Bab 2: Berdiri di Atas Kaki Sendiri

Malam itu, langit Jakarta seolah ikut merasakan kepedihan hati Davira. Hujan turun dengan sangat deras, membasahi jalanan aspal dan menyamarkan air mata yang kembali menetes di pipi wanita itu. Davira berjalan gontai di trotoar, hanya membawa tas jinjing kecil berisi dompet, ponsel, dan lembar hasil laboratorium yang sudah agak lecek. Dia tidak membawa satu pun pakaian atau barang mewah yang dibelikan Arka. Dia ingin keluar dari lingkaran setan itu dengan tubuh sebersih mungkin dari harta keluarga Narendra.

Tubuhnya mendadak menggigil hebat. Rasa nyeri di perut bagian bawahnya kembali menyerang, kali ini jauh lebih hebat hingga membuat Davira terpaksa bertumpu pada tiang lampu jalan. Rasanya seperti ada pisau yang mengiris-iris organ dalamnya.

"Aku harus kuat... aku tidak boleh mati di pinggir jalan seperti ini," bisik Davira pada dirinya sendiri, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya.

Dengan tangan gemetar, dia merogoh ponsel dari tasnya. Davira tahu dia tidak punya banyak uang. Tabungan pribadinya dari sisa peninggalan ayahnya hanya cukup untuk biaya hidup beberapa bulan, jauh dari kata cukup untuk membayar operasi pengangkatan rahim kelas VIP di rumah sakit swasta mewah. Namun, dia teringat pada satu nama. Dokter Sarah, sahabat mendiang ibunya yang bekerja di sebuah rumah sakit umum daerah.

Setelah berjuang menembus dinginnya malam dengan taksi, Davira akhirnya tiba di rumah sakit tempat Dokter Sarah bertugas. Begitu melihat kondisi Davira yang basah kuyup, pucat pasi, dan tak berdaya, Dokter Sarah langsung membawanya ke ruang pemeriksaan.

Satu jam kemudian, Davira sudah berbaring di bangsal perawatan dengan selang infus yang tertancap di punggung tangannya. Dokter Sarah duduk di sampingnya, menatap Davira dengan pandangan mata yang penuh rasa iba sekaligus marah.

"Davira, kenapa kamu baru datang sekarang? Kondisi kankermu sudah menyebar ke jaringan sekitar serviks. Ini sudah stadium tiga lanjut, Vira!" suara Dokter Sarah terdengar bergetar. "Dan di mana Arka? Kenapa suamimu tidak mendampingimu di saat seperti ini?"

Mendengar nama Arka, sudut bibir Davira terangkat, membentuk sebuah senyuman sinis yang terasa sangat asing di wajah lembutnya.

"Arka sedang sibuk menjaga bayi dari wanita lain, Tante," jawab Davira datar, tanpa ada lagi air mata yang menetes. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar rumah sakit yang bernuansa putih pucat.

Dokter Sarah terperangah. "Apa maksudmu? Arka selingkuh?"

Davira mengangguk perlahan. Dia menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi, tentang Sheila yang hamil lima bulan, tentang ibu mertua dan adik iparnya yang mengusirnya, serta tentang ultimatum Arka yang memintanya menjadi istri pertama yang terbuang di kamar belakang.

"Biadab!" Tangan Dokter Sarah mengepal tinju di atas meja. "Bagaimana bisa keluarga Narendra sekejam itu? Padahal dulu almarhum ayah Arka sangat menghormati ayahmu! Davira, kamu harus menuntut mereka. Jangan biarkan mereka menginjak-injak harga dirimu!"

"Menuntut mereka sekarang hanya akan membuang energi yang aku miliki, Tante," sahut Davira tenang. Ketenangan yang justru terasa mengerikan bagi siapa pun yang mendengarnya. "Sekarang, fokus utamaku adalah hidup. Aku ingin operasi secepatnya. Tolong bantu aku, Tante. Angkat rahim ini dari tubuhku."

Dokter Sarah menghela napas panjang, lalu menggenggam tangan Davira yang terasa sedingin es. "Baik. Tante akan urus jadwal operasimu secepat mungkin. Mengingat kondisimu, kita akan lakukan tindakan minggu depan. Tapi Vira... setelah rahimmu diangkat, kamu tidak akan bisa..." Dokter Sarah tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.

"Aku tahu, Tante. Aku tidak akan pernah bisa punya anak," potong Davira dengan tatapan mata yang mendadak berkilat tajam. "Tapi tidak apa-apa. Kehilangan rahim tidak akan membuatku berhenti menjadi seorang wanita yang kuat. Justru dengan ini, tidak akan ada lagi kelemahan yang bisa mereka serang."

Satu minggu berlalu dengan cepat. Selama kurun waktu tersebut, ponsel Davira sangat sepi. Tidak ada satu pun panggilan atau pesan singkat dari Arka. Pria itu benar-benar menganggapnya sudah mati atau tidak peduli lagi ke mana istrinya pergi. Davira tersenyum getir melihat layar ponselnya yang bersih dari notifikasi sang suami. Kebencian di dadanya kian menumpuk, menjelma menjadi bahan bakar yang membuatnya tetap tegak berdiri.

...

Hari operasi pun tiba. Davira dibawa masuk ke dalam ruang operasi yang dingin dengan lampu besar yang menyorot tajam di atas kepalanya. Di ambang kesadarannya sebelum pengaruh obat bius total bekerja, Davira membatin sebuah janji yang sakral.

Arka, Sheila... nikmatilah kebahagiaan kalian di atas penderitaanku saat ini. Karena ketika aku terbangun nanti, Davira yang lemah dan penurut telah mati bersama rahim yang diangkat ini. Aku akan terlahir kembali sebagai mimpi buruk terbesar dalam hidup kalian.

Operasi berjalan selama empat jam yang menegangkan, namun untungnya berhasil dengan sukses. Seluruh jaringan kanker dan rahim Davira berhasil diangkat. Selama dua minggu masa pemulihan di rumah sakit, Davira berjuang keras untuk segera sembuh. Dia memaksa dirinya makan meski mual, dan belajar berjalan kembali meski perutnya terasa luar biasa perih pasca operasi.

Pada hari dia diperbolehkan pulang, sebuah kejutan besar menantinya. Saat Davira sedang mengemas barang-barangnya di dalam kamar rawat, pintu mendadak terbuka dengan kasar.

Seorang pria muda bertubuh jangkung dengan pakaian kasual namun berantakan masuk dengan napas terengah-engah. Wajahnya dipenuhi peluh, dan matanya memerah menahan tangis.

Davira tertegun, menjatuhkan pakaian di tangannya. Jantungnya berdegup kencang karena tidak percaya dengan penglihatannya.

"Kak Vira..." suara pria itu pecah.

"Reno...?" bisik Davira lirih.

Pria itu adalah Reno, adik kandung laki-lakinya yang selama tiga tahun ini menghilang tanpa kabar di luar negeri! Reno langsung berlari dan memeluk erat tubuh kakaknya yang kini terasa jauh lebih kurus.

"Maafkan Reno, Kak... Maaf karena Reno baru tahu semuanya sekarang!" isak Reno di bahu Davira. "Reno baru kembali ke Indonesia kemarin dan langsung mendatangi rumah bajingan itu! Tapi wanita jalang dan ibunya malah mengusirku dan bilang kalau Kakak sudah mati karena mandul!"

Davira membelai punggung adiknya dengan lembut. "Bagaimana kamu bisa tahu Kakak ada di sini?"

"Dokter Sarah yang menghubungi Reno, Kak," jawab Reno sambil melepaskan pelukannya, menatap wajah sang kakak dengan tatapan penuh penyesalan. "Selama tiga tahun ini, Reno bekerja mati-matian di Amerika. Reno sengaja memutus kontak karena Reno terlibat proyek rahasia berskala global dan tidak ingin keluarga Arka tahu sebelum Reno sukses. Sekarang, Reno sudah berhasil, Kak. Reno kembali sebagai salah satu investor utama di perusahaan teknologi terbesar di Silicon Valley. Uang Reno sudah sangat banyak!"

Reno mengepalkan tangannya dengan urat-urat yang menonjol di lehernya. "Tapi begitu Reno pulang, Reno justru mendapati Kakak menderita seperti ini karena ulah Arka dan keluarganya! Reno tidak akan melepaskan mereka, Kak! Reno akan hancurkan perusahaan Arka sampai dia menjadi pengemis!"

Mendengar penuturan adiknya, Davira terdiam sesaat. Perlahan, sebuah senyuman misterius dan dingin terukir di wajahnya yang pucat. Takdir ternyata masih berpihak padanya. Dia tidak lagi sebatang kara.

Davira memegang pundak adiknya, menatap lurus ke dalam manik mata Reno dengan tatapan yang sangat tajam.

"Jangan terburu-buru, Reno. Menghancurkan mereka dalam semalam itu terlalu mudah dan tidak menyenangkan," ucap Davira dengan nada suara yang tenang namun sarat akan ancaman. "Kita akan bermain perlahan. Biarkan Arka dan selingkuhannya merasa di atas angin terlebih dahulu. Setelah itu... kita akan jatuhkan mereka dari tempat tertinggi hingga mereka tahu bagaimana rasanya hancur berkeping-keping seperti yang aku rasakan."

Episodes
1 Bab 1: Vonis yang Merenggut Segalanya
2 Bab 2: Berdiri di Atas Kaki Sendiri
3 Bab 3: Kematian Davira yang Lama
4 Bab 4: Tiga Tahun dan Sosok yang Baru
5 Bab 5: Pertemuan Setelah Tiga Tahun
6 Bab 6: Perhatian sang Kaisar Bisnis
7 Bab 7: Kepanikan di Kediaman Narendra
8 Bab 8: Jamuan Makan Malam Penuh Racun
9 Bab 9: Kehancuran Topeng di Depan Publik
10 Bab 10: Badai Skandal di Pagi Hari
11 Bab 11: Undangan dari Sang Kaisar Bisnis
12 Bab 12: Hangat di Balik Dinding Es
13 Bab 13: Perintah Pertama Sang Ratu
14 Bab 14: Runtuhnya Kemewahan dan Bayang-Bayang Sang Pelindung
15 Bab 15: Sentuhan yang Menyembuhkan Luka
16 Bab 16: Pukulan dari Dua Sisi
17 Bab 17: Lentera di Tengah Badai
18 Bab 18: Jeritan di Balik Pintu Terkunci
19 Bab 19: Retakan di Dinding Kaca
20 Bab 20: Bara di Balik Dinding Kaca
21 Bab 21: Jerat yang Kian Mengetat
22 Bab 22: Pecahnya Mangkuk Porselen
23 Bab 23: Lutut yang Patah
24 Bab 24: Dasar Cawan yang Pecah
25 Episode 25: Reruntuhan Istana Palsu
26 Episode 26: Dinding-Dinding Dingin Tahanan
27 Episode 27: Langkah Catur di Ujung Tanduk
28 Episode 28: Serigala di Balik Jeruji
29 Episode 29: Perangkap di Rumah Sakit
30 Episode 30: Palu Keadilan dan Bayang-Bayang Pembatas
31 Episode 31: Mahkota Baru di Atas Singgasana Atmadja
32 Episode 32: Fajar Baru dan Janji di Bawah Langit Bali
33 Bab 33: Riak Kecil di Atas Air Tenang
34 Bab 34: Ujian di Meja Makan Kediaman Utama
35 Bab 35: Senjata Tersembunyi di Kalimantan
36 Bab 36: Jejak Rahasia Bayangan di Surabaya
37 Bab 37: Pengepungan di Zona C Tanjung Perak
38 Bab 38: Warisan Murni Mahendra dan Senja di Tanjung Perak
39 Bab 39: Bayangan dari Benua Biru
40 Bab 40: Jawaban Berdarah Dingin
41 Bab 41: Pemblokiran Jalur Frankfurt
42 Bab 42: Musuh dalam Selimut
43 Bab 43: Serangan Balik Frankfurt
44 Bab 44: Kehangatan di Kota Hujan
45 Bab 45: Balasan dari Zurich
46 Bab 46: Kepulangan Sang Penguasa
47 Bab 47: Eksekusi Hukum Pengkhianat Internal & Kemunculan
48 Bab 48: Bayangan dari Masa Lalu Adrian
49 Bab 49: Benteng Kasih Sayang Sang Ibu
50 Bab 50: Dekrit Penetapan Wali Mutlak & Sabotase Pertama di Kalimantan
51 BAB 51: Janji di Bawah Langit Jakarta
52 Bab 52: Kemunculan Kartel Hendrawan & Eksekusi Saham
53 Bab 53: Konsolidasi Kalimantan & Manuver Bursa
Episodes

Updated 53 Episodes

1
Bab 1: Vonis yang Merenggut Segalanya
2
Bab 2: Berdiri di Atas Kaki Sendiri
3
Bab 3: Kematian Davira yang Lama
4
Bab 4: Tiga Tahun dan Sosok yang Baru
5
Bab 5: Pertemuan Setelah Tiga Tahun
6
Bab 6: Perhatian sang Kaisar Bisnis
7
Bab 7: Kepanikan di Kediaman Narendra
8
Bab 8: Jamuan Makan Malam Penuh Racun
9
Bab 9: Kehancuran Topeng di Depan Publik
10
Bab 10: Badai Skandal di Pagi Hari
11
Bab 11: Undangan dari Sang Kaisar Bisnis
12
Bab 12: Hangat di Balik Dinding Es
13
Bab 13: Perintah Pertama Sang Ratu
14
Bab 14: Runtuhnya Kemewahan dan Bayang-Bayang Sang Pelindung
15
Bab 15: Sentuhan yang Menyembuhkan Luka
16
Bab 16: Pukulan dari Dua Sisi
17
Bab 17: Lentera di Tengah Badai
18
Bab 18: Jeritan di Balik Pintu Terkunci
19
Bab 19: Retakan di Dinding Kaca
20
Bab 20: Bara di Balik Dinding Kaca
21
Bab 21: Jerat yang Kian Mengetat
22
Bab 22: Pecahnya Mangkuk Porselen
23
Bab 23: Lutut yang Patah
24
Bab 24: Dasar Cawan yang Pecah
25
Episode 25: Reruntuhan Istana Palsu
26
Episode 26: Dinding-Dinding Dingin Tahanan
27
Episode 27: Langkah Catur di Ujung Tanduk
28
Episode 28: Serigala di Balik Jeruji
29
Episode 29: Perangkap di Rumah Sakit
30
Episode 30: Palu Keadilan dan Bayang-Bayang Pembatas
31
Episode 31: Mahkota Baru di Atas Singgasana Atmadja
32
Episode 32: Fajar Baru dan Janji di Bawah Langit Bali
33
Bab 33: Riak Kecil di Atas Air Tenang
34
Bab 34: Ujian di Meja Makan Kediaman Utama
35
Bab 35: Senjata Tersembunyi di Kalimantan
36
Bab 36: Jejak Rahasia Bayangan di Surabaya
37
Bab 37: Pengepungan di Zona C Tanjung Perak
38
Bab 38: Warisan Murni Mahendra dan Senja di Tanjung Perak
39
Bab 39: Bayangan dari Benua Biru
40
Bab 40: Jawaban Berdarah Dingin
41
Bab 41: Pemblokiran Jalur Frankfurt
42
Bab 42: Musuh dalam Selimut
43
Bab 43: Serangan Balik Frankfurt
44
Bab 44: Kehangatan di Kota Hujan
45
Bab 45: Balasan dari Zurich
46
Bab 46: Kepulangan Sang Penguasa
47
Bab 47: Eksekusi Hukum Pengkhianat Internal & Kemunculan
48
Bab 48: Bayangan dari Masa Lalu Adrian
49
Bab 49: Benteng Kasih Sayang Sang Ibu
50
Bab 50: Dekrit Penetapan Wali Mutlak & Sabotase Pertama di Kalimantan
51
BAB 51: Janji di Bawah Langit Jakarta
52
Bab 52: Kemunculan Kartel Hendrawan & Eksekusi Saham
53
Bab 53: Konsolidasi Kalimantan & Manuver Bursa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!