Episode 2

Bab 2: Viral!

"Kamu harus ikut reality show kencan."

Kalimat Lilian itu mengikuti Wenny sampai ke mimpinya.

Keesokan paginya, bahkan sebelum matahari benar-benar naik di balik gedung-gedung Jakarta, ponsel Wenny sudah bergetar tanpa henti di atas nakas. Bukan getaran sekali dua kali. Rasanya seperti mesin kecil di dalam casing ponselnya menolak diam.

Wenny membuka mata dengan kepala berat.

Semalam ia pulang lewat tengah malam, mandi dengan setengah sadar, lalu tidur masih dengan rambut lembap dan pikiran yang penuh wajah REYN. Seharusnya pagi ini ia istirahat. Seharusnya ia tidak membuka media sosial sebelum sarapan.

Tetapi siapa artis yang bisa tidur tenang ketika namanya menjadi nomor satu di Trending Topic?

Ia meraih ponsel.

`#WenReyn`

`#REYNMenangkapWenny`

`#RedCarpetRomance`

Tiga tagar itu berdempetan di daftar trending Indonesia. Video semalam sudah melewati tiga puluh juta penayangan. Ada versi lambat dengan musik romantis, ada pula akun yang terlalu rajin membuat utas perubahan ekspresi REYN dalam dua belas detik.

Wenny menekan salah satunya.

`Detik 00:03, REYN belum panik. Detik 00:04, dia sudah membuka tangan. Artinya dia memperhatikan Wenny bahkan sebelum Wenny jatuh.`

`Detik 00:07, lihat matanya. Itu bukan mata orang kaget. Itu mata orang nemu barang hilang.`

Wenny hampir tersedak air putih.

"Barang hilang apanya," gumamnya.

Ia menggulir komentar lain.

`Aku fans REYN sejak debut. Dia enggak pernah lihat perempuan kayak gitu.`

`Wenny cantik banget waktu panik. Lesung pipinya keluar, REYN langsung kalah.`

`Ini settingan? Kalau settingan, tolong lanjutkan.`

`Rosa tadi ada di belakang, enggak sih? Kok gerakannya mencurigakan?`

Jari Wenny berhenti.

Ada yang melihat.

Ia membuka video lain, kali ini dari sudut lebih jauh. Di layar kecil itu, gerakan Rosa memang hampir tidak tampak. Hanya bahu merah yang lewat terlalu dekat, lalu tubuh Wenny limbung. Tanpa konteks, orang bisa menyebutnya tabrakan biasa.

Tubuh Wenny tahu itu dorongan.

Pintu kamar diketuk.

"Masuk," kata Wenny.

Lilian muncul dengan rambut dicepol asal, blazer masih rapi, dan dua gelas kopi di tangan. Mata manajernya jelas kurang tidur.

"Kamu sudah lihat?"

"Kalau aku bilang belum, kamu percaya?"

"Tidak." Lilian menyerahkan kopi. "Minum. Kita berangkat tiga puluh menit lagi."

Wenny duduk tegak. "Ke mana?"

"Kantor."

"Aku belum sarapan."

"Aku pesan bubur beras dan telur rebus. Bebas gluten. Jangan ambil roti di pantry kantor, aku tidak mau kamu tiba-tiba gatal-gatal di tengah rapat."

Kalimat itu membuat Wenny sedikit tersenyum meski kepalanya pusing.

Alergi gluten bukan hal yang bisa ia abaikan. Sejak kecil, tubuhnya bereaksi buruk pada makanan berbahan gandum tertentu. Dulu, ketika ia masih Bintang Kecil, satu kesalahan kecil di meja makan bisa membuat jadwal syuting kacau. Sejak itu, Lilian selalu punya kebiasaan mengecek makanan Wenny lebih dulu, bahkan lebih galak daripada ibunya sendiri.

"Rapatnya soal reality show itu?" tanya Wenny.

Lilian menatapnya tanpa berkedip.

Senyum Wenny hilang. "Jadi semalam bukan ancaman kosong."

"Keputusan sudah turun dari atas."

"Karena video dua belas detik?"

"Karena video dua belas detik yang sudah jadi tiga puluh juta penonton, empat brand menghubungi tim komersial, dan dua media gosip menulis kamu diam-diam pacaran dengan REYN."

Wenny memijit pelipis. "Aku bahkan baru bicara dengannya kurang dari lima kalimat."

"Publik tidak peduli berapa kalimat. Mereka peduli bagaimana dia melihatmu."

Wenny menunduk pada kopi di tangannya.

Masalahnya, publik tidak sepenuhnya salah.

Tatapan REYN memang aneh. Hangat. Tenang. Terlalu personal untuk dua orang yang seharusnya tidak saling mengenal.

Mobil menuju kantor bergerak lebih lambat dari biasanya karena macet pagi Jakarta. Sepanjang jalan, layar besar di Bundaran HI menayangkan iklan minuman yang dulu pernah dibintangi Wenny saat remaja. Wajahnya yang tersenyum di sana terasa seperti milik orang lain.

Dulu semua orang mengenalnya sebagai Bintang Kecil.

Anak perempuan lima tahun dengan rambut dikuncir dua, lesung pipi jelas, dan suara cempreng yang membuat ibu-ibu Indonesia ingin mencubit pipinya. Ia tumbuh di depan kamera, dari sinetron keluarga, film remaja, drama kolosal, sampai menjadi pemeran utama yang selalu dijual dengan kalimat aman: cantik, berbakat, bebas skandal.

Bebas skandal.

Wenny menertawakan kata itu dalam hati.

Satu karpet merah cukup untuk membakar tujuh belas tahun citra bersih.

Di ruang rapat kantor, tim publikasi sudah menunggu. Ada layar besar yang menampilkan grafik sentimen. Hijau mendominasi, artinya publik menyukai skandal itu. Justru itu yang membuat Wenny semakin tidak nyaman.

"Kita tidak akan membantah," kata kepala tim publikasi. "Membantah sekarang akan terlihat defensif. Publik sedang senang. Brand juga senang."

"Jadi aku harus membiarkan orang percaya aku pacaran dengan REYN?" tanya Wenny.

"Tidak. Kita arahkan narasinya."

Lilian duduk di sebelah Wenny, membuka map tipis. "Program `Skandal Cinta` sedang casting untuk musim ketiga. Mereka butuh nama besar. Kita butuh ruang untuk menjelaskan kejadian semalam tanpa terlihat panik."

"Reality show kencan bukan ruang menjelaskan. Itu ruang membuat masalah baru."

"Atau ruang membuat publik melihat kamu sebagai orang dewasa yang bisa menentukan hidupnya sendiri."

Wenny menoleh pada Lilian. Kalimat itu terdengar seperti jebakan yang dibungkus hadiah.

"Aku sudah tujuh belas tahun kerja," kata Wenny pelan. "Aku tidak takut kamera. Tapi acara kencan itu berbeda. Mereka akan memotong ekspresi, memperbesar diam, mengedit setiap napas jadi tanda cinta."

"Mereka bahkan tidak perlu mengedit banyak kalau kamu satu frame dengan REYN," sahut salah satu staf publikasi, lalu langsung diam ketika Lilian meliriknya.

Wenny menarik napas panjang. Jika ia menolak sekarang, narasi bisa berbalik menjadi ia menyembunyikan sesuatu. Jika ia menerima, ia masuk ke arena yang dipenuhi kamera, komentar, dan kemungkinan Rosa bergerak lagi.

"Rosa ikut?" tanyanya tiba-tiba.

Lilian membuka halaman berikutnya. "Masih dibicarakan."

Wenny tertawa pendek. "Tentu saja."

Kepala tim publikasi mencondongkan tubuh. "Wenny, ini bukan hukuman. Ini kesempatan. Kamu punya basis penggemar kuat, REYN punya fanbase yang sangat besar. Kalian berdua dalam satu acara bisa mengubah skandal jadi proyek paling ditunggu tahun ini."

"Aku tidak mau hidupku jadi proyek."

Ruangan hening.

Lilian menyentuh lengan Wenny, kali ini tidak sebagai manajer, melainkan sebagai orang yang sudah menemaninya sejak ia remaja.

"Aku tahu," katanya pelan. "Tapi keputusan kontrak tetap ada di perusahaan. Kita bisa menawar batasan, jadwal, makanan, pengamanan, bahkan hak menolak beberapa permainan. Tapi kita tidak bisa menolak keikutsertaanmu tanpa perang besar."

Wenny memejamkan mata sebentar.

Di balik kelopak matanya, ia kembali melihat mata REYN.

Pantulan wajahnya sendiri di sana.

Seperti ia bukan skandal. Seperti ia seseorang yang akhirnya ditemukan.

Ketika ia membuka mata, ia tahu ia sudah kalah.

"Baik," ucapnya. "Aku ikut."

Lilian menghela napas lega, tetapi tidak tersenyum.

"Ada satu hal lagi."

Wenny langsung curiga. "Apa?"

Lilian memutar map ke arahnya. Di halaman paling atas ada daftar peserta sementara `Skandal Cinta` musim ketiga.

Nama pertama membuat Wenny ingin tertawa pahit.

Nama kedua membuat jantungnya berhenti sebentar.

REYN.

Lilian berkata pelan, seolah takut dinding ruang rapat ikut mendengar, "Kamu dan REYN akan tampil di acara yang sama."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!