Episode 5

Bab 5: Tatapan Pertama

Dan berhenti tepat pada Wenny.

Untuk beberapa detik, Wenny lupa bahwa ada kamera di sekelilingnya.

Angin dari baling-baling helikopter masih mengacaukan rambutnya. Suara mesin perlahan turun, tetapi di telinganya justru terdengar detak jantung sendiri. REYN berdiri di tengah halaman, kacamata hitam tergenggam di satu tangan, tatapannya tidak bergerak sedikit pun dari wajah Wenny.

Bukan tatapan seorang rekan kerja.

Bukan juga tatapan pria yang baru ikut acara kencan dan mencari pasangan paling aman untuk kepentingan kamera.

Tatapan itu seperti garis lurus yang sejak awal hanya punya satu tujuan.

Wenny memaksa dirinya tersenyum sopan.

REYN berjalan mendekat.

Koko, yang biasanya tidak pernah kehabisan kalimat, kali ini tampak menikmati setiap langkah REYN seperti sedang menonton adegan mahal yang tidak perlu diarahkan.

"Akhirnya peserta terakhir kita tiba," seru Koko, kembali ke mode sutradara. "REYN, selamat datang di `Skandal Cinta`!"

REYN berhenti di sebelah Koko, tetapi matanya masih sempat menyentuh Wenny sekali lagi sebelum ia melihat kamera.

"Terima kasih."

Hanya dua kata.

Tetapi komentar live langsung berlari liar di layar observasi.

`Dia lihat Wenny dulu baru lihat kamera.`

`Aku ulang, dia lihat Wenny dulu.`

`WenReyn sudah mulai sebelum episode pertama selesai.`

Di ruang observasi, Chelsea menutup mulut dengan kedua tangan. "Aku belum siap. Dia baru turun dari helikopter saja sudah bikin suasana begini."

Jay menyandarkan punggung ke kursi. "Biasakan diri. Ini baru awal."

Chelsea menoleh cepat. "Kamu tahu sesuatu."

"Aku tahu banyak hal."

"Jay!"

"Tonton saja."

Di halaman vila, Koko mulai menjelaskan aturan pembukaan. Para peserta akan masuk ke aula, mengambil kartu kamar, lalu membawa barang masing-masing ke lantai dua. Tidak ada pasangan resmi di hari pertama. Tidak ada misi berat. Hanya adaptasi, makan malam, dan sesi obrolan santai.

Kata `santai` terdengar mustahil ketika REYN berdiri di sana.

Koper-koper peserta sudah disusun dekat tangga luar. Wenny mengenali miliknya, koper putih besar dengan pita biru muda di pegangan. Ia baru melangkah setengah jalan ketika sebuah tangan lebih dulu meraih pegangan koper itu.

Tangan REYN.

Wenny berhenti.

"Aku bisa bawa sendiri," katanya.

"Aku tahu."

"Lalu?"

"Aku ingin membawanya."

Jawaban itu terlalu tenang. Terlalu wajar. Seolah ia tidak sedang mengatakan kalimat yang bisa dipotong tim produksi menjadi sepuluh versi video pendek malam ini.

Kevin yang berada di belakang mereka langsung bersiul pelan. "Oke. Aku juga punya koper kalau ada yang ingin terlihat gentleman."

Stella meliriknya. "Bawa sendiri, Kevin."

"Kejam sekali."

Natasha tertawa kecil. Felix mengambil koper Stella tanpa bertanya, dan Stella tidak menolak. Momen itu terlalu natural, tetapi Wenny tidak sempat memikirkan lebih jauh karena REYN sudah menarik kopernya satu langkah ke depan.

"REYN," panggil Wenny, lebih pelan.

Pria itu menoleh.

Dari dekat, wajahnya berbeda dari layar konser. Rahangnya tetap tegas, matanya tetap tajam, tapi ada sesuatu yang lebih manusiawi di bawah semua citra dingin itu. Mungkin karena ia tidak sedang berada di panggung. Mungkin karena ia berdiri terlalu dekat.

"Kamera sedang merekam," bisik Wenny.

"Aku tahu."

"Kamu tidak takut salah paham?"

REYN menatapnya sebentar. "Salah paham yang mana?"

Wenny kehilangan kalimat.

Sementara itu, Rosa memperhatikan dari sisi tangga.

Ia memegang koper kecilnya sendiri, senyum manis masih terpasang, tetapi jemarinya mencengkeram pegangan koper sampai buku jarinya memutih. Natasha mendekat ke sisinya.

"Rosa, kamu enggak apa-apa?"

"Aku?" Rosa tertawa halus. "Tentu. Aku cuma heran. Biasanya REYN kan tidak pernah seperti itu."

"Mungkin dia hanya sopan."

"Mungkin."

Namun mata Rosa tidak tampak percaya pada kata itu.

Koko memberi aba-aba agar semua peserta naik. Kamera mengikuti dari bawah dan dari atas tangga. Wenny berjalan di samping REYN karena kopernya berada di tangan pria itu. Mereka tidak menyentuh, tetapi jarak di antara mereka cukup dekat untuk membuat lengan Wenny hampir menyapu lengan jaket REYN setiap beberapa langkah.

"Kamu..." REYN membuka suara.

Wenny menoleh. "Apa?"

REYN menatap tangga di depan, lalu berkata seolah hanya memastikan sesuatu, "Kamu Wen..."

Ia berhenti.

Satu suku kata itu seperti jarum kecil menusuk ingatan Wenny.

Wen.

Bukan Wenny.

Nama itu biasa dipakai keluarga dekatnya. Papa, Mama, Winson, Lilian jika sedang terburu-buru. Tidak banyak orang di luar lingkaran itu tahu, apalagi mengucapkannya dengan nada yang terdengar begitu akrab.

REYN melanjutkan dengan tenang, "Wenny, kamar kamu nomor berapa?"

Wenny menahan napas.

Ia pasti salah dengar.

Mungkin REYN hanya memotong kalimat. Mungkin ia hendak berkata `Wenny` tapi berhenti di tengah. Mungkin otaknya saja yang sejak red carpet terlalu sibuk menghubungkan hal-hal kecil.

"Nomor tiga," jawabnya.

REYN melihat kartu kamar di tangannya. "Aku nomor lima."

"Oh."

"Tidak jauh."

Kalimat sederhana itu membuat pipi Wenny kembali panas.

Di belakang mereka, Kevin berbisik terlalu keras, "Kamar tiga dan lima. Kamar empat siapa? Tolong jangan aku, aku belum siap jadi pembatas sejarah."

"Aku," kata Stella datar.

Kevin langsung mengangkat kedua tangan. "Aman. Kalau Stella, aku percaya bisa menjaga perdamaian dunia."

Rosa tertawa bersama yang lain, tetapi matanya tetap ke punggung REYN.

Di depan pintu kamar nomor tiga, Wenny berhenti. REYN meletakkan kopernya di sisi pintu dengan hati-hati, tidak seperti orang yang sekadar ingin terlihat sopan di depan kamera. Ia bahkan memastikan pita biru muda itu tidak tersangkut roda.

"Terima kasih," kata Wenny.

"Sama-sama."

Mereka berdiri terlalu dekat di koridor lantai dua.

Kamera kecil di sudut langit-langit berputar halus mengikuti mereka. Wenny sadar akan itu, tetapi ada bagian dirinya yang lebih sadar pada cara REYN menunduk sedikit agar suaranya hanya sampai padanya.

"Kalau butuh sesuatu," katanya, "panggil aku."

"Kita baru hari pertama."

"Aku tidak bilang harus hari ini."

Wenny menatapnya, tidak yakin harus tersinggung atau tersipu.

Suara langkah berhenti di ujung koridor.

Rosa muncul dengan koper kecil di sampingnya. Senyumnya ringan, tetapi matanya langsung turun ke koper Wenny yang sudah rapi di depan pintu.

"Perhatian sekali," kata Rosa. "Aku baru tahu REYN suka membantu membawa barang."

REYN menoleh sekilas. "Kalau barangnya Wenny."

Koridor mendadak sunyi.

Kevin yang baru muncul di tangga langsung membeku dengan satu tangan masih memegang pegangan koper. Stella di belakangnya hanya menutup bibir dengan punggung tangan, menahan senyum.

Wenny ingin pura-pura tidak mendengar, tetapi telinganya sudah panas.

Rosa tertawa pelan. "Wah, jujur sekali."

"Kamu yang bertanya," jawab REYN.

REYN tersenyum tipis, lalu berjalan menuju kamar nomor lima.

Begitu pintu kamarnya tertutup, Wenny masuk ke kamar sendiri dan menyandarkan punggung ke pintu. Ruangan itu luas, berbau kayu dan laut, dengan jendela besar menghadap halaman vila. Tapi semua keindahan itu kalah oleh satu suku kata yang berputar di kepalanya.

Wen.

Ia mengangkat tangan ke dadanya, mencoba menenangkan detak jantung.

REYN hampir memanggilnya apa tadi?

Ia yakin setelah `Wen`, yang hendak keluar dari bibir pria itu bukan `ny`.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!