Episode 2

Bab 2

Ini Bukan Mimpi

Driver ojek kembali memanggil namanya, kali ini lebih hati-hati.

"Mbak Ayu? Jadi berangkat?"

Ayu baru tersadar bahwa ia masih berdiri di depan minimarket dengan layar ponsel menyala. Gerimis membuat ujung jilbabnya lembap. Jemarinya mencengkeram ponsel terlalu kuat sampai buku-bukunya memutih.

"Iya." Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Maaf, Bang. Saya agak kaget."

"Nggak apa-apa. Hati-hati, jalan licin."

Ayu naik ke motor dengan gerakan kaku. Sepanjang perjalanan menuju kos, ia tidak bisa melepaskan pandangan dari ponsel. Setiap kali lampu jalan memantul di layar, angka itu tetap ada. Rp 50.000.000.000. Bukan lima juta. Bukan lima puluh juta. Bukan angka promo palsu dari pesan asing yang meminta kode OTP.

Di aplikasi Bank Nusantara, namanya tertulis jelas.

Ayu Lestari.

Pemenang hadiah utama.

Menunggu verifikasi pemenang.

Motor berhenti di depan gang kosnya. Ayu hampir lupa membayar lebih untuk jas hujan plastik yang tadi ditawarkan driver.

"Mbak baik-baik saja?" tanya driver itu.

Ayu mengangguk cepat. "Baik. Terima kasih, Bang."

Ia masuk ke gang sempit yang becek, melewati deretan kamar kos dengan jemuran menggantung rendah. Bau deterjen, mie instan, dan air hujan bercampur di udara. Di lantai dua, seorang penghuni kos sedang video call keras-keras. Di ujung lorong, kucing liar tidur melingkar di atas keset.

Kamar Ayu hanya tiga kali tiga meter. Kasur single, lemari plastik, kompor listrik kecil, satu meja lipat, dan kardus berisi peralatan dapur yang tidak muat ia susun. Di dinding ada kalender bergambar Danau Maninjau yang sudah lewat dua bulan tapi belum ia ganti.

Biasanya begitu masuk kamar, Ayu langsung melepas sepatu dan mandi. Malam itu ia hanya duduk di tepi kasur, masih memakai jaket basah, lalu membuka aplikasi bank lagi.

Angka itu masih ada.

Ia menekan menu informasi program. Semua syarat muncul lengkap. Nama program, periode, nomor kupon, nomor izin promosi, potongan pajak hadiah, jadwal pengumuman, dan kontak layanan prioritas. Tidak ada link aneh. Tidak ada permintaan transfer. Tidak ada kalimat berantakan seperti pesan penipuan yang sering masuk ke grup WhatsApp keluarga.

Ayu menelan ludah.

Kalau ini nyata, setelah pajak, ia masih akan menerima sekitar empat puluh miliar rupiah.

Empat puluh miliar.

Di rekeningnya sekarang bahkan tidak sampai delapan juta.

Ia meletakkan ponsel di atas kasur, lalu menatap langit-langit kamar yang ada noda rembesan kecil di pojok. Napasnya pendek-pendek. Bukannya senang, tubuhnya justru gemetar seperti sedang demam.

Ponselnya bergetar lagi. Kali ini dari Dian.

`Yu, kok centang dua tapi nggak balas? Ketiduran di jalan?`

Ayu menatap pesan itu lama. Jarinya mengetik, menghapus, mengetik lagi.

`Di, kalau seseorang tiba-tiba dapat uang banyak banget, dia harus ngapain dulu?`

Dian membalas dengan voice note, tapi Ayu tidak memutarnya. Beberapa detik kemudian pesan teks muncul.

`Banyak banget itu berapa? Jangan bilang kamu menang giveaway skincare.`

`Lebih banyak dari skincare.`

`Serius?`

Ayu menggigit bibir. Ia belum sanggup memberi tahu siapa pun sebelum benar-benar yakin. Bahkan kepada Dian.

`Besok aku cerita. Doain aku nggak pingsan.`

`YA ALLAH AYU. Kamu bikin aku nggak bisa tidur.`

Ayu tersenyum lemah. Ia juga tidak tidur.

Malam itu, ia mandi dengan air dingin karena pemanas kos rusak lagi. Setelahnya ia duduk di lantai, membuka laptop tua, dan mencari semua informasi tentang program undian Bank Nusantara. Ia membaca berita resmi, unggahan Instagram bank, komentar orang-orang, sampai peraturan pajak hadiah. Pukul dua pagi, matanya perih. Pukul tiga, ia masih menghitung nol. Pukul empat, azan subuh dari masjid kecil di ujung gang terdengar lembut.

Ayu mengambil wudu, shalat, lalu duduk di sajadah lebih lama dari biasanya.

"Ya Allah," bisiknya. "Kalau ini benar rezeki dari-Mu, jangan biarkan Ayu lupa diri."

Ia tidak masuk shift pagi.

Untuk pertama kalinya sejak bekerja di hotel itu, Ayu mengirim pesan sakit kepada Chef Roni tanpa rasa bersalah. Tubuhnya memang seperti baru jatuh dari tempat tinggi. Bedanya, kali ini bukan karena lelah, melainkan karena hidupnya mungkin akan berubah seluruhnya.

Pukul sembilan, Ayu sudah berdiri di kantor cabang utama Bank Nusantara di Sudirman. Ia memakai kemeja paling rapi yang ia punya, celana hitam, dan sepatu kerja yang masih agak basah di bagian ujung. Tangannya berkali-kali merapikan rambut yang diikat sederhana.

Petugas keamanan menyambutnya di pintu.

"Ada yang bisa dibantu, Bu?"

"Saya... mendapat notifikasi pemenang undian berhadiah." Ayu menunjukkan layar ponsel.

Ekspresi petugas itu berubah lebih serius. Ia segera memanggil pegawai customer service. Dalam waktu kurang dari lima menit, Ayu sudah dibawa ke ruangan kecil ber-AC dengan sofa krem dan air mineral di meja.

Seorang perempuan berblazer navy masuk sambil membawa map.

"Selamat pagi, Ibu Ayu Lestari. Saya Mira dari layanan prioritas Bank Nusantara." Senyumnya profesional, tapi hangat. "Pertama-tama, kami ucapkan selamat. Berdasarkan sistem kami, Ibu benar terverifikasi sebagai pemenang hadiah utama Program Rezeki Pulang Kampung."

Kalimat itu membuat dada Ayu berhenti sejenak.

"Jadi ini bukan penipuan?"

Mira tersenyum lebih lembut. "Bukan, Bu. Kami juga tidak akan meminta Ibu mentransfer biaya apa pun. Pajak hadiah dipotong langsung sesuai ketentuan. Setelah seluruh dokumen dan berita acara selesai, estimasi dana bersih yang masuk ke rekening Ibu sekitar empat puluh miliar rupiah."

Ayu memegang gelas air mineral, tapi lupa minum.

Mira menjelaskan prosesnya satu per satu. Verifikasi KTP, NPWP, berita acara, tanda tangan, dokumentasi internal, dan jadwal transfer. Semua terdengar rapi. Semua terlalu nyata.

Ketika ia diminta menandatangani dokumen pertama, ujung pulpen sempat bergetar di atas kertas.

"Ibu tidak perlu terburu-buru," kata Mira.

Ayu menarik napas dalam.

"Saya cuma..." Ia tertawa kecil, tapi matanya panas. "Semalam saya masih mikir besok makan siang bawa telur dari kos. Sekarang Mbak bilang saya punya empat puluh miliar."

Mira tidak menertawakan. Ia hanya mengangguk, seperti sudah beberapa kali melihat orang kehilangan keseimbangan di depan angka besar.

"Pelan-pelan, Bu. Yang penting Ibu jangan langsung percaya pihak luar yang menghubungi. Semua komunikasi lewat nomor resmi dan cabang ini."

Ayu mengangguk.

Setelah dua jam proses awal, ia keluar dari bank dengan map cokelat di tangan. Langit Jakarta siang itu terlalu terang. Orang-orang berjalan cepat dengan wajah serius. Mobil mewah berhenti di depan gedung. Pegawai kantoran memegang kopi, kurir membawa paket, satpam meniup peluit.

Dunia tetap bergerak seperti biasa.

Hanya Ayu yang tidak sama lagi.

Ia duduk di bangku depan gedung, membuka aplikasi peta, lalu tanpa sadar mengetik: Nagari Sungai Tanang.

Jaraknya jauh. Harus terbang ke Padang, lalu naik mobil sekitar dua jam. Di layar, kampung halamannya terlihat hanya sebagai titik kecil. Tapi di kepala Ayu, titik kecil itu punya suara Nenek Sari, Teh Talua buatan Datuk Harun, udara dingin pagi, dan halaman rumah gadang yang selalu ia rindukan saat Jakarta terasa terlalu keras.

Selama ini ia bertahan karena merasa tidak punya pilihan.

Sekarang, pilihan itu datang dalam bentuk angka yang bahkan belum sanggup ia ucapkan tanpa gemetar.

Ia bisa tetap bekerja di hotel, naik jabatan perlahan, membeli apartemen setelah bertahun-tahun menabung, dan terus pulang larut malam sampai tubuhnya menyerah.

Atau ia bisa pulang.

Membeli waktu.

Memperbaiki rumah gadang.

Membuka restoran sendiri.

Merawat Nenek dan Datuk yang sudah semakin tua.

Untuk pertama kalinya, kata pulang tidak terasa seperti menyerah. Kata itu terasa seperti pintu.

Ayu membuka kontak Nenek Sari. Foto profilnya adalah gambar Nenek memakai mukena putih sambil tersenyum di depan tanaman cabai.

Jari Ayu berhenti di tombol panggil.

Begitu sambungan tersambung, suara Nenek terdengar dari seberang, sedikit berisik karena televisi di rumah.

"Assalamu'alaikum, Ayu? Tumben pagi-pagi menelepon. Kamu sakit?"

Ayu memejamkan mata. Dalam satu tarikan napas, semua lelah Jakarta, semua malam di dapur panas, semua rindu yang ia tahan bertahun-tahun, naik ke tenggorokannya.

"Wa'alaikumussalam, Nek."

"Kenapa suaramu begitu, Nak?"

Ayu menggenggam map cokelat di pangkuannya.

"Nek," katanya pelan, "Ayu mau pulang."

Terpopuler

Comments

Iwan Youngsu

Iwan Youngsu

pengarang urg sungai tanang yoo..wak asli anak sungai tang,dima sungai tanang nyo

2026-07-16

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
Episodes

Updated 125 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!