Episode 2

Bab 2: Pukul Dua Pagi

Balasan itu masuk kurang dari satu menit.

Masih. Kalau cocok, bisa pindah besok. Unit kosong malam ini.

Yu menatap layar ponsel sampai huruf-hurufnya terasa kabur. Di sekitarnya, lobby apartemen Kevin sudah mulai sepi. Satpam menguap di pos. Satu mobil hitam menurunkan penumpang, lalu pergi lagi, meninggalkan suara ban yang menggesek aspal basah.

Unit kosong malam ini.

Empat kata itu terdengar seperti jebakan, tapi juga seperti satu-satunya papan kecil yang terapung di tengah air. Yu mengusap layar dengan ibu jarinya, lalu membalas sebelum keberaniannya habis.

Saya mau lihat unitnya besok pagi.

Admin hanya membalas dengan alamat, nomor tower, dan kalimat singkat: Bawa KTP untuk data penghuni. Khusus perempuan, ya.

Yu hampir tertawa. Di kolom komentar, orang bilang ada laki-laki tinggi keluar jam dua pagi. Admin bilang khusus perempuan. Hidupnya baru saja hancur karena laki-laki, dan sekarang ia mungkin akan menyerahkan deposit pada iklan yang bahkan tidak bisa menentukan jenis kelamin penghuni.

Tapi malam itu, pilihan Yu tidak banyak.

Ia memesan GrabCar ke kos sementara milik teman sekelas yang sedang pulang ke Bekasi, tidur hanya dua jam di atas kasur tipis, lalu pagi harinya pergi melihat unit itu dengan mata sembap dan kepala berat.

Apartemen itu berada di Jakarta Selatan, tidak jauh dari akses MRT dan masih masuk akal untuk perjalanan ke UI. Gedungnya tinggi, lobby-nya wangi kopi dari kafe kecil di sudut, dan lift-nya terlalu cepat naik sampai perut Yu sedikit mual.

Admin unit, seorang perempuan muda bernama Rani, menyerahkan kartu akses sambil tersenyum profesional.

"Penghuni satunya jarang di rumah, Kak. Orangnya bersih banget, jadi tolong jaga kebersihan juga, ya."

"Penghuni satunya perempuan?" tanya Yu.

Senyum Rani berhenti setengah detik.

"Data di sistem begitu, Kak. Unit ini terdaftar untuk penyewa perempuan."

Jawaban itu tidak menjawab apa pun.

Yu berdiri di depan pintu unit sambil menggenggam strap tasnya. Bekas semalam masih terasa di tubuhnya, seperti lelah yang tidak mau lepas. Ia sudah mengirim pesan ke Lily, tapi hanya menulis bahwa ia pindah tempat sementara dan tidak perlu dijemput. Lily membalas dengan dua puluh panggilan tidak terjawab, lalu satu pesan panjang penuh huruf kapital.

Yu belum sanggup membukanya.

Pintu unit terbuka.

Hal pertama yang Yu rasakan adalah bau bersih.

Bukan sekadar wangi ruangan. Ini bau lantai yang baru dipel, kaca yang baru dilap, dan udara yang tidak memberi ruang untuk debu. Sepatu rumah tersusun lurus di rak dekat pintu. Sofa abu-abu di ruang tengah tidak punya lipatan berantakan. Meja makan kosong, kecuali satu kotak tisu yang posisinya tepat di tengah. Di dapur, botol sabun cuci piring menghadap ke arah yang sama dengan botol hand sanitizer.

Yu melepas sepatu dengan hati-hati, tiba-tiba merasa dosanya bertambah hanya karena membawa koper roda dua yang tadi melewati trotoar becek.

"Ini... rapi sekali," gumamnya.

Rani tertawa kecil. "Iya, Kak. Penghuni satunya agak perfeksionis. Tapi tenang, kamarnya masing-masing. Area pribadi nggak akan diganggu."

"Dia pulang kapan?"

"Biasanya nggak tentu. Kadang malam, kadang subuh. Tapi jarang berisik kok."

Subuh.

Komentar jam dua pagi itu kembali muncul di kepala Yu.

Ia melihat kamar yang ditawarkan. Ukurannya tidak besar, tapi cukup untuk kasur, meja belajar, lemari, dan satu jendela menghadap gedung sebelah. Yang paling penting, pintunya bisa dikunci dari dalam. Setelah semalam, fakta sesederhana itu terasa seperti kemewahan.

"Saya ambil," kata Yu.

Rani berkedip. "Kakak yakin? Nggak mau pikir-pikir dulu?"

Yu menatap koper di dekat kakinya. Hoodie abu-abu masih membungkus mug ikan kecil di dalam tas. Semua barang yang ia punya malam itu muat di dua tas dan satu koper. Lucu sekali, tiga tahun hubungan ternyata bisa ditinggalkan dengan barang sebanyak itu.

"Saya yakin."

Sore harinya, Yu resmi masuk.

Ia menghabiskan beberapa jam untuk membersihkan kamar yang sebenarnya sudah bersih. Ia menyusun buku kuliah di meja, menaruh laptop di sudut kanan, menggantung dua kemeja, lalu meletakkan mug ikan kecil di dekat jendela. Mug itu retak sedikit di bagian bawah karena perjalanan, tapi masih bisa berdiri.

Di luar kamar, apartemen tetap sunyi.

Sunyi yang aneh.

Tidak ada suara penghuni lain. Tidak ada sandal bergeser. Tidak ada piring dicuci. Tidak ada batuk, tidak ada musik, tidak ada tanda bahwa ada manusia lain pernah hidup di tempat itu, kecuali jejak kerapian yang terlalu disiplin.

Yu keluar untuk mengambil air. Di dapur, ia melihat satu catatan kecil tertempel di pintu kulkas.

Jangan taruh makanan berbau tajam tanpa tutup.

Tidak ada tanda tangan.

Yu membaca catatan itu dua kali, lalu membuka kulkas. Isinya membuatnya terdiam. Botol air mineral tersusun berdasarkan ukuran. Telur berada di kotak transparan dengan label tanggal. Sayur dibungkus rapi. Bahkan saus sambal pun berdiri seperti ikut upacara bendera.

"Oke," bisik Yu. "Aku tinggal sama robot."

Ia membuat teh hangat, kembali ke kamar, dan berusaha mengerjakan tugas struktur data. Tiga baris kode membuat kepalanya sakit. Lima menit kemudian, ia malah membuka chat Kevin tanpa sengaja.

Ada tujuh pesan baru.

Yu, jawab.

Aku khawatir.

Jangan kekanak-kanakan.

Kita perlu bicara.

Yu menutup chat itu sebelum pesan berikutnya terbaca. Ia mematikan notifikasi, menaruh ponsel telungkup, lalu menarik napas panjang.

Kulit di lengannya terasa tidak nyaman.

Rasa itu datang pelan, seperti semut halus bergerak di bawah permukaan. Biasanya, setelah pertengkaran besar atau keramaian yang membuatnya tertekan, tubuh Yu mulai mencari sentuhan aman. Dulu, kalau Ko Darren ada di dekatnya, cukup satu tepukan di kepala atau pelukan sebentar dan semua beres. Di Jakarta, ia hanya punya dirinya sendiri.

Ia melipat tangan di dada, mencoba menekan rasa gelisah itu.

"Nggak apa-apa," bisiknya. "Tidur saja."

Menjelang tengah malam, hujan turun lagi. Tetesnya memukul kaca jendela dengan ritme kecil yang lama-lama membuat mata Yu berat. Ia sempat berpikir untuk mengunci pintu kamar dua kali, lalu tiga kali. Setelah memastikan kunci benar-benar masuk, ia berbaring dengan lampu meja masih menyala.

Entah jam berapa ia tertidur.

Yang jelas, ia terbangun karena bunyi pintu utama terbuka.

Ceklek.

Mata Yu langsung terbuka.

Kamar masih remang. Ponselnya menunjukkan pukul 02.03. Dari luar, terdengar suara langkah berat, teratur, lalu bunyi sesuatu diletakkan di dekat pintu. Bukan langkah Rani. Bukan langkah perempuan yang pulang diam-diam setelah lembur.

Yu duduk perlahan. Jantungnya memukul tulang rusuk.

Komentar itu benar.

Ada laki-laki tinggi keluar jam dua pagi.

Sekarang laki-laki itu masuk.

Yu meraih penggaris besi dari meja belajar. Benda itu konyol sebagai senjata, tapi tangannya membutuhkan sesuatu untuk digenggam. Ia membuka pintu kamar sedikit, cukup untuk melihat ruang tengah.

Lampu foyer menyala.

Seorang laki-laki berdiri di dekat rak sepatu.

Tinggi. Sangat tinggi sampai ruangan itu terlihat lebih sempit. Ia mengenakan jaket balap hitam dengan garis putih di lengan, rambutnya sedikit basah oleh hujan, dan di tangannya ada helm full-face. Dari tubuhnya tercium campuran hujan, kulit jok mobil, dan aroma bensin yang tajam namun bersih.

Laki-laki itu mengangkat kepala.

Tatapannya langsung menemukan Yu.

Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap. Yu dengan penggaris besi di tangan. Laki-laki itu dengan helm di satu tangan dan sarung tangan balap di tangan lain.

Wajahnya terlalu bagus untuk situasi seburuk ini.

Garis rahangnya tajam, kulitnya pucat dingin di bawah lampu, matanya gelap dan tenang. Tenang yang bukan ramah, melainkan seperti seseorang yang terbiasa membuat orang lain lebih dulu menjelaskan diri.

"Kamu siapa?" tanyanya.

Suaranya rendah, datar, dan sama sekali tidak terdengar seperti orang yang baru membobol rumah.

Yu hampir tertawa karena takut. "Harusnya aku yang tanya begitu."

Alis laki-laki itu bergerak sedikit.

"Ini unitku."

"Admin bilang ini unit share khusus perempuan."

"Admin salah."

Jawaban itu begitu pendek sampai Yu ingin melempar penggarisnya.

"Aku sudah bayar deposit," katanya.

"Aku nggak terima pemberitahuan."

"Itu bukan masalahku."

"Sekarang jadi masalahku."

Udara di antara mereka mengeras. Yu merapatkan pintu kamar dengan bahunya, tapi ia tidak mundur. Kalau mundur, ia akan terlihat seperti penyusup. Padahal dia yang baru putus, baru pindah, baru mencoba hidup tanpa drama. Kenapa hidup malah mengirim laki-laki 189 cm berbau bensin ke ruang tengahnya pada pukul dua pagi?

Laki-laki itu menatap penggaris di tangannya.

"Kamu mau mukul aku pakai itu?"

"Kalau perlu."

"Penggaris?"

"Besi."

Untuk pertama kalinya, sudut bibirnya bergerak sedikit. Bukan senyum. Lebih mirip penghinaan kecil yang terlalu tampan.

Yu makin kesal.

"Aku akan telepon admin," katanya.

"Besok." Laki-laki itu melepas jaketnya dengan gerakan rapi. Di baliknya, kaus hitam menempel pada tubuh yang jelas tidak dibentuk oleh hidup santai. "Sekarang aku mau mandi."

"Hei, tunggu. Kita belum selesai bicara."

Ia berjalan melewati ruang tengah menuju lorong. Yu, yang panik melihat orang asing menuju area kamar, refleks keluar dari kamarnya dan menghalangi sedikit.

Kesalahan besar.

Mereka bergerak pada saat yang sama.

Lengan Yu tersentuh punggung tangan laki-laki itu.

Hanya sebentar.

Kulit bertemu kulit.

Yu membeku.

Rasa semut halus yang sejak tadi merayap di bawah lengannya mendadak berhenti. Bukan berkurang pelan-pelan, bukan ditenangkan dengan usaha, melainkan hilang begitu saja, seperti seseorang mematikan suara bising di dalam tubuhnya. Napasnya, yang sejak tadi pendek dan cepat, turun perlahan.

Sunyi.

Untuk pertama kalinya sejak ia membuka pintu apartemen Kevin, tubuh Yu benar-benar sunyi.

Laki-laki itu juga berhenti. Ia melihat bagian tangan mereka yang tadi bersentuhan, lalu menatap Yu dengan dahi sedikit berkerut.

"Apa?"

Yu menarik lengannya cepat-cepat, seolah baru tersadar.

"Nggak."

"Kamu pucat."

"Kamu masuk rumah jam dua pagi. Tentu saja aku pucat."

Ia menatap Yu satu detik lebih lama, lalu mengambil satu langkah mundur, menjaga jarak dengan cara yang terlalu sadar. "Kamar mandi di ujung. Aku pakai lima belas menit. Setelah itu kita bicara kalau kamu masih mau ribut."

"Aku nggak ribut."

"Kamu pegang penggaris besi."

Yu menurunkan penggarisnya sedikit.

Laki-laki itu berjalan ke kamar mandi. Sebelum pintu tertutup, ia menoleh sekilas.

"Sim Zhenyu."

Yu berkedip.

"Apa?"

"Namaku." Ia mendorong pintu kamar mandi. "Kalau mau lapor admin, sebut nama yang benar."

Pintu tertutup.

Suara shower menyala beberapa detik kemudian.

Yu masih berdiri di lorong, penggaris besi di tangan, jantung di dada, dan kulit lengannya yang tiba-tiba terasa terlalu tenang. Dari celah pintu kamar mandi, aroma bensin perlahan kalah oleh wangi sabun.

Ia menatap punggung tangannya sendiri.

Satu sentuhan tidak sengaja.

Satu detik saja.

Dan seluruh dunianya, yang sejak semalam berisik dan pecah, mendadak diam.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!