Bab 04 - Tawaran
Ketika tiba di depan gedung itu, aku berhenti beberapa saat, memandangi semua yang ada di sekelilingku. Kemewahan seperti ini hanya pernah kulihat di majalah atau televisi: fasad marmer mengilap, cahaya lembut keemasan, pintu-pintu tinggi dari kayu gelap, dan orang-orang berpakaian rapi yang keluar masuk seolah mereka memang berasal dari dunia itu. Bagiku, rasanya seperti menginjak tempat yang tidak diciptakan untuk kakiku.
Sebelum masuk, aku mengeluarkan ponsel dari tas dan menulis pesan terakhir untuk Laras, jemariku masih sedikit gemetar.
Aku sudah sampai. Semoga semuanya lancar di sini. Tolong awasi dia, ya.
Sambil menunggu balasan, ingatan tentang pagi itu kembali menghantam, menekan dadaku. Menjelang subuh, Kirana terbangun dengan dahi panas dan tubuh kecil yang terbakar demam. Aku panik, langsung berpikir untuk membatalkan semuanya. Bagaimana mungkin aku tampil, bernyanyi, sementara putriku sakit? Namun Laras, dengan ketenangan dan kekuatan yang selalu ia punya, menahanku dan meyakinkan.
"Kak Alya harus pergi. Tenang saja, aku yang jaga dia. Ada obat, aku akan kompres, aku akan begadang semalaman kalau perlu. Uang ini penting untuk kita. Kita tidak boleh kehilangan kesempatan ini. Kalau kondisinya memburuk, aku langsung telepon, ya?"
Aku menarik napas dalam, berusaha menyingkirkan rasa takut. Balasan Laras datang cepat.
Sekarang baik-baik saja, demamnya sudah turun sedikit. Dia tidur. Tenang, tampil yang bagus, bikin mereka terpukau. Aku di sini bersamanya.
Kusimpan ponsel, mengusap telapak tangan ke rok gaun yang kusewa khusus untuk malam itu, lalu menarik napas dalam sekali lagi. Aku ada di sana demi Kirana, demi kami bertiga. Aku tidak boleh goyah.
Aku masuk ke aula utama, dan perasaan tidak berada di tempat yang semestinya semakin kuat. Asap tipis beraroma naik membentuk spiral, suara percakapan pelan dan gelas yang saling bersentuhan memenuhi ruangan, sementara udara terasa lebih padat, lebih panas. Namun ketika aku menaiki anak tangga panggung dan mengangkat wajah, aku melihatnya.
Saat berdiri di atas panggung, jantungku berdetak begitu keras hingga rasanya menggema di telingaku. Cahaya redup, asap yang naik pelan dan menyelimuti ruangan, aroma pekat yang menggantung di udara, semuanya terasa jauh, seolah aku berada di dalam gelembung. Lalu aku melihatnya.
Di bagian belakang ruangan, bersandar pada sebuah meja, berdirilah pria itu. Tinggi, berbahu lebar, dengan postur dominan yang membuatnya seolah menguasai seluruh ruang di sekitarnya. Wajahnya tegas, sorot matanya gelap dan tajam seperti mampu melihat segalanya. Ada sesuatu dalam dirinya yang meneriakkan bahaya, tetapi di saat yang sama daya tariknya begitu kuat hingga seluruh tubuhku terasa memanas. Ia memancarkan kuasa, keyakinan diri, dan hasrat mentah yang seolah bisa menyentuh kulit siapa pun yang berada di dekatnya.
Dan untuk dialah aku bernyanyi.
Tanpa niat, tanpa rencana, setiap nada keluar dari tenggorokanku dan tertuju hanya pada mata itu. Kutumpahkan di sana semua kebutuhanku, kesepianku, kekuatanku, bahkan keinginan yang belum kusadari ada sampai detik itu. Suaraku keluar rendah, penuh intensitas, seolah aku sedang menceritakan kepadanya kisah-kisah yang tak pernah kuceritakan kepada siapa pun. Meski tahu ada puluhan orang yang memperhatikanku, bagiku hanya ada dia: pria tampan dan kuat yang beraroma bahaya sekaligus gairah, seakan udara di sekelilingnya pun penuh oleh itu.
Ketika kalimat terakhir selesai kunyanyikan, aku tetap menahan pandangan padanya selama satu detik lagi sebelum berbalik dan pergi. Jantungku masih berlari, tanganku sedikit gemetar, bukan karena takut, melainkan karena sebuah perasaan baru yang tidak mampu kunamai.
Aku kembali ke ruang rias kecil, mulai melepas topeng dan gaun, lalu mengenakan lagi pakaianku yang sederhana. Pikiranku melayang pada Kirana, pada Laras yang menungguku, pada uang yang akan kuterima dan bisa menjamin atap untuk beberapa hari lagi. Namun bayangan pria itu tidak mau pergi dari kepalaku.
Saat itulah pintu terbuka.
Seorang pria berwajah serius, bermata awas, dan bertubuh terlatih masuk pelan, lalu berhenti di hadapanku.
"Aku Rian Wiratama," katanya dengan suara mantap. "Aku perlu kamu ikut denganku."
Aku diam, tidak mengerti apa-apa.
"Ikut? Ke mana? Pekerjaanku sudah selesai. Aku hanya ingin pulang."
"Ini perintah," jawabnya, tanpa penjelasan lain.
Pada saat yang sama, kudengar perempuan-perempuan lain di sana berbisik pelan, seolah ketakutan.
"Kalau seorang bos memanggil seperti itu, biasanya bukan pertanda baik..."
"Hati-hati, dia bisa menginginkan apa saja..."
Rasa dingin merayap di sepanjang tulang punggungku. Dadaku sesak. Aku memikirkan Kirana, Laras, dan apa yang mungkin terjadi. Namun aku tidak punya pilihan. Aku mengikuti Rian melewati koridor-koridor sunyi yang diterangi lampu redup, sampai kami berhenti di depan pintu kayu gelap yang berat. Ia membukanya, memberi isyarat agar aku masuk, lalu tetap berdiri di luar sambil menutup pintu di belakangku.
Dan di sanalah dia.
Pria yang sama dari panggung. Ia berdiri membelakangi pintu, memandang jendela yang menghadap ke kota. Begitu mendengar suara, ia berbalik pelan dan berjalan ke arahku. Setiap langkahnya terasa makin berat, makin dominan, membuat udara bertambah padat. Ia berhenti hanya beberapa senti dariku, begitu dekat sampai aku bisa merasakan panas tubuhnya dan aroma kuat yang khas, yang membuatku semakin bingung.
"Siapa kamu?" tanyanya, suaranya berat dan rendah, seperti bergema di dalam dadaku. "Dan kenapa kamu menyanyikan semua itu hanya untukku?"
Aku menelan ludah, berusaha tetap tenang.
"Aku tidak bernyanyi untuk siapa pun secara khusus," jawabku, suaraku sedikit bergetar tetapi tetap tegas. "Aku hanya melakukan pertunjukan yang menjadi pekerjaanku."
Ia tersenyum miring, senyum yang tidak sampai ke matanya, lalu bergerak lebih dekat. Kakiku terasa lemas, seolah ia punya kuasa untuk membaca semua yang kusembunyikan: kesulitanku, lukaku, dan, ya, hasrat yang bahkan kucoba sangkal dari diriku sendiri. Rasanya ia sedang melihat jiwaku telanjang, dan aku tidak punya cara untuk bertahan.
"Mustahil menyangkal apa yang kulihat," katanya pelan, setiap kata menancap ke dalam diriku. "Kamu menatap mataku seolah menginginkan lebih dari sekadar musik. Kamu menginginkanku, bukan?"
Wajahku panas oleh malu dan marah sekaligus.
"Pak Arkan sudah gila!" jawabku, mencoba mundur, tetapi ia tetap di sana, menghalangi jalan. "Aku tidak menginginkan apa pun dari Anda. Aku hanya mau menerima bayaranku lalu pergi."
Aku berbalik hendak keluar, tetapi ia memegang lenganku dengan kuat. Tidak menyakitiku, tetapi juga tidak membiarkanku lepas. Lalu kalimat itu keluar, kalimat yang membuat pandanganku memerah, membuatku buta oleh amarah.
"Berapa? Berapa yang kamu mau untuk satu malam? Atau untuk waktu yang lebih lama? Sebutkan harganya."
Aku tidak berpikir. Dengan seluruh tenaga yang kupunya, aku mengangkat tangan dan menamparnya keras, membuat kepalanya sedikit tersentak ke samping. Mataku dipenuhi air mata kemarahan dan penghinaan.
"Aku tidak punya harga!" teriakku, suaraku tertahan. "Aku bukan barang dagangan. Aku tidak dijual!"
Aku berdiri mematung, menunggu kemungkinan terburuk. Pasti ia akan membalas pukulanku, melemparku ke jalan, atau melakukan sesuatu yang lebih buruk. Bagaimanapun, dialah pemilik semua tempat ini. Namun di luar dugaanku, ia tidak bereaksi dengan marah. Ia hanya memandangku dengan kilat berbeda di matanya, seolah tertangkap basah oleh keterkejutan, seolah reaksiku menyentuh sesuatu dalam dirinya yang tidak ia duga.
Ia melepaskan lenganku pelan-pelan, mengangkat tangan dan menyentuh wajah yang baru saja kutampar, lalu menatap mataku dengan ekspresi yang tidak mampu kubaca.
"Aku minta maaf," katanya, suaranya lebih rendah, lebih tenang. "Aku salah. Aku tidak seharusnya bicara seperti itu. Kamu boleh pergi."
Aku tetap berdiri, tidak percaya pada apa yang kudengar. Ia melangkah ke samping, membuka jalan menuju pintu.
"Honormu sudah dibayar penuh, dan kamu juga menerima sejumlah uang tambahan sebagai permintaan maaf. Pergilah dengan tenang."
Aku keluar dari sana dengan kaki yang masih gemetar, jantung melompat-lompat, tanpa memahami apa pun. Namun satu hal kutahu: pria itu, dengan seluruh arogansi dan kekuasaannya, berhasil membuatku merasakan hal-hal yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Dan rasanya, kisah kami baru saja dimulai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 61 Episodes
Comments