Episode 3

Bab 3 - Empat Bintang

"Tuan Rumah... F4 datang."

Kalimat Sis baru selesai ketika pintu kelas yang setengah terbuka didorong dari luar.

Tidak ada yang menyuruh siswa Kelas F diam. Mereka memang sudah diam. Bahkan napas beberapa orang terdengar ditahan, seolah udara di ruangan itu mendadak menjadi milik empat orang yang baru muncul di ambang pintu.

Felicia tetap duduk di bangku belakang dekat jendela.

Bagus.

Target bergerak sendiri ke arahnya.

Orang pertama yang masuk adalah Nathan Salim.

Rambut pirangnya tidak terlihat murahan. Warna itu jatuh rapi di bawah cahaya pagi, cocok dengan mata emasnya yang tenang. Seragamnya sempurna, blazer tanpa kerut, dasi pada sudut tepat, pin Ketua OSIS berkilau kecil di dada kiri. Ia berjalan dengan cara orang yang terbiasa diberi jalan tanpa perlu meminta.

Beberapa siswi menunduk sambil pura-pura mencari buku.

"Wali kelas belum datang?" tanya Nathan pada ketua kelas dengan suara rendah.

Ketua kelas Kelas F langsung berdiri gugup. "Belum, Nathan. Mungkin masih di ruang guru."

Nathan mengangguk. Senyumnya sopan, hampir lembut. "Kalau begitu, kami tunggu sebentar."

Sopan. Terlatih. Berbahaya karena semua orang merasa aman di dekatnya.

Felicia menilai garis bahunya, ritme langkahnya, dan cara ia menahan pandangan agar tidak terlalu lama menempel pada siapa pun.

Tipe yang suka dikendalikan tanpa sadar, pikirnya.

Di belakang Nathan, seorang cowok dengan rambut ikal cokelat masuk sambil membawa sketchbook hitam di bawah lengan. Wajahnya lebih manis daripada Nathan, mata cokelat mudanya tampak hangat, tetapi senyum kecil di bibirnya memberi rasa tidak aman yang berbeda.

Calvin Tanuwijaya.

Begitu nama itu muncul di layar kecil Sis, serpihan ingatan tubuh ini ikut bergerak.

Rumah besar keluarga Tanuwijaya. Sebuah makan malam yang dingin. Anak laki-laki itu duduk di seberang meja, memiringkan kepala sambil menggambar sesuatu di sudut buku. Ia pernah memanggil pemilik tubuh ini dengan suara malas, "Ci," seolah panggilan itu lelucon dan rahasia sekaligus.

Hubungan mereka rumit.

Felicia tidak tertarik merapikannya sekarang.

Calvin berhenti sebentar di dekat pintu. Matanya menyapu kelas, tidak cepat, tidak lambat. Seperti pelukis memilih warna yang ingin disimpan.

Ketika pandangannya hampir sampai ke bangku belakang, Felicia mengangkat alis.

Calvin belum melihatnya. Ia sudah keburu ditabrak bahu oleh orang ketiga.

"Minggir dikit, Cal. Koridornya sempit banget," gerutu Jayden Hartono.

Jayden membawa panas masuk ke kelas.

Rambut hitamnya sedikit berantakan, tindik kecil di bibir bawahnya menangkap cahaya, dan lengan yang terlihat di balik seragam jelas milik orang yang lebih sering berada di lapangan daripada perpustakaan. Ia tidak berjalan. Ia menerobos, seperti energi di tubuhnya terlalu banyak untuk ditahan.

Beberapa siswa laki-laki otomatis menegakkan punggung.

"Ini Kelas F, bukan garasi lo," kata Calvin santai.

Jayden mendecih. "Garasi gue lebih luas dari kelas ini."

Ada tawa kecil yang langsung ditelan takut.

Felicia menyandarkan dagu di tangan.

Energi berlebihan. Perlu disalurkan.

Jayden menoleh seolah merasakan penilaian itu. Matanya tajam, liar, siap menantang siapa saja yang berani menatap terlalu lama. Saat pandangannya hampir bertemu Felicia, sosok terakhir masuk dan membuat seluruh kelas menegang dengan cara berbeda.

Sebastian Widjaja tidak perlu suara.

Ia tinggi, rapi, dan bersih dengan tingkat yang nyaris tidak manusiawi. Rambut hitamnya tertata tanpa sehelai pun keluar jalur. Mata biru gelapnya dingin, seperti kaca yang baru dicuci. Di tangan kanannya ada sapu tangan putih, bukan untuk gaya, tetapi untuk membuka pintu tanpa menyentuh gagangnya langsung.

Seorang siswa di baris depan buru-buru menarik siku dari meja yang mungkin akan dilewati Sebastian.

Sebastian meliriknya sekilas. "Terima kasih."

Dua kata. Datar. Tidak kasar, tetapi cukup membuat orang merasa sedang diuji.

Felicia tersenyum tipis.

Otak cerdas, hati tertutup.

Satu kelas, empat pusat gravitasi.

Nathan berdiri di dekat meja guru seperti pewaris yang sedang menunggu rapat dimulai. Calvin bersandar di kusen jendela depan sambil membuka sketchbook. Jayden duduk di tepi meja kosong tanpa peduli tatapan guru imajiner. Sebastian memilih berdiri, jaraknya tepat dari semua orang, seolah ia sudah menghitung area kontaminasi aman.

"Tuan Rumah," bisik Sis, suaranya gemetar sekaligus antusias. "Ini mereka. Empat target utama. Nathan Salim, Calvin Tanuwijaya, Jayden Hartono, Sebastian Widjaja."

Layar biru muncul di samping meja Felicia, hanya terlihat olehnya.

Empat bintang gelap kembali berbaris.

Nathan Salim: 0%.

Calvin Tanuwijaya: 0%.

Jayden Hartono: 0%.

Sebastian Widjaja: 0%.

Kosong semua.

Di bawah angka itu, Sis membuka empat kartu data kecil.

Nathan menguasai OSIS, koneksi guru, dan sebagian besar kegiatan resmi sekolah. Calvin punya akses ke keluarga Tanuwijaya dan lingkaran seni yang membuat banyak anak kaya ingin terlihat dekat dengannya. Jayden memegang dunia olahraga, balapan, dan kelompok siswa yang lebih suka menyelesaikan masalah dengan badan daripada aturan. Sebastian, meski jarang bicara, adalah nama pertama di papan peringkat akademik dan alasan Kelas Olimpiade nyaris tidak pernah dipertanyakan.

Empat jalur kekuasaan.

Administrasi. Keluarga. Fisik. Intelektual.

Dalam pangkalan lamanya, Felicia akan menaruh empat orang seperti ini di unit berbeda, bukan karena mereka bisa dipercaya, tetapi karena potensi mereka terlalu mahal untuk dibiarkan lepas.

"Peringatan kecil," tambah Sis. "Kalau salah satu dari mereka benar-benar membenci Tuan Rumah, akses hidup Tuan Rumah di akademi bisa jadi jauh lebih sulit."

"Mereka belum membenciku."

"Belum."

"Berarti masih banyak ruang."

Sis seperti takut Felicia kecewa. "Tidak apa-apa, Tuan Rumah. Semua misi besar mulai dari nol. Kita bisa pilih pendekatan paling aman dulu. Misalnya, berteman, cari kesamaan, bantu mereka saat ada masalah kecil..."

"Aman?"

"Iya. Pelan-pelan. Supaya mereka tidak curiga."

Felicia hampir tertawa.

Di dunia lamanya, ia tidak bertahan hidup dengan menjadi aman. Ia bertahan karena tahu kapan harus membiarkan musuh percaya mereka sedang memegang kendali, lalu mengambil seluruh papan permainannya.

Empat bintang kosong itu bukan masalah.

Itu undangan.

"Baiklah, Sis," gumam Felicia. "Ayo mulai."

Suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat siswa di meja depan menoleh. Gerakan kecil itu menarik satu reaksi berantai. Jayden melirik. Sebastian mengangkat mata. Nathan berhenti berbicara dengan ketua kelas.

Dan Calvin akhirnya melihatnya.

Untuk sesaat, senyum malas di wajah Calvin tetap ada.

Lalu mata cokelat mudanya melebar.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!