Episode 4

Bab 4: Haus Sentuhan

Keyakinan Yu bertahan tepat dua belas jam.

Pagi harinya, ia masih bisa menatap T-shirt Sentul di balkon dan merasa dirinya jenius. Zhen pasti model untuk event otomotif. Mungkin bukan model biasa. Mungkin jenis pekerjaan malam yang tarifnya membuat mahasiswa semester tiga seperti Yu ingin menutup aplikasi mobile banking selamanya.

Siangnya, teori itu mulai terasa tidak penting.

Kulit Yu kembali berisik.

Awalnya hanya di ujung jari. Rasa geli kecil yang membuatnya beberapa kali menggosok telapak tangan ke celana jeans. Lalu naik ke pergelangan, lengan, bahu, sampai lehernya terasa terlalu peka terhadap kerah baju. Angin dari AC kelas struktur data yang biasanya biasa saja mendadak seperti menyentuh kulitnya dengan jarum halus.

Yu duduk di baris belakang Fasilkom UI, membuka laptop, dan menatap slide dosen tanpa benar-benar membaca.

"Yu, lo pucat," bisik seorang teman di sebelahnya.

"Kurang tidur."

"Butuh kopi?"

"Nggak. Makasih."

Ia tersenyum sekadarnya. Senyum yang cukup untuk membuat orang berhenti bertanya, tapi tidak cukup untuk menipu tubuhnya sendiri.

Tubuh Yu selalu punya alarm yang aneh.

Sejak SD, setelah sebuah kejadian yang tidak pernah ia ceritakan lengkap kepada siapa pun selain keluarganya, tubuhnya menolak sentuhan orang asing. Kalau sedang tenang, ia bisa berfungsi seperti orang normal. Salaman dengan dosen, duduk berdempetan di bus kampus, tersenggol di kantin, semua bisa ia tahan.

Tapi begitu emosinya turun terlalu dalam, alarm itu menyala. Kulitnya menjadi terlalu sadar. Udara terasa kasar. Baju terasa berat. Ia ingin disentuh, tapi hanya oleh orang yang aman. Kalau bukan orang itu, rasa mual dan takut justru naik ke tenggorokan.

Dulu, di Surabaya, solusinya sederhana.

"Ko," panggil Yu waktu kecil, berdiri di depan kamar Chua Darren dengan wajah kusut.

Darren yang saat itu masih SMA akan membuka pintu dengan ekspresi kesal karena sedang mengerjakan tugas. Namun begitu melihat adiknya, ia langsung jongkok, mengulurkan tangan, dan menepuk kepala Yu pelan.

"Sini."

Yu akan menabrak pelukannya. Lima menit. Kadang sepuluh. Setelah itu dunia kembali normal.

Sekarang Ko Darren berada di Surabaya, mengurus perusahaan IT-nya, mungkin sedang memarahi staf karena bug yang tidak selesai-selesai. Jarak Jakarta-Surabaya terasa tidak masuk akal hanya karena tubuh Yu meminta sesuatu yang terdengar kekanak-kanakan.

Setelah kelas selesai, Yu pergi ke toilet, mengunci bilik, dan menggulung lengan bajunya.

Tidak ada ruam. Tidak ada luka. Tidak ada bukti bahwa ada yang salah.

Itulah bagian paling menyebalkan dari haus sentuhan. Dari luar, ia terlihat baik-baik saja. Dari dalam, tubuhnya seperti ruangan penuh suara televisi yang semuanya menyala di channel berbeda.

Ponselnya bergetar.

Ko Darren.

Yu menatap nama itu beberapa detik sebelum mengangkat.

"Kamu pindah tempat?" suara Darren langsung masuk tanpa salam.

Yu memejamkan mata. "Ko, Lily ngadu?"

"Lily telepon Ko jam tiga pagi. Katanya kamu putus sama Kevin dan pindah sendiri. Kamu pikir Ko nggak akan tahu?"

Tentu saja Lily. Sahabat satu itu punya kemampuan mengkhianati rahasia demi keselamatan dengan sangat konsisten.

"Aku aman," kata Yu.

"Alamat."

"Ko."

"Alamat."

Yu menarik napas. "Aku kirim nanti."

"Sekarang."

"Aku lagi di kampus."

"Yu."

Satu suku kata itu cukup membuat tenggorokan Yu panas. Darren jarang memanggilnya dengan nada seperti itu, rendah dan menahan panik. Ia bisa membayangkan kakaknya berdiri di ruang kerja, satu tangan di pinggang, laptop terbuka tapi tidak lagi dipedulikan.

"Aku aman," ulang Yu, kali ini lebih pelan. "Aku cuma... capek."

Darren diam sebentar.

"Dia menyentuhmu?"

Pertanyaan itu tidak perlu nama. Mereka sama-sama tahu yang dimaksud Kevin.

Yu menatap kunci pintu bilik toilet. Jarinya menggenggam ponsel terlalu erat.

"Dia coba. Aku mundur."

Napas Darren terdengar berat di seberang. "Bagus."

Yu tertawa kecil, tapi suaranya pecah. "Ko, jangan bilang Papa Mama dulu."

"Kenapa?"

"Belum sanggup."

"Kamu selalu begini. Yang sakit kamu, yang kamu pikirkan perasaan orang lain."

Yu tidak menjawab.

Darren melunak sedikit. "Haus sentuhan-mu kambuh?"

Kalimat itu membuat pertahanan Yu runtuh setengah.

"Sedikit."

"Sedikit versi kamu itu biasanya sudah parah."

"Ko sok tahu."

"Ko memang tahu."

Yu menunduk. Air mata akhirnya jatuh, satu, langsung ia hapus dengan punggung tangan. "Ko bisa ke Jakarta?"

Pertanyaan itu keluar sebelum ia sempat menahan.

Di ujung sana, Darren diam lebih lama. Yu langsung menyesal. Ia tahu Darren punya rapat dengan klien Surabaya dua hari ini. Ia tahu kakaknya bukan orang yang bisa meninggalkan semuanya hanya karena adiknya ingin dipeluk.

Walau kenyataannya, Darren sering melakukan hal seperti itu.

"Besok malam paling cepat," kata Darren akhirnya. "Kalau kamu bilang sekarang butuh, Ko berangkat hari ini."

Yu menggigit bibir.

Butuh.

Kata itu ada di ujung lidah. Namun bersamaan dengan itu, muncul wajah Kevin yang memintanya jangan mempermalukan dia, Meilin yang berkaca-kaca palsu, Rani dengan kontrak sewa, Zhen yang menatapnya seperti ia masalah kebersihan baru di ruang tengah. Hidupnya sudah cukup kacau. Ia tidak mau menarik Darren masuk malam ini juga.

"Besok nggak apa-apa," kata Yu.

"Jangan bohong."

"Aku nggak bohong. Aku masih bisa tahan."

Darren menghela napas. "Kirim alamat. Kunci kamar tiap malam. Kalau ada apa-apa, telepon Ko. Jangan mikir jam."

"Iya."

"Yu."

"Hmm?"

"Kevin selesai. Jangan balik."

Kali ini Yu tidak menangis.

"Iya, Ko."

Setelah telepon terputus, Yu tetap duduk di bilik toilet beberapa menit. Di luar ada dua mahasiswi tertawa sambil membicarakan tugas. Dunia berjalan seperti biasa, seolah tidak ada tubuh yang sedang berusaha keluar dari kulitnya sendiri.

Sore itu, hujan turun deras di Depok.

Yu pulang dengan KRL dan ojek online, basah sampai ujung celana. Di lobby apartemen, ia hampir menabrak seorang ibu membawa belanjaan. Lengannya tersenggol kantong plastik. Sentuhan kecil itu membuat perut Yu terbalik. Ia mundur, minta maaf, lalu bergegas masuk lift dengan napas pendek.

Sesampainya di unit, yang menyambutnya pertama kali adalah Burger.

Anjing itu menggonggong sekali, lalu berputar di dekat kakinya. Biasanya Yu akan mengusap kepala Burger. Hari itu, tangannya berhenti di udara.

"Maaf," bisiknya. "Aku lagi nggak bisa."

Burger seperti mengerti. Ia duduk, hanya menatap Yu dengan mata sabar.

Unit kosong. Zhen belum pulang.

Bagus.

Yu menaruh tas, mandi, mengganti baju dengan kaus longgar, lalu mencoba makan roti. Setiap gigitan terasa seperti kertas. Kulitnya makin sensitif. Ia duduk di sofa, memeluk lutut, dan menyalakan televisi tanpa suara.

Pukul sembilan lewat, pintu utama terbuka.

Zhen masuk dengan hoodie gelap dan rambut sedikit basah. Ia berhenti ketika melihat Yu meringkuk di sofa dengan wajah pucat.

"Sakit?"

"Nggak."

Zhen meletakkan kunci di mangkuk kecil dekat pintu. "Jawaban orang sakit biasanya begitu."

"Aku cuma capek."

Ia berjalan ke dapur. Burger mengikuti dengan ekor bergerak pelan. Dari tempatnya duduk, Yu mendengar suara air mengalir, lemari dibuka, sendok menyentuh gelas. Beberapa menit kemudian, Zhen kembali membawa segelas air hangat.

Ia meletakkan gelas itu di meja, tentu saja di atas coaster.

"Minum."

Yu menatap gelas itu. "Aku bisa ambil sendiri."

"Tadi kamu duduk seperti tanaman layu."

"Kamu selalu menghina orang waktu membantu?"

"Kalau orang itu keras kepala."

Yu ingin membalas, tapi rasa berisik di kulitnya naik tiba-tiba. Jari-jarinya mencengkeram ujung kaus. Zhen memperhatikan gerakan itu.

"Tanganmu kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa."

Ia mengulurkan tangan untuk mengambil gelas. Pada saat yang sama, Zhen menggeser gelas lebih dekat agar tidak tumpah.

Jari mereka bersentuhan.

Yu tersentak.

Bukan karena takut.

Karena kali ini, efeknya datang lebih jelas.

Seperti listrik kecil yang tidak menyakitkan, hanya menyapu dari ujung jari ke seluruh lengan. Semua suara di bawah kulitnya padam. Kerah baju tidak lagi mengganggu. Udara tidak lagi kasar. Napasnya turun, lambat, penuh, seolah seseorang membuka jendela di ruangan yang terlalu lama tertutup.

Zhen menarik tangannya setengah detik kemudian.

"Kamu benar-benar sakit," katanya, kali ini tanpa nada mengejek. "Wajahmu berubah."

Yu menatap jari-jarinya sendiri.

Tidak mungkin.

Sentuhan Ko Darren bisa menenangkannya karena Darren kakaknya, rumahnya, orang yang sejak kecil menjadi batas aman. Tapi Zhen? Laki-laki dingin yang mungkin model malam, yang menempel aturan di kulkas, yang baru dua hari ia kenal?

Kenapa tubuhnya menerima dia?

"Yu."

Ia mengangkat wajah.

Zhen berdiri di depannya, dahi berkerut, tangan masih menggantung di sisi tubuh seolah tidak yakin boleh mendekat atau harus mundur.

Yu membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar.

Di meja, gelas air hangat mengepulkan uap tipis.

Di dadanya, dunia yang tadi berisik kembali diam total.

Dan Yu menyadari dengan takut, satu-satunya orang di Jakarta yang bisa membuat tubuhnya tenang, mungkin adalah laki-laki yang paling tidak boleh ia sentuh.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!