Bertemu di Puncak: Skandal Cinta Sang Bintang

Bertemu di Puncak: Skandal Cinta Sang Bintang

Episode 1

Bab 1: Skandal di Red Carpet

Wenny Santoso tahu ia akan jatuh bahkan sebelum suara heboh itu pecah di belakangnya.

Tumit stiletto-nya tersangkut ujung karpet merah yang sedikit terlipat. Dari sisi kiri, seseorang menabrak bahunya cukup keras untuk membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan. Lampu kamera menyambar bertubi-tubi, putih, panas, menyilaukan. Seluruh suara di Bintang Awards Gala mendadak terdengar jauh, seperti ia sedang tenggelam di dalam kolam yang dipenuhi teriakan fotografer.

"Wenny!"

Nama itu baru sempat menyentuh telinganya ketika tubuhnya sudah terlempar ke depan.

Ia menutup mata, bersiap pada rasa sakit di lutut, pada gaun satin biru muda yang pasti akan terseret di karpet, pada ratusan kamera yang akan mengabadikan jatuhnya Putri Nasional malam ini.

Tapi rasa sakit itu tidak datang.

Yang datang justru sepasang lengan yang kuat.

Satu tangan menahan pinggangnya, satu lagi menopang punggungnya. Aroma parfum maskulin yang dingin dan samar-samar manis menyergap napas Wenny. Ketika ia membuka mata, wajah REYN sudah berada begitu dekat sampai ia bisa melihat pantulan dirinya sendiri di mata pria itu.

Bukan pantulan penuh. Hanya wajahnya yang pucat, bibir yang terbuka karena terkejut, dan dua lesung pipi yang muncul samar karena ia menggigit senyum panik.

Di pupil REYN, ia tampak kecil sekali.

Namun tatapan pria itu tidak terlihat kaget.

Tidak seperti orang yang baru saja menangkap perempuan jatuh di depan ratusan kamera. Tidak seperti artis yang kebetulan diseret masuk ke skandal. Matanya terlalu tenang. Sudut bibirnya bahkan naik sedikit, nyaris tidak terlihat, tetapi cukup untuk membuat dada Wenny berdegup sekali lebih keras.

Seolah-olah ia sudah lama menunggu momen ini.

"Hati-hati," ucap REYN rendah.

Suara itu dekat sekali dengan telinganya. Wenny baru sadar telapak tangannya menempel di dada REYN. Di balik jas hitam yang rapi, detak jantung pria itu terasa stabil, berbanding terbalik dengan jantungnya yang kacau.

"Maaf." Wenny buru-buru menarik tangannya. "Aku..."

"Kamu terluka?"

Pertanyaan itu memotong kepanikannya. Sederhana, tapi cara REYN menatap lutut dan pergelangan kakinya membuat kamera di sekitar mereka mendadak terasa tidak penting.

Wenny menggeleng. "Enggak. Aku baik-baik saja."

"Yakin?"

Terlalu lembut.

Satu kata itu terlalu lembut untuk seorang REYN, penyanyi top yang selama ini dikenal dingin di depan media. Ice Prince. Pria yang jarang tersenyum, jarang menjawab pertanyaan pribadi, dan lebih sering membuat presenter kehilangan kata-kata karena jawabannya pendek-pendek.

Wenny menegakkan tubuhnya. Ia sadar tangan REYN masih berada di pinggangnya, tidak menekan, hanya menjaga agar ia tidak jatuh lagi. Panas merambat dari tempat jari pria itu menyentuh gaunnya.

"Yakin," jawabnya, kali ini lebih pelan.

Barulah REYN melepaskannya.

Di sekeliling mereka, fotografer seperti baru menemukan oksigen.

"REYN, lihat sini!"

"Wenny, ke sini sedikit!"

"Kalian datang bareng?"

"Ada hubungan apa?"

Pertanyaan saling bertabrakan. Flash kamera menyala seperti petir kecil. Wenny memaksa senyum profesional yang sudah ia latih sejak kecil. Tujuh belas tahun di dunia hiburan mengajarinya untuk tidak panik di depan kamera, bahkan ketika gaunnya hampir membuatnya jatuh ke pelukan penyanyi paling berbahaya untuk dijadikan rumor.

Dari sudut mata, ia melihat Rosa.

Rosalyn Chandra berdiri beberapa langkah di belakang, gaun merahnya berkilau di bawah lampu. Senyumnya lembut, rapi, seolah ia hanya penonton yang ikut kaget.

"Aduh, Wenny, kamu enggak apa-apa?" Rosa mendekat sambil menempelkan tangan ke dada. "Tadi ramai sekali, aku sampai enggak lihat kamu hampir jatuh."

Wenny menatapnya.

Bahunya masih terasa nyeri di bagian yang tadi tertabrak. Terlalu tepat untuk disebut tidak sengaja. Terlalu keras untuk ukuran orang yang hanya terseret arus kerumunan.

Namun kamera masih menyala.

"Aku baik-baik saja," kata Wenny dengan senyum tipis. "Untung ada REYN."

Senyum Rosa berhenti sepersekian detik.

REYN melirik Rosa. Tatapannya tidak tajam, tapi cukup dingin untuk membuat perempuan itu menurunkan tangan dari dada. Ia tidak berkata apa-apa. Justru diamnya membuat udara terasa lebih berat.

Seorang staf gala bergegas mendekat. "Wenny, jalur red carpet masih lanjut. Kita masuk dulu ya?"

Wenny mengangguk. Ia hendak melangkah, tapi REYN lebih dulu sedikit menunduk dan membetulkan ujung karpet yang tadi melipat. Gerakan itu sederhana, bahkan hampir tidak terlihat oleh kamera besar di depan, tetapi kamera ponsel para tamu VIP pasti menangkapnya.

"Sekarang aman," katanya.

Pipi Wenny memanas.

Ia ingin menjawab biasa saja. Mungkin `terima kasih`, mungkin candaan ringan agar suasana cair. Tetapi semua kalimat tersangkut di tenggorokan. Yang keluar hanya anggukan kecil.

Mereka berjalan terpisah setelah itu.

Setidaknya Wenny berusaha membuatnya terlihat terpisah.

Ia masuk ke area backstage dengan Lilian yang langsung menariknya ke sudut dekat tirai hitam. Wajah manajernya pucat, ponsel sudah menempel di telinga, satu tangan sibuk menahan ekor gaun Wenny.

"Kamu jatuh ke siapa tadi?" bisik Lilian, cepat dan tajam.

"Aku tidak jatuh." Wenny menarik napas. "Hampir."

"Hampir jatuh ke pelukan REYN itu tetap cukup untuk bikin kantor kita lembur sampai pagi."

"Rosa yang nabrak aku."

Mata Lilian langsung menyipit. "Kamu yakin?"

Wenny memegang bahunya yang masih nyeri. "Aku tahu bedanya tersenggol dan didorong."

Lilian tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah red carpet, tempat Rosa baru saja tertawa manis kepada wartawan, lalu kembali pada Wenny.

"Kita urus nanti. Sekarang jangan bicara apa pun soal Rosa. Jangan bikin tuduhan tanpa bukti."

"Aku tahu."

"Dan jangan dekat-dekat REYN dulu."

Wenny terdiam.

Terlambat, pikirnya.

Karena meski tubuhnya sudah jauh dari pria itu, ingatan tentang tangan REYN di pinggangnya masih menempel seperti sisa panas lampu sorot.

Acara selesai hampir tengah malam.

Wenny masuk ke mobil van dengan kaki pegal dan kepala penuh suara kamera. Begitu pintu ditutup, dunia akhirnya menjadi lebih sunyi. Ia melepas anting besar dari telinganya, bersandar, lalu membuka ponsel.

Notifikasi memenuhi layar.

Nama REYN berada di mana-mana.

Nama Wenny juga.

Video berdurasi dua belas detik itu sudah diputar jutaan kali. Dari sudut kamera seorang tamu, tubuh Wenny terlihat jatuh tepat ke pelukan REYN. Gerakannya tampak seperti adegan lambat dalam drama romantis. Gaun biru mudanya berayun, jas hitam REYN terbuka sedikit, dan wajah mereka berhenti begitu dekat sampai komentar pertama yang muncul membuat Wenny nyaris menjatuhkan ponsel.

`Ini kecelakaan atau teaser drama baru?`

`REYN SENYUM? TOLONG INI BUKAN LATIHAN.`

`Wenny di mata REYN cantik banget, gue ulang 50 kali.`

`WenReyn? Aku daftar jadi shipper pertama.`

Wenny menekan video itu.

Lalu ia melihatnya.

Detik ketika REYN menangkapnya, pria itu memang tidak tampak kaget. Matanya langsung turun ke wajah Wenny, lembut, fokus, hampir... rindu.

Rindu?

Wenny menggigit bibir. "Enggak mungkin."

Video itu terus berputar. Angka penonton naik terlalu cepat. Sembilan juta. Sembilan koma lima. Sepuluh juta.

Ponsel Lilian berdering.

Wenny menoleh. Manajernya melihat nama penelepon di layar, wajahnya langsung berubah kaku.

"Dari perusahaan," kata Lilian.

Ia mengangkat telepon, mendengarkan tanpa menyela. Semakin lama, rahangnya semakin tegang.

"Baik. Saya sampaikan."

Panggilan berakhir.

Di dalam mobil yang melaju membelah Jakarta malam itu, Lilian menatap Wenny dengan mata seorang manajer yang baru saja menerima keputusan buruk dan tidak punya ruang untuk menolaknya.

"Perusahaan sudah memutuskan," ucap Lilian pelan.

Jantung Wenny turun.

"Kamu harus ikut reality show kencan."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!