Bab 3: Kematian Davira yang Lama

Dua minggu setelah keluar dari rumah sakit, sebuah jet pribadi carteran bersiap lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta menuju New York, Amerika Serikat. Di dalam kabin premium yang mewah, Davira duduk di dekat jendela, menatap hamparan lampu kota Jakarta yang perlahan mengecil di bawah sana.

Di sampingnya, Reno sedang sibuk dengan laptopnya, mengurus perpindahan seluruh sisa aset mendiang ayah mereka yang berhasil dia selamatkan, sekaligus menyiapkan paspor dan identitas baru untuk kakaknya.

"Semua sudah siap, Kak," kata Reno sambil menoleh, menatap kakaknya dengan tatapan protektif. "Di Amerika, Kakak tidak akan dikenal sebagai Davira yang malang lagi. Reno sudah menyiapkan identitas baru. Mulai hari ini, nama Kakak adalah Vira Mahendra, CEO dari V-Tech Invesment. Tidak akan ada yang tahu masa lalu Kakak sebelum saatnya tiba."

Davira yang kini ingin dipanggil Vira mengangguk pelan. Dia menyentuh perut bagian bawahnya yang masih menyisakan sedikit rasa ngilu pasca-operasi. Rahimnya memang sudah tidak ada, tetapi kekosongan itu kini dipenuhi oleh ambisi yang membara.

"Arka sudah tahu kalau aku pergi?" tanya Vira datar.

Reno mendengus sinis. "Kemarin aku menyuruh pengacara kita untuk mengirimkan surat gugatan cerai ke kantornya. Dan Kakak tahu apa tanggapan bajingan itu? Dia langsung menandatanganinya tanpa bertanya ke mana Kakak pergi. Dia bahkan menyuruh sekretarisnya mengirimkan pesan bahwa Kakak tidak berhak menuntut harta gono-gini sepeser pun."

Vira tidak terkejut. Dia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tampak menawan namun menyimpan racun mematikan. "Baguslah. Dia pikir dia yang membuangku. Dia tidak tahu bahwa dengan menandatangani surat itu, dia baru saja menyerahkan tiket menuju nerakanya sendiri."

"Lalu, apa rencana kita pertama kali setelah tiba di New York, Kak?"

Vira mengalihkan pandangannya kembali ke luar jendela, menembus awan hitam. "Pemulihan fisik. Aku akan menyewa pelatih kebugaran terbaik, ahli gizi, dan dokter kecantikan. Aku ingin menghapus semua jejak wanita lemah, pucat, dan teraniaya yang selama ini mereka injak-injak. Setelah itu, ajari aku semua hal tentang dunia investasi yang kamu geluti, Reno."

Matanya berkilat tajam di kegelapan kabin. "Aku akan kembali ke Jakarta bukan sebagai pengemis cinta, tapi sebagai pemilik takdir mereka."

Sementara itu, di sebuah mansion mewah di kawasan elite Jakarta, atmosfernya justru berbanding terbalik. Pesta perayaan kecil-kecilan sedang digelar. Siska dan Maya tampak tertawa lebar sambil memamerkan perhiasan baru yang dibelikan oleh Arka.

Di sofa utama, Sheila duduk dengan anggun, mengelus perutnya yang kian membesar. Dia tersenyum puas melihat surat cerai Arka dan Davira yang tergeletak di atas meja kaca.

"Akhirnya, Mas... wanita pembawa sial itu pergi juga dari rumah ini," ucap Sheila dengan nada manja, menyandarkan kepalanya di bahu Arka yang baru saja pulang kerja. "Sekarang, anak kita tidak akan punya status anak dari istri kedua lagi. Dia akan menjadi pewaris tunggal yang sah."

Arka terdiam. Matanya menatap tajam ke arah surat cerai tersebut. Entah kenapa, ada secercah rasa hampa yang mendadak menyelinap di sudut hatinya yang paling dalam. Biasanya, begitu dia melangkah masuk ke rumah ini, Davira akan langsung menyambutnya, mengambilkan jasnya, dan menyapanya dengan senyuman tulus meski dia selalu membalasnya dengan ketus.

Malam ini, rumah itu terasa asing. Sambutan yang dia terima hanyalah pameran kemewahan dari ibu dan adiknya, serta tuntutan-tuntutan materi dari Sheila.

"Mas? Kamu kok melamun? Kamu menyesal?" tanya Sheila, nadanya tiba-tiba berubah agak menuntut, matanya menyipit curiga.

Arka tersentak, lalu buru-buru mengubah ekspresi wajahnya menjadi dingin kembali. Dia mengelus rambut Sheila dengan kaku. "Tidak. Untuk apa aku menyesal? Pernikahan itu sejak awal hanya karena kasihan. Sekarang dia sudah pergi, itu pilihannya sendiri."

"Benar itu, Arka!" sahut Siska dari meja makan. "Lagipula, dia itu mandul dan penyakitan. Kemarin adiknya yang gelandangan itu datang ke sini marah-marah, bilang kalau Davira masuk rumah sakit karena kanker rahim. Halah! Paling cuma cari alasan agar kita kasihan dan memberi mereka uang!"

Mendengar kata "kanker rahim", jantung Arka berdegup dua kali lebih cepat. Dia teringat ucapan terakhir Davira malam itu saat bersujud di kakinya: “Rahimku harus diangkat karena kanker...”

Saat itu Arka mengira Davira hanya beralasan. Tapi jika adiknya juga mengatakan hal yang sama... apakah Davira benar-benar sakit parah?

"Arka, sudahlah, jangan dipikirkan," potong Maya sambil asyik berfoto selfie dengan tas barunya. "Wanita seperti dia itu tidak akan bertahan lama di luar sana tanpa uangmu. Paling sebulan lagi dia akan mengemis di depan kantor Kakak."

Arka memejamkan matanya, mencoba mengusir rasa bersalah yang sialnya mulai mengusik ketenangannya. Ya, Maya benar, pikir Arka. Davira tidak punya siapa-siapa dan tidak punya uang. Dia pasti akan kembali merangkak memohon bantuanku.

Arka tidak pernah tahu, bahwa keputusannya malam itu untuk mengabaikan rasa sakit Davira adalah kesalahan terbesar yang akan menghancurkan seluruh hidupnya di masa depan. Karena Davira yang dia kenal tidak akan pernah kembali.

Episodes
1 Bab 1: Vonis yang Merenggut Segalanya
2 Bab 2: Berdiri di Atas Kaki Sendiri
3 Bab 3: Kematian Davira yang Lama
4 Bab 4: Tiga Tahun dan Sosok yang Baru
5 Bab 5: Pertemuan Setelah Tiga Tahun
6 Bab 6: Perhatian sang Kaisar Bisnis
7 Bab 7: Kepanikan di Kediaman Narendra
8 Bab 8: Jamuan Makan Malam Penuh Racun
9 Bab 9: Kehancuran Topeng di Depan Publik
10 Bab 10: Badai Skandal di Pagi Hari
11 Bab 11: Undangan dari Sang Kaisar Bisnis
12 Bab 12: Hangat di Balik Dinding Es
13 Bab 13: Perintah Pertama Sang Ratu
14 Bab 14: Runtuhnya Kemewahan dan Bayang-Bayang Sang Pelindung
15 Bab 15: Sentuhan yang Menyembuhkan Luka
16 Bab 16: Pukulan dari Dua Sisi
17 Bab 17: Lentera di Tengah Badai
18 Bab 18: Jeritan di Balik Pintu Terkunci
19 Bab 19: Retakan di Dinding Kaca
20 Bab 20: Bara di Balik Dinding Kaca
21 Bab 21: Jerat yang Kian Mengetat
22 Bab 22: Pecahnya Mangkuk Porselen
23 Bab 23: Lutut yang Patah
24 Bab 24: Dasar Cawan yang Pecah
25 Episode 25: Reruntuhan Istana Palsu
26 Episode 26: Dinding-Dinding Dingin Tahanan
27 Episode 27: Langkah Catur di Ujung Tanduk
28 Episode 28: Serigala di Balik Jeruji
29 Episode 29: Perangkap di Rumah Sakit
30 Episode 30: Palu Keadilan dan Bayang-Bayang Pembatas
31 Episode 31: Mahkota Baru di Atas Singgasana Atmadja
32 Episode 32: Fajar Baru dan Janji di Bawah Langit Bali
33 Bab 33: Riak Kecil di Atas Air Tenang
34 Bab 34: Ujian di Meja Makan Kediaman Utama
35 Bab 35: Senjata Tersembunyi di Kalimantan
36 Bab 36: Jejak Rahasia Bayangan di Surabaya
37 Bab 37: Pengepungan di Zona C Tanjung Perak
38 Bab 38: Warisan Murni Mahendra dan Senja di Tanjung Perak
39 Bab 39: Bayangan dari Benua Biru
40 Bab 40: Jawaban Berdarah Dingin
41 Bab 41: Pemblokiran Jalur Frankfurt
42 Bab 42: Musuh dalam Selimut
43 Bab 43: Serangan Balik Frankfurt
44 Bab 44: Kehangatan di Kota Hujan
45 Bab 45: Balasan dari Zurich
46 Bab 46: Kepulangan Sang Penguasa
47 Bab 47: Eksekusi Hukum Pengkhianat Internal & Kemunculan
48 Bab 48: Bayangan dari Masa Lalu Adrian
49 Bab 49: Benteng Kasih Sayang Sang Ibu
50 Bab 50: Dekrit Penetapan Wali Mutlak & Sabotase Pertama di Kalimantan
51 BAB 51: Janji di Bawah Langit Jakarta
52 Bab 52: Kemunculan Kartel Hendrawan & Eksekusi Saham
53 Bab 53: Konsolidasi Kalimantan & Manuver Bursa
Episodes

Updated 53 Episodes

1
Bab 1: Vonis yang Merenggut Segalanya
2
Bab 2: Berdiri di Atas Kaki Sendiri
3
Bab 3: Kematian Davira yang Lama
4
Bab 4: Tiga Tahun dan Sosok yang Baru
5
Bab 5: Pertemuan Setelah Tiga Tahun
6
Bab 6: Perhatian sang Kaisar Bisnis
7
Bab 7: Kepanikan di Kediaman Narendra
8
Bab 8: Jamuan Makan Malam Penuh Racun
9
Bab 9: Kehancuran Topeng di Depan Publik
10
Bab 10: Badai Skandal di Pagi Hari
11
Bab 11: Undangan dari Sang Kaisar Bisnis
12
Bab 12: Hangat di Balik Dinding Es
13
Bab 13: Perintah Pertama Sang Ratu
14
Bab 14: Runtuhnya Kemewahan dan Bayang-Bayang Sang Pelindung
15
Bab 15: Sentuhan yang Menyembuhkan Luka
16
Bab 16: Pukulan dari Dua Sisi
17
Bab 17: Lentera di Tengah Badai
18
Bab 18: Jeritan di Balik Pintu Terkunci
19
Bab 19: Retakan di Dinding Kaca
20
Bab 20: Bara di Balik Dinding Kaca
21
Bab 21: Jerat yang Kian Mengetat
22
Bab 22: Pecahnya Mangkuk Porselen
23
Bab 23: Lutut yang Patah
24
Bab 24: Dasar Cawan yang Pecah
25
Episode 25: Reruntuhan Istana Palsu
26
Episode 26: Dinding-Dinding Dingin Tahanan
27
Episode 27: Langkah Catur di Ujung Tanduk
28
Episode 28: Serigala di Balik Jeruji
29
Episode 29: Perangkap di Rumah Sakit
30
Episode 30: Palu Keadilan dan Bayang-Bayang Pembatas
31
Episode 31: Mahkota Baru di Atas Singgasana Atmadja
32
Episode 32: Fajar Baru dan Janji di Bawah Langit Bali
33
Bab 33: Riak Kecil di Atas Air Tenang
34
Bab 34: Ujian di Meja Makan Kediaman Utama
35
Bab 35: Senjata Tersembunyi di Kalimantan
36
Bab 36: Jejak Rahasia Bayangan di Surabaya
37
Bab 37: Pengepungan di Zona C Tanjung Perak
38
Bab 38: Warisan Murni Mahendra dan Senja di Tanjung Perak
39
Bab 39: Bayangan dari Benua Biru
40
Bab 40: Jawaban Berdarah Dingin
41
Bab 41: Pemblokiran Jalur Frankfurt
42
Bab 42: Musuh dalam Selimut
43
Bab 43: Serangan Balik Frankfurt
44
Bab 44: Kehangatan di Kota Hujan
45
Bab 45: Balasan dari Zurich
46
Bab 46: Kepulangan Sang Penguasa
47
Bab 47: Eksekusi Hukum Pengkhianat Internal & Kemunculan
48
Bab 48: Bayangan dari Masa Lalu Adrian
49
Bab 49: Benteng Kasih Sayang Sang Ibu
50
Bab 50: Dekrit Penetapan Wali Mutlak & Sabotase Pertama di Kalimantan
51
BAB 51: Janji di Bawah Langit Jakarta
52
Bab 52: Kemunculan Kartel Hendrawan & Eksekusi Saham
53
Bab 53: Konsolidasi Kalimantan & Manuver Bursa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!