Bab 2: Penempaan Fisik dan Dunia yang Berubah

​Sinar matahari pagi menembus celah-celah awan Jakarta, menyiram balkon lantai empat gedung kos tua itu dengan cahaya keemasan. Perlahan, kelopak mata Arkana bergerak. Rasa sakit luar biasa yang semalam meremukkan seluruh tubuhnya kini telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh sensasi hangat yang mengalir tenang di bawah kulitnya.

​Arkana menarik napas dalam-dalam dan langsung terbatuk hebat.

​"Uhuk! Bau apa ini?!" jeritnya, langsung terbangun dan terduduk di lantai balkon.

​Bau busuk yang sangat menyengat—perpaduan antara bau belerang, selokan mampet, dan karat logam—menusuk hidungnya tanpa ampun. Arkana menunduk melihat tubuhnya sendiri, dan matanya seketika melebar karena terkejut. Kaos oblong putih dan celana pendek yang ia kenakan semalam kini telah berubah warna menjadi hitam keabu-abuan, basah oleh cairan lengket yang kental dan berbau busuk. Cairan itu keluar dari setiap pori-pori kulitnya, mengering menjadi lapisan kerak yang menjijikkan.

​Arkana bergegas bangkit, bermaksud untuk langsung berlari ke kamar mandi. Namun, begitu dia mendorong dirinya untuk berdiri, sebuah fenomena aneh kembali terjadi. Tubuhnya terasa seringan kapas. Lompatan kecil yang biasanya hanya menggeser posisinya beberapa sentimeter, justru membuatnya melesat ke atas hingga kepalanya hampir membentur langit-langit balkon kos.

​"Wtf?!" Arkana mendarat dengan canggung, kakinya menapak di lantai beton tanpa menimbulkan suara sedikit pun.

​Dia menatap kedua tangannya yang gemetar. Di balik lapisan cairan hitam yang menjijikkan itu, Arkana bisa merasakan struktur otot dan tulangnya telah berubah secara fundamental. Mereka terasa jauh lebih padat, lebih kuat, dan dipenuhi oleh vitalitas yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

​Tanpa membuang waktu lagi, Arkana bergegas masuk ke dalam kamarnya dan mengunci diri di kamar mandi. Di bawah guyuran air dingin, dia menggosok seluruh tubuhnya dengan sabun hingga tiga kali bilasan. Saat cairan hitam itu perlahan luruh dan mengalir ke lubang pembuangan, Arkana menatap cermin buram di kamar mandinya dengan tatapan tidak percaya.

​Pria di dalam cermin itu adalah dirinya, tetapi dalam versi yang jauh lebih sempurna. Lingkaran hitam di bawah matanya akibat begadang berhari-hari telah hilang tanpa bekas. Kulitnya yang dulu agak kusam kini tampak bersih, sehat, dan memiliki rona samar yang memancarkan aura segar. Tubuhnya yang semula kurus dan agak membungkuk akibat terlalu sering duduk di depan komputer, kini tegap sempurna. Otot-otot dada, perut, dan lengannya terbentuk dengan proporsi yang ideal—bukan otot besar yang bengkak seperti binaragawan, melainkan otot yang ramping, padat, dan efisien, mirip seperti seorang atlet bela diri profesional.

​Lebih dari itu, penglihatannya yang semula sedikit minus kini menjadi sangat tajam. Dia bahkan bisa melihat serat-serat halus pada handuknya yang tergantung di dinding dengan tingkat kejelasan yang luar biasa.

​Arkana menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya yang lambat namun sangat bertenaga. Setiap detakan seolah memompa energi hangat ke seluruh penjuru tubuhnya.

​"Ini... Body Tempering?" gumam Arkana, mengingat kembali istilah yang semalam terpatri di dalam otaknya.

​Dia memejamkan mata dan mencoba fokus. Begitu dia melakukannya, sebuah kesadaran batin langsung terbuka. Di dalam ruang kesadarannya, sebaris informasi dari Kitab Primordial Kaisar Abadi mengambang dengan jelas. Arkana kini tahu bahwa semalam tubuhnya baru saja melewati tahap awal dari Body Tempering Tingkat Pertama. Cairan hitam berbau busuk itu adalah impuritas—racun kimia, sisa makanan tidak sehat, dan sel mati yang selama dua puluh tahun ini menyumbat jalur meridian dan membatasi potensi fisiknya sebagai manusia. Cincin hitam peninggalan kakeknya telah membersihkan semua itu dalam satu malam.

​Arkana menatap jari tengah tangan kanannya. Cincin hitam itu masih ada di sana, namun penampilannya kini berubah menjadi sangat biasa, tampak seperti cincin besi murah yang tidak menarik perhatian. Namun, Arkana tahu betul, benda ini adalah pusaka yang bisa menjungkirbalikkan dunia.

​Setelah selesai berpakaian, Arkana melangkah kembali ke area utama kamarnya. Dia mengambil tablet transparan di atas meja belajar. Untungnya, perangkat elektronik itu sudah menyala kembali. Sinyal internet yang semalam sempat terputus total kini sudah pulih, tetapi apa yang ada di layar membuat Arkana terpaku.

​Dunia luar telah gempar.

​Arkana membuka forum berita global dan media sosial. Jutaan unggahan baru masuk setiap detiknya, semuanya membahas kejadian semalam yang kini secara resmi disebut oleh media sebagai "The Great Awakening" atau "Kebangkitan Besar".

​Sebuah video viral di Jakarta memperlihatkan sebuah pohon beringin tua di tengah taman kota yang tiba-tiba tumbuh membesar hingga tiga kali lipat dalam waktu satu jam, dengan akar-akar yang menjebol trotoar beton seolah-olah semen itu hanyalah kerupuk rapuh.

​Di bagian belahan dunia lain, ada rekaman amatir yang memperlihatkan hewan-hewan kebun binatang—singa dan serigala—memiliki ukuran tubuh yang tidak masuk akal dengan mata yang memancarkan cahaya merah cerah, mengaum dengan gelombang suara yang mampu memecahkan kaca-kaca mobil di sekitarnya.

​“Apakah ini tanda kiamat?”

“Radiasi kosmik apa yang menyerang Bumi semalam?”

“Pemerintah menyembunyikan sesuatu! Ini pasti eksperimen militer yang gagal!”

​Berbagai spekulasi liar memenuhi kolom komentar. Namun, ada satu jenis unggahan yang menarik perhatian Arkana lebih dalam. Beberapa orang mulai membagikan video di mana mereka bisa mengeluarkan percikan api dari ujung jari, atau mengangkat beban yang beratnya ratusan kilogram tanpa kesulitan berarti.

​Dunia luar sedang panik mencari jawaban ilmiah, tetapi Arkana—berkat memori warisan Kaisar Abadi di kepalanya—tahu jawaban yang sebenarnya. Energi spiritual (Qi) yang telah mengering selama ribuan tahun kini telah mengalir kembali ke Bumi. Alam sedang melakukan pemulihan diri, dan semua makhluk hidup, baik manusia, hewan, maupun tumbuhan, sedang dipaksa untuk berevolusi secara massal.

​"Kakek benar..." bisik Arkana dengan mata berbinar. "Dunia yang lama sudah berakhir. Era baru telah dimulai."

​Arkana memutuskan untuk menguji seberapa besar kekuatan fisiknya saat ini. Dia berjalan mendekati meja belajarnya yang terbuat dari kayu jati tua yang cukup tebal dan berat. Biasanya, untuk menggeser meja ini saja dia harus menggunakan kedua tangan dan mengeluarkan banyak tenaga.

​Arkana mengulurkan tangan kanannya, memegang pinggiran meja dengan hanya menggunakan ibu jari dan jari telunjuknya. Dia menarik napas, memfokuskan sedikit energi hangat dari dadanya menuju ujung jari.

​Sret.

​Dengan gerakan seringan mengangkat selembar kertas, meja jati seberat lima puluh kilogram itu terangkat dari lantai. Arkana menahannya di udara selama beberapa detik dengan satu tangan tanpa ada tanda-tanda ototnya menegang atau gemetar. Wajahnya tetap tenang, napasnya tetap teratur.

​"Ini baru tingkat awal dari Body Tempering," gumam Arkana, matanya dipenuhi rasa takjub yang luar biasa. "Jika tingkat pertama saja sudah sekuat ini, bagaimana dengan tingkat selanjutnya? Spirit Gathering? Foundation Establishment?"

​Sesuai dengan cetak biru ingatan di kepalanya, sistem kultivasi sejati memiliki sepuluh ranah besar, dan dia baru saja menginjakkan satu kaki di anak tangga paling bawah dari ranah pertama. Di dunia modern saat ini, di mana manusia lain baru meraba-raba perubahan energi ini tanpa arah, Arkana sudah memiliki peta jalan yang sempurna menuju puncak keabadian.

​BZZZZT.

​Tablet milik Arkana bergetar, menampilkan sebuah notifikasi pesan masuk dari grup obrolan kampusnya.

​[Grup Angkatan - TI 2040]

Ketua Kelas: "Pengumuman dari rektorat! Meskipun semalam ada gangguan listrik massal, hari ini kampus TETAP BUKA. Kuliah jam 09.00 di Gedung Utama tidak dibatalkan. Harap semua mahasiswa datang tepat waktu karena ada pengumuman penting terkait situasi darurat semalam."

​Arkana melihat jam di dinding. Pukul 08.15.

​Dia terdiam sejenak, menimbang-nimbang situasinya. Di satu sisi, dunia sedang berada di ambang kekacauan besar akibat kebangkitan energi spiritual. Di sisi lain, dia masihlah seorang mahasiswa miskin yang jika bolos kuliah tanpa alasan jelas bisa terancam kehilangan beasiswanya. Lagi pula, pergi ke kampus mungkin menjadi cara terbaik untuk mengamati bagaimana dampak kebangkitan energi ini pada masyarakat secara langsung.

​"Organisasi rahasia, klan kuno... kakek bilang mereka semua akan mulai bergerak," pikir Arkana, mengingat rincian dari memori cincinnya. "Aku tidak boleh terlalu mencolok untuk saat ini. Menjadi mahasiswa biasa adalah penyamaran terbaik sampai kekuatanku cukup kuat untuk melindungi diriku sendiri."

​Arkana mengambil tas ranselnya, memasukkan tablet, dan berjalan keluar dari kamar kosnya. Saat dia melangkah ke jalanan Jakarta yang sibuk, dia bisa merasakan atmosfer kota ini telah berubah sepenuhnya. Udara terasa bergetar oleh energi laten yang tak kasat mata, dan di antara kerumunan orang yang berjalan tergesa-gesa dengan wajah cemas, Arkana tahu bahwa takdirnya tidak akan pernah sama lagi.

Terpopuler

Comments

Yeye Te

Yeye Te

👌 versi modern, semoga sesuai untuk dibaca

2026-07-25

0

lihat semua
Episodes
1 ​Bab 1: Warisan di Ujung Senja Modern
2 Bab 2: Penempaan Fisik dan Dunia yang Berubah
3 Bab 3: Aura yang Tersembunyi
4 Bab 4: Skrining Massal dan Ujian Pertama
5 Bab 5: Pusaran Qi dan Langkah Pertama Kultivasi Sejati
6 Bab 6: Ancaman Pertama di Balik Kabut
7 Bab 7: Pemurnian Inti dan Isyarat Bahaya
8 Bab 8: Kilat Perak di Puri Indah
9 Bab 9: Pelarian di Bawah Bayang-Bayang
10 Bab 10: Simpul Spiritual Pelabuhan Tua
11 Bab 11: Bayang-Bayang di Dermaga Sunyi
12 Bab 12: Terowongan Kolonial Kuno
13 Bab 13: Tempat Perlindungan Kuno dan Jejak Sang Kakek
14 Bab 14: Ketenangan di Dalam Badai
15 Bab 15: Rahasia Glodok dan Peta Makam Purba
16 Bab 16: Badai Berkumpul di Sentul
17 Bab 17: Menyusup ke Ruang Makam Purba
18 Bab 18: Amukan Penjaga Akar
19 Bab 19: Altar Ilusi dan Jebakan Formasi Seribu Akar
20 Bab 20: Warisan Kamar Inti dan Terobosan Kilat
21 Bab 21: Pukulan Perak Melawan Pedang Plasma
22 Bab 22: Pengolahan Pil Pertama dan Target Nasional
23 Bab 23: Sinkronisasi Elemen dan Radar yang Bergetar
24 Bab 24: Penyergapan Senyap di Alun-Alun Fatahillah
25 Bab 25: Gempa Politik Siber dan Benih Organisasi Baru
26 Bab 26: Merajut Jaring Rahasia
27 Bab 27: Jebakan Akademis dan Intaian dari Atap
28 Bab 28: Badai di Gunung Salak dan Penyaringan Darah Baru
29 Bab 29: Baptisan Api dan Tatapan dari Puncak Langit
30 Bab 30: Badai yang Berbenturan
31 Bab 31: Riak di Pasar Gelap dan Undangan Berdarah
32 Bab 32: Topeng Asura dan Langkah Pertama di Arena
33 Bab 33: Taruhan Gila dan Intervensi Sang Genius
34 Bab 34: Duel Dua Aliran dan Patahan Pedang Giok
35 Bab 35: Murka Ranah Foundation dan Klaim Sang Kaisar
36 Bab 36: Penyerapan Murni dan Bayang-Bayang Badai
37 Bab 37: Aliansi Dua Sisi dan Baptisan Darah Pertama
38 Bab 38: Badai Kuantum dan Fondasi Abadi
39 Bab 39: Titah Kaisar di Pelabuhan Darah
40 Bab 40: Faksi Kaisar Abadi dan Cetak Biru Baru Jakarta
41 Bab 41: Topeng Baru di Menara Kaca
42 Bab 42: Restrukturisasi Jiwa dan Formula Baru
43 Bab 43: Intrik Naga Hitam dan Jaring Labah-Labah
44 Bab 44: Keajaiban Hijau Giok dan Kepanikan Korporat
45 Bab 45: Perjamuan Berdarah di Atas Awan
46 Bab 46: Harga Sebuah Nyawa dan Tunduknya sang Naga Finansial
47 Bab 47: Tambang Spiritual dan Kebangkitan Faksi Bayangan
48 Bab 48: Operasi Senyap Gunung Gede dan Gema Aliansi Kuno
49 Bab 49: Pertemuan di Batas Kota dan Gerbang Neraka Barat
50 Bab 50: Tarian Bayang dan Kepunahan Aliansi Kuno
51 Bab 51: Hancurnya Puncak Gunung Kuno
52 Bab 52: Gema Pasca-Badai dan Penyamaran Sempurna
53 Bab 53: Transaksi Gelap di Bawah Monumen Besi
54 Bab 54: Invasi Senyap dari Negeri Matahari Terbit
55 Bab 55: Pembaptisan Darah di Marunda
56 Bab 56: Runtuhnya Algojo Neo-Tokyo dan Kepanikan Bawah Tanah Monas
57 Bab 57: Riak Merah dari Neo-Tokyo
58 Bab 58: Amukan Badai di Selat Malaka
59 Bab 59: Ultimatum Sang Kaisar
60 Bab 60: Badai Baru di Horizon Barat
61 Bab 61: Uji Coba Nano-Teknologi di Kaki Gunung Gede
62 Bab 62: Benturan Logika dan Kehampaan Molekuler
63 Bab 63: Mobilisasi Armada Diego Garcia dan Jaringan Pertahanan Jawa
64 Bab 64: Jaring Konduktor Langit
65 Bab 65: Senjata Makan Tuan
66 Bab 66: Penghakiman di Anjungan Hyperion
67 Bab 67: Gejolak di Jantung Krakatau
68 Bab 68: Penjinakan Krakatau dan Akhir Sang Jenderal
69 Bab 69: Invasi Sunyi di Jantung Kromium
70 Bab 70: Takhta Mutlak di Atas Puing Kromium
71 Bab 71: Fajar Baru dan Guncangan Global
72 Bab 72: Benturan Dua Era di Kaki Kerinci
73 Bab 73: Murka dari Langit dan Payung Primordial
74 Bab 74: Jembatan Langit dan Pembalasan Kuantum
75 Bab 75: Tarian Pedang di Ruang Hampa
76 Bab 76: Penetrasi Koridor Perak dan Kegagalan Logika OMNI-2
77 Bab 77: Runtuhnya Singgasana Langit Triumvirat
78 Bab 78: Hujan Bintang dan Kepulangan Sang Asura
79 Bab 79: Konsili Rahasia Para Tetua Kuno
80 Bab 80: Badai Menyapa Dieng
81 Bab 81: Kehancuran Ilusi Kuno
82 Bab 82: Kehancuran Dua Faksi Kuno
83 Bab 83: Sinkronisasi Dieng dan Cetak Biru Nirwana
84 Bab 84: Guncangan Ibu Kota dan Ambang Inti Emas
85 Bab 85: Konfrontasi Selat Sunda dan Fajar Inti Emas Sejati
86 Bab 86: Murka Asura dan Kehancuran Armada Leviathan
87 Bab 87: Guncangan Global dan Langkah Strategis Pertama
88 Bab 88: Mobilisasi Armada Hitam dan Target Pertama benteng Samudra
89 Bab 89: Badai Pengaburan Dan Strategi Kesunyian
90 Bab 90: Pembongkaran Kubah Malice
91 Bab 91: Pendaratan Divisi Bayangan Dan Pembantaian Paladin Kelas Penjaga
92 Bab 92: Konsolidasi Diego Garcia dan Gema Teror ke Dunia Barat
93 Bab 93: Intersepsi Malaikat Jatuh dan Dominasi Ruang Batin
94 Bab 94: Kehancuran Tirani Mekanis dan Pintu Gerbang Laut Merah
95 Bab 95: Terobosan Bab-el-Mandeb dan Runtuhnya Tembok Api Barat
96 Bab 96: Blokade Sinai dan Keputusasaan Terusan Suez
97 Bab 97: Runtuhnya Kunci Suez dan Fajar Mediterania
98 Bab 98: Badai Mediterania dan Armada Hantu Olympia
99 Bab 99: Pembantaian di Selat Sisilia dan Pembebasan Jiwa
100 Bab 100: Pendaratan Marseille dan Invasi Daratan Eropa
101 Bab 101: Eksekusi Protokol Kiamat Siber dan Runtuhnya Garis Pertahanan Rhine
102 Bab 102: Pengepungan Brussels dan Singgasana Panik Euro-Tech
103 Bab 103: Runtuhnya Takhta Barat dan Kehancuran Direktur Agung
104 Bab 104: Konsolidasi Global dan Kepulangan Agung Sang Asura
Episodes

Updated 104 Episodes

1
​Bab 1: Warisan di Ujung Senja Modern
2
Bab 2: Penempaan Fisik dan Dunia yang Berubah
3
Bab 3: Aura yang Tersembunyi
4
Bab 4: Skrining Massal dan Ujian Pertama
5
Bab 5: Pusaran Qi dan Langkah Pertama Kultivasi Sejati
6
Bab 6: Ancaman Pertama di Balik Kabut
7
Bab 7: Pemurnian Inti dan Isyarat Bahaya
8
Bab 8: Kilat Perak di Puri Indah
9
Bab 9: Pelarian di Bawah Bayang-Bayang
10
Bab 10: Simpul Spiritual Pelabuhan Tua
11
Bab 11: Bayang-Bayang di Dermaga Sunyi
12
Bab 12: Terowongan Kolonial Kuno
13
Bab 13: Tempat Perlindungan Kuno dan Jejak Sang Kakek
14
Bab 14: Ketenangan di Dalam Badai
15
Bab 15: Rahasia Glodok dan Peta Makam Purba
16
Bab 16: Badai Berkumpul di Sentul
17
Bab 17: Menyusup ke Ruang Makam Purba
18
Bab 18: Amukan Penjaga Akar
19
Bab 19: Altar Ilusi dan Jebakan Formasi Seribu Akar
20
Bab 20: Warisan Kamar Inti dan Terobosan Kilat
21
Bab 21: Pukulan Perak Melawan Pedang Plasma
22
Bab 22: Pengolahan Pil Pertama dan Target Nasional
23
Bab 23: Sinkronisasi Elemen dan Radar yang Bergetar
24
Bab 24: Penyergapan Senyap di Alun-Alun Fatahillah
25
Bab 25: Gempa Politik Siber dan Benih Organisasi Baru
26
Bab 26: Merajut Jaring Rahasia
27
Bab 27: Jebakan Akademis dan Intaian dari Atap
28
Bab 28: Badai di Gunung Salak dan Penyaringan Darah Baru
29
Bab 29: Baptisan Api dan Tatapan dari Puncak Langit
30
Bab 30: Badai yang Berbenturan
31
Bab 31: Riak di Pasar Gelap dan Undangan Berdarah
32
Bab 32: Topeng Asura dan Langkah Pertama di Arena
33
Bab 33: Taruhan Gila dan Intervensi Sang Genius
34
Bab 34: Duel Dua Aliran dan Patahan Pedang Giok
35
Bab 35: Murka Ranah Foundation dan Klaim Sang Kaisar
36
Bab 36: Penyerapan Murni dan Bayang-Bayang Badai
37
Bab 37: Aliansi Dua Sisi dan Baptisan Darah Pertama
38
Bab 38: Badai Kuantum dan Fondasi Abadi
39
Bab 39: Titah Kaisar di Pelabuhan Darah
40
Bab 40: Faksi Kaisar Abadi dan Cetak Biru Baru Jakarta
41
Bab 41: Topeng Baru di Menara Kaca
42
Bab 42: Restrukturisasi Jiwa dan Formula Baru
43
Bab 43: Intrik Naga Hitam dan Jaring Labah-Labah
44
Bab 44: Keajaiban Hijau Giok dan Kepanikan Korporat
45
Bab 45: Perjamuan Berdarah di Atas Awan
46
Bab 46: Harga Sebuah Nyawa dan Tunduknya sang Naga Finansial
47
Bab 47: Tambang Spiritual dan Kebangkitan Faksi Bayangan
48
Bab 48: Operasi Senyap Gunung Gede dan Gema Aliansi Kuno
49
Bab 49: Pertemuan di Batas Kota dan Gerbang Neraka Barat
50
Bab 50: Tarian Bayang dan Kepunahan Aliansi Kuno
51
Bab 51: Hancurnya Puncak Gunung Kuno
52
Bab 52: Gema Pasca-Badai dan Penyamaran Sempurna
53
Bab 53: Transaksi Gelap di Bawah Monumen Besi
54
Bab 54: Invasi Senyap dari Negeri Matahari Terbit
55
Bab 55: Pembaptisan Darah di Marunda
56
Bab 56: Runtuhnya Algojo Neo-Tokyo dan Kepanikan Bawah Tanah Monas
57
Bab 57: Riak Merah dari Neo-Tokyo
58
Bab 58: Amukan Badai di Selat Malaka
59
Bab 59: Ultimatum Sang Kaisar
60
Bab 60: Badai Baru di Horizon Barat
61
Bab 61: Uji Coba Nano-Teknologi di Kaki Gunung Gede
62
Bab 62: Benturan Logika dan Kehampaan Molekuler
63
Bab 63: Mobilisasi Armada Diego Garcia dan Jaringan Pertahanan Jawa
64
Bab 64: Jaring Konduktor Langit
65
Bab 65: Senjata Makan Tuan
66
Bab 66: Penghakiman di Anjungan Hyperion
67
Bab 67: Gejolak di Jantung Krakatau
68
Bab 68: Penjinakan Krakatau dan Akhir Sang Jenderal
69
Bab 69: Invasi Sunyi di Jantung Kromium
70
Bab 70: Takhta Mutlak di Atas Puing Kromium
71
Bab 71: Fajar Baru dan Guncangan Global
72
Bab 72: Benturan Dua Era di Kaki Kerinci
73
Bab 73: Murka dari Langit dan Payung Primordial
74
Bab 74: Jembatan Langit dan Pembalasan Kuantum
75
Bab 75: Tarian Pedang di Ruang Hampa
76
Bab 76: Penetrasi Koridor Perak dan Kegagalan Logika OMNI-2
77
Bab 77: Runtuhnya Singgasana Langit Triumvirat
78
Bab 78: Hujan Bintang dan Kepulangan Sang Asura
79
Bab 79: Konsili Rahasia Para Tetua Kuno
80
Bab 80: Badai Menyapa Dieng
81
Bab 81: Kehancuran Ilusi Kuno
82
Bab 82: Kehancuran Dua Faksi Kuno
83
Bab 83: Sinkronisasi Dieng dan Cetak Biru Nirwana
84
Bab 84: Guncangan Ibu Kota dan Ambang Inti Emas
85
Bab 85: Konfrontasi Selat Sunda dan Fajar Inti Emas Sejati
86
Bab 86: Murka Asura dan Kehancuran Armada Leviathan
87
Bab 87: Guncangan Global dan Langkah Strategis Pertama
88
Bab 88: Mobilisasi Armada Hitam dan Target Pertama benteng Samudra
89
Bab 89: Badai Pengaburan Dan Strategi Kesunyian
90
Bab 90: Pembongkaran Kubah Malice
91
Bab 91: Pendaratan Divisi Bayangan Dan Pembantaian Paladin Kelas Penjaga
92
Bab 92: Konsolidasi Diego Garcia dan Gema Teror ke Dunia Barat
93
Bab 93: Intersepsi Malaikat Jatuh dan Dominasi Ruang Batin
94
Bab 94: Kehancuran Tirani Mekanis dan Pintu Gerbang Laut Merah
95
Bab 95: Terobosan Bab-el-Mandeb dan Runtuhnya Tembok Api Barat
96
Bab 96: Blokade Sinai dan Keputusasaan Terusan Suez
97
Bab 97: Runtuhnya Kunci Suez dan Fajar Mediterania
98
Bab 98: Badai Mediterania dan Armada Hantu Olympia
99
Bab 99: Pembantaian di Selat Sisilia dan Pembebasan Jiwa
100
Bab 100: Pendaratan Marseille dan Invasi Daratan Eropa
101
Bab 101: Eksekusi Protokol Kiamat Siber dan Runtuhnya Garis Pertahanan Rhine
102
Bab 102: Pengepungan Brussels dan Singgasana Panik Euro-Tech
103
Bab 103: Runtuhnya Takhta Barat dan Kehancuran Direktur Agung
104
Bab 104: Konsolidasi Global dan Kepulangan Agung Sang Asura

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!