Kebangkitan Kaisar Abadi

Kebangkitan Kaisar Abadi

​Bab 1: Warisan di Ujung Senja Modern

​Tahun 2042. Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, tetapi malam itu, kota metropolitan ini terasa jauh lebih sesak dari biasanya. Di langit-langit kota, papan reklame holografik tiga dimensi berukuran raksasa memproyeksikan iklan mobil terbang generasi terbaru dan suplemen kecerdasan buatan. Cahaya neon berwarna biru elektrik dan merah muda menyiram jalanan aspal yang basah oleh sisa hujan sore. Teknologi telah mencapai puncaknya, mengubah manusia menjadi budak-budak efisiensi. Namun, di balik semua kemilau futuristik itu, ada sesuatu yang tidak beres dengan alam.

​Arkana Wijaya menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya pada kursi plastik di balkon kamar kosnya yang sempit. Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu terletak di lantai empat sebuah gedung tua di pinggiran Jakarta Barat—salah satu dari sedikit kawasan yang belum digusur oleh korporasi megah. Di atas meja belajarnya yang berantakan, layar tablet transparan masih menyala, menampilkan tumpukan jurnal tugas kuliah semester empatnya di jurusan Teknik Informatika.

​Arkana baru berusia dua puluh tahun. Wajahnya tipis, dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya akibat begadang yang terlalu sering. Garis rahangnya tegas, namun ekspresinya selalu memancarkan kelelahan khas pemuda kelas pekerja yang berusaha bertahan hidup di tengah kerasnya tuntutan zaman.

​Namun, malam ini, fokus Arkana sama sekali bukan pada tugas kuliahnya. Pandangannya terpaku pada sebuah benda kecil yang tergeletak di telapak tangan kanannya.

​Itu adalah sebuah cincin.

​Cincin itu terbuat dari sejenis logam hitam pekat yang tidak berkilau, bahkan ketika terpapar cahaya lampu neon dari luar jendela. Permukaannya kasar, dipenuhi dengan ukiran-ukiran kuno yang sekilas tampak seperti retakan alami, tetapi jika diperhatikan lebih dekat, retakan itu membentuk pola sulur dan tulisan dalam bahasa yang belum pernah Arkana lihat di buku sejarah mana pun. Benda ini adalah satu-satunya peninggalan dari almarhum kakeknya, Wijaya, yang meninggal dunia sebulan lalu.

​Kakek Wijaya adalah sosok yang aneh di mata keluarga. Di era di mana semua orang memuja kecerdasan buatan dan implan sibernetik, kakeknya justru menghabiskan hidupnya dengan mengumpulkan barang-barang rongsokan kuno, membaca gulungan kain usang, dan menggumamkan hal-hal tidak masuk akal tentang "energi bumi" dan "jalan langit". Sebelum mengembuskan napas terakhirnya di rumah sakit tua, sang kakek mencengkeram erat pergelangan tangan Arkana dan menyerahkan cincin ini.

​"Arka... simpan ini," bisik kakeknya hari itu, suaranya parau dan bergetar hebat. "Dunia yang kau kenal hanyalah ilusi yang dibangun di atas tanah yang tertidur. Ketika fajar sejati tiba, singkaplah segelnya. Hanya darah Wijaya yang bisa menahan beban ini."

​Saat itu, Arkana mengira kakeknya hanya berhalusinasi akibat demam tinggi. Namun, entah mengapa, dia tidak pernah bisa membuang cincin itu. Dia selalu membawanya, menyimpannya di dalam saku celananya seperti sebuah jimat keberuntungan yang tidak berguna.

​"Dunia yang tertidur, ya?" gumam Arkana retoris. Dia tersenyum kecut, memutar-mutar cincin hitam itu di sela jarinya. "Kek, kalau saja kau tahu seberapa susahnya membayar uang kos bulan ini, kau pasti akan menyarankanku untuk menjual cincin rongsokan ini ke toko barang antik."

​Tepat ketika kata-kata itu keluar dari mulutnya, sesuatu yang aneh terjadi.

​BZZZZT!

​Lampu neon di langit-langit kamar kos Arkana mendadak berkedip hebat. Layar tablet transparannya bergoyang, memancarkan gelombang statis sebelum akhirnya mati total. Bukan hanya di kamarnya, dari luar jendela, Arkana bisa mendengar suara riuh rendah dan klakson kendaraan yang tiba-tiba bersahutan. Papan reklame holografik raksasa yang menerangi langit Jakarta mendadak padam, melemparkan seluruh kota ke dalam kegelapan yang pekat.

​Blackout? Di seluruh Jakarta? Itu adalah hal yang mustahil di tahun 2042, di mana kota ini disokong oleh reaktor fusi nuklir bawah tanah yang memiliki sistem cadangan berlapis.

​Namun, kejutan malam itu baru saja dimulai.

​Bumi di bawah kaki Arkana tiba-tiba bergetar. Itu bukan gempa bumi biasa yang bergetar ke kanan dan ke kiri. Ini adalah getaran frekuensi tinggi yang seolah-olah meletup dari kedalaman tanah, menembus fondasi gedung, dan langsung merambat ke dalam tulang-belulangnya. Arkana terhuyung, terpaksa berpegangan pada pagar pembatas balkon agar tidak jatuh.

​"Apa yang terjadi?!" bisiknya dengan jantung yang mulai berdegup kencang.

​Dia mendongak ke langit, dan matanya melebar tak percaya. Langit Jakarta yang biasanya tertutup polusi dan awan kelabu tebal, perlahan-lahan terbelah. Dari balik celah awan itu, sebuah fenomena alam yang luar biasa indah sekaligus mengerikan tercipta. Tirai cahaya berwarna hijau zamrud dan ungu tua—mirip seperti aurora borealis, namun seratus kali lebih masif—membentang luas melintasi cakrawala.

​Udara di sekitar Arkana mendadak berubah. Oksigen yang dia hirup tidak lagi terasa hambar dan berbau asap knalpot. Udara itu mendadak menjadi sangat dingin, murni, dan membawa aroma tanah basah serta wewangian kuno yang menyegarkan. Setiap kali Arkana menarik napas, dia merasa paru-parunya seperti dibersihkan, dan rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya selama berhari-hari lenyap dalam sekejap.

​Tanpa disadari oleh umat manusia, pada detik itu, tirai tak kasat mata yang mengunci energi spiritual Bumi selama ribuan tahun telah runtuh. Qi—energi primordial alam semesta—mengalir kembali ke permukaan bumi seperti air bah yang menjebol bendungan.

​Dan di tangan Arkana, cincin hitam itu mulai bereaksi.

​Ukir-ukiran kuno di permukaan logam cincin itu tiba-tiba menyala, memancarkan cahaya keemasan yang redup namun intens. Arkana tersentak kaget. Dia mencoba melemparkan cincin itu ke lantai, tetapi benda itu seolah-olah telah merekat erat pada kulit telapak tangansnya. Rasa hangat yang awalnya nyaman dengan cepat berubah menjadi panas yang membakar.

​"Sialan! Panas!" jerit Arkana.

​Cahaya keemasan dari cincin itu semakin terang, membentuk sulur-sulur cahaya yang merayap naik ke pergelangan tangannya, menembus urat nadi, dan terus menjalar menuju lengannya. Arkana terjatuh ke lantai balkon, mencengkeram lengan kanannya yang kini dipenuhi oleh garis-garis emas yang bercahaya di bawah kulitnya. Rasanya seolah-olah ada cairan logam mendidih yang disuntikkan langsung ke dalam aliran darahnya.

​Napas Arkana memburu. Keringat dingin mengucur deras dari dahinya. Di tengah rasa sakit yang mendera, sebuah suara berdengung keras di dalam kepalanya, mengabaikan indra pendengarannya fisik dan langsung berbicara ke dalam jiwanya.

​【 Sembilan Ribu Tahun Kehampaan... Segel Roda Langit Telah Hancur... 】

​【 Pewaris Darah Wijaya Ditemukan. Memulai Proses Pengikatan Jiwa dengan Cincin Kaisar Abadi... 】

​"Siapa... siapa itu?!" Arkana berteriak di dalam batinnya, mencoba mempertahankan kesadarannya yang mulai terkikis oleh rasa sakit yang luar biasa.

​Sebelum dia sempat memahami apa yang terjadi, gelombang informasi raksasa menghantam otaknya tanpa ampun. Itu bukan sekadar teks atau data numerik, melainkan untaian memori, visualisasi, dan emosi yang sangat masif.

​Arkana melihat kilasan-kilasan masa lalu yang tidak masuk akal. Dia melihat seorang pria berambut putih panjang yang berdiri di puncak gunung tertinggi, memegang sebuah pedang yang mampu membelah awan dan bintang-bintang di langit hanya dengan satu tebasan. Pria itu dikelilingi oleh ribuan makhluk mengerikan berwujud naga dan binatang buas raksasa, namun tatapan matanya tetap tenang, sedalam lautan purba. Pria itu adalah Kaisar Abadi, penguasa tertinggi dari era kultivasi kuno sebelum energi dunia ini mengering.

​Semua pengetahuan pria itu—teknik bertarung, pemahaman tentang hukum alam, formula ramuan obat, hingga rahasia kultivasi terdalam—diubah menjadi segel-segel cahaya dan ditanamkan paksa ke dalam struktur otak Arkana.

​Kepala Arkana terasa seperti mau pecah. Pembuluh darah di pelipisnya menonjol keluar, berdenyut selaras dengan cahaya emas di lengannya. "Hentikan... CUKUP!"

​Namun proses itu tidak bisa dihentikan. Cincin Kaisar Abadi telah memilihnya.

​Bersamaan dengan masuknya memori tersebut, energi spiritual murni dari cincin itu mulai merombak tubuh fisik Arkana. Ini adalah tahap paling dasar namun paling menyakitkan dalam dunia kultivator: Body Tempering (Penempaan Tubuh).

​Arus energi yang kasar dan tajam seperti pisau mikroskopis mulai mengalir melalui jalur meridian tubuhnya yang tersumbat sejak lahir. Energi itu menghancurkan sel-sel mati, membersihkan racun-racun kimia akibat makanan modern dan polusi kota, serta memperkuat struktur tulang dan ototnya dari dalam.

​Arkana bisa mendengar suara gemertak dari tulang-belulangnya sendiri. Setiap inci dagingnya terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum es. Rasa sakitnya begitu intens hingga dia bahkan tidak bisa berteriak lagi. Suaranya tertahan di tenggorokan, dan pandangannya perlahan-lahan mulai menggelap.

​Di ambang batas kesadarannya, dia melihat garis-garis emas di tubuhnya perlahan meredup, menyerap masuk ke dalam jantungnya. Cincin hitam di tangannya kini telah berpindah tempat, melingkar dengan sempurna di jari tengah tangan kanannya, tampak menyatu seolah-olah benda itu memang terlahir di sana.

​Sebelum kegelapan benar-benar merenggut kesadarannya, sebuah baris kalimat emas terakhir mengambang di benaknya, berkilau dengan keagungan yang mutlak:

​【 Kitab Primordial Kaisar Abadi: Penempaan Tubuh Tubuh Sembilan Langit... Telah Dibuka. 】

​Arkana jatuh pingsan di lantai balkon kosnya yang dingin. Di luar sana, Jakarta masih tenggelam dalam kegelapan, diselimuti oleh tirai aurora yang menari-nari dengan anggun di langit malam. Tanpa ada yang menyadari, di sudut kota yang kumuh ini, roda takdir seorang penguasa baru telah mulai berputar.

Terpopuler

Comments

Fiks_imajinasiku

Fiks_imajinasiku

bagus, kata perkata dan kalimat lugas dan mudah dipahami

2026-07-15

0

lihat semua
Episodes
1 ​Bab 1: Warisan di Ujung Senja Modern
2 Bab 2: Penempaan Fisik dan Dunia yang Berubah
3 Bab 3: Aura yang Tersembunyi
4 Bab 4: Skrining Massal dan Ujian Pertama
5 Bab 5: Pusaran Qi dan Langkah Pertama Kultivasi Sejati
6 Bab 6: Ancaman Pertama di Balik Kabut
7 Bab 7: Pemurnian Inti dan Isyarat Bahaya
8 Bab 8: Kilat Perak di Puri Indah
9 Bab 9: Pelarian di Bawah Bayang-Bayang
10 Bab 10: Simpul Spiritual Pelabuhan Tua
11 Bab 11: Bayang-Bayang di Dermaga Sunyi
12 Bab 12: Terowongan Kolonial Kuno
13 Bab 13: Tempat Perlindungan Kuno dan Jejak Sang Kakek
14 Bab 14: Ketenangan di Dalam Badai
15 Bab 15: Rahasia Glodok dan Peta Makam Purba
16 Bab 16: Badai Berkumpul di Sentul
17 Bab 17: Menyusup ke Ruang Makam Purba
18 Bab 18: Amukan Penjaga Akar
19 Bab 19: Altar Ilusi dan Jebakan Formasi Seribu Akar
20 Bab 20: Warisan Kamar Inti dan Terobosan Kilat
21 Bab 21: Pukulan Perak Melawan Pedang Plasma
22 Bab 22: Pengolahan Pil Pertama dan Target Nasional
23 Bab 23: Sinkronisasi Elemen dan Radar yang Bergetar
24 Bab 24: Penyergapan Senyap di Alun-Alun Fatahillah
25 Bab 25: Gempa Politik Siber dan Benih Organisasi Baru
26 Bab 26: Merajut Jaring Rahasia
27 Bab 27: Jebakan Akademis dan Intaian dari Atap
28 Bab 28: Badai di Gunung Salak dan Penyaringan Darah Baru
29 Bab 29: Baptisan Api dan Tatapan dari Puncak Langit
30 Bab 30: Badai yang Berbenturan
31 Bab 31: Riak di Pasar Gelap dan Undangan Berdarah
32 Bab 32: Topeng Asura dan Langkah Pertama di Arena
33 Bab 33: Taruhan Gila dan Intervensi Sang Genius
34 Bab 34: Duel Dua Aliran dan Patahan Pedang Giok
35 Bab 35: Murka Ranah Foundation dan Klaim Sang Kaisar
36 Bab 36: Penyerapan Murni dan Bayang-Bayang Badai
37 Bab 37: Aliansi Dua Sisi dan Baptisan Darah Pertama
38 Bab 38: Badai Kuantum dan Fondasi Abadi
39 Bab 39: Titah Kaisar di Pelabuhan Darah
40 Bab 40: Faksi Kaisar Abadi dan Cetak Biru Baru Jakarta
41 Bab 41: Topeng Baru di Menara Kaca
42 Bab 42: Restrukturisasi Jiwa dan Formula Baru
43 Bab 43: Intrik Naga Hitam dan Jaring Labah-Labah
44 Bab 44: Keajaiban Hijau Giok dan Kepanikan Korporat
45 Bab 45: Perjamuan Berdarah di Atas Awan
46 Bab 46: Harga Sebuah Nyawa dan Tunduknya sang Naga Finansial
47 Bab 47: Tambang Spiritual dan Kebangkitan Faksi Bayangan
48 Bab 48: Operasi Senyap Gunung Gede dan Gema Aliansi Kuno
49 Bab 49: Pertemuan di Batas Kota dan Gerbang Neraka Barat
50 Bab 50: Tarian Bayang dan Kepunahan Aliansi Kuno
51 Bab 51: Hancurnya Puncak Gunung Kuno
52 Bab 52: Gema Pasca-Badai dan Penyamaran Sempurna
53 Bab 53: Transaksi Gelap di Bawah Monumen Besi
54 Bab 54: Invasi Senyap dari Negeri Matahari Terbit
55 Bab 55: Pembaptisan Darah di Marunda
56 Bab 56: Runtuhnya Algojo Neo-Tokyo dan Kepanikan Bawah Tanah Monas
57 Bab 57: Riak Merah dari Neo-Tokyo
58 Bab 58: Amukan Badai di Selat Malaka
59 Bab 59: Ultimatum Sang Kaisar
60 Bab 60: Badai Baru di Horizon Barat
61 Bab 61: Uji Coba Nano-Teknologi di Kaki Gunung Gede
62 Bab 62: Benturan Logika dan Kehampaan Molekuler
63 Bab 63: Mobilisasi Armada Diego Garcia dan Jaringan Pertahanan Jawa
64 Bab 64: Jaring Konduktor Langit
65 Bab 65: Senjata Makan Tuan
66 Bab 66: Penghakiman di Anjungan Hyperion
67 Bab 67: Gejolak di Jantung Krakatau
68 Bab 68: Penjinakan Krakatau dan Akhir Sang Jenderal
69 Bab 69: Invasi Sunyi di Jantung Kromium
70 Bab 70: Takhta Mutlak di Atas Puing Kromium
71 Bab 71: Fajar Baru dan Guncangan Global
72 Bab 72: Benturan Dua Era di Kaki Kerinci
73 Bab 73: Murka dari Langit dan Payung Primordial
74 Bab 74: Jembatan Langit dan Pembalasan Kuantum
75 Bab 75: Tarian Pedang di Ruang Hampa
76 Bab 76: Penetrasi Koridor Perak dan Kegagalan Logika OMNI-2
77 Bab 77: Runtuhnya Singgasana Langit Triumvirat
78 Bab 78: Hujan Bintang dan Kepulangan Sang Asura
79 Bab 79: Konsili Rahasia Para Tetua Kuno
80 Bab 80: Badai Menyapa Dieng
81 Bab 81: Kehancuran Ilusi Kuno
82 Bab 82: Kehancuran Dua Faksi Kuno
83 Bab 83: Sinkronisasi Dieng dan Cetak Biru Nirwana
84 Bab 84: Guncangan Ibu Kota dan Ambang Inti Emas
85 Bab 85: Konfrontasi Selat Sunda dan Fajar Inti Emas Sejati
86 Bab 86: Murka Asura dan Kehancuran Armada Leviathan
87 Bab 87: Guncangan Global dan Langkah Strategis Pertama
88 Bab 88: Mobilisasi Armada Hitam dan Target Pertama benteng Samudra
89 Bab 89: Badai Pengaburan Dan Strategi Kesunyian
90 Bab 90: Pembongkaran Kubah Malice
91 Bab 91: Pendaratan Divisi Bayangan Dan Pembantaian Paladin Kelas Penjaga
92 Bab 92: Konsolidasi Diego Garcia dan Gema Teror ke Dunia Barat
93 Bab 93: Intersepsi Malaikat Jatuh dan Dominasi Ruang Batin
94 Bab 94: Kehancuran Tirani Mekanis dan Pintu Gerbang Laut Merah
95 Bab 95: Terobosan Bab-el-Mandeb dan Runtuhnya Tembok Api Barat
96 Bab 96: Blokade Sinai dan Keputusasaan Terusan Suez
97 Bab 97: Runtuhnya Kunci Suez dan Fajar Mediterania
98 Bab 98: Badai Mediterania dan Armada Hantu Olympia
99 Bab 99: Pembantaian di Selat Sisilia dan Pembebasan Jiwa
100 Bab 100: Pendaratan Marseille dan Invasi Daratan Eropa
101 Bab 101: Eksekusi Protokol Kiamat Siber dan Runtuhnya Garis Pertahanan Rhine
102 Bab 102: Pengepungan Brussels dan Singgasana Panik Euro-Tech
103 Bab 103: Runtuhnya Takhta Barat dan Kehancuran Direktur Agung
104 Bab 104: Konsolidasi Global dan Kepulangan Agung Sang Asura
Episodes

Updated 104 Episodes

1
​Bab 1: Warisan di Ujung Senja Modern
2
Bab 2: Penempaan Fisik dan Dunia yang Berubah
3
Bab 3: Aura yang Tersembunyi
4
Bab 4: Skrining Massal dan Ujian Pertama
5
Bab 5: Pusaran Qi dan Langkah Pertama Kultivasi Sejati
6
Bab 6: Ancaman Pertama di Balik Kabut
7
Bab 7: Pemurnian Inti dan Isyarat Bahaya
8
Bab 8: Kilat Perak di Puri Indah
9
Bab 9: Pelarian di Bawah Bayang-Bayang
10
Bab 10: Simpul Spiritual Pelabuhan Tua
11
Bab 11: Bayang-Bayang di Dermaga Sunyi
12
Bab 12: Terowongan Kolonial Kuno
13
Bab 13: Tempat Perlindungan Kuno dan Jejak Sang Kakek
14
Bab 14: Ketenangan di Dalam Badai
15
Bab 15: Rahasia Glodok dan Peta Makam Purba
16
Bab 16: Badai Berkumpul di Sentul
17
Bab 17: Menyusup ke Ruang Makam Purba
18
Bab 18: Amukan Penjaga Akar
19
Bab 19: Altar Ilusi dan Jebakan Formasi Seribu Akar
20
Bab 20: Warisan Kamar Inti dan Terobosan Kilat
21
Bab 21: Pukulan Perak Melawan Pedang Plasma
22
Bab 22: Pengolahan Pil Pertama dan Target Nasional
23
Bab 23: Sinkronisasi Elemen dan Radar yang Bergetar
24
Bab 24: Penyergapan Senyap di Alun-Alun Fatahillah
25
Bab 25: Gempa Politik Siber dan Benih Organisasi Baru
26
Bab 26: Merajut Jaring Rahasia
27
Bab 27: Jebakan Akademis dan Intaian dari Atap
28
Bab 28: Badai di Gunung Salak dan Penyaringan Darah Baru
29
Bab 29: Baptisan Api dan Tatapan dari Puncak Langit
30
Bab 30: Badai yang Berbenturan
31
Bab 31: Riak di Pasar Gelap dan Undangan Berdarah
32
Bab 32: Topeng Asura dan Langkah Pertama di Arena
33
Bab 33: Taruhan Gila dan Intervensi Sang Genius
34
Bab 34: Duel Dua Aliran dan Patahan Pedang Giok
35
Bab 35: Murka Ranah Foundation dan Klaim Sang Kaisar
36
Bab 36: Penyerapan Murni dan Bayang-Bayang Badai
37
Bab 37: Aliansi Dua Sisi dan Baptisan Darah Pertama
38
Bab 38: Badai Kuantum dan Fondasi Abadi
39
Bab 39: Titah Kaisar di Pelabuhan Darah
40
Bab 40: Faksi Kaisar Abadi dan Cetak Biru Baru Jakarta
41
Bab 41: Topeng Baru di Menara Kaca
42
Bab 42: Restrukturisasi Jiwa dan Formula Baru
43
Bab 43: Intrik Naga Hitam dan Jaring Labah-Labah
44
Bab 44: Keajaiban Hijau Giok dan Kepanikan Korporat
45
Bab 45: Perjamuan Berdarah di Atas Awan
46
Bab 46: Harga Sebuah Nyawa dan Tunduknya sang Naga Finansial
47
Bab 47: Tambang Spiritual dan Kebangkitan Faksi Bayangan
48
Bab 48: Operasi Senyap Gunung Gede dan Gema Aliansi Kuno
49
Bab 49: Pertemuan di Batas Kota dan Gerbang Neraka Barat
50
Bab 50: Tarian Bayang dan Kepunahan Aliansi Kuno
51
Bab 51: Hancurnya Puncak Gunung Kuno
52
Bab 52: Gema Pasca-Badai dan Penyamaran Sempurna
53
Bab 53: Transaksi Gelap di Bawah Monumen Besi
54
Bab 54: Invasi Senyap dari Negeri Matahari Terbit
55
Bab 55: Pembaptisan Darah di Marunda
56
Bab 56: Runtuhnya Algojo Neo-Tokyo dan Kepanikan Bawah Tanah Monas
57
Bab 57: Riak Merah dari Neo-Tokyo
58
Bab 58: Amukan Badai di Selat Malaka
59
Bab 59: Ultimatum Sang Kaisar
60
Bab 60: Badai Baru di Horizon Barat
61
Bab 61: Uji Coba Nano-Teknologi di Kaki Gunung Gede
62
Bab 62: Benturan Logika dan Kehampaan Molekuler
63
Bab 63: Mobilisasi Armada Diego Garcia dan Jaringan Pertahanan Jawa
64
Bab 64: Jaring Konduktor Langit
65
Bab 65: Senjata Makan Tuan
66
Bab 66: Penghakiman di Anjungan Hyperion
67
Bab 67: Gejolak di Jantung Krakatau
68
Bab 68: Penjinakan Krakatau dan Akhir Sang Jenderal
69
Bab 69: Invasi Sunyi di Jantung Kromium
70
Bab 70: Takhta Mutlak di Atas Puing Kromium
71
Bab 71: Fajar Baru dan Guncangan Global
72
Bab 72: Benturan Dua Era di Kaki Kerinci
73
Bab 73: Murka dari Langit dan Payung Primordial
74
Bab 74: Jembatan Langit dan Pembalasan Kuantum
75
Bab 75: Tarian Pedang di Ruang Hampa
76
Bab 76: Penetrasi Koridor Perak dan Kegagalan Logika OMNI-2
77
Bab 77: Runtuhnya Singgasana Langit Triumvirat
78
Bab 78: Hujan Bintang dan Kepulangan Sang Asura
79
Bab 79: Konsili Rahasia Para Tetua Kuno
80
Bab 80: Badai Menyapa Dieng
81
Bab 81: Kehancuran Ilusi Kuno
82
Bab 82: Kehancuran Dua Faksi Kuno
83
Bab 83: Sinkronisasi Dieng dan Cetak Biru Nirwana
84
Bab 84: Guncangan Ibu Kota dan Ambang Inti Emas
85
Bab 85: Konfrontasi Selat Sunda dan Fajar Inti Emas Sejati
86
Bab 86: Murka Asura dan Kehancuran Armada Leviathan
87
Bab 87: Guncangan Global dan Langkah Strategis Pertama
88
Bab 88: Mobilisasi Armada Hitam dan Target Pertama benteng Samudra
89
Bab 89: Badai Pengaburan Dan Strategi Kesunyian
90
Bab 90: Pembongkaran Kubah Malice
91
Bab 91: Pendaratan Divisi Bayangan Dan Pembantaian Paladin Kelas Penjaga
92
Bab 92: Konsolidasi Diego Garcia dan Gema Teror ke Dunia Barat
93
Bab 93: Intersepsi Malaikat Jatuh dan Dominasi Ruang Batin
94
Bab 94: Kehancuran Tirani Mekanis dan Pintu Gerbang Laut Merah
95
Bab 95: Terobosan Bab-el-Mandeb dan Runtuhnya Tembok Api Barat
96
Bab 96: Blokade Sinai dan Keputusasaan Terusan Suez
97
Bab 97: Runtuhnya Kunci Suez dan Fajar Mediterania
98
Bab 98: Badai Mediterania dan Armada Hantu Olympia
99
Bab 99: Pembantaian di Selat Sisilia dan Pembebasan Jiwa
100
Bab 100: Pendaratan Marseille dan Invasi Daratan Eropa
101
Bab 101: Eksekusi Protokol Kiamat Siber dan Runtuhnya Garis Pertahanan Rhine
102
Bab 102: Pengepungan Brussels dan Singgasana Panik Euro-Tech
103
Bab 103: Runtuhnya Takhta Barat dan Kehancuran Direktur Agung
104
Bab 104: Konsolidasi Global dan Kepulangan Agung Sang Asura

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!