Episode 5

Bab 5

Rumah Impian

Pagi pertama Ayu di rumah tidak dimulai dengan tidur panjang seperti rencananya.

Ia bangun sebelum subuh karena tubuhnya masih terbiasa dengan jam hotel. Di kamar lama yang dinding kayunya berbau samar kapur barus, Ayu membuka mata dan untuk beberapa detik lupa bahwa ia sudah tidak berada di kos Jakarta.

Lalu ia mendengar ayam berkokok.

Suara panci dari dapur.

Bisikan Nenek Sari yang menegur kucing karena naik ke meja.

Ayu tersenyum sendiri, lalu bangun.

Setelah shalat, ia duduk di meja ruang tengah dengan buku tulis, laptop baru, dan ponsel. Di depannya ada foto rumah gadang yang ia ambil semalam dari berbagai sudut. Atap belakang bocor. Dapur lama gelap. Kamar Nenek dan Datuk terlalu dekat dengan ruang tengah sehingga setiap tamu datang, mereka tidak punya privasi. Halaman samping luas tapi tidak terurus. Tanah kosong di dekat jalan utama cukup strategis untuk bangunan usaha.

Ayu menggambar garis kasar.

Rumah gadang harus tetap rumah gadang. Bentuk gonjong tidak boleh hilang. Kayu lama yang masih kuat harus dipertahankan. Tapi bagian dalam harus dibuat nyaman. Kamar mandi bersih, kamar tidur terang, lantai aman untuk Nenek, dapur keluarga yang tidak membuat punggung Datuk pegal setiap mengambil air.

Di sebelahnya, bangunan baru.

Restoran Padang modern, tapi tetap terasa seperti rumah.

Dapur profesional dengan kompor besar, ruang persiapan bumbu, area cuci terpisah, pendingin bahan makanan, ruang makan terbuka menghadap sawah, mushala kecil, toilet bersih, dan beberapa kamar homestay di bagian belakang untuk tamu yang ingin menginap.

Semakin lama ia menggambar, semakin cepat jantungnya berdetak.

Di Jakarta, ia memasak untuk hotel yang bukan miliknya. Di sini, ia bisa membangun tempat yang setiap sudutnya ia pahami.

"Kamu dari tadi coret-coret apa?"

Nenek Sari datang membawa piring berisi pisang goreng. Matanya langsung menyipit melihat laptop dan buku Ayu.

"Rencana kecil-kecilan, Nek."

"Kalau sudah pakai laptop baru begitu, biasanya bukan kecil-kecilan."

Ayu tertawa. Nenek memang tidak pernah mudah dibohongi.

Ia menggeser buku ke arah Nenek. "Ayu mau perbaiki rumah. Atap, kamar, dapur. Terus di tanah samping jalan, Ayu mau bangun restoran."

Tangan Nenek berhenti di atas piring. "Restoran?"

"Iya. Restoran Padang. Yang rapi, bersih, tapi makanannya tetap masakan rumah. Nanti bisa terima pesanan baralek juga. Kalau ada tamu dari luar kota, kita sediakan homestay."

Nenek duduk pelan. Wajahnya antara bingung, senang, dan takut.

"Ayu, membetulkan atap saja sudah mahal."

"Ayu tahu."

"Bangun restoran lebih mahal lagi."

"Ayu juga tahu."

"Uangmu dari mana?"

Ayu sudah menyiapkan jawaban itu semalam, tapi ketika pertanyaan keluar dari mulut Nenek, dadanya tetap berdebar.

"Tabungan Ayu selama kerja di Jakarta. Ada investasi juga. Ayu sudah hitung, Nek."

Nenek menatapnya lama. "Kerja di hotel memang gajinya sebesar itu?"

"Tidak sebesar itu." Ayu mengambil pisang goreng, menggigit sedikit untuk memberi waktu pada dirinya sendiri. "Tapi Ayu juga punya beberapa investasi kecil. Kemarin sebelum pulang, Ayu atur lagi dengan bank."

Itu tidak sepenuhnya bohong. Hanya belum lengkap.

Datuk Harun masuk dari halaman sambil membawa sapu lidi. Ia melihat gambar di buku, lalu duduk di sisi lain meja.

"Dapur baru di mana?"

Ayu menunjuk area belakang. "Di sini, Tuk. Dekat sumber air, tapi saluran limbahnya dibuat benar. Nanti lantainya tidak licin. Datuk tidak perlu angkat ember jauh-jauh lagi."

Datuk mengangguk. "Bagus."

Nenek menoleh padanya. "Datuk langsung setuju?"

"Kalau dapur tidak licin, bagus," jawab Datuk.

Ayu menahan tawa.

Nenek memukul pelan lengan Datuk dengan ujung selendang. "Ini bukan cuma soal lantai. Ini soal uang besar."

"Kalau Ayu sudah hitung, dengarkan dulu," kata Datuk pendek.

Kalimat itu memberi Ayu keberanian. Siang harinya, ia menghubungi Mamak Darto dan meminta datang. Dalam adat keluarga mereka, tanah dan rumah gadang memang berada di garis perempuan, tapi keputusan besar tetap harus dibicarakan dengan mamak. Ayu tidak ingin pulang membawa uang lalu bertindak seperti semua orang harus mengikuti keinginannya.

Mamak Darto datang setelah zuhur, memakai kemeja batik lengan pendek dan peci hitam. Tante Rina ikut sebentar membawa lamang tapai, lalu kembali ke rumah karena ada tamu.

"Jadi kemenakan Mamak pulang-pulang mau jadi juragan?" tanya Mamak Darto setelah melihat gambar kasar Ayu.

"Juragan yang masih minta izin Mamak," jawab Ayu.

Mamak Darto tertawa, tapi matanya tetap teliti. Ia memeriksa ukuran tanah, posisi jalan, arah matahari, saluran air, sampai kemungkinan suara bising kalau restoran ramai.

"Rumah gadang jangan diubah sembarangan," katanya.

"Tidak, Mak. Bentuk luar tetap. Malah Ayu mau restorasi bagian kayu yang rusak pakai tukang yang paham rumah adat."

"Restoran boleh. Tapi jangan sampai halaman keluarga habis jadi parkiran."

"Parkiran di sisi depan dekat jalan. Halaman tengah tetap untuk keluarga."

Mamak Darto mengangguk pelan. "Kalau begitu, panggil orang bangunan. Biar ada hitungan betul. Jangan cuma semangat."

Dua hari kemudian, seorang arsitek dari Bukittinggi dan rombongan kecil pekerja datang mengecek lokasi. Mereka mengukur tanah, memotret atap, memeriksa struktur kayu, lalu berdiskusi panjang dengan Ayu di teras.

Ayu menjelaskan dapur impiannya dengan detail yang membuat arsitek itu beberapa kali mengangkat alis.

"Ibu pernah kerja di kitchen profesional?"

"Tujuh tahun," jawab Ayu.

"Pantas. Biasanya pemilik restoran cuma minta ruang makan bagus. Ibu malah mulai dari alur bahan mentah."

"Kalau dapurnya salah, makanan enak pun bisa kacau."

Nenek Sari yang duduk di samping mendengar itu dengan wajah bangga, meski mulutnya tetap sibuk mengunyah keripik sanjai.

Sore menjelang, semua orang berkumpul di ruang tengah. Arsitek itu membuka laptop dan menunjukkan estimasi awal. Renovasi rumah gadang dengan perbaikan struktur, kamar, kamar mandi, dapur keluarga, listrik, air, dan restorasi kayu. Bangunan restoran dua lantai rendah dengan ruang makan, dapur profesional, storage, mushala, toilet, area parkir, serta beberapa kamar homestay.

"Untuk izin usaha restoran, nanti Ibu perlu NIB lewat OSS," jelas arsitek itu. "Kalau homestay juga jalan, datanya dipisahkan supaya rapi. Kami bisa bantu koordinasi dengan konsultan perizinan, tapi keputusan tetap di Ibu."

Ayu mencatat cepat. "Pembangunannya bisa bertahap?"

"Bisa. Rumah gadang diamankan dulu, terutama atap dan struktur. Setelah itu dapur restoran, baru ruang makan dan kamar homestay. Tapi kalau mau selesai sebelum musim baralek ramai, pengerjaan harus paralel."

Mamak Darto mendengus pelan. "Berarti uangnya juga harus paralel."

Ayu sudah memperkirakan angkanya besar.

Tetap saja, ketika angka itu muncul di layar, ruangan menjadi sangat sunyi.

Rp 3.000.000.000.

Nenek Sari meletakkan gelasnya pelan-pelan.

Mamak Darto menatap Ayu.

Datuk Harun tidak bicara, tapi tangan tuanya berhenti mengusap kepala kucing yang tidur di pangkuannya.

"Tiga miliar," kata Nenek akhirnya, suaranya pelan tapi tajam. "Ayu, uang dari mana?"

Ayu menatap angka di layar, lalu menatap wajah-wajah yang paling ia sayangi.

Kali ini, ia hanya tersenyum.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
Episodes

Updated 125 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!