Episode 3

Bab 3: Sepuluh Juta

Lima belas menit ternyata benar-benar lima belas menit.

Begitu suara shower berhenti, Yu langsung mundur ke dekat pintu kamarnya, seolah jarak dua meter bisa menyelamatkan harga dirinya. Ia sudah menaruh penggaris besi di atas meja, tetapi matanya masih beberapa kali turun ke punggung tangan sendiri.

Tidak gatal. Tidak panas. Tidak gelisah.

Kulitnya tenang.

Terlalu tenang.

Pintu kamar mandi terbuka. Sim Zhenyu keluar dengan kaus putih bersih dan celana training hitam. Rambutnya masih basah, handuk kecil tersampir di leher. Aroma bensin yang tadi melekat padanya sudah hilang, digantikan wangi sabun mint yang dingin.

Ia berhenti ketika melihat Yu masih berdiri di lorong.

"Masih mau ribut?"

Yu mengangkat dagu. "Aku mau kejelasan."

"Bagus." Zhen berjalan ke ruang tengah, mengambil ponselnya dari meja, lalu duduk di sofa paling ujung. Sebelum duduk, ia mengelap permukaan sofa dengan tisu basah yang entah muncul dari mana.

Yu menatap gerakannya. "Kamu selalu begitu?"

"Selalu apa?"

"Mengelap sofa sendiri."

"Kalau ada orang asing baru masuk rumahku jam dua pagi, iya."

"Aku yang orang asing?"

Zhen menatapnya datar. "Aku yang tinggal di sini duluan."

Yu hampir membalas, tapi ponsel Zhen sudah tersambung ke admin. Rani menjawab dengan suara panik yang terlalu jelas terdengar karena Zhen menyalakan speaker.

"Kak Zhen, maaf banget. Data sistem dari pemilik lama memang tertulis penyewa perempuan untuk kamar kedua. Saya baru tahu Kakak belum menerima pemberitahuan."

"Saya menerima pemberitahuan sekarang," kata Zhen.

Yu menggigit bagian dalam pipi agar tidak tersenyum. Nada Zhen begitu datar sampai terdengar lebih tajam daripada orang marah.

Rani cepat-cepat menjelaskan bahwa kamar kedua sudah kosong tiga bulan, pemilik unit meminta segera disewakan, dan semua dokumen Yu sudah lengkap. Kalau salah satu pihak keberatan, kontrak bisa dibatalkan besok pagi.

Zhen menatap Yu. "Mau batal?"

Yu terdiam.

Harga sewa itu paling masuk akal. Lokasinya aman. Kamar bisa dikunci. Dan yang paling memalukan, tubuhnya masih mengingat satu detik sentuhan tadi seperti menemukan obat yang tidak sengaja jatuh dari langit.

"Aku sudah bayar deposit," kata Yu akhirnya.

"Deposit bisa dikembalikan," jawab Zhen.

"Aku nggak suka pindah dua kali dalam dua hari."

Zhen memandangnya beberapa detik, lalu berkata pada Rani, "Buat addendum. Area pribadi masing-masing. Jadwal bersih-bersih jelas. Tidak bawa tamu tanpa izin."

Yu berkedip.

Rani terdengar lega. "Baik, Kak. Besok saya kirim."

Telepon ditutup.

Zhen berdiri. "Aturan pertama, jangan sentuh barangku."

"Aturan pertama juga, jangan masuk rumah jam dua pagi tanpa bilang."

"Ini rumahku."

"Sekarang rumah share."

Mereka saling menatap. Di luar jendela, hujan sudah berhenti, tapi udara di ruang tengah masih seperti menyimpan listrik.

Zhen akhirnya mengambil helmnya. "Aku tidur."

"Kamu nggak mau tahu namaku?"

Langkahnya berhenti.

Yu sendiri tidak tahu kenapa ia bertanya. Mungkin karena ia kesal pria itu bisa menyebut aturan panjang tanpa merasa perlu mengenal orang yang harus menaatinya.

Zhen menoleh sedikit. "Chua Yulin. Di KTP tertulis begitu."

Yu tercekat.

"Admin kirim data penyewa," lanjutnya. "Selamat tidur, Chua Yulin."

Ia masuk ke kamar utama dan menutup pintu.

Yu berdiri sendirian di ruang tengah, merasa kalah tanpa tahu pertandingan apa yang baru saja dimulai.

Keesokan paginya, Yu menemukan aturan kedua sampai kelima tertempel di pintu kulkas.

Buang sampah sebelum pukul 20.00.

Lap meja setelah makan.

Jangan meninggalkan rambut di saluran kamar mandi.

Tidak memakai speaker di atas jam 22.00.

Tulisan tangannya rapi, miring tipis, dan menyebalkan.

Yu membaca semuanya sambil memegang gelas air. "Ini bukan roommate. Ini kepala asrama."

Pintu kamar utama terbuka.

Zhen keluar dengan hoodie hitam, tas laptop di bahu, dan wajah orang yang tidur empat jam tapi tetap terlihat seperti iklan skincare mahal. Ia melirik gelas di tangan Yu, lalu wastafel, lalu meja.

"Coaster ada di laci."

Yu melihat dasar gelasnya yang meninggalkan sedikit embun di meja.

Sabar, Yu. Baru hari kedua. Jangan bunuh orang.

Ia mengambil tatakan gelas dari laci dan meletakkannya dengan gerakan yang sengaja pelan.

"Puas?"

"Lumayan."

Zhen membuka kulkas, mengambil botol air, lalu ponselnya menyala di meja. Layar menghadap ke atas. Yu tidak berniat melihat. Sungguh. Tapi nama pengirim muncul besar-besar, dan matanya bergerak sendiri.

Nia Sentul

Z, jadwal malam ini tetap. Transfer Rp 10.000.000 sudah masuk. Jangan telat, ada tamu VIP.

Yu membeku.

Sepuluh juta.

Malam ini.

Tamu VIP.

Otaknya, yang semalam kurang tidur dan masih sakit hati, langsung bekerja ke arah paling salah.

Zhen mengambil ponsel itu sebelum pesan kedua muncul. Ia mengetik balasan singkat, wajahnya tidak berubah.

"Kamu baca?" tanyanya tanpa menoleh.

"Nggak."

"Kamu menjawab terlalu cepat."

"Aku cuma lihat sekilas."

"Sekilas yang panjang."

Yu meneguk air. Salah satu aturan belum tertulis sepertinya harus ditambahkan: jangan kepo pada roommate tampan yang mungkin punya pekerjaan malam misterius.

Zhen memasukkan ponsel ke saku. "Aku keluar. Ada kuliah."

"Kamu kuliah?"

Ia berhenti di dekat pintu, menoleh dengan ekspresi seperti Yu baru bertanya apakah manusia perlu oksigen.

"Menurutmu aku apa?"

Pertanyaan itu seharusnya mudah.

Namun pesan Rp 10.000.000 tadi berputar-putar di kepala Yu. Tinggi 189 cm, wajah seperti model majalah, pulang jam dua pagi, bau bensin yang bisa saja dari mobil klien, ada wanita bernama Nia mengatur jadwal malam, ada tamu VIP, dan bayaran sepuluh juta.

Yu menatapnya dari atas sampai bawah.

"Freelancer?" jawabnya hati-hati.

Alis Zhen naik sedikit.

"Bidang apa?"

"Bidang... jasa."

Keheningan jatuh.

Zhen menatapnya lama sekali, lalu berkata, "Kamu aneh."

Ia pergi sebelum Yu sempat membela diri.

Begitu pintu tertutup, Yu menutup wajah dengan kedua tangan.

"Chua Yulin, otakmu kotor."

Tetapi siang itu, bukti-bukti baru datang sendiri.

Pertama, seorang pet sitter mengantar seekor border collie hitam putih bernama Burger. Anjing itu masuk dengan ekor bergoyang, langsung mengendus koper Yu, lalu duduk manis di depan pintu kamar Zhen seperti prajurit menunggu komandan.

"Kak Zhen pesan grooming kemarin," kata pet sitter itu. "Burger anak baik banget. Cuma kalau Kak Zhen balapan malam, biasanya kami titip antar pagi."

Balapan.

Yu menangkap kata itu, tapi otaknya yang sudah telanjur membuat teori hanya memilih bagian yang cocok.

Tentu saja. "Balapan" mungkin kode. Orang-orang zaman sekarang aneh-aneh.

Burger mendekatinya dan meletakkan dagu di lutut Yu. Mata anjing itu bulat, cerdas, dan terlalu polos untuk rumah penuh rahasia.

"Hai, Burger," bisik Yu, mengusap kepalanya. "Majikanmu kerja apa sih sebenarnya?"

Burger menggonggong sekali.

"Model?" tebak Yu.

Burger menggonggong lagi.

Yu mengangguk serius. "Aku tahu."

Kedua, sore harinya, saat menjemur handuk di balkon kecil, Yu melihat beberapa pakaian Zhen yang sudah tergantung rapi. Semua dipisah berdasarkan warna. Kaus hitam, kaus putih, jaket tipis, lalu satu T-shirt dengan logo mencolok di bagian dada.

Sentul International Circuit.

Di bawahnya ada tulisan kecil: Z Racing Team.

Yu menyentuh ujung jemuran itu dengan dua jari, bukan karena ingin menyentuh barang Zhen, tapi karena tulisan itu terasa seperti petunjuk dalam novel misteri murahan.

Racing team.

Mungkin memang pekerjaan hiburan. Model untuk event otomotif? Umbrella boy? Tidak, biasanya umbrella girl. Tapi dengan wajah seperti itu, apa pun bisa dijual.

Ia membayangkan Zhen berdiri di dekat mobil sport, rambut basah, wajah dingin, lalu orang-orang kaya membayar sepuluh juta untuk ditemani foto atau makan malam setelah acara. Semakin dibayangkan, semakin masuk akal.

Terlalu masuk akal.

Yu menurunkan tangan cepat-cepat ketika Burger menggonggong dari belakang.

"Apa?" bisik Yu. "Aku cuma analisis."

Burger memiringkan kepala.

Malamnya, Zhen pulang sebelum jam sepuluh. Ia membawa kantong belanja berisi makanan anjing, roti gandum, dan cairan pembersih lantai. Sangat tidak cocok dengan teori Yu, tapi teori yang bagus memang harus tahan terhadap gangguan kecil.

Zhen melihat Burger duduk di kaki Yu sambil menikmati usapan kepala.

"Dia biasanya nggak dekat dengan orang baru," katanya.

Yu menarik tangannya, jantungnya aneh sendiri. "Dia yang datang."

"Aku nggak bilang kamu salah."

Kalimat sederhana itu membuat Yu kehilangan jawaban beberapa detik. Zhen berjalan ke dapur, mencuci tangan sangat lama, lalu mulai menyusun belanjaan.

Ponselnya bergetar lagi.

Yu, yang sedang duduk di karpet bersama Burger, melihat layar menyala dari jarak dua meter.

Nia Sentul

Besok malam ada sesi tambahan. Fee sama, Rp 10.000.000.

Yu langsung membuang muka, tapi terlambat.

Zhen menoleh.

"Kamu baca lagi."

"Layar kamu terang sekali."

"Kamu duduk jauh."

"Mataku sehat."

Zhen memandangnya dengan tatapan yang sulit dibaca. "Bagus kalau begitu. Pakai untuk baca aturan kulkas."

Ia mengambil ponsel dan masuk kamar.

Yu menatap pintu kamar itu, lalu menatap Burger.

"Itu pasti pakaian kerja model..." gumamnya, mengingat T-shirt Sentul yang masih tergantung di balkon.

Burger menggonggong pelan, seolah setuju, atau mungkin menertawakan manusia yang terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Yu menghela napas.

Ya. Pasti.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!