4. Takdir Tak Bisa Dijebak

Petugas keamanan dan operator cctv melihat Saras keluar sendirian dari kamar Bryan. Beberapa menit berselang, pintu kamar kembali terbuka. Chantika keluar seorang diri dengan langkah terhuyung. Beberapa kali ia berpegangan pada dinding koridor agar tidak terjatuh.

"Sepertinya dia sedang tidak baik-baik saja," gumam petugas keamanan.

Tatapan keduanya terus mengikuti pergerakan wanita tersebut melalui kamera yang terpasang di sepanjang koridor.

Mereka melihat wanita itu membuka tasnya, seolah mencari sesuatu. Namun, setelah beberapa saat, ia kembali menutupnya dengan wajah panik.

"Lihat... dia seperti kehilangan sesuatu," ujar operator.

"Mungkin ia mencari ponselnya untuk menghubungi seseorang," sahut petugas keamanan pelan.

Wanita itu terus berjalan menyusuri lorong hotel dengan langkah yang semakin goyah. Tangannya meraba dinding, lalu berpindah dari satu pintu ke pintu lainnya.

Hingga akhirnya...

Klik.

Sebuah pintu terbuka. Wanita itu terhuyung masuk ke dalam kamar tersebut.

Operator spontan membelalakkan mata. "Astaga...."

Petugas keamanan ikut menatap layar monitor, lalu wajahnya langsung berubah tegang.

"Itu... kamar Tuan Enzo."

Ruangan kontrol mendadak sunyi. Tak seorang pun berani berkata-kata.

Semua staf hotel mengetahui satu aturan yang berlaku sejak hotel itu berdiri.

Tidak ada seorang wanita pun yang diizinkan memasuki kamar pribadi Tuan Enzo tanpa izin darinya.

Petugas keamanan dan operator saling berpandangan.

"Bagaimana ini?" tanya operator pelan.

Petugas keamanan menghela napas panjang. "Jangan bertindak gegabah. Hubungi kepala keamanan dulu."

Ia kembali menatap monitor. Namun hingga beberapa menit berlalu, pintu kamar itu tetap tertutup. Tak terlihat seorang pun keluar.

Tak lama kemudian, kepala keamanan memasuki ruang kontrol CCTV.

"Apa yang terjadi?" tanyanya.

Petugas keamanan segera menghampiri. "Pak, ada seorang wanita di lobby yang sedang mencari saudarinya. Menurut pengakuannya, mereka masuk ke hotel bersama, tetapi wanita itu keluar sendirian. Sekarang nomor saudarinya juga tidak bisa dihubungi. Silakan Bapak lihat sendiri rekaman CCTV-nya."

Operator segera memutar kembali rekaman, mulai dari saat Saras dan Chantika memasuki kamar VIP milik Bryan hingga momen Chantika keluar dalam keadaan sempoyongan dan akhirnya masuk ke kamar Tuan Enzo.

Wajah kepala keamanan langsung menegang.

"Bagaimana ini, Pak?" tanya petugas keamanan. "Sudah cukup lama wanita itu berada di dalam kamar Tuan Enzo. Saya tidak berani mengambil tindakan tanpa izin."

Kepala keamanan mengangguk pelan. "Jangan gegabah. Saya akan menghubungi Manajer Hotel."

Ia segera mengambil ponselnya. "Pak, ada situasi yang berkaitan dengan kamar Tuan Enzo. Mohon segera datang ke ruang kontrol CCTV."

"Baik. Saya ke sana sekarang," jawab sang manajer dari seberang telepon.

Tak lama kemudian, Manajer Hotel memasuki ruang kontrol. "Apa yang terjadi?"

Tanpa banyak bicara, operator kembali memutar rekaman CCTV.

Manajer Hotel memerhatikan layar monitor dengan saksama. Rekaman memperlihatkan Chantika keluar dari kamar Bryan dalam kondisi sempoyongan, lalu berjalan menyusuri lorong sebelum akhirnya memasuki kamar Tuan Enzo.

Ekspresinya berubah serius. "Apakah ada yang melihat wanita itu keluar dari kamar Tuan Enzo?"

"Belum ada, Pak," jawab operator. "Sejak masuk, pintu kamar itu belum pernah terbuka lagi."

Ruangan terasa semakin tegang.

Manajer Hotel mengembuskan napas panjang. "Jangan ada satu pun yang mendatangi kamar Tuan Enzo."

"Lalu bagaimana dengan wanita yang sedang menunggu di lobby, Pak?" tanya petugas keamanan.

"Suruh dia menunggu. Katakan kita masih melakukan pengecekan."

"Baik, Pak."

Manajer Hotel kembali menatap monitor. "Selama bertahun-tahun bekerja di hotel ini, belum pernah ada seorang wanita yang memasuki kamar pribadi Tuan Enzo. Jangan bertindak sembarangan. Kita tunggu instruksi beliau."

"Baik, Pak."

***

Di lobby hotel, Saras mondar-mandir dengan gelisah. Sesekali ia melirik pintu lift, berharap petugas keamanan segera turun membawa kabar tentang Chantika. Namun, yang memenuhi kepalanya bukanlah keselamatan sang kakak.

"Kalau Bryan sampai murka, habislah proyek ini. Investasinya pasti batal."

Ia menggigit bibir bawahnya. "Kalaupun Chantika ditemukan... apa yang akan kukatakan? Bagaimana kalau dia sadar bahwa wine itu sudah dicampur obat? Bagaimana kalau dia melaporkan Bryan... lalu menyeret namaku?"

Semakin dipikirkan, dadanya semakin sesak.

Ting!

Pintu lift akhirnya terbuka. Seorang petugas keamanan melangkah keluar.

Saras segera menghampirinya. "Bagaimana, Pak? Apa kakak saya sudah ditemukan?"

Petugas itu menggeleng pelan. "Mohon bersabar, Bu. Kami masih melakukan pengecekan."

"Tapi ini sudah lama, Pak." Nada suara Saras mulai meninggi. "Kalau memang sudah tahu dia masuk ke mana, kenapa belum juga dijemput?"

Petugas keamanan menarik napas pelan sebelum menjawab dengan hati-hati. "Maaf, Bu. Ada prosedur yang harus kami ikuti."

"Prosedur apa? Kakak saya bisa saja dalam bahaya!"

"Kami memahami kekhawatiran Ibu." Petugas keamanan bicara dengan nada terkontrol. "Namun, lokasi terakhir yang terekam CCTV merupakan area privat. Kami tidak dapat memasukinya tanpa izin."

Saras mengernyit. "Maksud Bapak?"

Petugas keamanan tampak ragu selama beberapa detik. "Maaf, Bu. Untuk sementara kami belum bisa memberikan informasi lebih lanjut. Pihak manajemen sedang menangani masalah ini."

Jawaban itu membuat Saras semakin tidak sabar. "Kalau begitu saya yang akan mencarinya sendiri."

Saras baru saja hendak melangkah menuju lift ketika petugas keamanan buru-buru menghalangi jalannya.

"Maaf, Bu. Demi keamanan, kami tidak bisa mengizinkan Ibu naik ke area tersebut sebelum mendapat arahan dari pihak manajemen."

Saras mengepalkan kedua tangannya. Mau tak mau ia kembali menahan diri, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang semakin membuatnya gelisah.

Beberapa meter setelah petugas keamanan pergi, ponsel di dalam tas Saras kembali berdering.

Nama Bryan muncul di layar.

Saras terdiam menatap nama itu. Tangannya yang menggenggam ponsel sedikit gemetar. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya menerima panggilan tersebut.

"Halo, Tuan."

"Mana kakakmu? Sampai kapan aku harus menunggu?" tanya Bryan tak sabar.

"Saya masih mencarinya. Tolong Tuan bersabar dulu."

"Kamu pikir aku ini pengangguran?" bentak Bryan. "Waktuku sangat berharga."

"Tuan..."

"Sepuluh menit," potong Bryan tegas. "Kalau dalam sepuluh menit kakakmu belum juga ditemukan, kamu yang akan menggantikannya."

Mata Saras langsung membulat. "Apa?!"

Namun sebelum ia sempat berkata lebih banyak...

Tut... tut... tut...

Sambungan telepon kembali terputus. Saras menggenggam ponselnya erat. Hampir saja ia memekik dan membanting benda itu ke lantai karena panik, kesal, sekaligus marah.

Namun, menyadari ada resepsionis dan beberapa tamu hotel yang berlalu-lalang, ia memaksa menahan emosinya. Meski begitu, wajahnya yang tegang tak mampu menyembunyikan kepanikan yang mulai menguasai dirinya.

"Menggantikan Kak Chantika? Menghabiskan malam bersama playboy itu?"

Napas Saras memburu. Semua ini benar-benar di luar rencananya.

Detik demi detik terasa begitu menyesakkan. Petugas keamanan belum juga kembali, sementara waktu sepuluh menit yang diberikan Bryan terus berkurang.

"Bagaimana ini...?"

 

...🔸🔸🔸...

..."Manusia bisa merancang jebakan untuk orang lain, tetapi takdir selalu memiliki cara untuk membalikkan keadaan."...

..."Setiap pengkhianatan selalu meninggalkan jejak, dan setiap jejak akan membawa seseorang pada kebenaran."...

..."Orang yang berniat menjatuhkan orang lain sering kali lupa bahwa takdir dapat memutar arah dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan."...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Anonim

Anonim

Saras gelisah menunggu kabar dari petugas keamanan. Otaknya bukan mikirin keselamatan Chantika. Tapi mikirin investasi yang bakal batal karena kemarahan Bryan.

Saras gayanya saja bilang kakaknya bisa saja dalam keadaan bahaya.

Yang bahaya itu proyek bakal gagal mendapatkan investor, stop minta kenaikan jabatan dan minta uang tambahan dari papanya.

Kapuuooookkk kau Saras. Dalam sepuluh menit Chantika belum diketemukan, kau yang bakal menggantikan Chantika tidur dengan Bryan. Senjata makan nona Saras wkwkwk. Panik kau.

2026-07-27

1

Anonim

Anonim

Petugas keamanan dan operator cctv sudah melihat rekaman cctv.

Di bagian terakhir dari melihat rekaman cctv - keduanya terkejut melihat Chantika terhuyung masuk ke dalam kamar Enzo.

Petugas keamanan berinisiatif menghubungi kepala keamanan.

Kepala keamanan datang, melihat rekaman cctv yang sudah diulang dari mulai Saras dan Chantika memasuki kamar VIP Bryan hingga Chantika dalam keadaan sempoyongan memasuki kamar Enzo. Wajahnya langsung menegang.

Kepala keamanan segera menghubungi Manajer Hotel.

Manajer hotel segera datang ke ruang kontrol cctv.

Setelah datang ke ruang kontrol cctv dan melihat isi rekaman yang sama , ekspresi Manajer Hotel berubah serius.

2026-07-27

1

Anitha

Anitha

Beruntunglah Chantika masuk ke kamar Enzo,dan sudah pasti akan di lindungi Enzo karena Enzo merasa nyaman dan bisa tidur nyenyak dekat dengan Chantika tanpa harus minum obat tidur,mungkin Enzo pemilik Hotelnya jadi semua pekerja Hotel tidak bisa bertindak gegabah karena takut dengan Tuannya.

Chantika wanita yang istimewa buat Enzo

2026-07-07

3

lihat semua
Episodes
1 1. Segelas Pengkhianatan
2 2. Pertolongan dari Pintu yang Salah
3 3. Rencana yang Berantakan
4 4. Takdir Tak Bisa Dijebak
5 5. Harga Sebuah Ambisi
6 6. Takdir yang Tak Terduga
7 7. Ketagihan
8 8. Wanita Pertama Tuan Enzo
9 9. Harga Sebuah Kesepakatan
10 10. Sidik Jari Sang Nyonya
11 11. Wanita yang Diakui Sang CEO
12 12. Kebenaran yang Tertunda
13 13. Identitas yang Kusimpan
14 14. Rahasia di Balik Pria Biasa
15 15. Pria Biasa dengan Rahasia Luar Biasa
16 16. Makan Malam Pertama
17 17.Ketika Dua Dunia Bertemu
18 18. Rindu yang Menyusup di Tengah Malam
19 19. Rumah Bernama Kamu
20 20. Selangkah Menuju Pernikahan
21 21. Jejak yang Tak Sinkron
22 22. Jejak yang Tak Sesederhana Dugaan
23 23. Jejak yang Tak Sesederhana Dugaan
24 24. Jejak Kebenaran dan Sebuah Lamaran
25 25. Sebelum Lamaran Itu Datang
26 26. Kejujuran Seorang Putri
27 27. CEO atau Staf Biasa?
28 28. Restu di Ambang Lamaran
29 29. Akses ke Keluarga Rahardja
30 30. Lamaran Seorang Staf Biasa
31 31. Siapa Kamu Sebenarnya?
32 32. Ujian Tanpa Gelar
33 33. Keputusan Rahardja
34 34.Keputusan Seorang Ayah
35 35. Hasrat Memiliki
36 36. Kecurigaan Saras
37 37. Rahasia di Balik Tirai
38 38. Rahasia yang Tak Terbukti
39 39. Bukan Sekadar Kontrak
40 40. Profesionalisme Seorang Enzo
41 41. Rahasia Calon Menantu
42 42. Jejak yang Disembunyikan
43 43. Jejak yang Mulai Diburu
44 44. Satu Langkah Sebelum Pernikahan
45 45. Jebakan Sebuah Kepercayaan
46 46. Janji di Tengah Ancaman
47 47. Janji di Gerbang Kehormatan
48 48. Selangkah Lebih Dulu
49 49. Target Bernama The Ghost
50 50. Rumah Bernama Kamu
51 51. Senyum yang Mulai Terusik
52 52. Badai Mulai Bergerak
53 53. Dua Wajah Seorang Enzo
54 54. Saat Sang Ghost Kembali
55 55. Topeng Sang Legenda
56 56. Di Balik Topeng Putih
57 57. Saat Rasa Penasaran Tumbuh
58 58. Jejak yang Mengarah Padanya
59 59. Jejak yang Sengaja Dihapus
60 60. Jejak Menuju Gudang Timur
61 61. Sedetik Sebelum Peluru
62 62. Kelemahan Sang Hantu
63 63. Jejak yang Mulai Terbaca
64 64. Di Antara Hangat dan Bahaya
65 65. Semakin Dekat dengan Rahasia
66 66. Semakin Dekat, Semakin Jauh
67 67. Jabatan Bukan Warisan
68 68. Jalur Mundur yang Tertutup
69 69. Di Tengah Kepungan
70 70. Sandera di Tengah Baku Tembak
71 71. Sang Penembak Misterius
72 72. Puzzle Sang Pemburu
73 73. Tempat untuk Pulang
74 74. Musuh yang Mulai Memahami
75 75. Pertanyaan Rahardja
76 76. Pelajaran Tentang Hormat
77 77. Lawan yang Akhirnya Berhadapan
78 78. Duel Tanpa Peluru
79 79. Mencari Celah
80 80. Celah yang Tak Akan Diberikan
81 81. Menjaga Batas
82 82. Batas yang Tak Boleh Dilanggar
83 83. Rumah yang Harus Dilindungi
84 84. Dua Garis, Dua Takdir
85 85. Pilihan yang Menyesakkan
86 86. Rahasia yang Tersingkap
87 87. Pilihlah Jujur
88 88. Tiga Bulan yang Terlambat
89 89. Seorang Ayah Menagih Pertanggungjawaban
90 90. Harga Sebuah Tanggung Jawab
91 91. Di Antara Dosa dan Tanggung Jawab
92 92. Takdir yang Enggan Pergi
93 93. Badai Baru di Ambang Pintu
94 94. Tanggung Jawab yang Tak Bisa Ditunda
95 95. Bukan Bagian dari Rahardja
96 96. Hak yang Tak Boleh Dirampas
97 97. Tanggung Jawab Tak Bisa Dipindahkan
98 98. Kejujuran yang Pahit
99 99. Restu yang Bukan Karena Kepercayaan
100 100. Langkah Bryan Dimulai
101 101. Umpan untuk Sang Hantu
102 102. Jebakan di Balik Penyergapan
103 103.
104 104. Kelemahan Sang Ghost
105 105. Satu Luka, Satu Petunjuk
106 106. Dua Jejak, Satu Identitas
107 107. Aroma yang Terlalu Familiar
108 108. Ingatan yang Terkubur
109 109. Saudara di Balik Topeng
110 110. Di Antara Hukum dan Keadilan
111 111. Kebohongan yang Mulai Terlihat
112 112. Pintu yang Dibuka dari Dalam
113 113. Langkah yang Membuka Rahasia
114 114. Satu Nama yang Mengubah Segalanya
115 115. Di Antara Hukum dan Keadilan
116 116. Antara Cinta dan Hukum
117 117. Tak Ada Lagi Rahasia
118 118. Keluarga yang Akhirnya Kembali
119 119. Jalan Keluar yang Salah
120 120. Kasih Sayang Bukan Hak Waris
121 121. Kesempatan Sebelum Hukum Datang
122 122. Pertanyaan Seorang Ayah
123 123. Antara Penyesalan dan Perburuan
124 124. Batas Baru Sang Bayangan
125 125. Tak Ada Lagi Tempat Bersembunyi
126 126. Belajar Berdiri Sendiri
127 127. Alasan Baru Sang Bayangan
128 128. SUAMIMU BUKAN SUAMIMU
129 129. Pada Akhirnya, Kita Memilih
Episodes

Updated 129 Episodes

1
1. Segelas Pengkhianatan
2
2. Pertolongan dari Pintu yang Salah
3
3. Rencana yang Berantakan
4
4. Takdir Tak Bisa Dijebak
5
5. Harga Sebuah Ambisi
6
6. Takdir yang Tak Terduga
7
7. Ketagihan
8
8. Wanita Pertama Tuan Enzo
9
9. Harga Sebuah Kesepakatan
10
10. Sidik Jari Sang Nyonya
11
11. Wanita yang Diakui Sang CEO
12
12. Kebenaran yang Tertunda
13
13. Identitas yang Kusimpan
14
14. Rahasia di Balik Pria Biasa
15
15. Pria Biasa dengan Rahasia Luar Biasa
16
16. Makan Malam Pertama
17
17.Ketika Dua Dunia Bertemu
18
18. Rindu yang Menyusup di Tengah Malam
19
19. Rumah Bernama Kamu
20
20. Selangkah Menuju Pernikahan
21
21. Jejak yang Tak Sinkron
22
22. Jejak yang Tak Sesederhana Dugaan
23
23. Jejak yang Tak Sesederhana Dugaan
24
24. Jejak Kebenaran dan Sebuah Lamaran
25
25. Sebelum Lamaran Itu Datang
26
26. Kejujuran Seorang Putri
27
27. CEO atau Staf Biasa?
28
28. Restu di Ambang Lamaran
29
29. Akses ke Keluarga Rahardja
30
30. Lamaran Seorang Staf Biasa
31
31. Siapa Kamu Sebenarnya?
32
32. Ujian Tanpa Gelar
33
33. Keputusan Rahardja
34
34.Keputusan Seorang Ayah
35
35. Hasrat Memiliki
36
36. Kecurigaan Saras
37
37. Rahasia di Balik Tirai
38
38. Rahasia yang Tak Terbukti
39
39. Bukan Sekadar Kontrak
40
40. Profesionalisme Seorang Enzo
41
41. Rahasia Calon Menantu
42
42. Jejak yang Disembunyikan
43
43. Jejak yang Mulai Diburu
44
44. Satu Langkah Sebelum Pernikahan
45
45. Jebakan Sebuah Kepercayaan
46
46. Janji di Tengah Ancaman
47
47. Janji di Gerbang Kehormatan
48
48. Selangkah Lebih Dulu
49
49. Target Bernama The Ghost
50
50. Rumah Bernama Kamu
51
51. Senyum yang Mulai Terusik
52
52. Badai Mulai Bergerak
53
53. Dua Wajah Seorang Enzo
54
54. Saat Sang Ghost Kembali
55
55. Topeng Sang Legenda
56
56. Di Balik Topeng Putih
57
57. Saat Rasa Penasaran Tumbuh
58
58. Jejak yang Mengarah Padanya
59
59. Jejak yang Sengaja Dihapus
60
60. Jejak Menuju Gudang Timur
61
61. Sedetik Sebelum Peluru
62
62. Kelemahan Sang Hantu
63
63. Jejak yang Mulai Terbaca
64
64. Di Antara Hangat dan Bahaya
65
65. Semakin Dekat dengan Rahasia
66
66. Semakin Dekat, Semakin Jauh
67
67. Jabatan Bukan Warisan
68
68. Jalur Mundur yang Tertutup
69
69. Di Tengah Kepungan
70
70. Sandera di Tengah Baku Tembak
71
71. Sang Penembak Misterius
72
72. Puzzle Sang Pemburu
73
73. Tempat untuk Pulang
74
74. Musuh yang Mulai Memahami
75
75. Pertanyaan Rahardja
76
76. Pelajaran Tentang Hormat
77
77. Lawan yang Akhirnya Berhadapan
78
78. Duel Tanpa Peluru
79
79. Mencari Celah
80
80. Celah yang Tak Akan Diberikan
81
81. Menjaga Batas
82
82. Batas yang Tak Boleh Dilanggar
83
83. Rumah yang Harus Dilindungi
84
84. Dua Garis, Dua Takdir
85
85. Pilihan yang Menyesakkan
86
86. Rahasia yang Tersingkap
87
87. Pilihlah Jujur
88
88. Tiga Bulan yang Terlambat
89
89. Seorang Ayah Menagih Pertanggungjawaban
90
90. Harga Sebuah Tanggung Jawab
91
91. Di Antara Dosa dan Tanggung Jawab
92
92. Takdir yang Enggan Pergi
93
93. Badai Baru di Ambang Pintu
94
94. Tanggung Jawab yang Tak Bisa Ditunda
95
95. Bukan Bagian dari Rahardja
96
96. Hak yang Tak Boleh Dirampas
97
97. Tanggung Jawab Tak Bisa Dipindahkan
98
98. Kejujuran yang Pahit
99
99. Restu yang Bukan Karena Kepercayaan
100
100. Langkah Bryan Dimulai
101
101. Umpan untuk Sang Hantu
102
102. Jebakan di Balik Penyergapan
103
103.
104
104. Kelemahan Sang Ghost
105
105. Satu Luka, Satu Petunjuk
106
106. Dua Jejak, Satu Identitas
107
107. Aroma yang Terlalu Familiar
108
108. Ingatan yang Terkubur
109
109. Saudara di Balik Topeng
110
110. Di Antara Hukum dan Keadilan
111
111. Kebohongan yang Mulai Terlihat
112
112. Pintu yang Dibuka dari Dalam
113
113. Langkah yang Membuka Rahasia
114
114. Satu Nama yang Mengubah Segalanya
115
115. Di Antara Hukum dan Keadilan
116
116. Antara Cinta dan Hukum
117
117. Tak Ada Lagi Rahasia
118
118. Keluarga yang Akhirnya Kembali
119
119. Jalan Keluar yang Salah
120
120. Kasih Sayang Bukan Hak Waris
121
121. Kesempatan Sebelum Hukum Datang
122
122. Pertanyaan Seorang Ayah
123
123. Antara Penyesalan dan Perburuan
124
124. Batas Baru Sang Bayangan
125
125. Tak Ada Lagi Tempat Bersembunyi
126
126. Belajar Berdiri Sendiri
127
127. Alasan Baru Sang Bayangan
128
128. SUAMIMU BUKAN SUAMIMU
129
129. Pada Akhirnya, Kita Memilih

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!