Gadis yang Terbuang

Gadis yang Terbuang

Episode 1

Bab 001

Gadis dari Surabaya

Pintu gerbang hitam itu lebih tinggi dari semua keberanian Seline.

Taksi daring yang membawanya dari Stasiun Gambir berhenti tepat di depan pagar besi rumah tua di kawasan Menteng. Dari balik kaca mobil, Seline melihat halaman luas yang teduh, pohon-pohon besar, lampu taman yang belum menyala, dan bangunan putih bergaya kolonial yang berdiri jauh di dalam sana seperti tempat yang tidak akan pernah bisa disentuh orang biasa.

Di pangkuannya, ponsel murahnya bergetar lemah karena baterai tinggal enam persen. Pesan terakhir dari Tante Chen masih terbuka.

Kalau sudah sampai, bilang ke satpam. Tante sedang sibuk.

Hanya itu. Tidak ada nomor lain. Tidak ada instruksi lain. Bahkan tidak ada kalimat, Seline, Tante tunggu.

"Kak," bisik Darren dari sampingnya.

Anak laki-laki sebelas tahun itu memeluk ransel hitam yang sudah pudar warnanya. Matanya yang biasanya keras kepala kini bergerak cemas dari gerbang ke wajah Seline.

"Ini benar rumah Tante?"

Seline menelan ludah. Lehernya terasa kering setelah perjalanan panjang dari Surabaya, tapi ia tetap mengangguk.

"Benar. Alamatnya sama."

Sopir taksi melirik mereka lewat kaca spion. "Mbak, saya turun di sini ya? Kalau masuk ke dalam, biasanya harus lapor dulu."

Seline hampir mengoreksi panggilan itu. Ia bukan mbak dalam rumah ini, bukan siapa-siapa. Tapi di luar pagar tinggi itu, panggilan sederhana dari sopir taksi terasa lebih ramah daripada semua kemewahan yang sedang menatapnya diam-diam.

"Iya, Pak. Terima kasih."

Ia membayar ongkos dengan uang tunai yang sudah ia pisahkan di saku jaket. Setelah menghitung kembalian dua kali, ia baru berani keluar. Udara Jakarta sore itu lembap, bercampur bau aspal panas dan wangi tanah dari halaman besar di balik pagar. Seline menarik dua koper tua dari bagasi, satu biru kusam miliknya, satu cokelat kecil berisi pakaian Darren.

Begitu taksi pergi, suara jalan seakan menjauh.

Yang tersisa hanya mereka berdua, dua koper, dan sebuah gerbang yang membuat dada Seline terasa semakin sempit.

"Kakak yang bicara," kata Seline pelan, lebih untuk menenangkan dirinya sendiri daripada Darren. "Kamu berdiri dekat Kakak. Jangan panik."

Darren mengangguk, tapi jemarinya mencengkeram ujung jaket Seline.

Seline melangkah ke pos satpam. Dua penjaga berseragam hitam berdiri di sana. Salah satunya, pria berusia sekitar empat puluhan dengan name tag bertuliskan Agus, menatap mereka dari kepala sampai kaki. Tatapannya berhenti pada koper tua, lalu pada sandal Darren yang ujungnya mulai mengelupas.

"Mau ke mana?" tanya Pak Agus.

"Saya Seline. Ini adik saya, Darren. Kami diminta datang oleh Tante Chen. Beliau tinggal di sini."

"Tante Chen?" Satpam yang lebih muda menoleh ke dalam pos. "Maksudnya Nyonya Felicia?"

Seline ragu sesaat, lalu mengangguk. "Iya. Tante Felicia Chen."

Pak Agus tidak langsung membuka gerbang. Ia mengambil buku tamu, membalik beberapa halaman, lalu mengerutkan kening.

"Tidak ada nama tamu dari Surabaya hari ini."

Jari Seline yang memegang ponsel langsung dingin. "Mungkin Tante lupa memberi tahu. Saya punya pesannya."

Ia menunjukkan layar ponsel. Pak Agus membaca sekilas, wajahnya tetap datar.

"Ini cuma pesan. Saya harus konfirmasi ke dalam."

"Silakan, Pak."

Pak Agus masuk ke pos dan mengangkat telepon. Seline berdiri di bawah matahari yang mulai miring, mencoba menjaga punggungnya tetap tegak. Ia tahu seperti apa tampang mereka sekarang. Dua anak dari luar kota, turun dari taksi, membawa koper tua, mengaku punya hubungan dengan keluarga Hartono.

Di Surabaya, rumah kontrakan mereka sempit tapi tidak pernah membuatnya merasa sekecil ini.

Darren menggeser posisi. "Kak, kalau Tante nggak mau terima kita..."

"Jangan bicara begitu."

"Tapi kalau..."

Seline menoleh dan menatap adiknya. "Kita sudah sampai. Kita coba dulu."

Kalimat itu keluar tenang. Terlalu tenang sampai ia sendiri hampir percaya.

Di dalam genggaman kirinya, gantungan kecil di ritsleting koper menyentuh kulitnya. Di balik kain tipis saku dalam jaket, ada liontin giok tua yang selalu ia bawa sejak kecil. Benda itu dingin, seperti sisa rumah yang tidak pernah ia kenal. Ibu angkatnya pernah berkata dengan suara hampir habis, Kalau suatu hari tidak ada tempat untuk pulang, carilah keluargamu di Jakarta.

Jakarta ternyata dimulai dari gerbang yang tidak mau terbuka.

Pak Agus keluar lagi. "Nyonya Felicia belum bisa dihubungi."

Seline merasakan perutnya turun. "Boleh saya menunggu sebentar di sini, Pak?"

"Di luar saja. Aturan rumah tidak mengizinkan orang masuk sebelum ada konfirmasi."

"Tapi kami keluarga," Darren menyela, suaranya naik.

Seline cepat memegang lengannya. "Darren."

"Kakak capek, Pak. Kami dari pagi di kereta. Tante Chen yang suruh kami datang."

Pak Agus menatap Darren, kali ini agak tidak nyaman. Mungkin karena anak itu masih kecil, mungkin juga karena suara Darren terlalu mirip sesuatu yang tidak pantas didengar di depan rumah sebesar ini.

"Saya paham. Tapi saya cuma menjalankan aturan."

Aturan.

Kata itu jatuh seperti pagar kedua.

Seline menarik napas pelan. "Baik, Pak. Kami tunggu."

Mereka berdiri di sisi gerbang, tidak berani duduk di pinggir trotoar karena takut terlihat semakin menyedihkan. Koper biru Seline miring sedikit, roda kirinya rusak sejak di stasiun. Darren berkali-kali menatap gerbang, lalu menunduk, lalu menatap kakaknya lagi.

"Kak, haus."

Seline membuka ransel kecilnya. Botol minum mereka sudah kosong. Ia meremas botol itu sekali, lalu memasukkannya kembali.

"Tahan sebentar. Nanti kalau sudah masuk, Kakak ambilkan air."

"Kalau nggak masuk?"

Seline tidak menjawab.

Sebuah motor melintas, lalu mobil sedan putih, lalu suara kota kembali menyusut ketika jalan di depan rumah itu mendadak lengang. Dari kejauhan, terdengar deru mesin yang halus, berbeda dari kendaraan lain. Pak Agus yang tadi bersandar di pos langsung berdiri tegak.

Gerbang hitam itu bergerak.

Perlahan, tanpa suara keras, dua daun pagar terbuka ke dalam. Seline otomatis menarik koper agar tidak menghalangi jalan. Darren ikut mundur, bahunya menabrak lengan Seline.

Sebuah mobil hitam masuk dari ujung jalan. Bukan mobil yang sekadar mahal, tapi mobil yang membuat orang di sekitarnya tahu harus memberi ruang. Catnya mengilap, kaca jendelanya gelap, bannya berhenti tepat beberapa meter dari pos satpam.

Pak Agus membungkuk sedikit. "Selamat sore, Ko Kevin."

Nama itu membuat Seline mengangkat wajah.

Kaca jendela belakang turun setengah.

Pria di dalam mobil itu menoleh.

Ia masih muda, tapi ada ketenangan dingin di wajahnya yang membuatnya terlihat jauh dari usia orang biasa. Kemeja putihnya rapi tanpa satu kerut pun. Jam hitam di pergelangan tangannya tampak sederhana, justru karena tidak perlu berteriak mahal. Matanya gelap, datar, dan untuk satu detik yang terlalu panjang, mata itu berhenti pada Seline.

Tidak pada koper rusak.

Tidak pada Darren.

Pada Seline.

Seline tidak tahu harus menunduk atau menjelaskan. Ia hanya berdiri di sana dengan rambut sedikit berantakan karena perjalanan, jaket tipis yang mulai kusut, dan tangan yang masih memegang gagang koper seperti pegangan terakhir agar ia tidak jatuh.

"Ada apa?" suara pria itu rendah.

Pak Agus langsung menjawab, "Ada tamu mengaku keluarga Nyonya Felicia, Ko. Dari Surabaya. Belum ada konfirmasi dari dalam."

Pria itu tidak mengubah ekspresi. "Namanya?"

"Seline, Ko. Adiknya Darren."

Untuk pertama kalinya sejak kaca mobil turun, tatapan pria itu bergeser ke Darren. Darren menegang, tapi tetap berdiri di samping Seline.

Seline cepat berkata, "Maaf mengganggu. Tante Chen yang meminta kami datang. Kalau memang belum bisa masuk, kami bisa menunggu sampai beliau..."

Pria itu menatapnya lagi. Kalimat Seline mati sebelum selesai.

Bukan karena ia membentak. Bukan juga karena ia menunjukkan marah. Justru karena ia tidak menunjukkan apa pun. Tatapannya seperti pintu kaca yang tertutup dari dalam, bening, dingin, dan tidak memberi izin siapa pun untuk mengetuk terlalu lama.

"Biarkan mereka masuk ke ruang tunggu depan," katanya akhirnya.

Pak Agus tampak lega. "Baik, Ko."

Kaca jendela mulai naik.

Seline baru sadar ia belum mengucapkan terima kasih. "Terima kasih, Ko..."

Kaca sudah hampir tertutup ketika pria itu menoleh sekilas, seolah ucapan itu tidak penting. Mobil hitam itu bergerak masuk melewati gerbang, meninggalkan bau samar kulit mahal dan udara dingin dari AC yang sempat bocor keluar.

Darren berbisik, "Kak, itu siapa?"

Seline memandang punggung mobil itu sampai hilang di tikungan halaman.

"Ko Kevin," jawabnya pelan, mengulang nama yang tadi disebut satpam.

Gerbang rumah Hartono akhirnya terbuka untuk mereka, tapi Seline tidak merasa lebih lega. Di balik pagar itu, halaman luas terbentang seperti dunia lain. Pak Agus memanggil petugas lain untuk membantu koper, sementara Darren menarik napas seolah baru saja selamat dari sesuatu.

Seline melangkah melewati garis pagar.

Saat itulah ia menoleh sekali lagi ke arah jalan masuk tempat mobil hitam tadi menghilang.

Tatapan pria itu masih tertinggal di kulitnya, dingin dan ringan, seperti debu yang tidak bisa ditepis.

Tatapan itu bukan belas kasihan, bukan sambutan.

Tatapan itu seperti sedang melihat benda asing yang tidak ada hubungannya dengan hidupnya.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!