Episode 2

Bab 002

Rumah Besar

Ruang tunggu depan rumah Hartono terlalu dingin untuk dua orang yang baru turun dari perjalanan panjang.

Seline duduk di ujung sofa kulit warna krem, kedua lututnya rapat, tangan masih memegang tali ransel kecil di pangkuan. Darren duduk di sampingnya, punggung tegak seperti anak yang takut salah bernapas. Koper mereka diletakkan di dekat pintu, tampak semakin lusuh di atas lantai marmer yang begitu mengilap sampai bayangan lampu gantung terpantul di sana.

Di luar, matahari sudah turun. Di dalam, semuanya rapi, wangi, dan asing.

Seline mencoba tidak menatap terlalu lama pada vas porselen besar di sudut ruangan. Ia takut harga satu vas itu bisa membayar kontrakan lama mereka selama setahun.

"Kak," Darren berbisik, "boleh minum?"

Seline baru hendak menjawab ketika seorang perempuan berseragam abu-abu masuk membawa nampan. Di atasnya ada dua gelas air putih dan sepiring kecil biskuit.

"Silakan, Nona," ucap perempuan itu.

Seline berdiri sedikit karena kaget. "Terima kasih, Bi."

Perempuan itu menatapnya sebentar, lalu tersenyum tipis. "Panggil saya Bi Zheng."

Nama itu diucapkan dengan lembut, tapi ada sesuatu yang membuat Seline merasa tidak sepenuhnya sendirian. Ia mengangguk.

"Terima kasih, Bi Zheng."

Darren mengambil gelas dengan dua tangan. Ia minum pelan, menahan diri agar tidak tampak terlalu haus. Seline melihat itu, lalu hatinya seperti diremas. Anak itu biasanya menenggak air tanpa pikir panjang. Di rumah ini, bahkan minum pun terasa harus dihitung.

Langkah sepatu terdengar dari lorong.

Seorang perempuan berusia empat puluhan masuk dengan dress sutra warna hijau tua, rambut disanggul rendah, wajahnya tersenyum sebelum matanya benar-benar sampai pada Seline. Itulah Tante Chen, atau Felicia Chen, adik dari ibu angkat Seline yang selama ini hanya hadir lewat telepon singkat dan kiriman uang yang makin jarang.

"Seline," katanya hangat. "Aduh, kalian sudah sampai dari tadi? Tante sibuk sekali di belakang. Maaf ya."

Seline berdiri. Darren ikut berdiri setelah melihat kakaknya.

"Tidak apa-apa, Tante. Kami juga baru sampai."

Kebohongan kecil itu keluar tanpa dipikirkan. Ia tidak ingin mengawali hari pertama dengan membuat Tante Chen malu di depan pelayan.

Tante Chen melangkah mendekat dan menyentuh bahu Seline, ringan sekali, seperti takut kusut karena terlalu lama menempel.

"Kamu makin besar ya. Terakhir Tante lihat kamu masih kecil sekali."

Seline tersenyum sopan. "Iya, Tante."

Padahal ia tidak ingat pernah benar-benar bertemu Tante Chen. Yang ia ingat hanya suara perempuan itu di telepon saat ibu angkatnya sakit, terdengar sibuk, tergesa, dan sedikit kesal karena diminta membantu.

Tatapan Tante Chen turun ke Darren.

"Ini Darren? Sudah tinggi juga."

Darren membungkuk canggung. "Selamat sore, Tante."

"Anak pintar." Tante Chen tersenyum, lalu menoleh ke Bi Zheng. "Koper mereka bawa ke kamar tamu belakang. Yang dekat koridor taman itu."

Bi Zheng tampak ragu sesaat. "Kamar belakang, Nyonya?"

"Iya. Di depan penuh. Michelle sedang menyiapkan acara, banyak keluarga datang beberapa minggu ini."

Seline menangkap jeda kecil dalam suara Bi Zheng. Kamar belakang. Koridor taman. Ia belum tahu artinya, tapi dari cara Tante Chen mengucapkannya, itu bukan tempat untuk tamu yang benar-benar ditunggu.

"Tante, kami tidak mau merepotkan," ujar Seline cepat. "Kamar mana pun tidak apa-apa."

"Memang tidak merepotkan," jawab Tante Chen, tetap tersenyum. "Tapi kamu harus tahu, rumah ini besar, aturannya juga banyak. Selama tinggal di sini, ikuti saja apa kata Tante. Jangan sungkan, tapi juga jangan sembarangan."

Seline mengangguk. "Saya mengerti."

"Pertama, makan malam keluarga biasanya pukul tujuh. Kalau tidak dipanggil, kamu makan di pantry sayap belakang. Kedua, jangan masuk ke lantai dua sayap utama tanpa izin. Itu area Oma dan keluarga inti. Ketiga, taman belakang ada beberapa rumah kecil. Jangan jalan-jalan ke sana, terutama yang paling ujung. Itu tempat Ko Kevin."

Nama itu membuat ujung jari Seline bergerak tanpa sadar.

Pria di mobil hitam tadi.

Tante Chen memperhatikan reaksinya, lalu tertawa kecil. "Kamu sudah bertemu dia di depan?"

"Hanya sebentar," jawab Seline.

"Ko Kevin memang begitu. Jangan dimasukkan hati kalau dia terlihat dingin. Dia bahkan begitu pada keluarga sendiri." Setelah berkata begitu, senyum Tante Chen menipis. "Tapi tetap ingat, jangan mengganggu dia. Dia tidak suka orang asing masuk ke wilayahnya."

Orang asing.

Seline menunduk sedikit. "Baik, Tante."

Darren membuka mulut, mungkin ingin membela kakaknya, tapi Seline lebih dulu menyentuh punggung tangannya. Anak itu diam dengan wajah kaku.

Bi Zheng memanggil pelayan laki-laki untuk membawa koper. Seline ingin mengambil sendiri koper birunya, tapi Tante Chen menghentikannya.

"Biarkan. Kamu sekarang tinggal di rumah Hartono. Tidak enak dilihat kalau tamu menarik koper sendiri."

Kalimat itu terdengar seperti kebaikan. Namun Seline merasakan duri kecil di dalamnya. Tamu. Bukan keluarga.

Mereka mengikuti Bi Zheng melewati lorong panjang. Rumah itu lebih besar dari yang terlihat dari luar. Ada ruang tamu utama dengan sofa besar, ruang makan yang mejanya bisa menampung belasan orang, dinding penuh foto keluarga, dan altar kecil dengan aroma hio yang samar. Beberapa pelayan berpapasan dan menunduk sopan, tapi mata mereka diam-diam melirik Seline dan Darren.

Di salah satu bingkai foto, Seline melihat Kevin berdiri di samping seorang pria setengah baya dan perempuan anggun. Wajah Kevin di foto itu sama datarnya seperti saat di mobil. Hanya posisi tubuhnya yang sedikit condong ke arah seorang wanita tua berambut putih di kursi tengah.

"Itu Oma Mei," kata Bi Zheng pelan, seolah tahu Seline sedang melihat. "Besok mungkin Nona dipanggil menghadap."

"Menghadap?" Darren mengulang, terdengar gugup.

Bi Zheng tersenyum. "Maksud saya, bertemu. Oma suka tahu siapa saja yang tinggal di rumah ini."

Seline menyimpan informasi itu baik-baik.

Kamar belakang yang diberikan pada mereka berada di ujung koridor yang lebih sepi. Jendelanya menghadap taman samping, bukan halaman utama. Ruangan itu bersih, tapi jelas jarang dipakai. Ada tempat tidur single, sofa panjang yang bisa dibuka menjadi ranjang kecil, lemari kosong, meja tulis, dan kipas angin tambahan meski AC sudah terpasang.

Darren meletakkan ranselnya di sofa. "Aku tidur di sini?"

"Untuk sementara," jawab Seline. "Nanti Kakak rapikan."

Bi Zheng membantu menaruh koper di dekat lemari. Ia sempat melirik pintu kaca kecil yang mengarah ke jalur taman.

"Nona, kalau malam sebaiknya jangan keluar lewat pintu itu. Jalan itu menuju bagian belakang."

"Bagian Ko Kevin?" tanya Darren polos.

Bi Zheng tidak langsung menjawab. "Salah satunya."

Seline mengangguk. "Kami tidak akan keluar tanpa izin."

Setelah Bi Zheng pergi, kamar itu menjadi hening. Heningnya berbeda dari rumah kontrakan mereka di Surabaya. Di sana, hening berarti tetangga belum pulang kerja atau listrik padam. Di sini, hening seperti dinding yang sengaja dibangun agar orang tahu tempatnya masing-masing.

Darren duduk di sofa, menatap sekeliling. "Kak, Tante Chen baik nggak?"

Seline membuka koper dan mengeluarkan handuk untuk Darren. "Kita baru datang. Jangan cepat menilai."

"Tapi dia bilang kita tamu."

Tangan Seline berhenti sebentar.

"Memang sekarang kita tamu."

"Sampai kapan?"

Seline menutup koper perlahan. "Sampai Kakak bisa berdiri sendiri dan kamu sekolah dengan baik."

Darren ingin menjawab, tapi suara ketukan terdengar dari pintu.

Seline membuka pintu.

Seorang gadis berdiri di luar kamar, mungkin seumuran atau sedikit lebih tua darinya. Kulitnya putih bersih, rambut panjangnya jatuh rapi di bahu, dan dress merah muda yang ia pakai terlihat sederhana hanya karena tubuhnya sudah terbiasa memakai barang mahal. Matanya tersenyum, tapi senyum itu tidak sampai ke bagian paling dalam.

"Jadi kamu Seline?" tanyanya.

"Iya." Seline menahan pintu tetap terbuka setengah. "Kamu..."

"Vivian Liu." Gadis itu melirik ke dalam kamar, lalu ke koper tua di lantai. "Aku juga tinggal di sini. Bisa dibilang kita sama-sama keluarga luar."

Kalimat itu terdengar ringan. Terlalu ringan untuk sesuatu yang sengaja diarahkan.

Seline tersenyum sopan. "Senang bertemu denganmu."

Vivian tertawa kecil. "Kamu sopan sekali. Dari Surabaya ya?"

"Iya."

"Jauh juga." Vivian melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan. Matanya menyapu kamar, sofa Darren, koper, lalu berhenti pada jaket Seline. "Tante Chen pasti repot mengurus kalian. Rumah ini memang besar, tapi bukan berarti semua orang bisa bebas bergerak."

Darren berdiri. "Kakakku tidak akan merepotkan siapa pun."

"Darren," tegur Seline.

Vivian menatap Darren, lalu tersenyum manis. "Lucu. Adikmu berani."

Seline melangkah sedikit di depan Darren. "Kalau ada aturan yang perlu kami tahu, kamu bisa bilang. Kami akan hati-hati."

Vivian mendekat sampai jarak mereka tinggal satu langkah. Wangi parfumnya lembut, tapi kehadirannya membuat udara kamar terasa lebih sempit.

"Bagus kalau kamu cepat mengerti." Vivian menurunkan suara, cukup pelan agar hanya Seline dan Darren yang mendengar. "Di sini, kamu harus tahu posisimu."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!