Episode 5

Bab 5 - Permainan Pertama

"Kamu... bukan orang yang sama, kan?"

Pertanyaan Calvin menggantung di antara mereka.

Koridor masih ramai, tetapi di sekitar Felicia dan Calvin, suara orang lain seperti terdorong menjauh. Siswi berambut bob yang tadi ketakutan bahkan lupa melarikan diri. Cowok bertubuh besar masih duduk di lantai sambil memegangi perut.

Felicia menatap Calvin.

"Kalau benar?" tanyanya.

Mata Calvin bergerak sedikit. Bukan takut. Bukan jijik. Lebih mirip seseorang yang menemukan warna baru di palet lamanya dan ingin segera mengurung warna itu di kanvas.

"Kalau benar," katanya pelan, "aku harus menggambar ulang semuanya."

Jawaban yang aneh.

Tapi Felicia tidak membencinya.

Ia melangkah melewati Calvin. "Kalau begitu, pastikan gambarmu bagus."

Calvin tidak menahan. Ia hanya menoleh mengikuti punggung Felicia, senyum kecilnya kembali muncul, kali ini lebih tajam dari sebelumnya.

Sis berbisik, "Tuan Rumah, itu tadi percakapan yang sangat tidak normal."

"Dia tidak normal."

"Tuan Rumah juga."

"Bagus. Berarti cocok untuk misi."

Sisa hari pertama Felicia di Akademi Bintang Mulia berjalan dengan kecepatan yang membuat gosip bekerja lebih keras daripada guru. Sebelum jam makan siang selesai, cerita tentang Felicia yang menjatuhkan siswa laki-laki di dekat gudang olahraga sudah berubah menjadi lima versi.

Ada yang bilang ia belajar bela diri rahasia.

Ada yang bilang F4 memberinya bodyguard tak terlihat.

Ada juga yang lebih bodoh, mengira ia kesurupan.

Felicia tidak peduli. Ia makan mie ayam di sudut kantin, menghabiskan es teh manis, lalu membiarkan tatapan orang-orang datang dan pergi seperti nyamuk.

Yang menarik justru pengumuman di papan digital dekat aula.

Turnamen Olahraga Antar-Kelas.

Cabang minggu ini: bulu tangkis.

Sis langsung membaca data. "Turnamen ini penting untuk poin kelas. Biasanya Kelas F selalu jadi bahan tertawaan. Kelas Olimpiade dan Kelas A mendominasi. F4 kadang datang menonton kalau ada sponsor keluarga."

"Ada hadiah?"

"Poin kelas, uang pembinaan, dan hak memakai lapangan utama selama satu bulan."

"Tidak buruk."

Belum sempat Felicia berjalan pergi, suara cempreng yang mulai ia kenali terdengar di belakang.

"Felicia!"

Siswi berambut bob datang bersama beberapa anak Kelas F. Kali ini ia tidak berdiri terlalu dekat. Wajahnya masih menyimpan takut, tetapi kebencian orang yang dipermalukan di depan umum jauh lebih keras kepala daripada naluri bertahan hidup.

"Kita kekurangan pemain tunggal putri," katanya. "Tadi kamu hebat banget banting orang. Harusnya bulu tangkis gampang, kan?"

Beberapa siswa di belakangnya tertawa kecil. Bukan tawa percaya diri, lebih seperti tawa orang yang ingin membalas tanpa harus turun tangan.

Felicia menatap formulir pendaftaran di tangan siswi itu.

"Kalian ingin aku kalah di depan satu sekolah."

Siswi itu tersenyum kaku. "Lho, kok nuduh? Ini demi Kelas F. Kamu bagian dari kelas kami, kan?"

Logika murahan.

Felicia mengambil pulpen dari meja informasi dan menuliskan namanya di kolom peserta.

Felicia Winarko.

Tunggal putri.

Sis hampir tersedak di kepalanya. "Tuan Rumah! Tangan kanan masih memar!"

"Bulu tangkis pakai raket."

"Tetap pakai tangan!"

"Maka aku pakai secukupnya."

Formulir itu cepat sekali sampai ke meja panitia, seolah anak-anak Kelas F takut Felicia berubah pikiran. Seorang siswa panitia memeriksa namanya, lalu melirik Felicia dengan ekspresi tidak yakin.

"Kamu belum pernah ikut seleksi olahraga, kan?"

"Belum."

"Kalau mundur setelah jadwal keluar, poin Kelas F dipotong."

Di belakang Felicia, siswi berambut bob langsung menyambung, "Dia nggak akan mundur. Tadi dia sendiri yang setuju."

Licik kecil.

Felicia menoleh.

Siswi itu langsung pura-pura merapikan rambut.

Panitia menunjukkan papan pertandingan. Nama Felicia ditempatkan di jalur yang lebih berat karena Kelas F terlambat mendaftar. Lawan pertamanya dari Kelas B. Jika menang, ia langsung bertemu unggulan dari Kelas A.

Beberapa siswa di sekitar meja tertawa pelan.

"Kasihan."

"Babak pertama aja sudah habis."

Felicia membaca bagan itu sampai selesai, lalu mengembalikan papan ke meja.

"Bagus," katanya.

Panitia berkedip. "Bagus?"

"Lebih sedikit waktu terbuang."

Turnamen babak awal dimulai sore itu di gedung olahraga indoor. Untuk ukuran sekolah, tempat itu terlalu mewah. Lantainya kayu mengilap, garis lapangan bersih, lampu putih terang tanpa bayangan mengganggu, dan tribun samping sudah diisi siswa yang datang bukan untuk mendukung, melainkan mencari bahan komentar.

Kelas F mendapat lapangan ketiga.

Lawan pertama Felicia berasal dari Kelas B, seorang siswi tinggi dengan sepatu olahraga mahal dan raket edisi terbatas. Ia menatap Felicia dari ujung lapangan, lalu tersenyum meremehkan.

"Kamu yakin bisa main?"

Felicia memutar raket di tangan kiri.

Tangan kanan masih sedikit nyeri. Jadi ia memakai tangan kiri.

Kerumunan langsung ribut.

"Dia kidal?"

"Setahuku nggak."

"Mau sok-sokan lagi."

Felicia menatap kok putih di tangan lawan. "Mulai."

Servis pertama datang tinggi, lambat, sengaja dibuat seperti memberi kesempatan. Felicia bergerak setengah langkah, memukul balik ke sudut kosong.

Poin pertama.

Lawan berkedip.

Servis kedua lebih cepat. Felicia membaca bahu, bukan kok. Sebelum kok melewati net, tubuh lawan sudah memberi tahu ke mana arahnya. Ia maju, pergelangan kiri memutar pendek, netting tipis jatuh tepat di depan.

Poin kedua.

Tribun mulai diam.

Setelah itu, permainan berubah menjadi pelajaran singkat tentang perbedaan olahraga sekolah dan naluri bertahan hidup.

Felicia tidak melompat berlebihan. Tidak mengejar dengan gaya indah. Ia hanya berada di tempat yang tepat sebelum kok datang. Kalau lawan memukul keras, ia mengalihkan tenaga. Kalau lawan mencoba menipu, ia membaca pinggulnya. Kalau lawan mulai panik, ia mempercepat tempo sampai napas gadis itu pecah.

Sebelas nol.

Wasit siswa menelan ludah sebelum menyebut skor.

Di sisi lapangan, anak-anak Kelas F yang awalnya ingin tertawa mulai berdiri satu per satu.

"Itu... tangan kiri?"

"Dia pakai tangan kiri dari awal?"

"Gila."

Lawan Felicia mengganti raket, meminta minum, lalu kembali dengan wajah memerah. Set kedua berlangsung lebih buruk.

Dua puluh satu tiga.

Tiga poin itu Felicia biarkan saat menguji jarak langkah tubuh barunya.

Saat pertandingan selesai, lawannya menatap papan skor seperti angka di sana menghina seluruh hidupnya.

Felicia keluar lapangan tanpa ekspresi.

Sis bersorak di kepalanya. "Menang! Tuan Rumah menang! Walau kekuatan nol persen, tetap menang!"

"Ini baru pemanasan."

"Pemanasan? Lawannya hampir nangis!"

"Berarti mentalnya kurang."

Felicia mengambil handuk kecil dari meja panitia. Saat mengeringkan keringat di leher, ia merasakan sesuatu. Bukan tatapan panik dari Kelas F. Bukan tatapan benci dari lawan. Tatapan ini lebih tenang, lebih berat, dan lebih rapi.

Ia menoleh ke tribun atas.

Di baris paling belakang, Nathan Salim berdiri sendirian.

Blazernya sudah dilepas, kemeja putihnya tetap rapi, dan mata emasnya mengikuti Felicia seolah baru pertama kali melihatnya dengan benar.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!