Episode 3

Bab 003

Oma

Seline tidak langsung menjawab.

Ia berdiri di depan Darren, masih memegang pintu lemari yang belum sempat ditutup. Di depannya, Vivian Liu tersenyum tipis, menunggu reaksi seperti seseorang yang baru saja melempar jarum dan ingin melihat apakah jarum itu menancap.

Kalau Seline marah, ia akan terlihat tidak tahu diri. Kalau ia membalas, hari pertamanya di rumah Hartono akan dimulai dengan keributan.

Maka Seline hanya menundukkan kepala sedikit.

"Terima kasih sudah mengingatkan," katanya pelan. "Saya akan hati-hati."

Vivian tampak tidak puas. Ia mengira Seline akan tersinggung atau membela diri. Namun yang ia dapat hanya suara tenang dan mata yang tidak cukup rendah untuk disebut takut.

"Bagus," ucap Vivian akhirnya. Ia melirik Darren sekali lagi. "Ajari juga adikmu. Di rumah besar, anak kecil pun harus tahu cara bersikap."

Darren mengepalkan tangan, tapi Seline menggenggam pergelangan tangannya dari belakang. Tidak keras. Cukup untuk mengingatkan bahwa malam itu mereka belum punya tempat selain kamar ini.

Vivian pergi tanpa menutup pintu rapat-rapat.

Seline baru menghela napas setelah langkah gadis itu menjauh.

"Kenapa Kakak diam saja?" Darren langsung bertanya, suaranya tertahan marah. "Dia menghina kita."

Seline menutup pintu, lalu berbalik. "Karena dia ingin Kakak terlihat salah."

"Tapi memang dia yang salah."

"Di rumah orang lain, belum tentu orang yang benar langsung menang."

Darren terdiam. Wajahnya masih panas oleh kesal, tapi ia menahan diri. Seline mendekat dan merapikan rambut adiknya yang berantakan.

"Kita tinggal dulu. Kita lihat dulu. Setelah itu baru kita tahu harus melangkah ke mana."

"Aku tidak suka dia."

Untuk pertama kalinya sejak tiba di Jakarta, Seline hampir tersenyum.

"Kakak juga tidak bilang harus suka."

Malam pertama di rumah Hartono berjalan panjang. Seline tidur di ranjang single, Darren di sofa panjang yang dibuka menjadi tempat tidur kecil. AC berdengung halus. Dari luar jendela, lampu taman membuat bayangan daun bergerak di langit-langit.

Seline tidak benar-benar tidur.

Setiap kali matanya terpejam, ia melihat gerbang hitam, senyum tipis Tante Chen, tatapan Vivian, dan kaca mobil hitam yang menurun setengah. Rumah ini terlalu besar untuk dua anak yang datang tanpa bekal nama keluarga kuat. Tetapi untuk Darren, ia harus belajar bernapas di dalamnya.

Pagi harinya, Bi Zheng mengetuk pintu saat Seline baru selesai melipat selimut.

"Nona Seline," ucapnya dari luar. "Oma memanggil."

Tangan Seline berhenti di atas kain.

Darren yang sedang memakai sepatu langsung menoleh. "Oma yang di foto itu?"

Bi Zheng mengangguk. "Oma Mei. Pemilik rumah ini."

Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat punggung Seline menegang. Ia cepat mengganti blusnya dengan kemeja putih paling rapi yang ia punya. Kemeja itu sudah dicuci berkali-kali sampai kainnya mulai menipis, namun kerahnya masih lurus karena ia menyetrikanya hati-hati sebelum berangkat dari Surabaya.

"Aku ikut?" tanya Darren.

"Oma meminta Nona Seline dulu," jawab Bi Zheng lembut. "Tuan kecil bisa sarapan di kamar. Nanti saya antar roti dan susu."

Darren jelas tidak suka ditinggal, tapi Seline menatapnya dengan tenang.

"Kakak hanya sebentar."

"Kalau mereka macam-macam?"

"Di depan Oma, tidak ada yang macam-macam," kata Bi Zheng tiba-tiba.

Nada perempuan itu begitu yakin sampai Darren menutup mulut. Seline menyimpan kalimat itu seperti menyimpan payung sebelum hujan.

Lorong menuju ruang tengah lebih terang daripada malam sebelumnya. Beberapa pelayan bergerak tanpa suara, membawa nampan teh, bunga segar, dan map-map kecil. Rumah Hartono pada pagi hari tampak seperti mesin tua yang mahal. Semua orang tahu posisinya. Semua orang tahu kapan harus menunduk.

Di depan pintu kayu besar, Bi Zheng berhenti.

"Masuklah, Nona. Jangan takut. Oma tidak suka orang pura-pura, tapi beliau juga tidak suka anak yang terlalu takut."

Seline mengangguk, lalu masuk.

Ruang keluarga utama itu luas, tetapi tidak terasa kosong. Jendela tinggi terbuka ke taman, cahaya pagi jatuh di atas lantai kayu mengilap. Di tengah ruangan, seorang wanita tua duduk di kursi berlengan, tubuhnya kecil, rambut putihnya disanggul rapi, matanya jernih seperti orang yang sudah terlalu sering melihat kebohongan sampai tidak perlu lagi membongkarnya dengan suara keras.

Di sampingnya, Tante Chen duduk dengan senyum sopan. Vivian berdiri agak jauh, memakai dress biru muda. Ada gadis lain di dekat meja teh, wajahnya cerah, matanya langsung menatap Seline dengan rasa ingin tahu yang tidak menyakitkan.

"Seline?" suara wanita tua itu lembut.

Seline mendekat dan menunduk hormat. "Selamat pagi, Oma."

Tante Chen tampak sedikit terkejut mendengar Seline langsung memakai panggilan itu, tapi Oma Mei justru tersenyum.

"Duduk dekat Oma."

Seline mengikuti. Ia duduk di kursi kecil di sebelah wanita tua itu, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.

Oma Mei mengamatinya lama. Bukan seperti Vivian menilai pakaian atau koper. Tatapan Oma menembus hal lain, seperti sedang membaca bekas perjalanan di wajah Seline, cara ia menahan bahu, dan letak tangan yang terlalu rapi di pangkuan.

"Perjalanan dari Surabaya melelahkan?"

"Sedikit, Oma. Tapi kami baik-baik saja."

"Adikmu?"

"Darren juga baik. Dia hanya masih menyesuaikan diri."

Oma Mei mengangguk. "Anak laki-laki umur sebelas tahun memang begitu. Berani di mulut, tapi matanya gampang ketahuan."

Seline terkejut. Ia tidak tahu Oma sudah mendengar tentang Darren atau hanya menebak. Dari sudut mata, ia melihat Vivian menahan senyum, seolah menunggu Seline salah menjawab.

Namun gadis cerah di dekat meja teh tiba-tiba tertawa kecil.

"Oma memang selalu tahu. Aku dulu juga begitu. Waktu pertama pindah kamar sendiri, aku bilang tidak takut, padahal tiap malam tidur sambil menyalakan semua lampu."

Oma Mei meliriknya. "Jessica, kamu bangga sekali membuka aib sendiri."

Gadis itu, Jessica, mengangkat bahu. "Kalau bisa membuat Seline lebih santai, tidak apa-apa."

Nada bicaranya ringan, tapi Seline menangkap niat baik di sana. Untuk pertama kalinya sejak masuk rumah Hartono, ada seseorang seusianya yang tidak melihatnya seperti gangguan.

Jessica tersenyum padanya. "Aku Jessica. Panggil saja Jess kalau mau. Nanti kalau bingung di rumah ini, tanya aku. Jangan tanya Vivian, dia suka bikin orang tambah bingung."

"Jess," tegur Tante Chen cepat.

Vivian tersenyum kaku. "Aku juga hanya membantu."

"Membantu orang takut, mungkin," gumam Jessica.

Seline menahan napas. Ia tidak menyangka ada orang yang berani bicara seterang itu di ruang Oma. Namun Oma Mei hanya mengambil cangkir teh, seolah pertengkaran kecil itu tidak layak diberi tempat.

"Cukup," kata Oma.

Satu kata itu membuat ruangan kembali rapi.

Oma Mei lalu membuka kotak kecil dari kayu gelap di meja samping. Dari dalamnya, ia mengeluarkan gelang giok berwarna hijau muda. Permukaannya halus, dingin, memantulkan cahaya lembut.

Tante Chen langsung menegakkan punggung. Vivian juga tidak bisa menyembunyikan perubahan wajahnya.

"Oma," Tante Chen berkata hati-hati, "itu gelang kesayangan Oma."

"Oma tahu barang Oma sendiri," jawab Oma Mei tanpa menoleh.

Seline membeku saat wanita tua itu meraih tangannya.

"Anak perempuan yang datang dari jauh tidak boleh merasa rumah ini hanya punya pintu dan aturan." Oma Mei memasangkan gelang itu ke pergelangan tangan Seline. Ukurannya sedikit longgar, tapi tidak jatuh. "Anggap ini hadiah pertemuan pertama."

"Oma, saya tidak bisa menerima ini." Suara Seline hampir hilang. "Ini terlalu berharga."

"Kalau Oma memberi, kamu menerima."

Tidak ada keras dalam suara itu. Justru karena itulah Seline tidak mampu menolak lagi. Gelang giok itu dingin di kulitnya, berbeda dengan liontin tua yang tersembunyi di balik bajunya. Satu benda berasal dari masa lalu yang tidak jelas. Satu benda baru saja diberikan oleh orang paling berkuasa di rumah ini.

Matanya tiba-tiba panas.

"Terima kasih, Oma."

Oma Mei memandangnya lama. Lalu, tanpa aba-aba, wanita tua itu mengangkat tangan dan menyentuh pipi Seline dengan ujung jari yang hangat.

Gerakan itu begitu lembut sampai Seline tidak sempat mundur.

Di mata Oma Mei, sesuatu bergetar. Bukan sekadar iba. Bukan juga kaget biasa. Seperti ada kenangan lama yang tiba-tiba membuka pintu dari dalam.

"Aneh," bisik Oma Mei.

Ruangan menjadi sunyi.

Seline menahan napas.

Oma Mei menatap wajahnya lebih dekat, lalu berkata pelan, "Kamu mirip seseorang."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
Episodes

Updated 137 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!