Episode 4

Bab 4 - Siapa Takut?

Mata Calvin Tanuwijaya melebar hanya sekejap.

Kalau bukan karena Felicia sedang memperhatikannya, reaksi kecil itu mungkin akan lewat begitu saja. Setelah itu, senyum malasnya kembali muncul, sketchbook di tangannya dibuka, dan ia tampak seperti tidak pernah kehilangan kendali.

Menarik.

"Calvin Tanuwijaya mengenali pemilik tubuh lama?" tanya Felicia dalam hati.

"Mereka punya hubungan keluarga yang agak rumit," jawab Sis pelan. "Tapi detailnya belum terlalu aman untuk dibuka sekarang. Intinya, Calvin pernah beberapa kali bertemu Felicia."

"Dia sadar ada yang berubah."

"Mungkin cuma merasa aneh."

"Tidak. Matanya tadi bukan mata orang yang sekadar merasa aneh."

Sebelum Sis bisa menjawab, wali kelas masuk. Empat anggota F4 tidak lama berada di sana. Nathan menyerahkan beberapa berkas kegiatan OSIS, berbicara singkat dengan wali kelas, lalu membawa tiga lainnya keluar.

Jayden pergi sambil menguap bosan.

Sebastian menunggu sampai koridor agak kosong sebelum melangkah.

Calvin yang terakhir keluar sempat menoleh lagi ke arah bangku belakang.

Felicia membalas tatapannya tanpa berkedip.

Kali ini Calvin tersenyum.

Manis. Tipis. Penuh hal yang tidak ia ucapkan.

Pintu kelas tertutup.

Baru setelah itu seluruh Kelas F seperti kembali bernapas.

Pelajaran pagi berjalan seperti suara radio rusak di telinga Felicia. Wali kelas membahas peraturan keterlambatan, jadwal piket, dan persiapan turnamen olahraga sekolah. Felicia mendengar cukup untuk tahu bahwa tubuh ini tertinggal jauh dari sisi akademik biasa, tetapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Matematika dasar. Bahasa. Hafalan.

Lebih mudah daripada menghitung jalur evakuasi saat tembok pangkalan ditembus makhluk mutasi.

Saat bel istirahat berbunyi, sebagian siswa langsung keluar menuju kantin. Beberapa tetap menoleh ke arah Felicia, seolah ingin memastikan gadis yang tadi membuat mereka tidak nyaman itu benar-benar duduk di sana.

Sis mengingatkan, "Tuan Rumah sebaiknya makan. Tubuh ini belum sarapan."

"Nanti."

"Kalau gula darah turun, reaksi fisik bisa melambat."

Felicia berhenti memasukkan buku ke tas.

"Kamu baru saja memberi alasan yang bagus."

"Untuk makan?"

"Untuk menguji tubuh."

Sis langsung curiga. "Tuan Rumah, maksudnya menguji yang normal-normal saja, kan?"

Felicia tidak menjawab. Ia berjalan keluar kelas.

Koridor menuju kantin ramai, tetapi keramaian itu terbelah di beberapa titik. Siswa yang lebih kuat bergerak di tengah. Yang tidak punya nama keluarga bagus menepi. Anak Kelas F berjalan paling pinggir, hampir menempel dinding.

Felicia memilih jalur tengah.

Bisikan langsung naik.

"Dia sengaja banget."

"Mau cari mati?"

"Tadi berani karena F4 ada di sini kali."

Felicia baru melewati belokan dekat gudang olahraga ketika tiga orang menghalangi jalan. Siswi berambut bob dari pagi berdiri di depan, kali ini bersama dua siswa laki-laki. Salah satunya bertubuh besar dengan lengan seragam digulung. Yang satu lagi memegang ponsel, sama seperti sebelumnya.

Pintar juga.

Mereka memilih sudut yang tidak terlalu jauh dari keramaian, tetapi cukup tertutup oleh deretan loker dan papan pengumuman. Kalau ada yang berteriak, orang akan menoleh. Kalau hanya terjadi dorongan kecil, semua orang bisa pura-pura tidak melihat.

"Tadi kamu keren banget," kata siswi berambut bob. Senyumnya kaku. "Sampai bikin kami malu di depan kelas."

Felicia menatap jam dinding di ujung koridor. "Aku punya lima menit sebelum kantin penuh."

"Masih sok?"

Siswa bertubuh besar maju dan mencengkeram tali tas Felicia. "Minta maaf dulu."

Sis panik. "Tuan Rumah, ada kontak fisik! Dia duluan!"

"Aku tahu."

"Tubuh ini tidak kuat!"

"Cukup kuat untuk ini."

Felicia bergerak.

Tidak cepat seperti tubuh lamanya, tetapi cukup cepat untuk anak sekolah yang hanya mengandalkan ukuran badan. Ia memutar tali tas ke arah luar, membuat cengkeraman cowok itu ikut tertarik. Saat tubuh besar itu kehilangan keseimbangan, Felicia menghantam pangkal pergelangan tangannya dengan sisi telapak.

Ponsel di tangan temannya hampir jatuh karena kaget.

Cowok bertubuh besar mendesis kesakitan.

Felicia tidak memberi jeda.

Satu langkah masuk. Siku kanan pendek ke ulu hati, tidak cukup untuk merusak organ, cukup untuk mencuri napas. Lutut lawan melemah. Felicia menangkap kerahnya, memutar berat tubuhnya sendiri, lalu menjatuhkannya ke lantai dengan suara keras.

Semua terjadi dalam kurang dari tiga detik.

Koridor membeku.

Sis berhenti berteriak di kepala Felicia.

Cowok itu meringkuk sambil batuk, wajahnya merah, matanya penuh air karena napas yang terputus.

Felicia menoleh pada siswa yang memegang ponsel.

"Masih mau merekam?"

Tangan siswa itu gemetar. Ponselnya turun.

Siswi berambut bob mundur sampai punggungnya menabrak loker. Lip gloss di bibirnya bergetar bersama napas. "Kamu... kamu gila."

"Salah."

Felicia mengambil tasnya dari lantai, menepuk sedikit debu di tali.

"Aku cuma tidak selemah kemarin."

Dari arah kantin, beberapa siswa yang tadi pura-pura tidak melihat mulai berbisik dengan suara tertahan.

"Dia banting orang?"

"Serius itu Felicia?"

"Bukannya dia biasanya nangis?"

"Dia berubah."

Kata itu menyebar seperti api kecil di kertas kering.

Dia berubah.

Ponsel yang tadi hampir dipakai merekam kini berpindah fungsi. Bukan lagi kamera terbuka, melainkan jari-jari cepat di layar. Dalam hitungan detik, beberapa grup kelas menerima pesan baru.

Felicia ngebanting orang di dekat gudang olahraga.

Serius, yang Kelas F itu?

Ada yang punya video?

Gue nggak sempat rekam. Takut.

Felicia melihat pantulan layar dari loker logam dan menyimpan informasinya. Di dunia ini, suara tidak perlu diteriakkan untuk menjadi senjata. Cukup dikirim ke grup WhatsApp, ditambah sedikit bumbu, lalu seluruh sekolah akan ikut menonton bahkan tanpa hadir.

Bagus.

Ia memang butuh panggung.

Namun tubuh barunya tidak ikut sepuas pikirannya. Pergelangan tangan yang tadi menghantam lawan mulai berdenyut. Napasnya tetap stabil, tetapi otot paha terasa tertarik karena gerakan bantingan yang terlalu bersih untuk tubuh yang jarang dilatih.

Sis cepat menangkap perubahan itu. "Denyut nadi naik. Tangan kanan memar ringan. Lutut kiri agak tertarik. Tuan Rumah, ini baru satu orang."

"Berarti batas sementara sudah jelas."

"Itu bukan kabar baik!"

"Itu data."

Felicia berjalan melewati siswi berambut bob. Saat bahu mereka hampir bersentuhan, siswi itu menahan napas dan memejamkan mata, seperti menunggu pukulan.

Felicia bahkan tidak menyentuhnya.

Tidak perlu.

Rasa takut yang tepat jauh lebih hemat tenaga.

Di ujung koridor, bayangan seseorang bergerak dari balik pilar.

Calvin Tanuwijaya berdiri di sana.

Sketchbook hitam masih ada di tangannya, tetapi kali ini tidak terbuka. Senyum malasnya hilang. Mata cokelat mudanya menatap cowok yang masih meringkuk di lantai, lalu naik perlahan ke wajah Felicia.

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada ejekan. Tidak ada kata-kata manis.

Hanya rasa ingin tahu yang mendadak menjadi terlalu tajam.

Felicia berhenti dua langkah di depannya.

"Mau lewat?" tanyanya.

Calvin tidak bergerak.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu pagi itu, suaranya keluar tanpa nada main-main.

"Kamu... bukan orang yang sama, kan?"

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
Episodes

Updated 110 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!