Episode 4

Bab 4

Pulang Kampung

Ketika roda pesawat menyentuh landasan Bandara Internasional Minangkabau, Ayu menggenggam sandaran kursi tanpa sadar.

Di luar jendela, langit Padang terlihat lebih rendah daripada Jakarta. Awan menggantung tebal, dan garis bukit tampak samar di kejauhan. Setelah pesawat berhenti dan penumpang mulai berdiri mengambil barang, Ayu tetap duduk beberapa detik lebih lama.

Ia benar-benar sudah sampai.

Bukan untuk liburan tiga hari. Bukan untuk pulang singkat saat Lebaran. Bukan untuk menenangkan Nenek Sari lewat video call lalu kembali mengejar shift.

Kali ini ia pulang dengan seluruh hidupnya di dalam dua koper dan satu rahasia besar yang belum sanggup ia buka.

"Mbak, turun?" tegur penumpang di sebelahnya dengan sopan.

Ayu tersadar. "Oh, iya. Maaf."

Di area kedatangan, udara Padang menyambutnya dengan panas yang berbeda. Tidak sepanas dapur hotel, tidak selembap gang kos Jakarta. Ada aroma hujan, aspal basah, dan laut jauh yang samar. Ayu menarik napas panjang sampai dadanya terasa penuh.

Sopir travel yang dipesankan Nenek sudah menunggu sambil memegang kertas bertuliskan namanya.

"Ayu Lestari?"

"Iya, Pak."

"Saya Rahman. Dari Sungai Tanang. Nenek Sari sudah telepon tiga kali sejak pagi."

Ayu tertawa kecil. "Baru tiga kali? Berarti masih wajar."

Pak Rahman tertawa sambil membantu mengangkat koper. "Beliau bilang kalau saya telat jemput, saya tidak boleh makan gulai di rumah beliau sebulan."

"Itu ancaman serius, Pak."

Mobil melaju keluar dari bandara. Kota Padang perlahan berganti menjadi jalan panjang, warung nasi, rumah-rumah rendah, lalu tanjakan menuju arah Bukittinggi. Ayu menempelkan dahi ke kaca. Pohon-pohon tampak lebih hijau daripada yang ia ingat. Sawah memantulkan langit. Di beberapa titik, anak-anak sekolah berjalan bergerombol dengan tas di punggung, tertawa sambil memegang jajanan.

Ponselnya bergetar berkali-kali.

Nenek Sari: `Sudah turun pesawat?`

Nenek Sari: `Rahman ketemu kamu?`

Nenek Sari: `Jangan tidur di mobil, nanti leher sakit.`

Datuk Harun: `Hati-hati di jalan.`

Pesan Datuk hanya satu kalimat, tapi membuat Ayu tersenyum lebih lama.

`Sudah di mobil, Nek. Rahman aman. Ayu lapar.`

Balasan Nenek datang dalam hitungan detik.

`Bagus. Gulai ayam sudah matang. Teh Talua nanti Datuk buatkan baru.`

Perjalanan dua jam terasa seperti membuka album lama. Setiap belokan punya kenangan. Jembatan kecil tempat ia dulu membeli es tebu. Warung dengan papan lusuh yang ternyata masih berdiri. Masjid di tepi jalan yang catnya sudah berganti warna. Semakin dekat ke Nagari Sungai Tanang, udara semakin sejuk. Jendela mobil Ayu turunkan sedikit. Angin masuk, membawa aroma tanah, daun, dan asap tipis dari dapur rumah orang.

Ketika mobil berhenti di depan halaman rumah gadang keluarga, dada Ayu terasa penuh sampai sakit.

Rumah itu masih berdiri di sana.

Atap gonjongnya tua, beberapa bagian kayunya mulai pudar dimakan cuaca. Cat dindingnya kusam. Tangga depannya sedikit miring. Di sisi kiri, rumpun bunga kertas tumbuh tidak teratur, seolah dibiarkan berebut tempat dengan rumput. Kolam kecil di belakang rumah hanya terlihat sebagian, tertutup pohon pisang dan semak.

Tapi di teras, Nenek Sari berdiri menunggu.

Perempuan itu memakai baju kurung hijau muda dan kain panjang. Rambut putihnya disanggul rapi. Tangannya menggenggam ujung selendang, seolah menahan diri agar tidak berlari.

"Ayu."

Satu kata saja sudah cukup.

Ayu turun dari mobil sebelum Pak Rahman sempat membukakan bagasi. Ia hampir tersandung batu kecil di halaman, tapi tidak peduli. Detik berikutnya, ia sudah memeluk Nenek Sari.

Aroma minyak telon, sabun cuci, dan bumbu dapur yang menempel di baju Nenek membuat tenggorokan Ayu tercekat.

"Kurus sekali kamu," omel Nenek, tapi tangannya mengusap punggung Ayu berkali-kali. "Orang Jakarta tidak dikasih makan apa?"

"Dikasih, Nek. Cuma dimakan kerjaan."

"Mulutmu masih saja begitu."

Ayu tertawa, lalu tangisnya pecah tanpa suara. Nenek Sari memeluknya lebih kuat.

Di belakang Nenek, Datuk Harun berdiri di ambang pintu. Tubuhnya sedikit lebih bungkuk daripada terakhir kali Ayu pulang. Kumisnya masih sama rapi. Matanya memerah, tapi wajahnya tetap tenang.

"Sudah sampai," katanya.

Ayu melepas pelukan Nenek dan mendekat. "Tuk."

Datuk Harun tidak banyak bicara. Ia hanya meletakkan tangannya di kepala Ayu sebentar, lalu mengangguk.

"Masuk. Minum dulu."

Di ruang tengah, semuanya seperti mengecil. Lemari kayu berisi piring lama. Foto Alim dan Tania di dinding, dibingkai sederhana. Tikar pandan yang sudah agak pudar. Jam dinding yang suaranya masih terlalu keras. Ayu menatap foto orang tuanya beberapa detik, lalu menunduk.

"Ayah sama Ibu pasti senang kamu pulang," kata Nenek pelan.

Ayu mengangguk. Ia takut kalau menjawab, suaranya akan patah.

Makan siang sudah tersaji di meja rendah. Gulai ayam, sambal lado hijau, sayur nangka, ikan goreng, dan nasi putih mengepul. Aroma santan dan cabai membuat perut Ayu berbunyi. Nenek langsung menatapnya tajam.

"Nah. Katanya sudah makan di pesawat?"

"Makanannya kecil, Nek. Itu bukan makan. Itu contoh makanan."

Nenek mendecak, tapi wajahnya cerah. "Makan. Tambah dua kali."

Datuk Harun datang dari dapur membawa segelas Teh Talua. Busa kuningnya naik tebal, aromanya hangat, bercampur sedikit jeruk nipis.

"Ini," katanya, meletakkan gelas di depan Ayu. "Buat tenaga."

Ayu menerima dengan kedua tangan. "Terima kasih, Tuk."

Sendok pertama gulai ayam membuat matanya kembali panas. Rasanya tidak semewah makanan hotel. Tidak plating cantik. Tidak ada garnish mahal. Tapi setiap suapan seperti mengatakan bahwa ia tidak perlu kuat sendirian lagi.

Sore itu, setelah mandi dan menata koper, Ayu duduk di halaman. Langit mulai berubah jingga. Udara dingin turun pelan dari arah bukit. Suara jangkrik terdengar dari kebun. Di kejauhan, azan magrib mengalun dari surau.

Nenek Sari sibuk memeriksa barang bawaan Ayu. Datuk Harun memperbaiki lampu teras yang berkedip. Semua begitu biasa sampai terasa mewah.

Malamnya, langit Sungai Tanang penuh bintang.

Ayu berdiri di halaman, menatap rumah gadang yang setengah gelap. Dari sudut tertentu, rumah itu terlihat lelah. Kayu-kayunya menyimpan terlalu banyak musim. Atapnya butuh diperbaiki. Dapur lama terlalu sempit. Halaman belakang bisa dibersihkan. Tanah di samping jalan cukup luas untuk bangunan baru.

Di Jakarta, angka empat puluh miliar terasa menakutkan.

Di sini, angka itu berubah menjadi kemungkinan.

Nenek keluar membawa selendang. "Kenapa berdiri di luar? Dingin."

Ayu menunjuk rumah gadang itu dengan dagu. "Nek, kalau rumah ini diperbaiki besar-besaran, Nenek mau?"

Nenek Sari berhenti. "Diperbaiki bagaimana?"

Belum sempat Ayu menjawab, Datuk Harun muncul dari teras sambil membawa obeng kecil.

"Atap belakang sudah bocor lagi," katanya seolah hanya melaporkan cuaca. "Dapur juga terlalu sempit kalau nanti Ayu sering masak."

Nenek menoleh cepat. "Datuk ini. Orang baru pulang sudah bicara bocor."

"Memang bocor," jawab Datuk datar.

Ayu tertawa pelan. Justru kalimat itu membuat pikirannya semakin jelas. Bukan sekadar mengecat dinding atau mengganti papan lapuk. Ia ingin rumah ini kuat lagi. Ia ingin dapur yang layak, kamar yang nyaman untuk Nenek dan Datuk, halaman yang hidup, dan ruang makan besar tempat orang bisa datang tanpa merasa asing.

Ayu menatap atap gonjong yang siluetnya membelah langit berbintang.

Pelan-pelan, di kepalanya, rumah tua itu mulai berubah bentuk.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
Episodes

Updated 125 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!