badai Baru di Ambang Pintu
94 94. Tanggung Jawab yang Tak Bisa Ditunda
95 95. Bukan Bagian dari Rahardja
96 96. Hak yang Tak Boleh Dirampas
97 97. Tanggung Jawab Tak Bisa Dipindahkan
98 98. Kejujuran yang Pahit
99 99. Restu yang Bukan Karena Kepercayaan
100 100. Langkah Bryan Dimulai
101 101. Umpan untuk Sang Hantu
102 102. Jebakan di Balik Penyergapan
103 103.
104 104. Kelemahan Sang Ghost
105 105. Satu Luka, Satu Petunjuk
106 106. Dua Jejak, Satu Identitas
107 107. Aroma yang Terlalu Familiar
108 108. Ingatan yang Terkubur
109 109. Saudara di Balik Topeng
110 110. Di Antara Hukum dan Keadilan
111 111. Kebohongan yang Mulai Terlihat
112 112. Pintu yang Dibuka dari Dalam
113 113. Langkah yang Membuka Rahasia
114 114. Satu Nama yang Mengubah Segalanya
115 115. Di Antara Hukum dan Keadilan
116 116. Antara Cinta dan Hukum
117 117. Tak Ada Lagi Rahasia
118 118. Keluarga yang Akhirnya Kembali
119 119. Jalan Keluar yang Salah
120 120. Kasih Sayang Bukan Hak Waris
121 121. Kesempatan Sebelum Hukum Datang
122 122. Pertanyaan Seorang Ayah
123 123. Antara Penyesalan dan Perburuan
124 124. Batas Baru Sang Bayangan
125 125. Tak Ada Lagi Tempat Bersembunyi
126 126. Belajar Berdiri Sendiri
127 127. Alasan Baru Sang Bayangan
128 128. SUAMIMU BUKAN SUAMIMU
129 129. Pada Akhirnya, Kita Memilih
Episodes

Updated 129 Episodes

1
1. Segelas Pengkhianatan
2
2. Pertolongan dari Pintu yang Salah
3
3. Rencana yang Berantakan
4
4. Takdir Tak Bisa Dijebak
5
5. Harga Sebuah Ambisi
6
6. Takdir yang Tak Terduga
7
7. Ketagihan
8
8. Wanita Pertama Tuan Enzo
9
9. Harga Sebuah Kesepakatan
10
10. Sidik Jari Sang Nyonya
11
11. Wanita yang Diakui Sang CEO
12
12. Kebenaran yang Tertunda
13
13. Identitas yang Kusimpan
14
14. Rahasia di Balik Pria Biasa
15
15. Pria Biasa dengan Rahasia Luar Biasa
16
16. Makan Malam Pertama
17
17.Ketika Dua Dunia Bertemu
18
18. Rindu yang Menyusup di Tengah Malam
19
19. Rumah Bernama Kamu
20
20. Selangkah Menuju Pernikahan
21
21. Jejak yang Tak Sinkron
22
22. Jejak yang Tak Sesederhana Dugaan
23
23. Jejak yang Tak Sesederhana Dugaan
24
24. Jejak Kebenaran dan Sebuah Lamaran
25
25. Sebelum Lamaran Itu Datang
26
26. Kejujuran Seorang Putri
27
27. CEO atau Staf Biasa?
28
28. Restu di Ambang Lamaran
29
29. Akses ke Keluarga Rahardja
30
30. Lamaran Seorang Staf Biasa
31
31. Siapa Kamu Sebenarnya?
32
32. Ujian Tanpa Gelar
33
33. Keputusan Rahardja
34
34.Keputusan Seorang Ayah
35
35. Hasrat Memiliki
36
36. Kecurigaan Saras
37
37. Rahasia di Balik Tirai
38
38. Rahasia yang Tak Terbukti
39
39. Bukan Sekadar Kontrak
40
40. Profesionalisme Seorang Enzo
41
41. Rahasia Calon Menantu
42
42. Jejak yang Disembunyikan
43
43. Jejak yang Mulai Diburu
44
44. Satu Langkah Sebelum Pernikahan
45
45. Jebakan Sebuah Kepercayaan
46
46. Janji di Tengah Ancaman
47
47. Janji di Gerbang Kehormatan
48
48. Selangkah Lebih Dulu
49
49. Target Bernama The Ghost
50
50. Rumah Bernama Kamu
51
51. Senyum yang Mulai Terusik
52
52. Badai Mulai Bergerak
53
53. Dua Wajah Seorang Enzo
54
54. Saat Sang Ghost Kembali
55
55. Topeng Sang Legenda
56
56. Di Balik Topeng Putih
57
57. Saat Rasa Penasaran Tumbuh
58
58. Jejak yang Mengarah Padanya
59
59. Jejak yang Sengaja Dihapus
60
60. Jejak Menuju Gudang Timur
61
61. Sedetik Sebelum Peluru
62
62. Kelemahan Sang Hantu
63
63. Jejak yang Mulai Terbaca
64
64. Di Antara Hangat dan Bahaya
65
65. Semakin Dekat dengan Rahasia
66
66. Semakin Dekat, Semakin Jauh
67
67. Jabatan Bukan Warisan
68
68. Jalur Mundur yang Tertutup
69
69. Di Tengah Kepungan
70
70. Sandera di Tengah Baku Tembak
71
71. Sang Penembak Misterius
72
72. Puzzle Sang Pemburu
73
73. Tempat untuk Pulang
74
74. Musuh yang Mulai Memahami
75
75. Pertanyaan Rahardja
76
76. Pelajaran Tentang Hormat
77
77. Lawan yang Akhirnya Berhadapan
78
78. Duel Tanpa Peluru
79
79. Mencari Celah
80
80. Celah yang Tak Akan Diberikan
81
81. Menjaga Batas
82
82. Batas yang Tak Boleh Dilanggar
83
83. Rumah yang Harus Dilindungi
84
84. Dua Garis, Dua Takdir
85
85. Pilihan yang Menyesakkan
86
86. Rahasia yang Tersingkap
87
87. Pilihlah Jujur
88
88. Tiga Bulan yang Terlambat
89
89. Seorang Ayah Menagih Pertanggungjawaban
90
90. Harga Sebuah Tanggung Jawab
91
91. Di Antara Dosa dan Tanggung Jawab
92
92. Takdir yang Enggan Pergi
93
93. Badai Baru di Ambang Pintu
94
94. Tanggung Jawab yang Tak Bisa Ditunda
95
95. Bukan Bagian dari Rahardja
96
96. Hak yang Tak Boleh Dirampas
97
97. Tanggung Jawab Tak Bisa Dipindahkan
98
98. Kejujuran yang Pahit
99
99. Restu yang Bukan Karena Kepercayaan
100
100. Langkah Bryan Dimulai
101
101. Umpan untuk Sang Hantu
102
102. Jebakan di Balik Penyergapan
103
103.
104
104. Kelemahan Sang Ghost
105
105. Satu Luka, Satu Petunjuk
106
106. Dua Jejak, Satu Identitas
107
107. Aroma yang Terlalu Familiar
108
108. Ingatan yang Terkubur
109
109. Saudara di Balik Topeng
110
110. Di Antara Hukum dan Keadilan
111
111. Kebohongan yang Mulai Terlihat
112
112. Pintu yang Dibuka dari Dalam
113
113. Langkah yang Membuka Rahasia
114
114. Satu Nama yang Mengubah Segalanya
115
115. Di Antara Hukum dan Keadilan
116
116. Antara Cinta dan Hukum
117
117. Tak Ada Lagi Rahasia
118
118. Keluarga yang Akhirnya Kembali
119
119. Jalan Keluar yang Salah
120
120. Kasih Sayang Bukan Hak Waris
121
121. Kesempatan Sebelum Hukum Datang
122
122. Pertanyaan Seorang Ayah
123
123. Antara Penyesalan dan Perburuan
124
124. Batas Baru Sang Bayangan
125
125. Tak Ada Lagi Tempat Bersembunyi
126
126. Belajar Berdiri Sendiri
127
127. Alasan Baru Sang Bayangan
128
128. SUAMIMU BUKAN SUAMIMU
129
129. Pada Akhirnya, Kita Memilih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!