Menang 50 Miliar, Pulang Kampung dan Rebahan

Menang 50 Miliar, Pulang Kampung dan Rebahan

Episode 1

Bab 1

Lima Puluh Miliar

Kaki Ayu Lestari rasanya seperti bukan miliknya lagi ketika ia keluar dari pintu samping hotel pukul sebelas malam.

Aroma bawang putih, santan panas, minyak goreng, dan asap dari dapur masih menempel di rambutnya. Seragam koki putih yang tadi pagi rapi sekarang sudah kusut di bagian lengan. Di pergelangan tangannya ada bekas merah karena terlalu lama memegang wajan panas, sedangkan punggungnya terasa kaku setelah berdiri hampir empat belas jam.

Jakarta belum tidur.

Mobil masih saling menyalip di jalan depan hotel bintang lima itu. Klakson terdengar bersahut-sahutan seperti orang-orang di kota ini tidak pernah punya cukup sabar untuk menunggu lampu merah. Dari trotoar, Ayu melihat gedung kaca menjulang dengan lampu yang masih terang. Indah, kalau dilihat dari jauh. Melelahkan, kalau setiap hari harus hidup di dalamnya.

"Yu, besok masuk shift pagi, ya."

Suara Chef Roni membuat langkah Ayu berhenti.

Ia menoleh. Chef Roni baru keluar dari pintu dapur, wajahnya sama lelahnya, tapi tangannya masih sibuk mengecek daftar pesanan di tablet.

"Besok?" Ayu hampir tertawa. "Chef, saya baru selesai closing."

"Tahu. Tapi tamu VIP dari Singapura minta sarapan Minang. Yang bisa pegang rendang cepat cuma kamu."

Ayu menelan protes yang sudah naik sampai tenggorokan. Kalau ia menjawab terlalu panjang, ujung-ujungnya tetap sama. Jadwal berubah, ia mengalah, lalu tubuhnya yang menanggung.

"Jam berapa?"

"Lima subuh sudah di kitchen."

Lima subuh.

Berarti ia harus sampai kos sebelum tengah malam, mandi, tidur paling lama tiga jam, lalu bangun lagi untuk mengejar ojek online. Kalau hujan, macetnya bisa membuat ongkos naik dua kali lipat. Kalau KRL pagi penuh, badannya akan terjepit di antara tas kerja orang lain dan bau parfum yang terlalu kuat.

Ayu menarik napas pelan.

"Baik, Chef."

Chef Roni menepuk bahunya sekilas. "Saya tahu kamu capek. Tapi kamu paling bisa diandalkan."

Kalimat itu dulu membuat Ayu bangga. Sekarang, kalimat yang sama terdengar seperti rantai yang dibungkus pujian.

Ia berjalan keluar area hotel, melewati satpam yang mengangguk mengantuk. Udara malam Jakarta terasa lembap, menempel di kulit. Di dekat halte, beberapa pegawai hotel lain sudah berdiri sambil menunduk ke ponsel masing-masing.

Ponsel Ayu bergetar.

Dian Saputri mengirim pesan WhatsApp.

`Masih hidup, Yu?`

Ayu tersenyum kecil meski matanya perih.

`Secara teknis iya. Secara jiwa, tinggal tulang.`

Balasan Dian datang cepat.

`Resign aja. Nikah sama juragan rendang.`

`Juragan rendangnya aku sendiri, tapi miskin.`

`Miskin sementara. Cantik permanen.`

Ayu hampir tertawa. Hampir. Tawanya tertahan ketika ia melihat saldo e-wallet yang tersisa di layar ponsel. Cukup untuk ojek sampai kos, tapi tidak cukup kalau besok harus beli makan siang di hotel. Ia masih punya beras, telur, dan sambal botol di kamar kos. Besok mungkin bisa membawa nasi dari rumah.

Hidup di Jakarta selalu seperti itu. Gaji terlihat lumayan di slip, lalu menghilang menjadi uang kos, transportasi, makan, pulsa, kiriman untuk Nenek Sari dan Datuk Harun, serta tabungan kecil yang ia jaga seperti nyawa.

Ia bukan tidak bersyukur. Ia punya pekerjaan. Ia bisa memasak di hotel bagus. Namanya dikenal di dapur. Tapi setiap malam ketika pulang dengan kaki bengkak, Ayu sering bertanya, sampai kapan hidupnya hanya berputar antara dapur panas, kamar kos sempit, dan perjalanan yang membuatnya ingin menangis diam-diam?

Di seberang halte ada minimarket kecil yang masih buka. Lampunya terlalu terang sampai mata Ayu sedikit silau. Ia ingat belum membeli air mineral. Tenggorokannya kering sejak tadi.

Ia menyeberang ketika jalan agak lengang, lalu masuk ke minimarket. Udara AC menyambutnya. Dingin buatan yang membuat tubuhnya sejenak merasa manusia lagi.

"Mbak, air mineral satu," kata Ayu sambil mengambil botol dari kulkas.

Kasir perempuan berkerudung biru menatap layar mesin kasir, lalu menunjuk poster di dekat meja pembayaran. "Sekalian ikut undian berhadiah dari Bank Nusantara, Mbak? Minimal transaksi dua puluh ribu dapat satu kupon digital. Hadiah utamanya lima puluh miliar."

Ayu mengikuti arah telunjuk kasir.

Poster itu menampilkan gambar rumah besar, mobil, dan tulisan Rp 50.000.000.000 dengan warna emas yang terlalu menyala. Di bagian bawah ada logo bank, QR code, dan sederet syarat yang ditulis kecil-kecil.

Ayu mengangkat alis. "Lima puluh miliar? Kalau menang, saya beli hotel ini sekalian."

Kasir tertawa. "Aamiin, Mbak. Banyak yang bilang begitu."

"Minimal dua puluh ribu, ya?"

"Iya. Bisa tambah roti atau kopi."

Ayu melihat rak kecil di samping kasir. Ada roti cokelat, kopi kaleng, permen jahe, dan tisu basah. Ia sebenarnya tidak butuh apa-apa selain air, tapi entah kenapa angka di poster itu membuatnya ingin ikut bercanda dengan nasib.

"Tambah roti cokelat satu."

Kasir memindai barang. "Total dua puluh tiga ribu lima ratus. Mau pakai nomor HP yang terdaftar e-wallet?"

"Iya."

Ayu menyebutkan nomornya. Setelah pembayaran berhasil, kasir menyerahkan struk dan menunjuk layar kecil di meja.

"Kupon digitalnya sudah masuk, Mbak. Nanti kalau menang dikabari lewat SMS dan aplikasi bank. Jangan lupa cek."

"Kalau saya menang, saya balik ke sini traktir semua pegawai minimarket."

"Saya catat, Mbak."

Ayu tersenyum, memasukkan botol air dan roti ke tote bag. Ia keluar dari minimarket dengan langkah lebih ringan, bukan karena percaya akan menang, tapi karena fantasi kecil kadang cukup untuk membuat malam panjang terasa sedikit lucu.

Di depan minimarket, ojek online yang ia pesan belum datang. Estimasi masih delapan menit. Ayu berdiri di bawah kanopi, membuka botol air dan meneguknya pelan. Air dingin melewati tenggorokannya, membuat dadanya sedikit lega.

Hujan gerimis mulai turun.

Ayu memandangi aspal yang berubah mengilap. Lampu kendaraan pecah di genangan kecil, seperti potongan emas palsu. Ia tiba-tiba teringat halaman rumah gadang di Nagari Sungai Tanang, tanah yang basah setelah hujan, suara jangkrik, dan Nenek Sari yang selalu memanggilnya makan walau ia baru saja selesai makan.

Di kampung, malam tidak seterang ini. Tapi justru karena gelap, langitnya terlihat penuh.

Ponselnya bergetar lagi.

Ayu mengira itu pesan dari Dian atau notifikasi driver. Ia menunduk sambil mengusap layar yang sedikit basah terkena gerimis.

Nomor pengirimnya resmi. Bank Nusantara.

Ia membaca sekilas, lalu keningnya berkerut.

`Selamat, Ayu Lestari. Kupon undian Anda terverifikasi sebagai pemenang hadiah utama Program Rezeki Pulang Kampung Bank Nusantara senilai Rp 50.000.000.000. Silakan cek aplikasi Bank Nusantara dan hubungi layanan prioritas resmi untuk proses verifikasi.`

Ayu diam.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Lalu ia tertawa pelan.

"Penipuan macam apa lagi ini?"

Tapi ponselnya bergetar untuk kedua kali.

Notifikasi dari aplikasi Bank Nusantara muncul di bagian atas layar. Bukan SMS asing. Bukan link mencurigakan. Aplikasi yang selama ini ia pakai untuk menerima gaji dan menabung, dengan logo resmi yang ia kenal.

`Hadiah Utama: Rp 50.000.000.000`

`Status: Menunggu verifikasi pemenang`

Tangan Ayu mendadak dingin.

Ia membuka aplikasinya. Sidik jarinya sempat gagal dua kali karena ujung jarinya basah. Setelah berhasil masuk, halaman utama aplikasi langsung menampilkan banner besar dengan namanya.

Ayu Lestari.

Pemenang hadiah utama.

Rp 50.000.000.000.

Angka nolnya terlalu banyak.

Ia menghitung sekali. Salah. Menghitung lagi. Matanya terasa panas. Suara kendaraan di jalan seperti menjauh, berganti dengung halus di telinganya.

Driver ojek berhenti di depannya. "Mbak Ayu?"

Ayu mengangkat wajah, tapi suaranya tidak keluar.

"Mbak Ayu, benar?"

Ia menatap layar ponsel sekali lagi. Angka itu masih ada.

Lima puluh miliar rupiah.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup mengejar jadwal orang lain, Ayu tidak tahu harus melangkah ke mana.

Ia hanya berdiri di bawah gerimis Jakarta, memegang ponsel dengan dua tangan, dan berpikir bahwa mungkin, mungkin sekali, hidupnya baru saja terbelah menjadi sebelum dan sesudah malam ini.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
Episodes

Updated 125 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!