Bab 4: Tiga Tahun dan Sosok yang Baru

Tiga Tahun Kemudian...

Gemuruh mesin pesawat yang mendarat memecah keheningan malam di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Di dalam Terminal Kedatangan VIP, atmosfer mendadak berubah menjadi tegang. Beberapa orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam formal tampak berdiri berbaris rapi. Mereka membentuk barikade kokoh, memisahkan area steril dari jangkauan publik seolah-olah sedang menunggu kedatangan seorang tokoh penting berskala internasional.

Tak lama kemudian, pintu kaca otomatis terbuka. Sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya melangkah keluar.

Seorang wanita berjalan dengan ritme langkah yang teramat anggun namun memancarkan ketegasan yang mutlak. Sepatu hak tingginya mengetuk lantai marmer bandara dengan bunyi yang konstan, seirama dengan detak jantung orang-orang yang menatapnya dengan takjub. Wanita itu mengenakan blazer berwarna merah marun yang dijahit pas membungkus siluet tubuhnya yang proporsional, dipadukan dengan celana panjang hitam yang elegan.

Rambut hitamnya yang tiga tahun lalu tampak kusam dan tak terawat, kini berkilau sehat di bawah terpaan lampu bandara. Potongan rambut gaya bob asimetris membingkai sempurna wajah cantiknya yang kini terlihat jauh lebih segar, tirus, dan memikat. Namun, perubahan paling mencolok ada pada matanya. Sepasang mata yang dulunya selalu berair dan penuh ketakutan itu, kini berubah menjadi sepasang manik mata yang tajam, dingin, dan sedalam samudra.

Dia bukan lagi Davira yang malang. Dia bukan lagi wanita lemah yang sujud menangis di kaki suaminya demi meminta sedikit belas kasihan. Kini, dia adalah Vira Mahendra, sang pengendali takdir baru yang siap mengguncang jagat bisnis ibu kota.

"Mobil jemputan sudah bersiap di lobi utama, Kak," bisik Reno yang berjalan selangkah di sampingnya. Penampilan Reno pun telah bertransformasi total. Tidak ada lagi kesan pemuda frustrasi; pria muda itu kini menjelma menjadi sosok direktur eksekutif yang matang, berwibawa, dan sangat protektif terhadap kakaknya.

Vira tidak langsung menjawab. Dia hanya membenarkan letak kacamata hitamnya sebelum menurunkan benda itu sedikit ke ujung hidung, menatap lurus ke depan. "Bagaimana laporan terakhir mengenai Narendra Group?" tanya Vira. Suaranya terdengar merdu, namun ada nada sedingin es yang menyusup di setiap suku kata yang diucapkannya.

Reno tersenyum licik, sebuah ekspresi yang memperlihatkan bahwa mereka telah menyiapkan jebakan ini dengan sangat matang. "Persis seperti dugaan kita, Kak. Tiga tahun tanpa kendali mendiang ayahnya, Arka terbukti tidak sekonsisten itu. Ditambah lagi, hasutan bisnis dari Sheila yang gila hormat membuat Narendra Group terjebak dalam investasi bodong di sektor pariwisata. Saham mereka terjun bebas minggu ini. Jika mereka tidak mendapatkan suntikan dana segar dari investor asing dalam waktu tiga hari, mereka harus menyatakan kebangkrutan massal."

Vira menarik sudut bibirnya, membentuk seulas senyuman tipis yang menawan sekaligus beracun. "Mereka begitu mendewakan harta sampai tega mengorbankan nyawaku dulu. Mari kita lihat, sejauh mana mereka bisa bertahan ketika harta itu perlahan menguap dari genggaman mereka. Dan yang paling menarik... mereka sama sekali tidak tahu bahwa investor asing yang mereka dambakan bagai malaikat penolong itu adalah kita."

Langkah kaki Vira dan Reno terus berlanjut menyusuri lorong VIP. Namun, tepat sebelum mereka mencapai pintu keluar, perhatian Vira mendadak teralih oleh sebuah suara tangisan kecil yang terdengar begitu polos di dekat area ruang tunggu khusus.

"Papa... El bosan. El mau pulang sekarang. El tidak mau ikut rapat Papa lagi..."

Vira menghentikan langkahnya secara refleks. Pandangannya berputar ke arah sumber suara. Di atas kursi tunggu berbahan kulit premium, tampak seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga tahun yang sangat menggemaskan. Anak itu sedang mengucek matanya yang memerah karena kantuk, dengan bibir mungil yang mengerucut sebal.

Bocah kecil itu berada di dalam dekapan seorang pria bertubuh tinggi tegap yang memiliki aura dominan yang luar biasa mengintimidasi. Pria itu mengenakan setelan jas buatan tangan berwarna abu-abu gelap yang teramat mahal. Garis rahangnya tegas seolah dipahat dengan sempurna, didukung oleh sepasang mata elang yang mampu membuat nyali siapa pun menciut hanya dengan satu kali tatapan.

Pria itu adalah Adrian Atmadja, kepala keluarga sekaligus pemilik tunggal Atmadja Group—imperium bisnis terbesar di Asia yang kekuasaannya bahkan mampu meruntuhkan sepuluh perusahaan sekelas Narendra Group hanya dalam satu kedipan mata.

Namun, di balik dinding kekuasaannya yang tak tertembus, Adrian menyimpan sebuah luka lama yang sunyi. Pria itu adalah seorang duda. Tiga tahun lalu, tepat di hari yang sama saat Davira menderita di rumah sakit, istri Adrian mengembuskan napas terakhir di ruang bersalin akibat komplikasi parah saat melahirkan putra tunggal mereka, Elvano Atmadja. Sejak tragedi itu, hati Adrian membeku total. Dia menutup rapat pintu hatinya untuk wanita mana pun, menjauhi segala bentuk skandal, dan mendedikasikan seluruh sisa hidupnya hanya untuk pekerjaan dan tumbuh kembang Elvano.

"Sabar ya, Jagoan. Sebentar lagi mobil kita sampai. Papa janji setelah ini kita langsung tidur," ucap Adrian. Suara baritonnya yang biasanya terdengar dingin dan berwibawa, mendadak berubah menjadi sangat lembut dan penuh kasih sayang ketika berbicara kepada sang anak.

Pada saat yang bersamaan, sekretaris pribadi Adrian yang sedang berjalan terburu-buru sambil membawa tumpukan dokumen tidak sengaja menyenggol bahu Vira yang sempat berhenti mendadak. Akibat senggolan itu, beberapa berkas penting yang dipegang oleh Reno terlepas dan berhamburan di atas lantai marmer.

"Ah! Maaf! Saya benar-benar minta maaf, saya tidak sengaja," ucap sekretaris itu dengan wajah panik, langsung berlutut untuk memungut berkas-berkas tersebut.

Melihat insiden kecil itu, Adrian menghentikan bicaranya pada El. Dengan gerakan yang tetap tenang meskipun sedang menggendong putranya, Adrian melangkah maju. Sepasang mata elangnya langsung beradu tatap dengan manik mata Vira.

Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti berputar di koridor sunyi itu.

Adrian tertegun di tempatnya berdiri. Selama tiga tahun menduda, sudah tidak terhitung berapa banyak wanita, mulai dari kalangan selebritas hingga putri konglomerat, yang mencoba mendekatinya dan mengambil hati Elvano demi bisa naik takhta menjadi nyonya di kediaman Atmadja. Namun, wanita di hadapannya saat ini benar-benar berbeda. Vira tidak menatapnya dengan pandangan memuja atau menggoda. Justru, Adrian menangkap adanya sebuah luka yang teramat mendalam sekaligus kekuatan tameng yang luar biasa kokoh di dalam mata wanita itu. Luka yang entah kenapa, mengingatkannya pada sorot mata mendiang istrinya sebelum tiada.

"Saya meminta maaf atas kecerobohan staf saya," ucap Adrian, memecah keheningan dengan suara beratnya yang berwibawa.

Reno segera membantu memungut sisa berkas yang ada. Sementara itu, Vira tetap berdiri dengan tegak. Dia menerima kembali berkasnya dari tangan sekretaris Adrian dengan gestur yang teramat tenang, sama sekali tidak terpengaruh oleh pesona ketampanan atau nama besar Adrian Atmadja.

"Tidak apa-apa. Ini hanya masalah kecil," jawab Vira dengan nada suara yang datar dan profesional.

Namun, tepat ketika Vira hendak berbalik untuk melanjutkan langkahnya, anak kecil di gendongan Adrian, Elvano, tiba-tiba melepaskan cengkeramannya dari leher sang ayah. Tangan mungilnya yang bersih terulur ke arah Vira, seolah-olah ingin menggapai wanita itu.

"Tante... cantik..." gumam Elvano dengan suara polos khas anak-anak, sambil mengerjapkan matanya yang bulat menatap Vira.

Adrian seketika terperangah. Jantungnya berdesir aneh. Elvano adalah anak yang sangat pemilih, trauma akan kehadiran orang asing, dan biasanya akan langsung menangis histeris jika ada wanita asing yang mencoba mendekatinya. Ini adalah kali pertama dalam tiga tahun hidupnya, Elvano memuji dan menunjukkan ketertarikan spontan pada seorang wanita yang baru ditemuinya dalam hitungan detik.

Vira menghentikan langkah kakinya yang sempat terayun. Dia menundukkan kepala, menatap wajah polos Elvano yang bersih tanpa dosa. Pada detik itu, ada sebuah rasa hangat yang mendadak mengalir dan berdesir hebat di dalam dadanya—sebuah getaran insting keibuan yang sangat kuat dari seorang wanita yang rahimnya telah tiada. Vira merasa seolah ada ikatan tak kasatmata yang menariknya pada bocah kecil itu.

Perlahan, pertahanan dingin di wajah Vira runtuh sejenak. Dia mengulas seulas senyuman tulus yang sangat tipis namun teramat manis untuk Elvano, lalu memberikan anggukan sopan yang formal kepada Adrian sebelum akhirnya berbalik dan berjalan pergi menuju pintu keluar bandara.

Adrian terpaku di posisinya, menatap punggung Vira yang perlahan menghilang di balik kegelapan malam lobi bandara. Sementara itu, Elvano masih terus memandangi arah kepergian Vira dengan mata bulatnya.

"Cari tahu siapa wanita itu," perintah Adrian kepada sekretarisnya yang baru saja berdiri. Suara Adrian terdengar sangat rendah namun penuh penekanan yang mutlak. "Aku ingin seluruh data pribadinya, latar belakangnya, dan tujuannya kembali ke Indonesia sudah ada di atas meja kerjaku besok pagi sebelum jam delapan."

Di belahan sudut kota Jakarta yang lain, kemegahan kantor pusat Narendra Group tampak kontras dengan kekacauan yang terjadi di dalam ruang kerja sang CEO.

Arka Narendra duduk bersandar di kursi kebesarannya dengan penampilan yang sangat kusut. Setelan jas mahalnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung asal-asalan serta dasi yang sudah dilonggarkan sejak sore tadi. Wajahnya yang tampan kini dipenuhi guratan kelelahan dan stres yang mendalam.

Tiga tahun ini ternyata tidak berjalan seindah yang dia bayangkan saat mengusir Davira dulu. Sheila yang awalnya dia kira adalah sosok wanita suci, lembut, dan penuh pengertian, ternyata memiliki watak asli yang sangat manipulatif, boros, dan gila akan status sosial. Ibu dan adiknya, Siska dan Maya, juga tidak henti-hentinya menuntut fasilitas mewah dan uang bulanan yang kian membengkak, tanpa peduli bahwa kondisi keuangan perusahaan keluarga mereka sedang berdarah-darah.

Brak!

Pintu ruang kerja Arka mendadak terbuka dengan kasar tanpa ketukan terlebih dahulu. Siska melangkah masuk dengan wajah cemberut sambil membawa tas belanjaan bermerek.

"Arka! Bagaimana ini? Ibu baru saja dari butik dan pihak bank bilang kalau kartu kredit yang kamu berikan sudah mencapai batas limit! Maya juga mengeluh karena mobil sport barunya belum lunas!" omel Siska tanpa memedulikan guratan stres di wajah putranya. "Kamu itu CEO, masa bayar belanjaan ibumu sendiri saja tidak becus?!"

Arka memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menahan emosinya yang sudah berada di ubun-ubun. "Ma! Tolong keluar dari ruangan Arka sekarang! Arka sedang pusing memikirkan nasib ribuan karyawan dan mencari investor baru untuk menyelamatkan perusahaan kita dari kebangkrutan!" bentak Arka dengan suara meninggi.

Siska tertegun, terkejut mendengar bentakan putranya yang jarang terjadi. Dengan bersungut-sungut dan menghentakkan kakinya, wanita paruh baya itu akhirnya keluar dari ruangan.

Setelah kepergian ibunya, keheningan kembali menguasai ruangan luas itu. Arka menyandarkan kepalanya di bantalan kursi, memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. Di tengah kesunyian dan tekanan mental yang luar biasa ini, sebuah bayangan masa lalu mendadak berputar di dalam benaknya.

Bayangan tentang Davira.

Dulu, setiap kali Arka pulang ke rumah dengan kondisi stres akibat pekerjaan, Davira tidak akan pernah menuntut apa pun darinya. Wanita itu akan menyambutnya di depan pintu dengan senyuman tulus, mengambilkan jasnya, dan diam-diam meletakkan secangkir teh herbal hangat di meja kerjanya tanpa mengeluarkan suara yang mengganggu. Davira selalu tahu kapan harus berbicara dan kapan harus memberikan ruang untuknya, sangat berbanding terbalik dengan Sheila yang justru akan langsung mengomel jika Arka pulang tanpa membawa barang mewah.

"Di mana kamu sekarang, Davira...?" gumam Arka lirih ke arah kegelapan malam di luar jendela kantornya. Ada secercah penyesalan kecil yang sialnya mulai merayap di sudut hatinya.

Arka sama sekali tidak menyadari bahwa esok pagi, wanita yang telah dia hancurkan dan sia-siakan itu akan melangkah masuk ke dalam kantornya, bukan sebagai pengemis yang meminta haknya, melainkan sebagai sosok penguasa yang memegang penuh tombol kehancuran hidupnya.

Episodes
1 Bab 1: Vonis yang Merenggut Segalanya
2 Bab 2: Berdiri di Atas Kaki Sendiri
3 Bab 3: Kematian Davira yang Lama
4 Bab 4: Tiga Tahun dan Sosok yang Baru
5 Bab 5: Pertemuan Setelah Tiga Tahun
6 Bab 6: Perhatian sang Kaisar Bisnis
7 Bab 7: Kepanikan di Kediaman Narendra
8 Bab 8: Jamuan Makan Malam Penuh Racun
9 Bab 9: Kehancuran Topeng di Depan Publik
10 Bab 10: Badai Skandal di Pagi Hari
11 Bab 11: Undangan dari Sang Kaisar Bisnis
12 Bab 12: Hangat di Balik Dinding Es
13 Bab 13: Perintah Pertama Sang Ratu
14 Bab 14: Runtuhnya Kemewahan dan Bayang-Bayang Sang Pelindung
15 Bab 15: Sentuhan yang Menyembuhkan Luka
16 Bab 16: Pukulan dari Dua Sisi
17 Bab 17: Lentera di Tengah Badai
18 Bab 18: Jeritan di Balik Pintu Terkunci
19 Bab 19: Retakan di Dinding Kaca
20 Bab 20: Bara di Balik Dinding Kaca
21 Bab 21: Jerat yang Kian Mengetat
22 Bab 22: Pecahnya Mangkuk Porselen
23 Bab 23: Lutut yang Patah
24 Bab 24: Dasar Cawan yang Pecah
25 Episode 25: Reruntuhan Istana Palsu
26 Episode 26: Dinding-Dinding Dingin Tahanan
27 Episode 27: Langkah Catur di Ujung Tanduk
28 Episode 28: Serigala di Balik Jeruji
29 Episode 29: Perangkap di Rumah Sakit
30 Episode 30: Palu Keadilan dan Bayang-Bayang Pembatas
31 Episode 31: Mahkota Baru di Atas Singgasana Atmadja
32 Episode 32: Fajar Baru dan Janji di Bawah Langit Bali
33 Bab 33: Riak Kecil di Atas Air Tenang
34 Bab 34: Ujian di Meja Makan Kediaman Utama
35 Bab 35: Senjata Tersembunyi di Kalimantan
36 Bab 36: Jejak Rahasia Bayangan di Surabaya
37 Bab 37: Pengepungan di Zona C Tanjung Perak
38 Bab 38: Warisan Murni Mahendra dan Senja di Tanjung Perak
39 Bab 39: Bayangan dari Benua Biru
40 Bab 40: Jawaban Berdarah Dingin
41 Bab 41: Pemblokiran Jalur Frankfurt
42 Bab 42: Musuh dalam Selimut
43 Bab 43: Serangan Balik Frankfurt
44 Bab 44: Kehangatan di Kota Hujan
45 Bab 45: Balasan dari Zurich
46 Bab 46: Kepulangan Sang Penguasa
47 Bab 47: Eksekusi Hukum Pengkhianat Internal & Kemunculan
48 Bab 48: Bayangan dari Masa Lalu Adrian
49 Bab 49: Benteng Kasih Sayang Sang Ibu
50 Bab 50: Dekrit Penetapan Wali Mutlak & Sabotase Pertama di Kalimantan
51 BAB 51: Janji di Bawah Langit Jakarta
52 Bab 52: Kemunculan Kartel Hendrawan & Eksekusi Saham
53 Bab 53: Konsolidasi Kalimantan & Manuver Bursa
Episodes

Updated 53 Episodes

1
Bab 1: Vonis yang Merenggut Segalanya
2
Bab 2: Berdiri di Atas Kaki Sendiri
3
Bab 3: Kematian Davira yang Lama
4
Bab 4: Tiga Tahun dan Sosok yang Baru
5
Bab 5: Pertemuan Setelah Tiga Tahun
6
Bab 6: Perhatian sang Kaisar Bisnis
7
Bab 7: Kepanikan di Kediaman Narendra
8
Bab 8: Jamuan Makan Malam Penuh Racun
9
Bab 9: Kehancuran Topeng di Depan Publik
10
Bab 10: Badai Skandal di Pagi Hari
11
Bab 11: Undangan dari Sang Kaisar Bisnis
12
Bab 12: Hangat di Balik Dinding Es
13
Bab 13: Perintah Pertama Sang Ratu
14
Bab 14: Runtuhnya Kemewahan dan Bayang-Bayang Sang Pelindung
15
Bab 15: Sentuhan yang Menyembuhkan Luka
16
Bab 16: Pukulan dari Dua Sisi
17
Bab 17: Lentera di Tengah Badai
18
Bab 18: Jeritan di Balik Pintu Terkunci
19
Bab 19: Retakan di Dinding Kaca
20
Bab 20: Bara di Balik Dinding Kaca
21
Bab 21: Jerat yang Kian Mengetat
22
Bab 22: Pecahnya Mangkuk Porselen
23
Bab 23: Lutut yang Patah
24
Bab 24: Dasar Cawan yang Pecah
25
Episode 25: Reruntuhan Istana Palsu
26
Episode 26: Dinding-Dinding Dingin Tahanan
27
Episode 27: Langkah Catur di Ujung Tanduk
28
Episode 28: Serigala di Balik Jeruji
29
Episode 29: Perangkap di Rumah Sakit
30
Episode 30: Palu Keadilan dan Bayang-Bayang Pembatas
31
Episode 31: Mahkota Baru di Atas Singgasana Atmadja
32
Episode 32: Fajar Baru dan Janji di Bawah Langit Bali
33
Bab 33: Riak Kecil di Atas Air Tenang
34
Bab 34: Ujian di Meja Makan Kediaman Utama
35
Bab 35: Senjata Tersembunyi di Kalimantan
36
Bab 36: Jejak Rahasia Bayangan di Surabaya
37
Bab 37: Pengepungan di Zona C Tanjung Perak
38
Bab 38: Warisan Murni Mahendra dan Senja di Tanjung Perak
39
Bab 39: Bayangan dari Benua Biru
40
Bab 40: Jawaban Berdarah Dingin
41
Bab 41: Pemblokiran Jalur Frankfurt
42
Bab 42: Musuh dalam Selimut
43
Bab 43: Serangan Balik Frankfurt
44
Bab 44: Kehangatan di Kota Hujan
45
Bab 45: Balasan dari Zurich
46
Bab 46: Kepulangan Sang Penguasa
47
Bab 47: Eksekusi Hukum Pengkhianat Internal & Kemunculan
48
Bab 48: Bayangan dari Masa Lalu Adrian
49
Bab 49: Benteng Kasih Sayang Sang Ibu
50
Bab 50: Dekrit Penetapan Wali Mutlak & Sabotase Pertama di Kalimantan
51
BAB 51: Janji di Bawah Langit Jakarta
52
Bab 52: Kemunculan Kartel Hendrawan & Eksekusi Saham
53
Bab 53: Konsolidasi Kalimantan & Manuver Bursa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!