Bab 5: Pertemuan Setelah Tiga Tahun

Pagi itu, gedung pencakar langit Narendra Group tampak lebih sibuk dari biasanya. Desas-desus mengenai kedatangan perwakilan dari V-Tech Investment, perusahaan modal ventura raksasa asal Amerika Serikat telah menyebar luas ke seluruh penjuru kantor. Bagi Narendra Group, pertemuan hari ini adalah penentu hidup dan mati. Jika mereka gagal meyakinkan investor misterius ini, maka sejarah kejayaan keluarga Narendra akan resmi berakhir di meja pengadilan niaga.

Arka Narendra berdiri di depan cermin besar ruang kerjanya. Pria itu mencoba merapikan setelan jasnya, memastikan penampilannya sempurna. Meski kantung mata hitam akibat kurang tidur tidak bisa disembunyikan sepenuhnya, dia harus tetap terlihat sebagai CEO yang meyakinkan.

Tok! Tok!

Pintu ruangan terbuka. Sekretaris Arka masuk dengan wajah tegang namun penuh harap. "Pak Arka, perwakilan dari V-Tech Investment sudah tiba di ruang rapat utama. Direktur Eksekutif mereka sendiri yang memimpin delegasi."

"Baik. Saya akan segera ke sana," jawab Arka tegas. Dia menghela napas panjang, mengencangkan kerah kemejanya, lalu melangkah keluar dengan keyakinan penuh. Arka percaya diri, kemampuan negosiasinya selama ini jarang meleset.

---

Di dalam ruang rapat utama yang megah, beberapa jajaran direksi Narendra Group sudah duduk dengan tegang. Di seberang meja elips yang besar, tampak tim dari V-Tech Investment yang mengenakan seragam formal hitam-hitam, memancarkan aura profesionalisme tingkat tinggi.

Namun, perhatian semua orang tertuju pada sosok wanita yang duduk di kursi utama delegasi asing tersebut. Wanita itu sedang membelakangi pintu masuk, menatap pemandangan kota Jakarta dari dinding kaca besar ruangan.

Cklek

Arka melangkah masuk ke dalam ruangan. "Selamat pagi semuanya. Mohon maaf atas keterlambatan saya," ucap Arka ramah seraya berjalan menuju kursinya.

Mendengar suara itu, wanita yang menghadap jendela perlahan memutar kursi kebesarannya.

Saat kursi itu berputar sempurna dan wanita itu menurunkan sedikit kacamata hitamnya, langkah kaki Arka mendadak terkunci di lantai marmer. Seluruh pasokan oksigen di parunya seolah tersedot habis. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya.

Wajah itu. Sepasang mata itu.

"Da... Davira?" bisik Arka, suaranya bergetar hebat. Matanya membelalak kencang, tidak percaya dengan apa yang sedang dia lihat.

Wanita di hadapannya memiliki struktur wajah yang sama dengan mantan istrinya yang dia usir tiga tahun lalu. Namun, auranya sangat berbeda. Tidak ada lagi Davira yang kusam, kurus, berpakaian daster murah, dan berwajah penuh ketakutan. Wanita di depannya ini adalah definisi dari kesempurnaan dan kekuasaan.

Vira Mahendra menatap Arka datar. Tidak ada kilat kemarahan, tidak ada dendam yang meluap-luap. Hanya ada kekosongan yang teramat dingin di matanya. Tatapan yang biasa ditujukan pada orang asing yang tidak penting.

Vira mengulas senyum profesional yang sangat tipis, lalu meletakkan kacamata hitamnya di atas meja. "Selamat pagi, Tuan Arka Narendra. Senang bertemu dengan Anda. Tapi mohon maaf, nama saya adalah Vira Mahendra, Direktur Utama V-Tech Investment. Tolong panggil saya dengan nama yang profesional di dalam forum ini."

"Nggak... nggak mungkin. Kamu Davira! Kamu istriku!" Arka kehilangan kendali dirinya. Dia melangkah maju, hendak meraih tangan Vira.

Brak!

Reno yang sejak tadi duduk di samping Vira langsung berdiri dan menggebrak meja dengan kasar. Tatapan Reno bagai ingin menguliti Arka hidup-hidup. "Jaga sopan santun Anda, Tuan Arka! Jika Anda berani menyentuh atasan saya, kami akan membatalkan investasi ini detik ini juga dan memastikan Narendra Group bangkrut sebelum matahari terbenam!"

Arka tersentak. Dia menatap pria muda di samping Davira. "Reno...? Kamu... kamu adiknya Davira yang gelandangan itu, kan?!"

"Nama saya Reno Mahendra, CFO dari V-Tech. Dan berhati-hatilah dalam berucap jika Anda masih ingin menyelamatkan perusahaan Anda yang hampir mati ini," desis Reno tajam, penuh penekanan.

Jajaran direksi Narendra Group mulai berbisik-bisik panik melihat tingkah laku CEO mereka. Salah satu direktur senior berbisik pada Arka, "Pak Arka, tolong tenang. Siapa pun beliau di masa lalu, saat ini beliau adalah satu-satunya malaikat penolong kita. Tolong kendalikan diri Anda."

Arka mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dia terpaksa mundur dan duduk di kursinya dengan tubuh yang masih bergetar. Matanya tidak bisa lepas dari sosok Vira. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa wanita yang divonis kanker rahim dan diusir tanpa sepeser uang pun, kini kembali sebagai penguasa finansial yang memegang leher perusahaannya?

Vira melipat kedua tangannya di atas meja, menatap Arka dengan pandangan merendahkan yang teramat halus.

"Baik, bisa kita mulai presentasinya, Tuan Arka? Waktu saya sangat mahal, dan saya tidak datang ke sini untuk mendengarkan delusi masa lalu Anda," ucap Vira dengan nada suara yang sangat tenang namun menusuk.

---

Rapat berlangsung selama dua jam. Sepanjang rapat, Arka sama sekali tidak bisa fokus. Pikirannya bercabang, sementara Vira dengan sangat cerdas, dingin, dan tajam membedah semua borok serta kesalahan manajemen keuangan yang dilakukan oleh Narendra Group. Setiap pertanyaan yang dilontarkan Vira bagai tamparan keras yang membongkar ketidakbecusan Arka dalam memimpin perusahaan sejak kepergian ayahnya.

"Proposal Anda sangat buruk, Tuan Arka," ucap Vira sambil menutup dokumen di depannya dengan ketukan keras. "Anda berinvestasi di sektor pariwisata tanpa riset matang hanya karena menuruti keinginan... ah, siapa nama istri Anda sekarang? Sheila? Hanya karena ingin menyenangkan istri baru Anda?"

Arka terdiam, wajahnya memerah menahan malu di depan para direksinya sendiri.

"Namun," Vira menjeda kalimatnya, membuat semua orang di ruangan itu menahan napas. "Kami dari V-Tech tetap akan memberikan suntikan dana sebesar 500 miliar rupiah."

Mendengar hal itu, para direksi Narendra Group langsung menghela napas lega, beberapa bahkan tersenyum semringah. Namun, senyuman mereka segera lenyap begitu Vira melanjutkan kalimatnya.

"Dengan satu syarat mutlak. Kami meminta jaminan berupa 45% saham kepemilikan Narendra Group, dan seluruh hak kendali keuangan harus melewati persetujuan saya pribadi. Jika dalam tiga bulan Anda tidak bisa menaikkan profit sebesar 20%, maka sisa saham Anda akan jatuh ke tangan kami, dan Anda akan ditendang dari kursi CEO."

Ini bukan investasi. Ini adalah akuisisi terselubung. Ini adalah tali kekang yang dipasang Vira langsung ke leher Arka.

"Davira... kamu sengaja ingin menghancurkanku?" bisik Arka dengan mata memerah.

Vira berdiri dari kursinya, merapikan blazer merah marunnya dengan anggun. Dia menatap Arka dari atas ke bawah untuk terakhir kalinya sebelum memakai kembali kacamata hitamnya.

"Saya rasa kesepakatan ini sangat adil untuk perusahaan yang hampir mati, Tuan Arka. Keputusan ada di tangan Anda. Tanda tangani kontraknya besok, atau silakan tunggu surat kebangkrutan dari pengadilan. Permisi."

Vira berjalan keluar dari ruang rapat diikuti oleh Reno dan timnya. Langkah kakinya terdengar begitu tegas, meninggalkan Arka yang terduduk lemas di kursinya, menyadari bahwa neraka pribadinya baru saja resmi dimulai.

Episodes
1 Bab 1: Vonis yang Merenggut Segalanya
2 Bab 2: Berdiri di Atas Kaki Sendiri
3 Bab 3: Kematian Davira yang Lama
4 Bab 4: Tiga Tahun dan Sosok yang Baru
5 Bab 5: Pertemuan Setelah Tiga Tahun
6 Bab 6: Perhatian sang Kaisar Bisnis
7 Bab 7: Kepanikan di Kediaman Narendra
8 Bab 8: Jamuan Makan Malam Penuh Racun
9 Bab 9: Kehancuran Topeng di Depan Publik
10 Bab 10: Badai Skandal di Pagi Hari
11 Bab 11: Undangan dari Sang Kaisar Bisnis
12 Bab 12: Hangat di Balik Dinding Es
13 Bab 13: Perintah Pertama Sang Ratu
14 Bab 14: Runtuhnya Kemewahan dan Bayang-Bayang Sang Pelindung
15 Bab 15: Sentuhan yang Menyembuhkan Luka
16 Bab 16: Pukulan dari Dua Sisi
17 Bab 17: Lentera di Tengah Badai
18 Bab 18: Jeritan di Balik Pintu Terkunci
19 Bab 19: Retakan di Dinding Kaca
20 Bab 20: Bara di Balik Dinding Kaca
21 Bab 21: Jerat yang Kian Mengetat
22 Bab 22: Pecahnya Mangkuk Porselen
23 Bab 23: Lutut yang Patah
24 Bab 24: Dasar Cawan yang Pecah
25 Episode 25: Reruntuhan Istana Palsu
26 Episode 26: Dinding-Dinding Dingin Tahanan
27 Episode 27: Langkah Catur di Ujung Tanduk
28 Episode 28: Serigala di Balik Jeruji
29 Episode 29: Perangkap di Rumah Sakit
30 Episode 30: Palu Keadilan dan Bayang-Bayang Pembatas
31 Episode 31: Mahkota Baru di Atas Singgasana Atmadja
32 Episode 32: Fajar Baru dan Janji di Bawah Langit Bali
33 Bab 33: Riak Kecil di Atas Air Tenang
34 Bab 34: Ujian di Meja Makan Kediaman Utama
35 Bab 35: Senjata Tersembunyi di Kalimantan
36 Bab 36: Jejak Rahasia Bayangan di Surabaya
37 Bab 37: Pengepungan di Zona C Tanjung Perak
38 Bab 38: Warisan Murni Mahendra dan Senja di Tanjung Perak
39 Bab 39: Bayangan dari Benua Biru
40 Bab 40: Jawaban Berdarah Dingin
41 Bab 41: Pemblokiran Jalur Frankfurt
42 Bab 42: Musuh dalam Selimut
43 Bab 43: Serangan Balik Frankfurt
44 Bab 44: Kehangatan di Kota Hujan
45 Bab 45: Balasan dari Zurich
46 Bab 46: Kepulangan Sang Penguasa
47 Bab 47: Eksekusi Hukum Pengkhianat Internal & Kemunculan
48 Bab 48: Bayangan dari Masa Lalu Adrian
49 Bab 49: Benteng Kasih Sayang Sang Ibu
50 Bab 50: Dekrit Penetapan Wali Mutlak & Sabotase Pertama di Kalimantan
51 BAB 51: Janji di Bawah Langit Jakarta
52 Bab 52: Kemunculan Kartel Hendrawan & Eksekusi Saham
53 Bab 53: Konsolidasi Kalimantan & Manuver Bursa
Episodes

Updated 53 Episodes

1
Bab 1: Vonis yang Merenggut Segalanya
2
Bab 2: Berdiri di Atas Kaki Sendiri
3
Bab 3: Kematian Davira yang Lama
4
Bab 4: Tiga Tahun dan Sosok yang Baru
5
Bab 5: Pertemuan Setelah Tiga Tahun
6
Bab 6: Perhatian sang Kaisar Bisnis
7
Bab 7: Kepanikan di Kediaman Narendra
8
Bab 8: Jamuan Makan Malam Penuh Racun
9
Bab 9: Kehancuran Topeng di Depan Publik
10
Bab 10: Badai Skandal di Pagi Hari
11
Bab 11: Undangan dari Sang Kaisar Bisnis
12
Bab 12: Hangat di Balik Dinding Es
13
Bab 13: Perintah Pertama Sang Ratu
14
Bab 14: Runtuhnya Kemewahan dan Bayang-Bayang Sang Pelindung
15
Bab 15: Sentuhan yang Menyembuhkan Luka
16
Bab 16: Pukulan dari Dua Sisi
17
Bab 17: Lentera di Tengah Badai
18
Bab 18: Jeritan di Balik Pintu Terkunci
19
Bab 19: Retakan di Dinding Kaca
20
Bab 20: Bara di Balik Dinding Kaca
21
Bab 21: Jerat yang Kian Mengetat
22
Bab 22: Pecahnya Mangkuk Porselen
23
Bab 23: Lutut yang Patah
24
Bab 24: Dasar Cawan yang Pecah
25
Episode 25: Reruntuhan Istana Palsu
26
Episode 26: Dinding-Dinding Dingin Tahanan
27
Episode 27: Langkah Catur di Ujung Tanduk
28
Episode 28: Serigala di Balik Jeruji
29
Episode 29: Perangkap di Rumah Sakit
30
Episode 30: Palu Keadilan dan Bayang-Bayang Pembatas
31
Episode 31: Mahkota Baru di Atas Singgasana Atmadja
32
Episode 32: Fajar Baru dan Janji di Bawah Langit Bali
33
Bab 33: Riak Kecil di Atas Air Tenang
34
Bab 34: Ujian di Meja Makan Kediaman Utama
35
Bab 35: Senjata Tersembunyi di Kalimantan
36
Bab 36: Jejak Rahasia Bayangan di Surabaya
37
Bab 37: Pengepungan di Zona C Tanjung Perak
38
Bab 38: Warisan Murni Mahendra dan Senja di Tanjung Perak
39
Bab 39: Bayangan dari Benua Biru
40
Bab 40: Jawaban Berdarah Dingin
41
Bab 41: Pemblokiran Jalur Frankfurt
42
Bab 42: Musuh dalam Selimut
43
Bab 43: Serangan Balik Frankfurt
44
Bab 44: Kehangatan di Kota Hujan
45
Bab 45: Balasan dari Zurich
46
Bab 46: Kepulangan Sang Penguasa
47
Bab 47: Eksekusi Hukum Pengkhianat Internal & Kemunculan
48
Bab 48: Bayangan dari Masa Lalu Adrian
49
Bab 49: Benteng Kasih Sayang Sang Ibu
50
Bab 50: Dekrit Penetapan Wali Mutlak & Sabotase Pertama di Kalimantan
51
BAB 51: Janji di Bawah Langit Jakarta
52
Bab 52: Kemunculan Kartel Hendrawan & Eksekusi Saham
53
Bab 53: Konsolidasi Kalimantan & Manuver Bursa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!