Hujan di Ranting

Hujan di Ranting

Episode 1

Bab 1: Pintu yang Tertutup

Kartu akses apartemen Kevin Jiang masih bisa dipakai.

Lampu kecil di samping pintu menyala hijau, bunyinya pelan sekali, tapi cukup membuat jantung Chua Yulin turun sampai ke perut. Sudah dua minggu Kevin bilang dia sibuk magang, sibuk tugas, sibuk membantu keluarganya. Sibuk sampai chat Yu hanya dibalas dengan stiker lelah dan kalimat pendek, "Nanti aku telepon."

Malam itu, Yu datang tanpa memberi kabar.

Di tangan kirinya ada paper bag berisi bubur ayam yang mulai dingin. Di tangan kanan, dia menggenggam strap tas sampai buku-buku jarinya memutih. Koridor apartemen di Jakarta Selatan itu terlalu rapi, terlalu wangi, terlalu tenang untuk sebuah firasat buruk.

Begitu pintu terbuka, suara tawa perempuan meluncur dari ruang tengah.

Yu berhenti.

Tawa itu bukan suara televisi. Bukan suara video pendek. Dia mengenal suara itu sejak SMA, suara manis yang selalu terdengar seolah tidak pernah berniat menyakiti siapa pun.

Ling Meilin.

"Kev, jangan geli-geli, nanti tumpah."

Yu berdiri di ambang pintu. Paper bag di tangannya mengayun pelan. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat sepatu hak warna krem di dekat sofa, tas kecil berantai emas di atas meja, dan kemeja Kevin yang tergeletak di sandaran kursi.

Kemeja yang tadi siang Kevin bilang masih dipakai di kantor.

Kevin muncul dari arah dapur dengan gelas di tangan. Senyumnya masih ada, tapi langsung pecah begitu melihat Yu.

"Yu?"

Meilin menoleh dari sofa. Rambutnya tergerai, bibirnya merah, bahu kirinya terlihat karena blouse itu melorot sedikit. Wajahnya sempat pucat sepersekian detik, lalu ia cepat-cepat menarik kain ke atas.

"Yulin?" ucap Meilin, seakan Yu yang salah masuk rumah orang.

Yu menatap mereka bergantian. Tidak ada adegan dramatis yang selama ini ia baca di novel, tidak ada petir, tidak ada musik latar, tidak ada air mata yang langsung jatuh. Yang ada hanya bubur ayam yang masih hangat di telapak tangannya, bau parfum Meilin yang bercampur dengan aroma sabun Kevin, dan suara AC yang terlalu dingin.

"Katanya kamu lembur," kata Yu.

Kevin menaruh gelas terlalu cepat sampai airnya tumpah sedikit ke meja. "Aku bisa jelasin."

"Jelasin dari bagian mana?" Yu melangkah masuk satu langkah. Pintu di belakangnya belum tertutup, angin koridor menyentuh punggungnya. "Dari sepatu Meilin? Dari baju kamu? Atau dari chat kamu yang bilang kamu belum makan, jadi aku bela-belain datang bawa bubur?"

Meilin berdiri. Matanya mulai berkaca-kaca dengan cepat, terlalu cepat.

"Yu, kamu jangan salah paham. Aku cuma mampir karena Kevin lagi banyak pikiran."

Yu menoleh padanya.

"Dengan blouse kebuka?"

Wajah Meilin memerah. "Kamu kasar banget ngomongnya."

"Oh, maaf." Yu mengangguk pelan. "Harusnya aku lebih sopan waktu memergoki pacarku bersama perempuan lain di apartemennya."

Kevin mendekat. "Yu, dengar dulu. Ini nggak seperti yang kamu lihat."

Kalimat itu membuat sesuatu di dalam dada Yu retak dengan suara yang nyaris lucu. Ternyata orang benar-benar mengatakan kalimat setua itu ketika ketahuan.

"Aku lihat apa, Kev?"

Kevin berhenti. Ia menatap paper bag di tangan Yu, lalu wajahnya melembut seperti sedang mencari jalan paling mudah untuk keluar.

"Aku salah. Oke? Aku salah. Tapi kita bisa bicara baik-baik. Hubungan kita sudah tiga tahun, Yu. Jangan hancurkan cuma karena satu malam."

Satu malam.

Yu mengulang kata itu dalam kepalanya. Satu malam yang baginya cukup untuk merobohkan tiga tahun. Satu malam yang bagi Kevin rupanya hanya noda kecil di meja, bisa dilap dengan tisu, lalu dianggap tidak pernah ada.

"Berapa lama?" tanya Yu.

Kevin mengerutkan kening. "Apa?"

"Berapa lama kalian begini?"

Meilin membuka mulut, tapi Kevin lebih cepat menjawab, "Nggak lama."

Yu tertawa pelan. Suaranya asing bahkan untuk telinganya sendiri. "Nggak lama itu dua hari, dua minggu, atau sejak reuni SMA bulan lalu?"

Kevin diam.

Diam itu menjawab lebih jujur daripada semua penjelasan.

Yu menaruh paper bag di atas meja. Plastik beningnya berembun, mangkuk bubur di dalamnya bergeser miring. Ia pernah membayangkan memberi Kevin kejutan kecil seperti ini akan membuat mereka kembali dekat. Bodoh sekali. Ternyata yang perlu ia lihat hanya satu pintu yang terbuka.

"Kita selesai," kata Yu.

Kevin mengangkat tangan, hendak menyentuh lengannya. "Yu, jangan gini."

Yu mundur begitu cepat sampai tasnya membentur pinggir lemari sepatu.

"Jangan sentuh aku."

Kevin berhenti. Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya benar-benar berubah.

Sentuhan orang yang salah selalu meninggalkan rasa lengket di kulit Yu. Sejak kecil, tubuhnya punya caranya sendiri untuk mengingat hal-hal yang ingin ia lupakan. Ia tidak akan membiarkan tangan Kevin menambah satu lagi bekas.

Meilin menggigit bibir. "Kalau kalian mau bicara, aku bisa pulang dulu."

"Nggak perlu," kata Yu. "Kamu sudah cukup nyaman di sini."

"Yu," Kevin menekan suaranya. "Jangan mempermalukan aku."

Yu menatapnya, lama.

Di situlah sisa rasa sayangnya jatuh, bukan karena Kevin selingkuh, melainkan karena setelah semua ini, yang ia takutkan masih rasa malunya sendiri.

"Kamu mempermalukan dirimu sendiri."

Kevin menegang.

Yu berbalik menuju kamar kecil yang selama ini menyimpan beberapa barangnya. Setiap akhir pekan ia sering menginap di sini, membawa baju ganti, beberapa buku kuliah, charger cadangan, hoodie abu-abu, dan satu mug ikan kecil yang dibelikan Lily karena katanya Yu terlalu sering lupa minum.

Tangannya bergerak cepat. Baju masuk tas. Buku masuk tote bag. Charger ia cabut dari dekat meja. Mug ikan kecil sempat ia pegang lebih lama.

Kevin berdiri di pintu kamar. "Kamu mau ke mana malam-malam begini?"

"Ke mana saja asal bukan di sini."

"Yu, ini Jakarta. Jangan keras kepala."

Yu memasukkan mug itu ke dalam tas, dibungkus hoodie agar tidak pecah. "Aku keras kepala karena belajar dari orang yang selalu bilang sibuk, padahal cuma pandai bohong."

Kevin mengusap wajahnya. "Aku minta maaf."

"Aku dengar."

"Aku serius."

"Aku juga."

Ia menarik ritsleting tas. Suaranya tajam, seperti garis terakhir yang ditarik di antara mereka.

Ketika Yu keluar kamar, Meilin masih berdiri di ruang tengah. Perempuan itu memeluk lengannya sendiri, matanya basah, tetapi Yu sudah terlalu lelah untuk memeriksa apakah itu rasa bersalah atau akting.

"Aku benar-benar nggak berniat mengambil dia darimu," bisik Meilin.

Yu berhenti di depan pintu.

"Ambil saja."

Meilin tertegun.

Yu menatap Kevin untuk terakhir kali. Laki-laki itu pernah menjadi tempat ia pulang setelah kelas panjang, pernah mengirim pesan selamat pagi, pernah menggenggam tangannya di depan bioskop karena ia tahu Yu tidak suka keramaian. Semua kenangan itu masih ada, tapi malam ini warnanya berubah kusam, seperti foto yang terlalu lama terkena matahari.

"Tapi jangan kembalikan kalau sudah rusak," lanjut Yu.

Kevin memanggil namanya sekali lagi.

Yu menutup pintu.

Kali ini dari luar.

Koridor apartemen menyambutnya dengan dingin yang sama. Yu berjalan sampai lift, menekan tombol turun, lalu baru sadar lututnya gemetar. Paper bag bubur tertinggal di meja Kevin. Bagus. Biarkan mereka makan. Biarkan malam itu punya rasa hambar yang pantas.

Di dalam lift, pantulan dirinya terlihat pucat. Rambutnya sedikit berantakan, bibirnya kering, mata bulatnya terlalu tenang. Ia ingin menangis, tapi air mata seperti tersangkut di suatu tempat yang lebih dalam.

Begitu keluar dari lobby, udara Jakarta memukul wajahnya dengan lembap. Jam hampir sebelas malam. Hujan baru berhenti, menyisakan aspal basah dan bau tanah yang naik dari pot tanaman di depan gedung.

Yu duduk di bangku dekat pos satpam. Tas besar di sebelahnya, tote bag di pangkuan, ponsel di tangan. Ia membuka chat Lily, mengetik, menghapus, mengetik lagi.

Lil, aku putus.

Ia menatap kalimat itu beberapa detik, lalu menghapusnya.

Kalau ia mengirim sekarang, Lily pasti datang, marah-marah, menyeretnya pulang, lalu membuat dunia ribut. Yu belum sanggup mendengar siapa pun mengasihani dirinya.

Ia membuka aplikasi pencari kos dan apartemen.

Harga-harga di Jakarta Selatan muncul seperti ejekan. Delapan juta. Tujuh setengah. Enam juta belum termasuk listrik. Yu menggeser layar dengan jari yang mulai dingin, sampai satu iklan membuatnya berhenti.

Apartemen share, Jakarta Selatan.

Rp 4.000.000/bulan.

Khusus perempuan. Bersih. Tenang. Tidak merokok. Tidak bawa teman sembarangan.

Foto-fotonya terlihat hampir terlalu rapi. Lantai putih mengilap, sofa abu-abu tanpa noda, dapur kecil yang seperti tidak pernah dipakai. Lokasinya hanya beberapa stasiun dari UI. Deposit masuk akal. Pemilik meminta penyewa bisa pindah cepat.

Yu menelan ludah.

Terlalu bagus untuk benar.

Ia membuka kolom komentar. Beberapa orang menulis tempatnya nyaman. Ada yang bilang pemiliknya jarang muncul. Ada yang memuji kebersihannya.

Lalu satu komentar paling bawah membuat jari Yu berhenti.

Kayaknya yang punya unit cowok deh. Aku pernah lihat ada laki-laki tinggi keluar jam dua pagi. Tapi admin bilang khusus cewek. Aneh.

Yu menatap layar lama sekali.

Di atas kepalanya, sisa hujan menetes dari kanopi lobby, jatuh satu-satu ke lantai. Malam itu, semua pintu yang ia kenal sudah tertutup. Mungkin pintu berikutnya juga berbahaya. Mungkin lebih aneh. Mungkin lebih buruk.

Tapi Yu tetap menekan tombol kirim pesan.

Halo, unitnya masih tersedia?

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
Episodes

Updated 136 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!